Little Coco - Gili Trawangan, Tetap Bisa Tidur Tjantik Meski Kantong Pas-Pasan

Pulau Lombok adalah salah satu destinasi impian saya. Ia ditulis dengan huruf bold, underline berwarna merah, serta tanda petik mungil berwarna kuning pada travelling wishlist kepunyaan saya. Keindahan pantainya yang menawan, ekosistem bawah laut yang aduhai, serta budaya yang tetap terjaga lestari adalah sederet alasan kenapa pulau ini begitu ingin saya kunjungi. Aaargh, mau kesana!

Bertahun lamanya saya mengendapkan keinginan di sudut hati paling dalam, bertahun lamanya pula saya hanya bisa terkagum-kagum melihat banyak orang menceritakan kisahnya mengeksplor Indonesia Timur. Tapi ternyata Tuhan memang Maha Baik. Bulan Februari 2017 lalu, angka di buku catatan kas geng kantor menunjukkan bahwa ia siap digunakan untuk mengeksplor Lombok. Tidak tanggung-tanggung, dana yang dikumpulkan seiprit demi seiprit* cukup untuk menghabiskan waktu di sana selama 3 hari 2 malam. Saya bahagia tak terkira.

Dengan semangat yang meletup-letup, hampir tiap hari saya googling tentang Lombok. Membaca dari satu cerita ke cerita yang lain. Mengulik informasi tentang Lombok dari satu website ke website yang lain. Menelusuri satu itinerary ke itinerary yang lain. Prinsip saya waktu itu : manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengeksplor sebanyak mungkin destinasi wisata.

Setelah seminggu berlalu, jadilah Itinerary Exploring Lombok ala Leblung. Saat disampaikan ke geng kantor, saya langsung diserbu pernyataan ;

"Hotelnya yang hits dong, Lai"
"Hotelnya yang instagrammable gitu Lai biar keren"
"Hotelnya yang ada kolam renangnya dong, Lai"
"......."

Mmh. Saya yang berpikir sedari awal bahwa penginapan yang disewa cukup yang bintang satu atau bahkan tidak berbintang karena seharian penuh akan main di luar, jadi bingung. Ini melanggar prinsip awal saya. Hhe. Rasanya sayang kalau harus membayar lebih mahal hanya untuk tidur sebentar. Apalagi kalau harus mencari yang berkolam renang, ini sungguh alasan paling konyol. Kan kita berada di dekat pantai, bisa keuleus berenang di situ? View dan sensasinya lebih keren malahan. Kenapa harus minta kolam renang ya? Rawr.

Tapi yaaa namanya group travelling, gak boleh hanya mengakomodir keinginan saya. Alhasil, itinerary saya tarik kembali. Googling, Traveloka-ing, Agoda-ing, Pegi-Pegi-ing, dan ing-ing yang lain kembali saya lakukan. Demi hotel yang instagrammable dan berkolam renang tapi tetap ramah di kantong. Hhe. Sehari dua hari, akhirnya nongol-lah gambar penginapan mungil bergaya eco green di layar hape saya : Little Coco Gili Trawangan Hotel & Villas. Bagaimana hotel ini?

Hotel mini yang berada di Jalan Bulu Babi, Gili Trawangan ini menyediakan 2 pilihan tempat untuk bermalam :

1. Bungalow
Bungalow yang ditawarkan oleh Little Coco ini bernuansa eco green. Dindingnya terbuat dari kayu sehingga terkesan natural dan ramah lingkungan. Bungalow berukuran 12 meter persegi ini juga dilengkapi dengan tempat tidur ukuran double. Jadi cukup besar untuk digunakan oleh satu orang, namun tidak berdempet-dempetan jika digunakan oleh dua orang. Untuk kamu yang masih single, bisa banget sharing room dengan travelling partner kamu. 


Bungalow ini juga dilengkapi dengan televisi dan air conditioner (AC). Bagi yang kelelahan dan kepanasan setelah keliling-keliling Gili Trawangan, bisa mendinginkan diri sejenak di kamar sembari menikmati hiburan dari TV kabel. Oh ya, tiap-tiap bungalow juga dilengkapi dengan kamar mandi. Jadi kamu bisa bergrujukan ria** menggunakan shower untuk menghilangkan pasir-pasir pantai yang hobi menyelinap ke dalam saku. Perlengkapan mandi? Tenang, demi kenyamanan bergrujukan ria, pihak hotel sudah menyediakan perlengkapan mandi dengan kualitas apik untuk kamu.

Kamar Mandi Sederhana nan Nyaman
Daaan, yang paling keren adalah kamu bisa langsung nyebur ke kolam renang saat keluar dari bungalow. Yes. Kolam renang tepat berada di depan bungalow. Ini yang bikin teman-teman saya kegirangan setengah mati dan heboh macam anak TK dikasih permen. Bukan hanya karena mereka bisa memenuhi hasrat berenang di kolam renang, tapi karena perpaduan antara kolam renang dan bungalow sangat apik. Kata kids jaman now mah, Instagrammable beuuud.

Suasana Bungalow di Malam Hari
Wajah-Wajah Para Pemburu Kolam Renang Hotel
Bagaimana dengan sarapan pagi? Tak usah repot mencari layanan go-food atau warteg terdekat karena Little Coco menyajikan sarapan untuk kamu. Waktu itu sih Mas-Mas penjaga hotel menanyai menu sarapan kami saat sore hari, jadilah pagi pukul 06.00 WIB sarapan sudah tersedia di meja makan. Pilihan menunya bisa pancake, waffle, roti, omelette, atau mie dengan teh hangat atau orange juice sebagai pendamping. 

