Cari Uang Sambil Jalan Kaki, Si Cuanki Serayu yang Lezat

Saya tidak akan membahas profesi - profesi yang menggunakan metode jalan kaki untuk cari uang loh ya. Bukan pula membahas bagaimana design gerobak yang ergonomis untuk bapak-bapak yang berdagang dengan jalan kaki. Dan sangat bukan sekali membahas abang tukang jualan apa yang paling ganteng. Muahahaa. Lha terus bahas apa?

Alkisah, tempo hari saya makan Cuanki Serayu. Nah, pas sudah menghadap seporsi penuh Cuanki, saya tanya ke Mas-Mas Pramuniaga, "Mas, ini kan bakso ya, ini goreng, yang ini apa?" Saya menunjuk satu benda yang jelas terbuat dari campuran tepung terigu dan aci (tepung kanji, tepung tapioka atau tepung sagu). "Yang itu Siomay, Teh." Kata masnya sambil tersenyum manis. "Lha trus yang disebut Cuanki yang mana, Mas?" tanya saya bingung. "Ya sepaket ini yang dinamakan Cuanki, Teh." Saya melongo. Si Mas Pramuniaga gak tanggung jawab dengan ke-melongo-an saya, dia ngeloyor pergi gitu aja. Ish.

Capture by Leblung

Sesampai di rumah (baca : kamar kosan ukuran 4 x 4 m yang [enggak] rapinya luarbiasa. hhe), saya langsung mengerahkan keahlian saya. Yapp. Tidak lain dan tidak bukan adalah "Gugling". Hhe. Keyword yang digunakan kali ini adalah "Asal Usul Cuanki" dan "Sejarah Cuanki". Tidak ada yang menjelaskan detail darimana Cuanki berasal, siapa penemu Cuanki, dan informasi dasar lainnya. Yang saya temukan adalah :

CUANKI = Cari Uang sambil jalAN kaKI

Hhi. Beneran begitu. Jadi Cuanki adalah sebutan untuk kegiatan mencari segenggam berlian (uang) yang dilakukan dengan cara jalan kaki. Kalo gitu banyak dong varian produknya. Tukang Cangcimen (Kacang Kuaci Permen), Tukang Tahu Sumedang, Tukang Odading (Roti Goreng isi gula merah), Tukang Batagor, Tukang Siomay, Tukang Sate keliling, Tukang Bakpao keliling, dan banyak lagi. Ya kaaan? Tapi di daerah Bandung dan sekitarnya, yang disebut Cuanki itu ya Tukang Jualan Bakso yang gerobaknya dipikul dan jualannya sambil jalan kaki keliling kompleks gitu. Kalo di Malang, tepatnya di daerah saya, ini disebutnya Tukang Bakso Pikul. ^.^

The Real Cuanki, source : www.kulinernikmat.com
Yang khas dari Cuanki ini, kuahnya bening, gak berlemak kayak bakso-bakso yang dijual di warung atau gerobak yang menetap di tempat (ini sudah sedikit saya ulas di tulisan ini). Dan isiannya lebih bervariasi karena ada siomay dan gorengnya, kalo bakso Bandung atau bakso Purwakarta biasanya cuma ada bakso (pentol daging) dan mie kuning atau mie putih. 

Nah, ceritanya kemarin Sabtu saya mampir ke sebuah warung Cuanki di Jalan Serayu yang katanya paling hits se-Bandung Raya. "Cuanki Serayu". Ya meski yang punya melanggar prinsip nama Cuanki itu sendiri ya, tapi gapapa-lah. Berbekal rekomendasi seorang teman yang berlidah Jawa tapi lama tinggal di Bandung (Bumils Titik namanya, Titik loh ya. Bukan Koma), saya memberanikan diri untuk ke warung sederhana ini. Konon kata sang pramuniaga, warung Cuanki ini memiliki 2 cabang yaitu di Jalan Mangga dan Jalan Babakan Timur. Sedangkan yang saya datangi ini adalah warung asli yang sudah berdiri sejak tahun 1997. Lama ya..

Capture by Leblung
Sesampainya di warung Cuanki ini, antrian orang yang memesan sudah mengular. Ada 2 banjar antrian. Setelah celingak-celinguk karena ketidak tauan saya, akhirnya saya menemukan tulisan "Khusus Dibungkus", di gerobak yang berada di sebelah kanan. Yap. 2 antrian itu adalah antrian makan di tempat dan antrian dibungkus atau dibawa pulang. Karena saya mau makan di situ, beralihlah saya ke antrian sebelah kiri. Sekitar 5 atau 10 menit kemudian, barulah saya sampai di depan Mas-Mas yang bagian terima dan melayani order.
 
