Showing posts with label wisata. Show all posts

Staycation : Another Vacation Style

Wuhuuu. Weekend is almost here. Bagi para company slave (baca : karyawan perusahaan) macam saya, weekend adalah salah satu surga dunia. Kebahagiaan haqiqi karena bisa seharian mager di rumah sembari nonton drama korea, nonton youtube, atau sekedar baca novel di beranda rumah. Tapi, weekend kadang bikin sedih juga. Ini karena cuma di dua hari ini kita bisa travelling. Semacam sayang banget kalo pergi jauh cuma 2 hari kan? Tapi apalah daya, jatah cuti juga terbatas. Do you feel the same?


Bagi saya, travelling itu berarti pergi ke tempat jauh. Mencoba merasakan aura berbeda dari tempat yang jauh dari rumah. Merasakan budaya, bahasa, dan suasana yang berbeda dari yang kita rasakan sehari-hari. Travelling berarti pergi ke tempat jauh, minimal ke kota sebelah. Mencicipi makanan khasnya, merasakan terik mataharinya, dan mengamati bahasa tubuh para penduduk aslinya. Tapi ya itu, setelah tercatat sebagai karyawan, travelling menjadi dibatasi oleh waktu. Hhu.

Tapi, hei. Ada cara baru untuk berlibur lohh selain travelling. Staycation namanya. Unik ya? Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh seorang komedian Kanada pada tahun 2005. Istilah ini adalah gabungan dari kata Stay dan Vacation. Yap. Berlibur dengan tetap tinggal di rumah. Siapa sih yang bakal bilang rumah itu bukan tempat yang menyenangkan? Rumah adalah tempat pulang yang paling dirindukan (Ibuuuk, Kida kangen. *malah curhat). Makanya, berlibur dengan tetap berada di rumah itu bukan hal yang tidak menyenangkan kan?

 
Poin dari Staycation ini adalah bagaimana membuat seisi rumah bersama-sama melakukan hal yang menyenangkan. Yang tidak biasa kalian lakukan sehari-hari. Misal bikin barbeque party di kebun belakang rumah, nonton film bareng dengan proyektor jadi bak pergi ke bioskop sembari nyemil homemade popcorn bikinan ibu, berendam seru di kolam renang portable (kolam renang plastik) jumbo, atau main uno brick bareng Bapak-Ibu dan para saudara juga boleh.


Nah, tidak hanya berdiam di rumah, Staycation juga dapat diartikan dengan berlibur di dalam kota atau ke tempat yang mudah dijangkau. Parameternya adalah ke tempat dimana kita tidak harus menyewa penginapan untuk bermalam. Hhe. Beberapa alternatif yang bisa kamu pilih antara lain :
1. Pergi ke museum kota
2. Piknik ke taman kota
3. Pergi ke car free day festival
4. Pergi ke tempat wisata dalam kota

Nah, Staycation tipe kedua ini yang saya dan suami lakukan saat libur panjang akhir tahun kemarin. Kami Staycation ke Pacet Hill, Mojokerto. Untuk mencapai tempat wisata baru di daerah Claket, Mojokerto ini kami butuh waktu sekitar 30 menit saja. Ada apa sih di sana?

 

Target awal mengajak suami Staycation adalah menghirup udara pegunungan yang sejuk. Yapp. Daerah Pacet, Claket yang merupakan kaki gunung Penanggungan membuat area ini sejuk dan berangin kencang. Naik motor 60 km/jam udah berasa naik motor 120km/jam. Hhi. Gegara angin itu, saya bolak-balik menyusup di bahu Mas Suami untuk mengecek kecepatan, sampai akhirnya dia bilang, "Kayak kenceng banget ya motornya, padahal ini pelan loh."