Tempat Sarapan Penghuni Bungalow
Oh ya, penginapan ini juga dilengkapi dengan sandbag-sandbag kece yang bisa kamu gunakan sebagai properti foto maupun digunakan sebagaimana mestinya, untuk duduk, di tepi kolam renang. Makin kece dengan minum segelas welcoming drink bernama orange juice. Tsahhh. Lengkap sudah kenikmatan bermalam di bungalow ini.

Mm, but sorry to say. Kalian perlu effort lebih untuk menginap di sini karena hanya tersedia 6 bungalow. Hanya 6. Bikin gemes karena harus berlomba-lomba dengan turis lokal maupun internasional. Ya. Sewaktu kami kesana, kamar lain ditempati oleh para bule. Hhu.

2. Villa
Nah, di samping bungalow ada semacam tempat rahasia. Hhi. Menjadi seperti rahasia karena dibatasi oleh dinding yang cukup tinggi. Dan di balik dinding itulah terdapat villa semi private. Kok semi? Iya, villa ini terdiri atas 2 kamar yang letaknya bersebelahan dan disewakan per kamar. Jadi kalau pas sewa, di sebelah ada tamu yang lain dan tidak dikenali ya semacam share villa. Tapi beruntung waktu kami (saya dan suami) menginap, kamar sebelah tidak berpenghuni. Jadilah seperti tinggal di villa mini berdua saja. Hewhew.

Saat memasuki pintu halaman villa yang terbuat dari kayu, kita disuguhi pemandangan hijau dari tanaman-tanaman yang berada di sisi kanan dan kiri jalan. View selanjutnya adalah kolam renang yang berukuran hampir sama dengan kolam renang di depan bungalow di sisi kiri. Atau dengan kata lain tepat di depan kamar villa. 


Bagaimana dengan kamarnya? Tjantik. Bagian depan kamar dibangun menggunakan full kaca dan dilengkapi dengan tirai besar sebagai penutup. Jadilah bisa menikmati suasana luar dari dalam kamar tanpa penghalang. Begitu masuk, tempat tidur sudah dihias dengan bangau dari handuk berwarna merah dengan taburan beberapa bunga. So sweet. Saya dan suami kompak bilang, "Ini sih nuansa honeymoon banget."

Kamar tidur berukuran 25 meter persegi tersebut dilengkapi dengan meja rias dan televisi berukuran 32 inch. Jadi kalau sang istri masih sibuk menaburkan bedak pada wajah, suami bisa nonton tv kabel sembari tidur-tiduran di kasur. What a beautiful life. Tidak hanya itu, untuk menghadapi teriknya matahari di Lombok, pemilik villa sudah menyediakan air conditioner (AC) di tiap kamar villa ini. Sebenarnya tidak terlalu perlu karena bangunan villa ini cukup tinggi sehingga sirkulasi udara di dalam kamar sudah cukup bagus.


Tidak hanya itu, masing-masing kamar villa ini dilengkapi kamar mandi yang cukup besar. Bahkan di dalamnya terdapat 2 buah shower, di kamar mandi bagian dalam dan di luar. Mm, jadi kamar mandinya dipisahkan oleh pintu kaca. Shower bagian luar bisa kamu nikmati sembari memandang langit lepas. Ini bikin mandi lebih seru. Untuk perlengkapan mandi, pemilik villa menyediakan perlengkapan tersebut dengan kualitas dan kuantitas yang lebih banyak dibanding yang disediakan untuk kamar tipe bungalow. ^.^

Kamar Mandi Kece dengan 2 Shower
Dan untuk kamu yang suka rempong saat travelling karena baju yang dibawa banyak (macam saya), kamu tidak perlu khawatir kamarmu nampak berantakan karena tas backpack ada di sudut-sudut kamar. Ada lemari besar yang disiapkan untuk kamu. So kamar tetap nampak rapi dan enak di pandang.

Sarapannya Lil? Tepat di sebelah kolam terdapat ruang makan mini dengan 4 kursi. Jadi berbeda dengan para penghuni bungalow, sarapan kami dikirimkan ke meja makan tersebut tepat pukul 06.00 WIB. Untuk menu, kami diperbolehkan memilih 2 menu tambahan. Saya memilih pancake dan buah segar. Sedangkan Mas Suami memilih mie rebus plus roti. Untuk pendamping, disediakan lengkap  air mineral, orange juice, dan teh hangat. Cukup untuk membuat kami kekenyangan di pagi hari.

View dari Meja Makan
Mm, harus saya akui bahwa menginap di kamar yang berhadapan langsung dengan kolam renang, apalagi dengan dinding kaca sepert villa ini rasanya menakjubkan. Bikin saya betah di area villa, entah untuk sekedar ngobrol santai sembari duduk di sandbag, belajar renang di kolam depan kamar berdua bersama suami, atau tidur-tiduran tjantik di tempat tidur. Eight thumbs up for this villa (2 jempol tangan saya, 2 jempol kaki saya, 2 jempol tangan Mas Suami, dan 2 jempol kaki Mas Suami). Hhi.

Dan sama seperti effort untuk mendapatkan bungalow, mendapatkan villa ini juga tidak mudah. Cuma 2 kamar meeen. 

Trus bagaimana dengan harga Lil? Harga sewa bungalow per malam adalah sekitar 400-500 ribu per malam, tergantung musim saat kita pergi kesana, high season atau low season. Kalau kamu share kamar seperti yang teman-teman saya lakukan, biayanya hanya sekitar 200-250 ribu rupiah. Cukup murah untuk suasana, view, dan fasilitas selengkap ini di daerah Gili Trawangan. 

Untuk sewa kamar villa dibanderol 880 ribu per malam. Bagi saya sih worth it dengan kenyamanan yang kami rasakan. Oh ya, hotel ini terletak sekitar 300-400 m dari bibir pantai. Jadi sangat mudah dijangkau. Kamu juga bisa sewa sepeda dengan harga 40.000 per hari di hotel ini untuk keliling-keliling Gili Trawangan menikmati senja atau sekedar ingin tau suasana di sini.

Baru Foto Pas Mau Check Out
I do recommend this hotel and villas. Sudah 5 orang teman saya mengikuti rekomendasi itu dan bercerita dengan hati berbunga-bunga saat pulang travelling. Semoga kamu juga bisa menikmati hotel ini ya suatu saat nanti. Ini bukan endorsement apalagi produk review. I just wanna share one of many reason why my trip to Lombok Island was memorable and so amazing. ^.^

Oh ya, ini adalah penginapan yang kami gunakan pada malam kedua di Lombok. Malam pertama? Villa super kece menjadi tempat bernaung kami. Dimana? Sebagus apa? Tunggu posting berikutnya yaa..

PS : gengs, kapan jalan-jalan lagi?


* seiprit demi seiprit : sedikit demi sedikit
** bergrujukan ria : mandi dengan air yang mengalir dari atas seperti air terjun
*** source foto :
tripsavvy.com, booking.com, traveloka.com, littlecocogili.com, dokumentasi pribadi

La Divine - Artisan Gelato pada Hujan Bulan November

Sepagi ini Purwakarta sudah diguyur hujan. Hawa dingin menyelimuti tidur saya yang mulai tak lagi pulas. Pukul 02.00 WIB terbaca di layar ponsel. Tapi entah, ini sudah kesekian kali saat hujan mendera, saya ingin gelato. Beberapa dari kalian pasti mengernyitkan dahi sambil bergumam, "Kamu gapapa Lil? Sehat?" Rasanya selalu nampak aneh jika menginginkan es di waktu dingin. Tapi bukankah bapak-bapak dianggap lumrah meminta segelas kopi hitam panas di tengah terik matahari yang menyengat ya? Jadi anggaplah ini selumrah itu. ^^

source : www.notquitenigella.com
La Divine - Artisan Gelato & Coffee namanya. Gerai gelato ini terletak di Jl Dharmahusada No 148, Gubeng Surabaya. Tempatnya tidak terlalu besar, jadi tak cukup nampak dari kejauhan. Untuk menemukannya, cukup cari Gerai Surabaya Patata,  gerai gelato ini persis di seberang jalannya. Gerai ini didesain dengan interior yang sederhana, sesuai dengan tema-tema cafe gelato pada umumnya. Namun sang pemilik tetap menghadirkan ornamen-ornamen imut di beberapa bagian sehingga tetap kece untuk berfoto ria. Ada dua pilihan tempat yang bisa kamu pilih : di luar untuk yang ingin menikmati gelato sembari merokok atau merasakan hawa Surabaya atau di bagian dalam yang ber-AC. 

Suasana Gerai Indoor
Kaca besar yang bikin suasana makin nyaman dan kece untuk background foto
Merenungi apa sih, Siska? Hha..
source : www.diarysivika.com
Oh ya, awalnya saya tertarik dengan gelato ini karena menurut beberapa sumber dari internet disebutkan bahwa gerai ini dulunya hanya dibuka di Bali. Ini menarik buat saya karena mayoritas pengunjung Bali adalah turis internasional. Tentu rasa yang ditawarkan tak boleh main-main, harus sesuai standar lidah mereka agar tetap dapat bertahan. Jadilah hal pertama yang saya tanyakan saat ke sana beberapa bulan lalu adalah, "Ini bener Mas katanya pindahan dari Bali?" Masnya mantap mengiyakan sambil tersenyum. Katanya karena masa sewa tempat habis, maka pemiliknya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, Surabaya, dan membuka kembali usaha ini di depan rumahnya sendiri.

Lalu, apakah ekspektasi itu sesuai?

Gerai gelato ini menawarkan 15 rasa berbeda, antara lain : Gelato Salted Caramel Popcorn, Monster Cookie, Chocolate Brownies dan banyak lainnya. Jujur, saya dan Siska (adik saya) sempat galau dibuatnya. Untunglah mas-mas pramuniaganya sabar pisan. Menjelaskan ini dan itu, rasanya kalo ini begini, kalo yang itu begitu, kalo suka yang unik pilih ini, kalo mau aman pilih yang itu. Dan two thumbs up untuk penjelasan mana yang menggunakan rum dan mana yang tidak. Bagi orang yang menghindari rum seperti saya, ini sangat membantu.


Oh ya, di gerai ini kamu bisa cobain dulu sebelum fix memilih rasa apa yang akan kamu pesan. Mereka menyediakan sendok kecil untuk mencoba varian rasa gelatonya. Gak perlu sungkan, kamu bisa mencoba ke-15 rasa gelato tersebut. Cukup membantu bagi yang bingung seperti kami.

Setelah cukup lama berpikir, kami memilih All mine - 2 flavours seharga Rp 25.000. Gelato ini tidak hanya bisa dinikmati menggunakan cup, tapi juga bisa dengan waffle atau dengan cone es krim. Saya memilih cone es krim. Cukup tambah biaya Rp 5.000, gelato langsung disajikan dengan cone dan dibentuk cantik menyerupai bunga mawar yang tengah mekar sempurnya.


Sedangkan adik saya memilih memakan gelato dengan waffle. Untuk menikmati pilihannya, kami perlu menambah biaya sebesar Rp 23.000. Secara rasa, gelato ini enaaak. Saya tidak merekomendasikan rasa apa yang paling yahud karena ini berdasarkan selera, tapi yang pasti enak. Tidak terlalu creamy atau terlalu manis. Pas banget. Tekstur gelatonya juga bener-bener lembut di mulut.



Cone es krimnya enaaak. Renyah banget tapi gak gampang hancur. Cone milik Wa*ls lewat. Waffle yang dipilih adik juga enak, empuk nampun tetap kering di luar. Gimana ya? Macam tahu sumedanglah, krispy di luar empuk di dalam (maafkan analogi yang gak banget). Untuk gelato, cone, dan waffle, saya kasih nilai 4.5 dari skala 5.

Selain gelato, gerai ini juga menyediakan makanan berat, kami yang kelaparan langsung memutuskan untuk memesan makanan berat pula. Saya memilih Fish and Chips. Dari segi porsi, potongan ikannya cukup besar, sedangkan kentang gorengnya cukup banyak. Daging ikannya tidak berbau dan super lembut, baluran tepungnya crunchy, rasanya : ENAK. Pun begitu dengan kentang gorengnya, tidak terlalu kering, tidak pula lembek. Gak nolak kalau ada yang ngajakin makan Fish and Chips ini lagi. Untuk seporsi Fish and Chips dibanderol Rp 55.000,- cukup ramah di kantong untuk Fish and Chips segede ini.




Adik saya memilih Lasagna. Enak, tapi tidak bisa saya katakan istimewa. Teksturnya lembut dengan keju yang lumayan banyak. Untuk yang tidak suka makanan terlalu creamy, saya sarankan untuk menghindari lasagna di sini. Seporsi lasagna dibanderol Rp 62.000,-. 



Dengan rasa gelato yang enak, Fish and Chips yang super lezat, suasana yang nyaman, saya tidak ragu merekomendasikan tempat ini untuk kalian semua. Huwaaa, jadi pengen balik ke Surabaya.

Ah, memang gak ada yang salah kok dengan menikmati bercup-cup gelato pada hujan bulan November. ^^ 


Fasilitas Seru di Pulau Putri, Kepulauan Seribu

Tunnel Aquarium Nampak dari Luar
Di postingan sebelumnya, sudah saya ceritakan bagaimana bercengkrama secara langsung dengan para ikan di Pulau Putri tanpa batas, alias bisa langsung dipegang. Wow banget yaaa. Dan lagi, itu gampang banget dilakukan. Keseruan tidak berhenti sampai di situ. Ada beberapa hal lain yang bisa kamu lakukan. Apa saja ?

Eksplor Laut Tunnel Aquarium
Salah satu fasilitas yang disediakan adalah Tunnel Aquarium atau biasa juga disebut Under Sea Aquarium dengan panjang 15 meter dan berada di kedalaman 5 meter di bawah permukaan air. Apa sih itu? Bentuknya seperti terowongan gitu (ya iya, namanya aja tunnel), jadi kita harus menyusuri tangga untuk menjelajahi si akuarium raksasa. Begitu selesai menyusuri sekitar 15 atau 20-an anak tangga, kita akan langsung disuguhi pemandangan bawah laut yang cantik. Terumbu karang yang tumbuh sempurna, ikan dari berbagai jenis, bulu babi, bahkan kami sempat menjumpai mahluk seperti kuda laut tapi berjalan ngesot, mm perpaduan antara kuda laut dan belut-lah ya.

Penampakan Tunnel Aquarium
Ekspresi Takjub Liat Ikan Badut Muncul-Muncul dari Terumbu Karang
Menyusuri Anak Tangga Sehabis Eksplor Tunnel Aquarium

Eksplor Laut dengan Glass Bottom Boat
Selain Tunnel Aquarium, Pulau Putri juga menyediakan Glass Bottom Boat untuk menyelami lautan. Sama dengan Tunnel Aquarium, kita juga harus menuruni tangga sekitar 2 - 2,5 meter untuk mencapai lambung kapal yang didesign dengan meletakkan kaca tembus pandang di sebelah kanan dan kiri. Di tengah lambung kapal, disediakan tempat duduk dari kayu yang cukup untuk 2 orang. Untuk sekali perjalanan, kapal ini bisa menampung hingga 20 orang sekaligus. 


Saat naik ke kapal, kami sudah super semangat karena akan melihat biota bawah laut dengan lebih jelas. Tapi yang terjadi setelah 10 menit kapal berlayar, tak jua ada biota yang nampak. Mungkin karena kaca yang buram. Pun ada karang dan ikan yang terlihat, warnanya tak nampak sempurna. Kaca benar-benar menghalangi pandangan kami. Mm, saran saya sih, pengelola perlu menemukan cara baru untuk membersihkan kaca-kaca pada lambung kapal ini. Jadi pengunjung tidak kecewa saat memilih menaiki perahu ini membelah laut di Kepulauan Seribu.

Bermain Sport Water
Aneka Sport Water juga di sediakan di Pulau Putri ini, antara lain : Kano, Water Bee, Water Boom alias perosotan yang langsung nyebur ke laut, Banana Boat, dan lain-lain. Pilihan saya berhenti pada banana boat. It was pretty amazing when i ride it in Bali, so why i don't do it again?

Setelah mengumpulkan massa sebanyak 4 orang plus mendaftar seharga Rp 363.000 untuk 5 orang, peralatan wajib untuk banana boat pun dibagikan. Apa itu? Life vest. Hhe. Life vest yang disediakan untuk bermain banana boat jauh lebih bagus dibandingkan dengan yang disewakan untuk snorkeling. Mungkin karena kami akan menyusuri area laut dalam juga sehingga safety factor disetting lebih besar daripada sekadar snorkeling di laut dangkal.


Oh ya, kami diperbolehkan untuk mengajak satu orang teman sebagai tim dokumentasi yang nantinya ikut di speed boat penarik banana. Setelah kami dan kru dokumentasi siap, perjalanan pun dimulai. Dan, surprise : ternyata menakutkan. lebih menakutkan dibanding naik roller coaster. Mungkin karena saya merasa insecure dengan laut dalam ya. Jadilah saya teriak-teriak ketakutan sepanjang perjalanan. Hhe..

Kenapa Pas Saya Merem Sih?


Berbeda dengan saya, 4 orang lain yang jago berenang menikmati tiap liukan banana boat dengan gembira. Bahkan mereka sempat berjoget-joget di atas banana boat. Bikin saya makin ngeri. Hhu. Tidak hanya itu, pengemudi speed boat kian menjadi-jadi dari menit ke menit. Meliuk kanan-kiri, menantang ombak besar, dan berakhir menceburkan kami di tengah laut dalam.

Emaaaaaaak. Saya yang gak bisa berenang, kelagepan mencari pegangan. Beruntung seorang teman langsung sigap menarik saya untuk muncul ke permukaan, Bhawika namanya (makasih lho Bhaw. Hhi). "Langkah pertama : jangan panik, jangan panik." Ia mengucap mantra itu terus sambil memegangi life vest saya. Hha. Setelah saya cukup tenang, ia mencoba berenang ke arah speed boat sesuai arahan si pengemudi. Tapi yang terjadi, kami bergerak super lambat. Satu orang teman yang lain, Rifan, membantu dari arah yang lain. Tetap lambat bergerak. Satu orang lagi, Asong, membantu dari belakang. Tetap bergerak lambat. Satu orang lain, Mecin alias Nando yang sudah 1 atau 1,5 meter lebih dulu di depan kami mulai berteriak, "Buruan, Be*o." Sambil tersenyum. "Lu gak liat apa ini berat?" Kata yang lain. Saya terkekeh, antara heran kenapa gak gerak dan sedikit malu.

Akhirnya Nando balik kucing untuk menarik kami berempat. Barulah bisa bergerak sedikit lebih cepat. Hahaha.. Kamipun selanjutnya diinstruksikan untuk naik lagi ke banana boat. Dan perjalanan dilanjutkan, kembali ke dermaga. Cukup sekali aja diceburinnya. Terlalu ngeri dan kasihan yang rescue saya. Wkwkwk.

Perjalanan berakhir dengan cerita, "Laily kaku banget pas diceburin, sampe perlu 4 orang buat narik." Wkwkwk. Maafkan. Tapi saya gak kapok kok main yang aneh-aneh lagi sama kalian. Tengkiyuuu Gengs.

Nah. Itu dia keseruan lain di Pulau Putri. Cuma butuh 7 jam, dan itu cukup banget untuk membuat suntukmu hancur, stresmu kabur, galaumu terkubur, move on-mu gak hancur. Hhi. Yuk yuk menjelajah Pulau Putri.

Notes : Pulau ini terbilang sepi pengunjung. Saat kesana, saya hanya menjumpai sekitar 15 orang turis lokal dan luar negeri (banyakan luar negerinya sih). So, it's perfect for employee gathering or release stress.


Super Short Escape ke Pulau Seribu


Pulau Seribu atau lebih tepatnya Kepulauan Seribu adalah gugusan pulau cantik yang berada di utara Jakarta. Kepulauan ini bukan terdiri atas seribu pulau sehingga bernama Kepulauan Seribu, tapi karena jumlah pulaunya yang terbilang banyak dibanding kepulauan lainnya. Ya, tercatat di www.wikipedia.com, kepulauan ini terdiri atas 108 pulau. Katanya sih, hanya 26 pulau yang boleh dipergunakan untuk rekreasi. 13 di antaranya sudah selesai dibangun, 11 untuk resort, dan 2 untuk taman sejarah.

Nah, dengan sebegitu banyak pulau cantik, island hopping tentu tidak selesai dalam satu hari. Mungkin perlu minimal satu minggu, atau dua minggu-lah ya biar bisa menikmati ke-26 pulau rekreasi tersebut. Lalu, bagaimana dengan Super Short Escape saya? Hanya 7,5 jam dan 3 jam di antaranya untuk perjalanan. Kok bisa? Bisa dong.

2 hari lalu, atau lebih tepatnya tanggal 22 November 2017, kantor tempat saya berkreasi mengadakan acara Team Building atau biasa kami sebut dengan Employee Gathering. Biasanya, acara yang berselang-seling dengan Family Gathering (liburan bersama antara karyawan dan keluarga karyawan) ini dilaksanakan di tempat-tempat wisata yang cukup jauh dari tempat kami bekerja (perbatasan Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat). Sebutlah tahun lalu kami menghabiskan waktu di Jogja, menikmati Lava Tour, Pantai Sundak, Pantai Ngandong, dan nongkrong cantik di pinggiran Jalan Malioboro. Atau 3 tahun lalu, menjelajah Bali dengan hati riang. Tapi eh tapi, tahun ini jajaran manajemen memilih untuk berlibur ke destinasi yang bisa dibilang cukup dekat dengan kantor, Kepulauan Seribu. Huwaaa.

Setengah hati tidak rela karena Pulau Belitung sudah melambai-lambai, Pulau Lombok mengedip manja, bahkan Bromo tersenyum manis. Hhu. Tapi apalah daya, mereka sudah memutuskan dan pasti dengan banyak pertimbangan matang. Dengan setengah ikhlas, saya ikut juga. Harapannya sih, minimal bisa snorkeling di sana, menyapa Nemo, Dori, dan Terumbu Karang. Jadi, saya kemana?

Pulau Putri namanya.

Pulau ini mulai dibangun pada tahun 1973. Dinamakan Pulau Putri bukan karena ada putri yang hilang di pulau ini seperti cerita Putri Mandalika - Lombok. Tapi karena sang developer memasang 4 patung putri duyung di depan Pulau. Hhe. Pada tahun 2001, pulau ini mendapat penghargaan Adikarya Wisata 2001 dari Gubernur Jakarta. Cukup membanggakan ya..


Untuk mencapai pulau ini, kami menggunakan kapal Marina berkapasitas 95 orang. Kapal yang digerakkan oleh 5 buah motor ini memiliki 2 area yang bisa ditempati, yaitu bagian atas kapal (atap) yang hanya ditutupi kain di bagian atas sehingga jika ombak besar menghadang, pasti terkena cipratan air. Sedangkan area kedua berada di bagian badan kapal yang lebih mirip seperti di dalam bus dengan kursi yang lebih sederhana. Bagian bawah kapal dilengkapi dengan kipas angin dan AC, ya meski masih terbilang gerah, cukuplah untuk membuat kami bernapas lega. Selain itu, di bagian depan area badan kapal disediakan satu buah toilet, jadi tak perlu menahan 'hasrat' hingga sampai ke pulau. Hhi.
Atas : Bagian Atas Kapal, Bawah : Bagian Badan Kapal
Perjalanan ke Pulau Putri ditempuh dalam waktu 90 menit. Beberapa kali kapal sempat berhenti karena salah satu atau salah dua motor terhalang sampah. Pak Gubernur, please Pak, make our lovely sea as clear as you can. Karena konon katanya sampah-sampah ini hasil sumbangsih penduduk dan perantau yang bermukim di Jakarta. Rawr. Dan, setelah terkantuk-kantuk di kapal cukup lama, sampailah kami di Pulau Putri. Laut warna tosca dengan dasar yang nampak jelas menyambut kedatangan kami. Saya yang memang suka norak dalam berekspresi, spontan memasang wajah sumringah, persis anak TK menemukan es krim di dalam lemari es rumahnya. Hahaha.

Tidak hanya laut indah, 5 orang musisi menyambut hangat di atas dermaga Pulau Putri dengan alunan lagu yang tidak saya tau pasti liriknya. Menguntai senyum, mempresentasikan seberapa ramah pulau tersebut. Setelah itu, kami dipersilahkan terlebih dahulu untuk menikmati segelas es sirup rasa jeruk yang sudah disediakan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian Team Building Games. Saya memilih tidak ikut serta meski ada iming-iming hadiah dari panitia. Cukuplah bersorak sorai di tepian karena games semacam ini pasti tidak luput dari bergandengan tangan, pijat bahu ala-ala, dan sebagainya. Why not? Ya iyess, saya bekerja dimana populasi wanita hanya 6% dari jumlah keseluruhan karyawan. Pun begitu dengan acara kemaren. Saya hanya ditemani 3 orang karyawati, satu ibu muda, dan 2 ibu-ibu yang tahun depan pensiun. Here they are. 


So i decided to not joint the games
. ^.^

Setelah beberapa lama, saya pun mulai bosan. Lalu apa saja yang bisa saya lakukan ?

Foto ala-ala di tepi pantai
Aduh, jaman now siapa sih yang nggak hobi foto? saya salah satu di antara orang-orang yang suka foto. Jadilah saya memilih berjalan menyusuri bibir pantai sambil sesekali mengambil foto. Sesekali pula duduk untuk menikmati semilir angin yang menerpa wajah. Pantai memang identik dengan panas dan kulit hitam, tapi entah kenapa saya tetap suka berlama-lama di bawah terik matahari saat di pantai. Apalagi kalau kaki sudah menginjak air laut, rasanya mau nyebur sekalian. Hhe.. Jadi kulit hitam ya biarin, toh nanti balik lagi ke warna asal. 

Snorkeling
Di Pulau Putri ini, airnya bening banget. Dasar laut yang berada di kedalaman 1 hingga 1,5 meter nampak jelas dari atas. Sangat memudahkan para penyelam untuk bersnorkeling. Selain itu, air di pulau ini cukup tenang sehingga tidak perlu tenaga ekstra untuk melawan ombak. Tidak hanya itu, lingkungan yang masih terjaga tetap asri menjadikan ekosistem para laut di sekitar pulau putri terjaga dengan baik. Kalau kamu berminat untuk snorkeling, jangan lupa untuk membawa roti atau makanan ikan lainnya sebagai umpan agar mereka mau mendekat ya. Semudah itu nemu ikan di pulau ini. Sugoooi. Cantik banaaa. 


Cari Ikan di Pinggir Dermaga

Sayangnya, saya tidak ber-snorkeling-ria. Whaaat? Jauh-jauh ke Kepulauan Seribu gak snorkeling?  Iya. Tujuan utama saya ini tidak terlaksana lantaran Mas Suamik tak tega istrinya menjelajah laut sendirian. "Nanti snorkeling sama aku aja di tempat lain ya.." ujarnya saat saya meminta ijin. Ya wajar sih, secara saya tidak bisa berenang dan hobi keikut arus kalau snorkeling. Hhi. Singkat cerita, dya adalah life saver saya saat kami snorkeling di Lombok. Job desk utamanya adalah menarik istrinya yang terbawa arus. Karena tidak hanya sekali dua kali Guide Snorkeling menginstruksikan untuk berenang ke arah kanan tapi saya malah hanyut jauh ke kiri. Terpisah dari rombongan. Hahaha.

Jadi ya saya iyakan saja permintaannya untuk menahan diri tidak snorkeling. Tapi begitu lihat 2 orang teman saya kabur dari Team Building Games, Mas Awal dan Mas Dedsu namanya, karena lebih memilih snorkeling, saya tetap baper. Berkali-kali merengek di pinggir pantai ;
"Kok kalian snorkeling siiih.."
"Aku ya pengen snorkeling sebenernya.."
"Wah, seru pasti.."
"Dalem nggak sih? pengen nyebur jugaaa.."
dan rengekan-rengekan yang lain. Mereka cuma senyum sambil bilang, "Yaudah sini nyebur." Drama selanjutnya adalah ;
"Tapi aku gak bisa renang.."
"Gak bawa baju diving.."*
"Gak bawa softlens, minusku banyak gak keliatan ikannya.."

Hahaha. Jadilah akhirnya saya hanya bisa melihat mereka bersenang-senang dari kejauhan dengan baper maksimal. 15 menit berlalu. Tapi. Eh. Kok. Kok mereka berhenti di ujung dermaga sebelah kiri yahh. Ada patok bertuliskan "Area Snorkeling" juga di dekat dermaga itu. Dengan semangat '45 dan harapan setinggi puncak Jaya Wijaya, saya lari ke ujung dermaga.
"Mas, banyak nggak ikannya?"
"Banyak Ly, ada nemo juga tadi.."
"Giring ikannya ke sini dong. Aku mau liat juga.."
"Oke, kamu berdiri di situ aja sambil kasih roti ya.."

Dan tararaaaa. Tanpa menunggu lama, roti saya diserbu gerombolan ikan berbagai warna. Ikan berwarna belang putih-hitam, belang kuning-hitam, soft pink dengan ujung sirip biru muda, biru fosfor dengan ekor kuning, dan ada pula yang berwarna hitam. Huwaaaaw. Saya berteriak-teriak kegirangan mendapati tangan saya digigit-gigit oleh ikan-ikan kecil tersebut. Jadi langsung legowo meski gagal snorkeling, ya meski Mas Awal dan Mas Dedsu terus bilang kalau snorkeling lebih puas, ada ikan jenis tertentu yang tak mau berenang ke permukaan, seperti ikan badut misalnya. Ia setia menunggui rumahnya, bahkan menyerang ketika didekati.

Untuk kemudahan menemui ikan bahkan hanya di pinggir dermaga, saya kasih nilai 5 dari 5 untuk pulau kecil ini. So, buat kamu yang gak bisa renang, gak berminat snorkeling, atau males basah-basahan tapi mau ketemu ikan, recomended banget untuk ke pulau ini. Dijamin bakal teriak-teriak norak kayak saya. Hhe..


Nah, itu baru dua keseruan yang bisa kamu lakukan di Pulau Putri. Masih ada keseruan-keseruan lain yang bisa kamu temukan. Apa saja? Tunggu postingan berikutnya yaa. ^^



*Fyi, untuk rekan-rekan berhijab, saya sarankan untuk menggunakan baju diving sebagai lapis pertama saat snorkeling. Jadi didobel gitu. Dalemnya baju diving lengan panjang yang one piece, luarnya kaos panjang dan celana panjang tipis. Jadi kalo kaosnya kesingkap karena arus, aurat tetap terjaga. Ini tips buat yang gak pede pake baju renang muslimah macam saya yaa..

Doodling for Healing, Belajar dari Akun Instagram

Sepanjang hari ini, saya berkutat dengan kain. Mengcopy pola, menggunting, menjahit, dan mewarna. Saya selalu suka bermain-main dengan kain. Membuat beraneka macam boneka baik dari kain katun maupun kain flanel, atau sekedar membuat pouch dengan ornamen berupa lukisan dari cat acrylic. Ah ya. Selain bermain dengan kain, saya juga suka menggambar. Atau mungkin lebih layak disebut corat-coret? Doodling?

Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah suka mencorat-coret di waktu senggang. Bahkan selalu membawa satu buku khusus untuk doodling di sekolah. Gambar yang saya bikin pun tergolong sederhana, para putri raja dengan gaun mewah bertabur bunga. Yahh meski tak bisa dikatakan bagus, tapi saya tetap semangat membuatnya. Hahaha..