Capture by Leblung
Proses pemesanan bisa dibilang cepat karena ada 2 orang yang melayani, satu orang bertugas menerima order dan memberi kuah, satu orang yang lain bertugas meracik. Selain itu, saat satu orang yang lain masih menerima order, mas-mas satunya meracik porsi normal, jadi kalau tidak ada permintaan khusus, penerima order tinggal kasih kuah. Kayak saya kemarin tuh, "1 porsi, Mas." Tinggal menciduk kuah, guyurkan, kasih deh ke saya. Hhe.

Untuk minuman, bisa ambil berbagai minuman botol di lemari es yang tersedia, atau pesan aneka jus buah. Urusan bayar? Nanti aja setelah perut kenyang. ^.^ Nah, tempat duduk yang disediakan sederhana sekali. Mirip dengan tempat duduk di warung bakso pinggir jalan. Ada 4 area untuk menikmati Cuanki ini, di bagian dalam warung, di bagian teras depan warung, di teras samping warung, dan di pinggir jalan raya.

Bagian Dalam Warung
Teras Depan Warung
Teras Samping Warung
Pinggir Jalan
 Bagaimana rasanya?

Semangkuk Cuanki ini berisi 2 buah bakso ukuran sedang, 1 siomay, 1 tahu putih, dan  1 goreng yang dipotong-potong. Gorengnya terbilang unik. Kalo pada umumnya, goreng itu adalah kulit pangsit isi tepung campur wortel dan daging, dan dibentuk seperti bunga mekar. Yang ini dibiarkan segi empat begitu, dan diolesi isian, lalu digoreng. Saat akan disajikan barulah si goreng dipotong-potong.

Kuahnya bening, mirip bakso Malang. Dan enak. Takarannya pas. Gurih, seger, dan sedap. Saya termasuk orang yang jarang makan bakso dengan gaya putihan alias tanpa kecap, saos, dan sambal. Tapi entah kali ini, karena kuahnya putihan saja sudah sedap, jadilah saya memutuskan untuk makan ala putihan hingga setengah porsi habis terlahap. Setengah berikutnya baru saya tambahkan kecap, saos, dan sambal secukupnya.

Seporsi Cuanki diharga Rp 15.000. Cukup murah untuk makan di kawasan Bandung. Tapi porsi ini tidak cukup membuat saya kenyang. Jadi mungkin lain kali saya kan pesan 1,5 porsi atau mencomot sebagian jatah suami saya. Hhe. Di sini tidak hanya menyediakan Cuanki, tapi juga Batagor khas kota Bandung. Hanya saja kali itu melihat porsinya yang sepiring penuh, saya mengurungkan niat untuk memesan batagor. Takut tidak habis, mungkin lain kali saya akan mencobanya. 

Daftar menu dan harga Cuanki Serayu dapat dilihat di gambar berikut ini.


So, overall, saya setuju dengan kata orang kebanyakan, "Cuanki Serayu Enak!"
  

Manisan Mangga, Si Nano - Nano yang Asik di Lidah

Barangkali bisa dibilang hampir semua orang mengenal buah mangga. Buah yang hanya ada saat musim-musim tertentu ini diperkirakan berasal dari tanah India. Buah ini pertama kali ditemukan oleh Alexander Agung di Lembah Indus, India pada tahun ke-4 sebelum masehi. Nama mangga sendiri berasal dari bahasa Tamil, yaitu Mankay atau Man-Gas. 

Buah yang memiliki nama latin Mangifera indica L. ini menyebar hingga ke Indonesia melalui para pedagang India yang berkelana hingga Semenanjung Malaysia. Pada tahun 1665, mangga pertama kali di tanam di kepulauan Maluku. Buah ini memiliki beraneka ragam jenis mulai dari mangga madu, mangga manalagi, mangga gadung, mangga cengkir, mangga arum manis, dan masih banyak lagi. 

Mangga biasa dikonsumsi langsung dengan cara dikupas terlebih dahulu atau dibelah dan diiris menyerupai sisir. Namun, adapula yang mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan seperti asinan mangga, sambal mangga muda (sambal pencit), atau bahkan manisan mangga. Nah, beberapa hari ini entah kenapa kelenjar ludah saya langsung berproduksi saat melihat jajaran mangga muda di toko buah mini dekat kosan. Hhe.

Kuah manisan mangga bikinan ibu, langsung membayang dengan jelas. Kegiatan sepulang kantor waktu itu pun langsung berganti dengan pencarian manisan mangga. Banyak yang menawarkan manisan mangga muda dalam kemasan botol kaca. Range harga yang ditawarkan adalah Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per 200 gram. Cukup terjangkau di kantong. Tapi sayang seribu sayang, ongkir ke Purwakrta dari tempat penjual bisa mencapai Rp 13.000. Jadi total dengan harga manisan terendah saja Rp 28.000. Itu sudah dapet mangga 1,5 kg. Huwaaah.

Setelah menimbang, gugling, dan telpon ibu nanya resep, jadilah saya memutuskan untuk bikin sendiri si Nano-Nano ini. Bahan-bahan yang saya butuhkan antara lain :

Bahan :
- 1,5 kg mangga muda
- 8 biji cabai merah atau cabai keriting
- 3 biji cabai rawit (atau sesuai selera)
- 12 sendok makan gula pasir
- 0,5 sendok teh garam
- 750 ml air


Cara membuat :
- Kupas buah mangga muda
- Cuci bersih buah mangga, cabai merah atau cabai keriting, dan cabai rawit
- Potong buah mangga muda secara menyerong atau memanjang (sesuai selera) dengan tebal 3 - 5 mm.
- Potong tipis cabai merah atau cabai keriting dan cabai rawit

- Masak air hingga mendidih
- Masukkan cabai merah atau cabai keriting dan cabai rawit yang elah dipotong-potong
- Masukkan gula dan garam

 
- Tunggu hingga mendidih kembali
- Matikan, diamkan hingga air cabai menjadi dingin sempurna
- Masukkan potongan mangga muda


- Tunggu beberapa jam agar bumbu meresap
- Manisan mangga siap dimakaaan. Yeay!

Mudah bukan? ada beberap tips nih untuk membuat manisan mangga :
- Untuk menghasilkan manisan mangga yang renyah, setelah dipotong-potong, mangga direndam dalam air kapur selama sehari penuh. (Tips ini tidak saya lakukan karena air kapur tidak tersedia di kosan dan bingung belinya dimana. hhe) Setelah itu baru dicuci bersih dan lanjutkan langkah berikutnya.
- Untuk menghasilkan manisan mangga yang renyah, pilih mangga yang bener-bener muda, punya saya sudah di akhir masa mengkal, sudah mulai berwarna kuning. Masih renyah sih, tapi kurang maksimal renyahnya.
- Sebelum dihidangkan, masukkan ke dalam lemari es. Disajikan dingin akan terasa lebih nikmat.

Selamat mencobaaa!

Status Hubungan Mangga Muda dan Kehamilan

“Manisan mangga enak kali ya gini ini..”
“Hamil lu ya? Mas Bos, ada yang hamiiiil..”

Pasti bukan hanya saya yang pernah mengalami judgement itu hanya karena nyeletuk pingin manisan mangga muda. Hhi. Ya kan? Ya dooong? Apalagi kaum hawa yang tergolong newlywed atau pengantin baru (lagi-lagi seperti saya). Ngerumpiin mangga muda udah pasti langsung disangka lagi ngidam. Hha. 


Emang ada hubungannya ya mangga muda sama kehamilan? Trus kenapa kok mayoritas ibu hamil emang kepingin makan mangga muda? Kenapa nggak mangga mateng aja? Kenapa nggak kepingin anggur aja? Kenapa nggak apel, stroberi, melon, atau semangka aja? Ada apa sih antara mangga muda dan kehamilan?

Pada masa awal kehamilan, janin memproduksi hormon chorionic gonadotropin (HCG). Hormon ini mencegah corpus luteum*mengalami perpecahan. Corpus luteum ini selanjutnya akan memproduksi hormone progesterone yang berfungsi untuk membentuk lapisan dinding rahim agar kuat menyangga plasenta. Peningkatan jumlah hormone progesterone di awal kehamilan inilah yang mengakibatkan kerja usus menjadi lambat dan dinding lambung mengendur.


Efek dari proses pencernaan yang melambat adalah meningkatnya asam lambung. Oleh karena itu, pada masa awal kehamilan, sang ibu seringkali merasa mual dan ingin muntah. Nah, mangga muda yang meskipun memiliki rasa asam, ternyata dapat menurunkan asam lambung. Jadi ketika ada ibu hamil setelah makan mangga muda merasa bahagia dan tubuhnya terasa lebih nyaman, itu bukan sulap apalagi sihir ya. 


Lha trus, kok bisa secara otomatis ingin mangga muda di awal kehamilan? 

source : www.centroone.com

Seorang teman lama yang menekuni bidang biologi pernah menceritakan bahwa ngidam dipengaruhi oleh sugesti di alam bawah sadar kita. Seringkali kita berpikir kalo hamil tuh pasti ngidam, pingin yang aneh-aneh, yang jarang ada, dan pasti suami nurutin. Maka jadilah sugesti itu menjadikan kita minta ini itu dan salah satunya pingin mangga muda karena sudah kepercayaan umum bahwa jika hamil pasti menginginkan mangga muda.  

^.^ 

Nah, membiacarakan mangga muda, coba tengok resep manisan mangga di sini. Manis, asem, pedes, nano-nano yang membahagiakan.

GO-MED Layanan Baru Go-Jek

Hey! Leblung - AKhirnya Go-Jek memperluas layanannya lagi, kini telah hadir di aplikasi Go-Jek kita sebuah layanan baru yaitu GO-MED. Go-Med (Go Medis) hadir untuk memenuhi kebutuhan medis. Gagasan dan pengembangan mengenai layanan ini sudah dimulai sejak beberapa bulan yang lalu, dan akhirnya kini telah resmi dirilis.


Layanan GO-MED ini merupakan bentuk kerja sama GO-JEK Indonesia dengan Apotik Antar (PT Mensa Medika Investama) yang sebelumnya sudah lebih dulu bergerak dalam layanan pemesanan obat, sebagai solusi layanan yang praktis dan terintegrasi, memberikan fasilitas pada pengguna GO-JEK untuk mendapatkan obat-obatan (Over The Counter dan dengan resep), vitamin, suplemen, dan kebutuhan medis lainnya yang terjamin keasliannya dengan Cepat, Aman dan Nyaman.

Prinsip dari Apotik Antar adalah mempertemukan apotik yang sudah ada dengan pasien atau pencari obat atau sejenisnya melalui aplikasi pemesanan obat yang diberi nama Apotik Antar, dikembangkan oleh M-Health. GO-MED terinspirasi dari Apotik Antar tersebut, kemudian mencoba memadupadankan dengan layanan yang sudah dimilikinya untuk memberikan pelayanan maksimal pada pengguna GO-JEK.

Area yang dijangkau GO-MED?

Melalui GO-MED, kita bisa membeli dan juga menebus obat yang tertera di resep dengan mudah dari kurang lebih 1500 apotek yang terdaftar di dalam Apotik Antar, tanpa biaya pengiriman tambahan (inilah nilai tambahnya). GO-MED saat ini sudah hadir di 10 kota di Indonesia diantaranya; Jabodetabek, Bandung, Bali, Makassar, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Medan, Palembang dan Balikpapan.

Bagaimana Cara Pakai GO-MED?

Cara memesan atau menebus resep melalui GO-MED cukup mudah saya rasa, langkah umumnya adalah sebagai berikut :
  1. Buka aplikasi GO-JEK yang ada di Smartphone kalian.
  2. Pilih GO-MED pada aplikasi GO-JEK.
  3. Kemudian tentukan obat, atau unggah resep dokter terkait untuk menebus obat yang dibutuhkan.
  4. Konfirmasi ulang pesanan kalian sebelum lanjut ke proses sebelumnya, masukkan alamat pengiriman, dan pastikan semua data sudah benar.
  5. GO-JEK driver siap mengambil obat sesuai resep kalian dan mengantarkan langsung ke alamat pengiriman.
  6. Selesai.



Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi website resmi GO-MED. Semoga bisa bermanfaat bagi Negeri.

Bakso Purwakarta yang Seenak Bakso Malang

Entah mengapa, sebagian besar dari kita ketika mendengar kata bakso langsung memunculkan standar bahwa bakso itu dari malang, bakso yang enak itu ya bakso malang. Saya sendiri sebagai kera ngalam (arek malang = anak malang), sedikit heran dengan standar itu. Tapi ya mesti memang harus saya akui bahwa bakso malang memamng memiliki rasa juara. Bakso malang identik dengan isian yang beragam, mulai dari bakso atau pentol, siomay rebus, siomay goreng, mie putih dan mie kuning yang digulung menjadi bulat, tahu putih, tahu goreng, lontong, hingga tambahan varian lain seperti daging paru, kikil, sumsum, dan lainnya. Jangan lupa tambahan daun bawang dan bawang gorengnya. Kuahnya cenderung bening, tapi sedap di lidah.
 
Nah, semenjak menginjakkan kaki di tanah pasundan ini, saya belum menemukan bakso dengan kriteria itu. minimal yang rasanya hampir mirip dengan bakso malang. Langkanya orang jual bakso di Purwakarta? No. Big no no, brother and sista. Di sini bejibun tukang baksonya. Bahkan hampir ada di tiap sudut kota. Tapi rasanya cenderung hanya gurih dengan kuah yang sangat berminyak. Lebih mirip bakso solo sih. Penyajiannya pun berbeda. Biasanya semangkuk bakso akan terdiri dari bakso atau pentol, mie kuning dan mie putih yang menjuntai bebas (tidak digulung seperti bakso malang), taoge dan sayur sawi.
 
Dan lagi yang menjadi catatan untuk bakso purwakarta adalah sebagian besar pedagang akan menambahkan minimal seujung sendok teh vetsin di tiap mangkuk bakso. Ini benar-benar bikin mata saya membelalak. Bagaimana tidak, ukuran vetsin itu biasa digunakan untuk sepanci besar kuah sayur oleh ibu saya, yang berarti terdiri dari bermangkuk-mangkuk kuah, yah minimal 10 mangkuk-lah. Tapi ini ditambahkan di 1 mangkuk saya. Di awal, langsung panik gitu karena merasa terlalu banyak makan vetsin. Tapi lambat laun, mulai biasa dengan tata cara beli bakso di sini, yaitu : pertama adalah bilang berapa porsi yang kamu pesan, kedua adalah bilang tanpa tambahan vetsin. dan ketiga, mengawasi tangan si penjual, kali aja khilaf dan memasukkan vetsin ke mangkuk pesanan saya. Hhe.
 
Nah, jadilah lidah saya yang bakso malang banget, yang cinta banget sama kuah bening, segar, dan berlemak minim seringkali merasa galau jika sedang ngidam (baca : kepengen) bakso. Apalagi di musim hujan yang dingin begini. Santapan paling tepat adalah semangkuk bakso panas dan pedas plus secangkir teh hangat. Tapi gak adaaa bakso yang sesuai dengan lidah bakso malang saya. Kalaupun ada, itu karena si bakso ini lebih enak dari teman-temannya sesama bakso Purwakarta. hhe..
 
Namun, sore ini otak saya sedang jahil. Melihat anak ibu kos makan bakso, otak langsung mengirim sinyal kepengen ke lidah saya. Hmm. Bakso mana ya? Pengen yang mirip-mirip bakso malang euy. Setelah beberapa menit mengitari kota yang memang tidak terlalu besar ini, saya teringat salah satu warung bakso yang berada tepat di pertigaan jalan Ahmad Yani. sekitar 10 meter dari patung Ahmad Yani, diapit oleh gedung STIE Wikara dan Alfamart. Namanya Bakso "More Than Just a Taste". Nama yang sedikit lebih cenderung bisa dibilang sebagai motto yah? hhe.. Ini nih penampakan si warung bakso.

10 meter dari Patung Ahmad Yani
Diapit oleh Gedung STIE Wikara dan Alfamart
Ini pertama kalinya saya kesana. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena teman saya yang mulai lahir hingga menikah tinggal di Purwakarta tidak merekomendasikan warung bakso tersebut alias karena dia belum pernah coba dan jarang mendengar rekan-rekannya yang lain membicarakan bakso ini. Dengan berbekal nekat dan siap mental jika rasanya tak sesuai, saya melipir ke warung ini. Kesan pertama saya, "Bersiiiiih banget tempat ini." Untuk ukuran warung di pinggir jalan utama yang ramai seperti ini, warung ini kebersihannya juara. Saya duduk dan mencolek meja, bersih, tanpa debu. Saya melihat ke arah lantai, bersih meski hanya berlantaikan semen yang dihaluskan. Widih. Kesan pertama langsung bikin saya jatuh hati.



Meja Racik Bakso yang Bersih
Meja Racik Siomay yang Bersih
Pohon ini Membuat Rindang dan Tempat menjadi Sejuk
Bagian Teras Warung
Bagian Dalam Warung
1 menit, 2 menit, sang penjual tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Saya memilih untuk pergi ke ruang makan bagian dalam. Yap. Warung ini terdiri dari 2 pilihan tempat, di teras rumah yang rindang atau di dalam rumah. Benar saja, sang ibu sedang meracik minuman di dalam. TAnpa babibu, saya memesan 1 porsi bakso dan segelas es teh manis. Yang ini bakso iga nih. Belum pernah saya temui yang serupa di Purwakarta. Begini bentuk pesanan saya. 
 
Terdiri atas 3 bakso atau pentol, mie kuning lebar yang jarang digunakan untuk bakso, iga sapi, dan sejumput sayur sawi yang diiris kecil. Plus tambahan daun bawang dan bawang goreng ya. Di meja sudah disediakan bumbu pelengkap seperti saos, sambal, kecap, garam, dan cuka. Kuahnya bening, tanpa banyak lemak menggantung dimana-mana. Saya sudah bahagia melihatnya dan berharap banyak kali ini sesuai dengan lidah bakso malang saya. 
Mie Kuning Lebar
Si Iga Sapi
Suapan pertama saya coba tanpa menggunakan bumbu pelengkap. Hmm. Ya. Ini segar, tidak terlalu gurih, tapi sedap di lidah. Cocok dengan lidah saya. Hampir seenak bakso malang. Ini recommended! Saya tersenyum bahagia. Tapi karena saya yang pecinta manis dan sedikit pedas, saya memutuskan untuk menambahakan kecap dan sambal. Yumm-yummm. Nikmat. Baksonya bertekstur lembut. Tapi sayang terlampau sedikit. Daging iganya empuk sehingga tak perlu perjuangan keras untuk mengunyah dan memotongnya.
 
Hingga suapan terakhir, saya belum ingin berhenti, tapi apalah daya hanya tersisa kuah dan potongan batang sayur sawi yang sengaja tidak saya makan. Saya melirik ke rombong hijau tempat Bu Sumarni meracik bakso. di sebelah kiri adalah siomay Bandung. Yap, menu utama dari warung ini adalah bakso iga dan siomay bandung. Akhirnya tanpa malu saya mendekati sang penjual yang tidak lain dan tidak bukan adalah tangan kanan sang pemilik kedai yang berdomisili di Bandung. Saya meminta satu tambahan siomay di mangkuk saya. Hhe.
Siomay Tambahan. Hhe
Siomaynya wangi, lembut, tidak begitu kenyal tapi aroma ikannya sangat terasa saat dikunyah. Wow. Enak. Sejurus kemudian datang mojang Purwakarta, karena dia sendirian dan saya sendirian, dia memilih mohon ijin untuk duduk di meja saya. Dan ternyata dia pecinta siomay. Tepat sekali. Saat ditanya pendapatnya, "Ini tidak terlalu spesial sih. Tapi wangi ikannya kerasa banget. Dan padahal saya gak suka lho sama aroma ikan. Tapi yang ini enak." Hhe..
1 Porsi Siomay
Kata Bu Sumarni, semua bahan baku untuk bakso dan siomay plus yoghurt diambil dari Bandung. Si Ibu pemilik warung berdomisili di Bandung dan memiliki 2 warung siomay di Bandung. Katanya sih warung yang di Bandung itu sudah puluhan tahun berdiri. Dan karena melihat pangsa pasar yang bagus, si ibu pemilik warung siomay, memutuskan untuk membuka satu warung lagi di Purwakarta pada tahun 2013 dan mempercayakan pengelolaannya pada Bu Sumarni dan suami. ^.^
 
Oh ya, untuk urusan harga memang bisa dibilang lumayan mahal. di warung bakso yang lain, satu mangkok dibanderol 10.000 - 13.000. Yang ini 17.000 per porsi. Mungkin karena ada iganya yahh. Tapi untuk rasa dan tempat yang bersih plus cozy macam ini, harga itu setimpal-lah.
 
So, kalau kamu mau bakso purwakarta yang mendekati standar bakso malang, langsung aja melipir ke pertigaan jalan Ahmad Yani ya! Taste it and you'll fall in love with it!