Selain butuh udara sejuk, saya juga butuh bernarsis ria. Yapp. Tempat wisata yang pembangunannya belum 100% ini menawarkan banyak spot untuk berfoto. Yang paling terkenal sih akar cinta itu. Eh apasih namanya? Pokoknya spot yang terbuat dari akar-akar pohon dibentuk hati itu lohh. Ini beberapa foto yang berhasil kami ambil :





Nah, selain untuk berfoto, tempat ini juga menyewakan berbagai tempat glamping (glamour camping), bahkan ada juga rumah pohon yang disewakan. Seru kali ya bangun dengan pemandangan yahud macam di Pacet Hills. Tapi rada ngeri juga karena tempat ini masih sepi.

Oh iya, selain berfoto, kamu juga bisa menjelajahi air terjun yang berjarak sekitar 2 km dari spot foto utama. Kami awalnya semangat '45 menjelajahi jalan setapak menuju ke tempat air terjun yang masih berada dalam kawasan Pacet Hills. Tapi makin dalam kami berjalan, suasana makin ngeri. Tak ada satu orang pun yang kami jumpai, even pengelola tempat wisata tersebut. Eng ing eng. Makin horor, dan kami memutuskan balik kucing. Hahaha. Secara, saat kami sampai di sana pukul 15.00 WIB, hanya ada kami berdua dan 3 orang pengunjung yang lain. Sesepi itu guys. Enak buat foto karena tanpa perlu antri, tapi horor buat explore ke air terjunnya.

Biaya untuk masuk ke wisata ini lebih kurang 100 ribu rupiah untuk 2 orang dan 1 motor, termasuk bayar parkir ya. Menjadi mahal karena kita harus bayar 2 kali. Di pos pertama sebelum masuk area pemandian air panas, dan di pos kedua yang berada di pintu masuk Pacet Hills. Cukup murah untuk view yang cantik banaaa.

Nah, itu tuh salah satu keunggulan Staycation : hemat. Hemat waktu, karena kita gak perlu menghabiskan berjam-jam di perjalanan. Hemat biaya, karena kita tak perlu mengeluarkan biaya penginapan dan biaya transportasi yang mahal. Mungkin ini juga yang bikin Staycation menjadi trend di Amerika Serikat saat krisis melanda Paman Sam di tahun 2007 - 2010 lalu. Sedangkan di Inggris sendiri, Staycation baru populer di tahun 2009 saat nilai tukar poundsterling menurun dan menjadikan biaya berlibur ke luar negeri menjadi mahal.

So, do you wanna try Staycation?


photo source :
self documentation

GLAMPING Seru di Bandung

Apa itu GLAMPING???
Wisata Glamping adalah sebuah istilah yang digunakan untuk kegiatan kemah atau camping yang lebih mewah / glamour tanpa susah payah harus mendirikan tenda terlebih dahulu seperti jaman sekolah dulu ketika ikut kegiatan Pramuka.

Dimana kita bisa merasakan sedikit sensasi tinggal dan menginap di dalam tenda namun tanpa khawatir kekurangan fasilitas untuk kebutuhan sehari-hari, seperti listrik, hiburan dan beberapa hal dasar lainnya yang biasanya kita dapatkan di rumah sendiri. Namun jika ingin mendapatkan segala keseruan dan sensasi berkemah yang sebenarnya, wisata glamping ini bukan pilihan yang cocok, karena sudah jelas wisata glamping hanya diperuntukkan bagi yang ingin tahu rasanya di perkemahan namun tanpa ribet dan susah payah.

Wisata Glamping di Bandung

Di Bandung, Jawa Barat ada beberapa tempat wisata yang menyediakan fasilitas Glamping seru, silahkan bagi yang sedang berada di Bandung atau sekitarnya dan ingin tahu gimana Wisata Glamping seru di Bandung itu, coba cari tahu atau datang langsung ke beberapa Destinasi Wisata Glamping di Bandung berikut ini.

1. Ciwidey Valley

Ciwidey adalah sebuah kawasan di Bandung dengan banyak pilihan destinasi wisata. Salah satu destinasi wisata paling terkenal di Ciwidey yaitu Kawah Putih. Selain itu bagi yang ingin santai dan ingin bermalam untuk menikmati pesona Ciwidey Bandung bisa menyewa penginapan atau bisa juga berkemah. Jika memilih untuk berkemah di Ciwidey tidak perlu repot dengan segala persiapan dan peralatannya, karena ada satu lokasi sangat menarik disana yang menawarkan Wisata Glamping.

Berkemah tapi tidak perlu susah payah mendirikan tenda dan tidak perlu khawatir berada jauh dari fasilitas modern. Ada beberapa tipe tenda glamping yang bisa dipilih. Harga masing-masing tenda glamping pastinya berbeda-beda menyesuaikan fasilitas dan apa saja yang ada di dalamnya.

Ciwidey Valley, Bandung
Sumber : TravelingYuk

Untuk tenda glamping kapasitas 4 orang, biaya sewanya berkisar kurang lebih 1 Juta Rupiah. Untuk kapasitas yang lebih banyak, harga sewanya lebih mahal lagi. Dengan harga tersebut kita sudah bisa merasakan serunya berkemah sekaligus menikmati suasana Ciwidey yang menakjubkan dan menyegarkan.

2. Dusun Bambu Bandung

Dusun Bambu adalah sebuah komplek wisata desa / tradisional yang cukup lengkap di Bandung. Banyak wahana wisata di Dusun Bambu yang bisa kita nikmati, dari wisata kuliner hingga hiburan anak-anak dan dewasa juga tersedia. Lebih lagi jika ingin mencoba menginap disana, kita bisa mencoba wisata glamping dusun bambu, tidak perlu repot mencari penginapan terdekat.

Dusun Bambu, Lembang, Bandung
Sumber : sky-adventure.com

Hamparan air danau dan pepohonan yang rindang makin mempercantik pemandangan disana. Untuk menyewa satu tendanya kita diharuskan membayar mulai dari harga 1.4 juta hingga 1.7 juta rupiah, namun harga bisa berubah sewaktu-waktu apalagi jika memasuki high-season.

3. Legok Kondang

Kita tahu bahwa Bandung adalah salah satu destinasi dengan banyak pilihan wisata populer yang bisa memanjakan kita. Tak cukup rasanya jika hanya sehari untuk mencoba banyak pilihan wisata di Bandung. Dari sekian banyak pilihan wisata, ada satu tempat yang masih belum akrab di telinga banyak orang adalah Legok Kondang. Legok Kondang Bandung menyediakan fasilitas berupa penginapan unik, berbeda dengan penginapan atau hotel pada umumnya.

Legok Kondang Lodge, Bandung
Sumber : dayeuhluhur.net

Kenapa bisa berbeda? Karena konsep yang diusung adalah Glamorous Camping (berkemah secara mewah tanpa ribet). Disediakan tenda untuk berkemah dengan nuansa modern di dalamnya, terdapat fasilitas lengkap mulai dari Televisi LCD, Kamar Mandi Air Panas, Spring Bed, Connected Room, Line Telephone, dan tidak ketinggalan WiFi juga ada. Banyak jenis tenda glamping disini, untuk tenda tipe Deluxe biaya sewanya sekitar 1.2 juta rupiah per malamnya.

4. Grafika Cikole Bandung

Ingin mencoba merasakan bagaimana rasanya bermalam di tengah-tengah Hutan Pinus bersama sahabat atau keluarga?? Di Bandung Jawa Barat ada satu tempat yang mampu mewujudkan mimpimu tadi. Lokasinya ada di Jl. Raya Tangkuban Perahu KM 8. Desa Cikole, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, namanya Grafika Cikole Bandung.

Grafika Cikole, Lembang, Bandung
Sumber : TripAdvisor

Tersedia beberapa kamar / tenda yang biasa disebut sebagai rumah hobbit karena bentuknya yang kecil mirip bangunan yang ada di film-film. Ada juga fasilitas outbound cukup lengkap yang bisa memacu adrenalin.

Tertarik mau coba rasanya berkemah dengan kemewahannya? Silahkan dicoba saja kunjungi beberapa lokasi diatas. Langsung saja rencanakan dan masukkan dalam daftar tujuan liburanmu selanjutnya.

Post-Travel-Blues, Siapa Takut?!

Hari Raya Idul Fitri tahun ini serentak dan tepat di pertengahan minggu yang jatuh pada hari Rabu 6 Juli 2016, sehingga memberikan liburan yang lebih lama daripada biasanya karena ada beberapa hari sebelum dan sesudah lebaran yang dipakai untuk cuti bersama. Tidak hanya Umat Muslim yang gembira akan datangnya liburan super panjang ini.

Selain berkumpul dengan keluarga besar, libur Lebaran biasanya digunakan untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang disayang di tempat hiburan atau rekreasi. Menikmati liburan dengan berwisata ke pantai, ke tempat-tempat bersejarah, wisata kuliner dan lain sebagainya. Tak heran jika tempat-tempat wisata penuh pengunjung dari berbagai daerah. Sementara kota besar seperti Jakarta dan Surabaya jadi sunyi dan sepi, jalanan lenggang sama sekali tidak terlihat kemacetan yang biasanya terjadi tiap hari, sungguh damai dan indah 2 kota besar ini ketika musim libur lebaran.

Post-Travel-Blues Syndrome. Sumber : www.cikooo.com
Namun, setelah kurang lebih seminggu menikmati masa liburan, seringkali timbul perasaan yang mengganjal menjelang habisnya masa liburan tersebut, ditambah lagi aktifitas selesai liburan panjang ini hampir serentak dimulai pada hari Senin. Yang mana Senin menjadi momok menakutkan bagi banyak orang yang membuat malas. Perasaan seperti itu biasa disebut dengan "Post-Travel-Blues".


Kebanyakan orang seringkali merasa malas untuk beraktifitas kembali, berkecimpung kembali dengan rutinitas, dan rindu ingin jalan-jalan lagi padahal baru beberapa jam tiba di rumah. Hal seperti itu membuat sebagian orang tidak produktif, akan sangat berpengaruh dengan hasil kerja nantinya. Tetapi tidak perlu khawatir akan hal itu, berdasarkan pengalaman selama ini, ada beberapa tips untuk membantu mengatasi masalah Post-Travel-Blues (sindrom rindu liburan) itu.

Dokumentasi Liburan

Menyimpan kenangan selama liburan dan selama perjalanan melalui kamera bisa membantu mengurangi sindrom Post-Travel-Blues. Melihat foto atau video rekaman dari perjalanan akan membuat lebih tenang dan bersemangat. Apalagi jika foto atau video tersebut disertai kenangan unik yang didapat ketika berlibur.

Selain melalui foto atau video, mendokumentasikan kenangan liburan juga bisa dengan tulisan. Tulisan itu bisa berupa sebuah artikel di blog / situs pribadi kita, atau tulisan dalam Diary yang kita punya. Tiap kali rasa rindu akan masa liburan itu timbul, tulisan tersebut bisa kembali dibaca dan memori-memori selama liburan pun datang lagi memenuhi benak kita, hal tersebut bisa menjadi sebuah Mood-Booster tersendiri bagi kita yang mampu membuat bersemangat kembali untuk beraktifitas.

Sisakan Beberapa Hari Untuk Adaptasi

Tidak sedikit wisatawan memilih waktu untuk pulang ke rumah pada sore atau malam hari, agar waktu liburan lebih optimal dan sedikit lebih lama. Namun terkadang mereka lupa bahwa esok hari harus kembali dihadapkan dengan rutintas kerja, tiba larut malam di rumah justru akan melelahkan sehingga tubuh serta batin pun rasanya lebih sulit untuk beradaptasi atau bersiap menghadapi rutinitas kerja kembali.

Maka perlu direncanakan juga waktu untuk istirahat dan penyesuaian sehingga tidak kaget dan malas rasanya. Berikan satu atau dua hari penuh setelah liburan untuk istirahat sebelum akhirnya kembali bekerja, dengan begini kita akan lebih segar dan siap untuk kembali bekerja.

Merencanakan Untuk Liburan Berikutnya

Selesai bertandang dari sebuah tempat wisata, ada baiknya jika kita bisa langsung membuat rencana liburan yang berikutnya. Tentukan tujuan dan lokasi yang ingin didatangi lalu segera persiapkan segalanya, sehingga ketika ada kesempatan dapat harga termurah dari tiket perjalanan dan tiket penginapan bisa langsung ambil tanpa pikir panjang lagi.

Dengan begitu bisa menjadi cara tersendiri untuk memotivasi diri contohnya seperti ini, "Ini memaksa saya fokus pada kenyataan, yaitu bekerja. Agar dapat berlibur lagi, saya butuh uang, dan untuk mendapatkan uang, saya harus bekerja".

Post-Travel-Blues?? Siapa Takut!?
Semoga beberapa tips diatas bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi banyak pelancong di muka bumi ini, hehe.

Tempat Duduk Paling Nyaman di Pesawat

Memilih tempat duduk di pesawat bukanlah hal sepele karena posisi tempat duduk menentukan seberapa tenang dan nyaman perjalanan kita nanti. Apalagi jika jarak yang ditempuh sangat jauh otomatis akan cukup lama di dalam pesawat, bayangkan jika selama perjalanan rasanya tidak nyaman dan tidak tenang untuk beristirahat pasti akan capek hayati dan rohani. Harapannya pasti agar bisa beristirahat selama perjalanan di udara sehingga sesampainya di tujuan, kondisi tubuh tidak capek dan merasa segar.


Selain itu ada juga yang ingin dapat kursi / tempat duduk di pesawat yang dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan yang menakjubkan dari atas selama dalam pesawat. Alasan memilih tempat duduk dekat jendela ini juga bukan hal yang remeh terutama bagi mereka yang baru pertama kali naik pesawat sebagai alat transportasi untuk bepergian, namun faktor kenyamanan selama perjalanan tidak bisa ditinggalkan.

Dari penjelasan singkat diatas sudah jelas bahwa pemilihan kursi / tempat duduk di pesawat bukanlah hal yang sepele, nah berikut ini saya akan coba ulas dan berikan tips memilih tempat duduk di pesawat sesuai dengan keinginan kita, akan saya coba bagi dalam tiga tujuan memilih tempat duduk dalam pesawat diantaranya adalah Tenang & Nyaman, Best View dan Ruang Lebih (Untuk Kaki atau Tangan).



Tenang & Nyaman

Memilih posisi duduk berdasarkan beberapa pertimbangan seperti tidak dekat toilet, dekat jendela atau dekat teman-teman sebenarnya tak salah. Namun, memilih tempat duduk di pesawat yang paling tenang dan bebas bising sehingga bisa tidur nyenyak atau sekadar menikmati perjalanan dengan tenang merupakan faktor utama.

Posisi Tempat Duduk Nyaman dan Tenang di Pesawat
Lalu sebaiknya dimana posisi duduk paling nyaman dan tenang di pesawat? Haruskah memilih tempat duduk dekat jendela atau di kursi paling belakang? Mengutip dari Stuff.co.nz, pilot JetBlue, Christian P. mengatakan bahwa tempat duduk di bagian depan adalah tempat yang terbaik jika ingin ketenangan dan kenyamanan.

Menurutnya tempat duduk di area depan sebelum sayap pesawat akan terasa sangat tenang. Sebab, tidak sedikit maskapai penerbangan yang meletakkan mesin pesawat di area dekat sayap.

"Duduk di area kabin depan seolah duduk membelakangi speaker, sehingga Anda tak akan terganggu suara berisiknya."

Beberapa ahli penerbangan lainnya juga mengungkapkan bahwa sebaiknya memilih tempat duduk di dekat lorong kabin.

"Hindari memilih area kursi dekat jendela. Kursi dekat jendela itu lebih berisik dibanding di dekat lorong, karena Anda semakin dekat dengan permukaan 'kulit' pesawat. Intensitas suaranya mesinnya pun juga akan semakin meningkat ketika Anda duduk dekat jendela," Dai Whittingham ketua UK Flight Safety Comittee kepada Mail Online.

Jika ingin ketenangan selama perjalanan, hindari memilih kursi yang ada di bagian depan atau belakang kabin. Ruangan dapur dan kamar kecil merupakan area yang sering dilewati oleh penumpang lain atau dengan kata lain punya tingkat kebisingan yang lebih tinggi.

Selain itu hindari juga tempat duduk yang terletak dengan dekat dengan deretan empat atau lima kursi. Biasanya baris ini menjadi pilihan penumpang yang membawa keluarga dengan anak kecil atau bayi.


Best View (Untuk Melihat Pemandangan)

Kebanyakan bagi yang baru pertama kali naik pesawat tempat duduk yang dipilih pasti dekat jendela, karena mereka sangat ingin melihat pemandangan luar pesawat, bagaimana sih rasanya melihat keindahan daratan dari atas (di dalam pesawat), bagaimana sih awan mendung itu, seberapa luas langit biru ini, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menyebabkan seseorang lebih memilih tempat duduk dekat jendela pesawat.

Lalu bagaimana agar kita tetap bisa melihat pemandangan luar pesawat (duduk dekat jendela) namun tetap bisa mendapatkan ketenangan / kenyamanan selama perjalanan? Saran dari saya pilihlah tempat duduk dekat jendela yang ada di barisan (deretan) depan sama seperti penjelasan sebelumnya. Maka perjalanan kita akan tetap bisa nyaman dan tenang karena tingkat kebisingan yang rendah dan masih bisa menikmati indahnya pemandangan dari dalam pesawat.


Ruang Lebih Untuk Kaki atau Tangan

Bagi yang ingin ruang lebih (ekstra) untuk mengistirahatkan kaki (selonjoran), pilihlah tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar. Kursi yang ada di area ini biasanya punya ruang lebih dibandingkan kursi di tempat lain. Lutut Anda dijamin tidak akan terbentur oleh kursi penumpang lainnya. Bisa juga memilih tempat duduk dekat pintu darurat, biasanya berada di urutan / barisan ke 12 atau 14.

Tempat Duduk Dekat Pintu Darurat
Selain bisa membuat kaki nyaman, kursi dengan ruang yang lebih besar seperti ini juga pas bagi kita yang ingin menggunakan peralatan elektronik lain, seperti laptop, tablet dan sejenisnya selama dalam perjalanan di udara.

Agar kaki bisa selonjoran dan siku kita tidak terbentur siku orang lain, maka pilihlah kursi / tempat duduk dekat pintu keluar dan lorong (Aisle). Selain dapat ruang lebih untuk kaki dan siku, memilih tempat duduk dekat lorong akan lebih menguntungkan kita ketika ingin keluar mau itu untuk pergi ke toilet, turun pesawat atau lainnya.

Tapi terkadang, kita terpaksa pasrah dan tidak bisa berbuat banyak untuk memilih tempat duduk sesuai keinginan. Padahal, ada beberapa posisi kursi di pesawat yang paling nyaman dan membuat perjalanan lebih menyenangkan. Kenapa bisa seperti itu? Karena tidak semua maskapai memberikan layanan bagi penumpangnya untuk memilih sendiri tempat duduk sesuai keinginan mereka, contohnya seperti Citilink (salah satu Maskapai di Indonesia). Maskapai ini tidak menyediakan fasilitas dimana penumpang bisa memilih tempat duduk di pesawat sesuai keinginan mereka secara online, tapi bagi yang ingin tetap memilih kursi atau tempat duduk berdasarkan keinginan kalian bisa dicoba minta secara langsung kepada petugas ketika melakukan Check-In di bandara.

Semoga tips untuk memilih kursi atau tempat duduk yang nyaman dan tenang di pesawat ini bisa bermanfaat bagi kalian, dan jangan sungkan bagi kalian jika ingin menyebarkan informasi ini melalui sosial media atau lainnya.

Leblung Jalan-Jalan, Episode Mendaki Gunung Parang

Langit biru yang di hiasi awan putih membentang di atap bumi pertiwi ini. Hari ini saya beserta kawan-kawan akan pergi ke Gunung Parang - Tegal Waru, Kab. Purwakarta. Disini kami ingin menyulut adrenalin dengan mendaki gunung tersebut, sebuah gunung batu andesit tertinggi di kawasan Asia Tenggara ini.



Berbekal nyali dan saling percaya saya bulatkan tekad untuk mencoba tantangan ini dengan kawan-kawan yang saya kenal ketika melaksanakan PRAKERIN di PT.PJB (Pembangkitan Jawa Bali) UP CIRATA. Bergegas kami pergi menuju checkpoint pertama di perempatan Citeko untuk berkumpul dan memastikan semua tim sudah siap dengan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaki Gunung Parang.

Perjalanan Dimulai

Selama perjalanan menuju lokasi checkpoint selanjutnya kami berbincang-bincang saling bercerita tentang pengalaman masing-masing. Dengan menjalin silaturahmi (nambah teman) bakal bertambah juga pengetahuan kita. Mengenai rute perjalanan untuk menuju Gunung Parang sama seperti rute untuk menuju BADEGA GUNUNG PARANG, yang telah dibahas di artikel sebelumnya. Hanya saja jarak tempuh ke Gunung Parang lebih jauh dibandingkan jika ke Badega Gunung Parang.

Setelah beberapa jam di perjalanan, kamipun sampai pada checkpoint selanjutnya yang merupakan titik awal pendakian Gunung Parang adalah di Kantor Desa Pasanggrahan Kec. Tegal Waru - Purwakarta. Disini sudah disediakan fasilitas umum seperti lahan parkir dan toilet / kamar mandi. Kami diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per kepala. Motor sudah pada tempatnya, kebutuhan yang perlu dibawa lengkap, kami langsung berkumpul untuk musyawarah kecil dan berdoa bersama untuk mengawali kegiatan agar dilancarkan tidak ada halangan atau tidak sampai terjadi hal yang tidak kami inginkan. Pihak panitia setempat tidak lupa memberikan arahan bagi para pendaki.

Let The Journey BEGIN!

Pendakian dimulai, langkah pertama diawali dengan membaca Basmallah. Pemandangan sekitar di awal perjalanan dihiasi dengan perkebunan milik warga yang hijau, dan dilanjut dengan medan yang mulai menantang yaitu memanjat bebatuan dan hutan yang masih rimbun. Oh ya sebagai informasi tambahan, bahwa hutan di Gunung Parang merupakan salah satu Hutan Hujan di Indonesia. Jalur pendakian disini sudah cukup mudah karena sudah banyak petunjuk arah mencapai puncak pendakian Gunung Parang, jadi jangan takut nyasar yah, ditambah lagi sekarang udah banyak alat bantu seperti tali, bambu dan semacamnya yang akan membantu kita lebih mudah melewati medan terjal. Sangat berbeda dibandingkan fasilitas yang ada ketika pertama kali ke Gunung Parang beberapa tahun silam. Tidak ada petunjuk arah dan tidak alat bantu apapun, hutannya pun masih sangat lebat. Berbeda dengan kondisi hutan saat ini, mungkin ini efek dari si jago merah yang telah melalap sebagian hutan Gunung Parang.

Buat kalian khususnya warga Purwakarta dan sekitarnya yang belum pernah ke Gunung Parang, cepetan kesini ajak kawan kalian untuk menikmati indahnya alam Indonesia di Purwakarta yang istimewa ini. Jujur saja, ketika saya melakukan pendakian pertama disini, rasanya kaki ini sudah tidak kuat untuk melangkah lebih jauh, soalnya berat banget, maklum pengalaman pertama kali mendaki dan tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya. Tapi bagi yang sudah pernah mendaki, rasanya akan lebih mudah.


Ketika kami berada di ketinggian yang hampir mendekati puncak, kabut mulai turun yang sempat membuat kami sedikit resah namun beberapa saat kemudian Alhamdulillah, perlahan-lahan kabut yang tadi menyelimuti kami mulai pergi. Sekedar tips ringan bagi kalian ketika mendaki kemudian kabut turun, ada baiknya untuk mematikan ponsel atau alihkan ponsel ke mode penerbangan dan yang paling penting adalah dengan tetap tenang, jangan panik. Setelah kaki kami melangkah sangat jauh dari biasanya, akhirnya kami sampai di puncak pertama. Di puncak pertama Gunung Parang ini terdapat petilasan "Ki Jonggrang Kalipitung". Siapakah beliau? bisa kalian cek disini.



Setelah kami selesai melepas lelah di puncak pertama, perjalanan kami lanjutkan menuju puncak kedua yang juga merupakan titik puncak tertinggi Gunung Parang, dengan ketinggian mencapai 983 Mdpl. Rute yang kami lewati tidak terlalu jauh, namun rute tersebut sangatlah menantang adrenalin. Capek, haus, senang, bangga, takjub dan haru semuanya bercampur dan bertransformasi menjadi rasa syukur pada Sang Pencipta. Sejauh mata memandang hanya rasa kagum dan rasa syukur yang terucap dari bibir ini. Landscape Waduk Jatiluhur serta pemandangan bukit nan indah menjadikan panorama puncak Gunung Parang terlihat sangat istimewa di mata saya. Sempat kami abadikan momen-momen ketika di puncak Gunung Parang melalui foto.




Down To Earth

Kami hela napas dan istirahat sejenak sembari menikmati bekal yang sudah kami bawa untuk mengisi kembali tenaga yang terkuras dan kekosongan perut. Perlu diingat, dimanapun kita berada kebersihan harus selalu kita jaga, jangan membuang sampah seenaknya mari sama-sama jaga lingkungan. Kemudian kami putuskan untuk turun gunung, hehe. Medan yang terjal dan tinggi, kanan kiri terdapat jurang membuat kaki ini gemeter, saking ngerinya kalo melihat kebawah. Mengingat kondisi yang sangat ekstrim, ketika turun harus lebih berhati-hati dan tetap waspada, perlu ingat nyawa kita lebih berharga daripada hanya sekedar gaya. Selama perjalanan turun banyak loh yang jadi korban kepeleset, emang medannya yang licin, maklum saja semalaman habis diguyur hujan. Cukup lama kaki ini melangkah, sampai akhirnya kami sampai di kaki Gunung Parang dan kami mulai memasuki area perkebunan milik warga sekitar yang menandakan bahwa petualangan turun gunung ini akan segera berakhir. Sungguh perjalanan yang melelahkan, namun sangat mengesankan.

Dari pendakian inilah saya mulai hobi naik turun gunung, kenapa? Ya, karena dari setiap pendakian banyaklah pelajaran yang dapat kita petik. Dan jika kalian ingin tahu rasanya mendaki, jawabannya hanya satu, yaitu mendakilah. Karena saya sendiri gak bisa ungkapin perasaan itu dengan kata-kata. Terus ingat yah kawan "Bukanlah gunung yang kita taklukan, melainkan diri kita sendiri".


Sebuah kehormatan bagi saya, karena dapat mengenal kalian (kawan-kawan pendakian saya tadi), berkat kalian pula saya mulai menyukai kegiatan naik turun gunung ini. Terimakasih banyak pokonya yang sebesar besarnya, untuk kalian para sahabat pendakian pertama saya. Terimakasih wahai "Para Penantang Impian".

Penulis
Dede Piqri Haikal
IG : @dph.id