Saat memasuki tingkat 7 (kelas 1 SMP), saya beruntung. Dua orang teman yang duduk tepat di belakang saya adalah komikus handal. Dari mereka saya belajar bagaimana menggambar tokoh yang lebih ekspresif. Saya ingat sekali pelajaran pertama dari mereka : menggambar ulang tokoh komik WITCH. Ada yang tau komik itu? Ini nih :

source : www.teleman.pl
Pelajaran menggambar dari mereka berdua menjadi lebih penting dari mata pelajaran lainnya kala itu. Sampai-sampai saya ditegur oleh guru Bahasa Arab karena asyik menggambar saat beliau serius mengajar (Hhi. Maaf ya Pak Atoq). 

Nah, kegemaran ini terus berlanjut hingga sekarang. Lebih tepatnya menjadi kebiasaan buat saya. Jika sedang terlalu bahagia, terlalu sedih, atau bahkan terlalu datar, saya akan secara otomatis mencorat-coret kertas kosong di sekitar saya. Entah hanya menggambar kepala orang, atau gambar abstrak lainnya. 

Bagi saya, doodling menjadi sebuah kegiatan yang menyembuhkan, healing. Sama seperti menulis buku diary atau curhat cantik bagi sebagian orang. Meski lebih sering gambar itu tidak mewakili apa yang saya rasakan (ya, saya sangat amatir jadilah sulit menggambarkan perasaan ke dalam selembar kertas), tapi ada kepuasan atau kelegaan tersendiri. Seperti menyalurkan energi yang berlebih pada selembar kertas kosong tersebut. So i can say that I do doodling for healing. ^.^
Doodle By Leblung
Dan kecintaan pada doodling ini membuat saya menjadi candu untuk selalu memperhatikan karya dari artist-artist keren. Salah satunya adalah melalui Instagram. Ini beberapa akun yang saya follow dan rutin saya pelototi hampir setiap hari. Mungkin bisa pula kamu jadikan referensi untuk belajar atau sekedar memanjakan mata saat otak mulai penat akibat macet dan rutinitas harian yang tak kunjung selesai.

@byputy
Puty adalah seorang ibu muda, blogger, dan ilustrator. Tokoh yang dibuat oleh Puty seringkali adalah ibu muda chubby yang menggemaskan. Entah kenapa saat pertama menemukan karyanya saya langsung jatuh hati. Mungkin karena tokohnya terasa 'gue banget', ginuk-ginuk gitu. Hahaha. Ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Puty pun tidak jauh dari kehidupan yang dijalani oleh ibu-ibu muda atau calon ibu di usia 20 - 30-an. Seperti harapan ibu muda agar anak balita-nya tidak tumbuh terlalu cepat, ribetnya urutan penggunaan skincare Korea, atau ribetnya mamak-mamak yang pengen anaknya no gadget tapi ia sendiri heboh posting foto anak sepanjang hari, dan berbagai cerita lainnya. Pemilihan cerita dan tokoh yang imut ini bikin saya hobi nungguin postingan Puty saban hari. Hhi. Luv her drawing-lah pokoknya.


@majasbok
Majasbok adalah salah seorang ilustrator dari Stockholm, Swedia. Sama dengan Puty, ilustrasi karya Majasbok ini sederhana tapi imut. Kalau Puty mengambil ibu-ibu chubby sebagai tokoh andalan, Maja memilih hewan sebagai tokoh utamanya. Mm, hewan apa ya itu? Tupai? Entahlah, tapi hewannya chubby dan ginuk-ginuk juga. Jadi imut dilihat dan bikin gemas pengen peluk-peluk, *eh. Maja konsisten dengan ciri khas monokrom atau hitam putihnya. Ia juga sudah membuat beberapa buku ilustrasi yang melayani worldwide shipping. Jadi kalau kamu jatuh hati dengan karya Maja dan ingin mengoleksinya, silakan langsung saja mengunjungi website Maja di www.majasbokshop.com.


@naelaali
Berbeda dengan 2 ilustrator sebelumnya, karya Naela Ali lebih ke arah retro dan nyata. Ia mengambarkan manusia dengan utuh dan memiiki ekspresi yang kuat. Naela Ali lebih cenderung suka bermain-main dengan cat air. Sehingga gambarnya lebih berwarna meski pilihannya berkutat pada warna-warna pastel. Meski ia tak membubuhkan cerita-cerita lucu seperti Puty, Naela Ali cukup membuat mata adem dengan karyanya. Sama dengan Maja, ia juga telah menerbitkan beberapa buku seperti Stories for Rainy Days dan Things & Thoughts I Drew When I Was Bored.


@dita.ayu.indah
Nah, yang satu ini adalah ilustrator yang lebih fokus pada manga muslim. Saya tertarik pada karyanya yang sederhana namun bermakna. Jadilah belajar agama gak melulu lewat buku tebal tanpa ilustrasi yang kadang bikin bete. Untuk membuat karya-karya unik ini, Dita menggunakan aplikasi smartphone berjudul Medibang. Saya belom pernah cek sih. Tapi dengan aplikasi ini, si Dita bisa tuh tiba-tiba naruh tokoh gadis berjilbab andalannya di foto nyata. Semacam nemplokin ilustrasi kita di foto gitu. Imut dan gemas. Two thumbs up for Dita.


Nah, itu 4 ilustrator yang menginspirasi saya untuk terus belajar doodling dengan baik dan benar. Kata Naela Ali sih, ia butuh 6 tahun belajar menggambar dengan rutin. Ia bisa, saya pun (harusnya) bisa. ^.^

Kalau ilustrator favoritmu siapa?