Leblung Jalan-Jalan, Episode Mendaki Gunung Parang

10:06:00 Rendra Kurniawan 0 Comments

Langit biru yang di hiasi awan putih membentang di atap bumi pertiwi ini. Hari ini saya beserta kawan-kawan akan pergi ke Gunung Parang - Tegal Waru, Kab. Purwakarta. Disini kami ingin menyulut adrenalin dengan mendaki gunung tersebut, sebuah gunung batu andesit tertinggi di kawasan Asia Tenggara ini.



Berbekal nyali dan saling percaya saya bulatkan tekad untuk mencoba tantangan ini dengan kawan-kawan yang saya kenal ketika melaksanakan PRAKERIN di PT.PJB (Pembangkitan Jawa Bali) UP CIRATA. Bergegas kami pergi menuju checkpoint pertama di perempatan Citeko untuk berkumpul dan memastikan semua tim sudah siap dengan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki Gunung Parang.

Perjalanan Dimulai

Selama perjalanan menuju lokasi checkpoint selanjutnya kami berbincang-bincang saling bercerita tentang pengalaman masing-masing. Dengan menjalin silaturahmi (nambah teman) bakal bertambah juga pengetahuan kita. Mengenai rute perjalanan untuk menuju Gunung Parang sama seperti rute untuk menuju BADEGA GUNUNG PARANG, yang telah dibahas di artikel sebelumnya. Hanya saja jarak tempuh ke Gunung Parang lebih jauh dibandingkan jika ke Badega Gunung Parang.

Setelah beberapa jam di perjalanan, kamipun sampai pada checkpoint selanjutnya yang merupakan titik awal pendakian Gunung Parang adalah di Kantor Desa Pasanggrahan Kec. Tegal Waru - Purwakarta. Disini sudah disediakan fasilitas umum seperti lahan parkir dan toilet / kamar mandi. Kami diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per kepala. Motor sudah pada tempatnya, kebutuhan yang perlu dibawa lengkap, kami langsung berkumpul untuk musyawarah kecil dan berdoa bersama untuk mengawali kegiatan agar dilancarkan tidak ada halangan atau tidak sampai terjadi hal yang tidak kami inginkan. Pihak panitia setempat tidak lupa memberikan arahan bagi para pendaki.

Let The Journey BEGIN!

Pendakian dimulai, langkah pertama diawali dengan membaca Basmallah. Pemandangan sekitar di awal perjalanan dihiasi dengan perkebunan milik warga yang hijau, dan dilanjut dengan medan yang mulai menantang yaitu memanjat bebatuan dan hutan yang masih rimbun. Oh ya sebagai informasi tambahan, bahwa hutan di Gunung Parang merupakan salah satu Hutan Hujan di Indonesia. Jalur pendakian disini sudah cukup mudah karena sudah banyak petunjuk arah mencapai puncak pendakian Gunung Parang, jadi jangan takut nyasar yah, ditambah lagi sekarang udah banyak alat bantu seperti tali, bambu dan semacamnya yang akan membantu kita lebih mudah melewati medan terjal. Sangat berbeda dibandingkan fasilitas yang ada ketika pertama kali ke Gunung Parang beberapa tahun silam. Tidak ada petunjuk arah dan tidak alat bantu apapun, hutannya pun masih sangat lebat. Berbeda dengan kondisi hutan saat ini, mungkin ini efek dari si jago merah yang telah melalap sebagian hutan Gunung Parang.

Buat kalian khususnya warga Purwakarta dan sekitarnya yang belum pernah ke Gunung Parang, cepetan kesini ajak kawan kalian untuk menikmati indahnya alam Indonesia di Purwakarta yang istimewa ini. Jujur saja, ketika saya melakukan pendakian pertama disini, rasanya kaki ini sudah tidak kuat untuk melangkah lebih jauh, soalnya berat banget, maklum pengalaman pertama kali mendaki dan tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya. Tapi bagi yang sudah pernah mendaki, rasanya akan lebih mudah.


Ketika kami berada di ketinggian yang hampir mendekati puncak, kabut mulai turun yang sempat membuat kami sedikit resah namun beberapa saat kemudian Alhamdulillah, perlahan-lahan kabut yang tadi menyelimuti kami mulai pergi. Sekedar tips ringan bagi kalian ketika mendaki kemudian kabut turun, ada baiknya untuk mematikan ponsel atau alihkan ponsel ke mode penerbangan dan yang paling penting adalah dengan tetap tenang, jangan panik. Setelah kaki kami melangkah sangat jauh dari biasanya, akhirnya kami sampai di puncak pertama. Di puncak pertama Gunung Parang ini terdapat petilasan "Ki Jonggrang Kalipitung". Siapakah beliau? bisa kalian cek disini.



Setelah kami selesai melepas lelah di puncak pertama, perjalanan kami lanjutkan menuju puncak kedua yang juga merupakan titik puncak tertinggi Gunung Parang, dengan ketinggian mencapai 983 Mdpl. Rute yang kami lewati tidak terlalu jauh, namun rute tersebut sangatlah menantang adrenalin. Capek, haus, senang, bangga, takjub dan haru semuanya bercampur dan bertransformasi menjadi rasa syukur pada Sang Pencipta. Sejauh mata memandang hanya rasa kagum dan rasa syukur yang terucap dari bibir ini. Landscape Waduk Jatiluhur serta pemandangan bukit nan indah menjadikan panorama puncak Gunung Parang terlihat sangat istimewa di mata saya. Sempat kami abadikan momen-momen ketika di puncak Gunung Parang melalui foto.




Down To Earth

Kami hela napas dan istirahat sejenak sembari menikmati bekal yang sudah kami bawa untuk mengisi kembali tenaga yang terkuras dan kekosongan perut. Perlu diingat, dimanapun kita berada kebersihan harus selalu kita jaga, jangan membuang sampah seenaknya mari sama-sama jaga lingkungan. Kemudian kami putuskan untuk turun gunung, hehe. Medan yang terjal dan tinggi, kanan kiri terdapat jurang membuat kaki ini gemeter, saking ngerinya kalo melihat kebawah. Mengingat kondisi yang sangat ekstrim, ketika turun harus lebih berhati-hati dan tetap waspada, perlu ingat nyawa kita lebih berharga daripada hanya sekedar gaya. Selama perjalanan turun banyak loh yang jadi korban kepeleset, emang medannya yang licin, maklum saja semalaman habis diguyur hujan. Cukup lama kaki ini melangkah, sampai akhirnya kami sampai di kaki Gunung Parang dan kami mulai memasuki area perkebunan milik warga sekitar yang menandakan bahwa petualangan turun gunung ini akan segera berakhir. Sungguh perjalanan yang melelahkan, namun sangat mengesankan.

Dari pendakian inilah saya mulai hobi naik turun gunung, kenapa? Ya, karena dari setiap pendakian banyaklah pelajaran yang dapat kita petik. Dan jika kalian ingin tahu rasanya mendaki, jawabannya hanya satu, yaitu mendakilah. Karena saya sendiri gak bisa ungkapin perasaan itu dengan kata-kata. Terus ingat yah kawan "Bukanlah gunung yang kita taklukan, melainkan diri kita sendiri".


Sebuah kehormatan bagi saya, karena dapat mengenal kalian (kawan-kawan pendakian saya tadi), berkat kalian pula saya mulai menyukai kegiatan naik turun gunung ini. Terimakasih banyak pokonya yang sebesar besarnya, untuk kalian para sahabat pendakian pertama saya. Terimakasih wahai "Para Penantang Impian".

Penulis
Dede Piqri Haikal
IG : @dph.id

You Might Also Like

0 komentar: