Bekerja Dalam Tim? Intip Pencerahan Ini

Tips Bekerja di Dalam Tim - Beberapa orang merasa kurang suka atau kurang nyaman jika bekerja dalams sebuah tim yang memerlukan kerjasama dalam meraih tujuannya, dan beberapa yang lain malah lebih suka dan semangat untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu pekerjaan secara tim. Bekerja secara tim memang tidak mudah karena kita dituntut untuk sabar, mengerti kondisi rekan dalam tim dan menghormati pendapat ataupun pikiran rekan kerja kita.

Source : www.teamworkandleadership.com
Berikut ini Hey! Leblung mencoba mengumpulkan dan menyajikan beberapa tips motivasi kerja untuk sukses bekerja dalam tim, semoga bisa memberikan inspirasi bagi banyak kalangan dan bisa dijadikan bahan belajar sehingga tidak gentar jika harus bekerja sendirian (secara individual) maupun bekerja dalam tim.

Silahkan saksikan video dibawah ini sampai akhir :

Aku, Kau, dan Mimpi yang Menggantung Di Langit Kamar Kita

Satu waktu di bulan Oktober, saya mempersilahkan seseorang masuk ke ruang mimpi saya. Ruang sempit berukuran 1.130 cm3 (*)  itu berisi semua hal yang ingin saya miliki sejak lama. Ruang itu tak cukup bagus. Terkesan tak rapi, tak terurus, dan hampir dilupakan. Letak pernak-pernik di dalamnya pun tak beraturan. Seperti kamar baca yang lama tak dijamah. 

Saya membiarkannya mengitari seluruh ruangan, hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Satu dua waktu yang lalu, beberapa orang hanya saya perbolehkan melihat satu hingga dua atau tiga sisi ruang mimpi saya. Tapi kali ini saya membiarkan orang ini mengitari seluruh sudut ruang mimpi saya. Entah kenapa. Hanya saja binar matanya yang semakin berenergi saat mulai masuk ruang mimpi saya membuat saya kehilangan kata (baca : kalimat), "Berhentilah. Saya hanya ingin kau tau bagian ini."

source : www.thebridalbox.com
Di bagian pertama, ia menemui seonggok kain kanvas berwarna putih tulang dan sekotak cat akrilik lengkap dengan kuas dan paletnya.
"Saya suka melukis meski tak pandai. Sepatu lukis, boneka lukis, dan pouch lukis pernah saya buat. Suatu saat saya ingin melukis lagi, untuk orang-orang," kataku mengikuti arah matanya yang menyisir sisi itu.
"Aku juga suka melukis. Kau pernah bikin globe?" Saya menggeleng pelan.
"Dulu waktu SD, aku bikin globe pakai cat air. Mirip. Tapi seorang teman menumpahkan cat di globe-ku (**) yang hampir selesai. Aku marah dan tak menyelesaikan lukisan globe-ku. Padahal bagus loh. Mirip banget sama globe yang dijual-jual itu."
"Wow. Canggih dong dirimu. Saya gak bisa melukis, menggambarpun tidak. Tapi suka corat-coret. Dulu diajari temen sih pas SMP." Ia tersenyum simpul.

Ia berjalan pelan ke sisi yang lain, ia mendapati tumpukan kain katun warna-warni dengan motif lucu.
"Saya ingin jadi crafter. hampir sama dengan mimpi yang sebelah sana. Tapi yang ini untuk bikin boneka dan souvenir pernikahan." Kali ini ia hanya menggangguk pelan dan lagi-lagi tersenyum. Ditinggalkan sisi kedua ini.
source : www.jessiefincham.com
Ia mulai memasuki sisi ketiga. Di dinding-dinding sisi ini ia mendapati berbagai alamat website, judul-judul buku, dan pengarang kesukaan saya.
"Saya suka menulis. Dulu aktif menulis cerita jaman SD dan SMP. Mm. Saya pengen punya web yang bagus kayak Livingloving.net. Web yang dibangun 2 orang dengan karakter berbeda. Masig-masing menuliskan apa yang disukai jadi tidak merasa terpaksa tapi enak dibaca dan cantik dilihat. Hhe." Kali ini binar matanya makin berenergi. "Wohohooo." Serunya sumringah.
Perjalanan sore itu di ruang mimpi saya berakhir di sisi ke enam. Lalu kami berpindah ke ruang tamu lagi.
"Trus, apa kabar mimpimu?" tanyanya serius.
"Hhe. Sudah kutinggalkan. Tapi suatu saat saya ingin bangun kembali. "
Percakapan berakhir. Ia pamit pulang karena adzan maghrib berkumandang.

Waktu berlalu, ia kembali bertanya, "Apa kabar mimpimu?"
"I do nothing. Di tempat baru ini susah sekali mencari bahan-bahan yang saya butuhkan. Waktu untuk mencari inspirasi juga habis termakan lelah sepulang kerja."
"Hmm. Aku masih ingat lho gimana kamu semangatnya cerita tiap sudut mimpimu. Kenapa sekarang jadi lemah banget begini ya?"
Saya tersenyum kecut.
 
---
 
Hai, Kawan Leblung! Apa kabar? Sehatkah? Atau ada yang baru terbebas dari jeratan Dismenorea seperti saya? Jika ada yang belum bebas, baca tips and trick agar bisa kabur dari Dismenorea, di sini ya. ^.^

Malam ini, saya teringat perjalanan ke Ruang Mimpi bersama seseorang. Saya yang cenderung malas dan pelupa, suka kelabakan kalo dia tiba-tiba memunculkan lagi pertanyaaan, "Apa kabar mimpimu?" dan pasti jawaban pertama adalah senyum kecut. Yang sejurus kemudian akan dilanjutkan dengan seribu alasan;
"Lha bahannya lho nggak ada."
"Lha binggung menentukan pangsa pasarnya."
"Lha si Illy kuajakin partneran gak mau, padahal yang punya ilmu kan dia."
"Lha labelnya aja belum kubikin. Masa udah mau launching."
"Lha gak sempat cari tau, minggu ini banyak bahan meeting yang harus disiapkan. Sampe begadang-begadang."
Dan beribu "Lha" yang lain.

Itu saya. Yang sebenarnya suka lupa pernah punya mimpi A hingga Z. Itu saya. Yang sebenernya suka lupa jika sudah berencana mengambil langkah pertama. Itu saya. Yang punya segudang mimpi tanpa realisasi. Hhi. Tapi berkat pertanyaan, "Apa kabar mimpimu?" dan penjelasan panjangnya tentang "Mari berbahagia dengan mewujudkan mimpi kita", langkah pertama untuk menggapai mimpi saya, terlaksana. Yap. Saya punya web yang sedang kalian baca ini. Hhi. Meski kadang suka lupa untuk menengok web sendiri, meski kadang suka lupa untuk banyak membaca untuk memperkaya bahan, meski kadang suka lupa posting, dan meski-meski yang lain.

Hmm. Ada nggak yang berkelakuan seperti saya? Jika iya, maka kalian berada di tempat yang tepat. Ada 2 tips utama untuk memudahkan kita agar tidak lupa mewujudkan mimpi kita dan ini sudah teruji secara klinis (halah) pada saya. Hhi.

Tips Pertama : Tuliskan
 
Tuliskan mimpimu di langit-langit kamar, di dinding kamar kosan, di kaca rias, di notes kecil, di reminder hape canggih kalian, atau di Ms Word komputer kerja kalian. Emang penting ya ditulis? Wuhuhuuu. Seorang professor di bidang Psikologi di Universitas Dominican - California, Dr Gail Matthew, pernah melakukan riset terhadap 267 partisipan. Dan benar terbukti bahwa kamu 42 % lebih bisa mencapai mimpimu hanya dengan menuliskan mimpi tersebut.

source : ttpatton.com
Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Michael Hyatt dalam situs pribadinya mengungkapkan 5 alasan utama mengapa menuliskan mimpi penting untuk dilakukan. Berikut alasannya :

1. Karena tulisan tersebut akan memaksamu mengklarifikasi apa yang kamu inginkan
Ini dianalogikan seperti saat kita akan berlibur. Ketika kita tidak menuliskan tujuan kita kemana, kita akan binggung untuk menentukan baju apa yang harus dibawa, berapa uang yang harus dibawa, transportasi apa yang akan digunakan, menginap dimana, dan kapan waktu yang tepat untuk memulai berlibur. Berbeda jika kita sudah menuliskan tempat berlibur kita, akan sungguh mudah menjawab semua pertanyaan yang mengambang tersebut.

Dengan kata lain, setelah menuliskan mimpi kita. Tujuan menjadi jelas. Mengklarifikasi langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai mimpi tersebutpun lebih mudah dilakukan. Is it?

2. Karena tulisan tersebut akan memotivasimu untuk take action

Menuliskan mimpi adalah langkah pertama. Langkah selanjutnya adalah mewujudkan hal-hal yang harus ditempuh agar mimpi bisa terwujud. Dengan menulis dan membaca berulang kali mimpimu, itu akan memotivasi untuk mewujudkannya.

Ini benar terjadi pada saya. Di awal merantau, berat badan saya naik drastis hingga 5 dan hampir 6 kilogram. Pipi saya bulat sempurna seperti sedang menyimpan bakpao di kedua sisi. Hha. Tapi karena virus merah jambu (baca : jatuh cinta), saya berniat untuk langsing kembali. Target saya adalah kembali ke angka 44 kilogram. Target itu saya tulis besar sekali di kaca lemari pakaian. Tak tanggung-tanggung, saya tulis menggunakan spidol merah.

Tiap sehabis mandi dan berganti baju, saya pasti membaca angka 44 itu. Di pagi hari sebelum kerja, saya jadi ingat harus mengurangi makan gorengan dan camilan di kantor meski seringkali camilan di ruang rapat mengerling manja minta dilahap habis. Sedangkan di sore hari, saya jadi ingat untuk mengurangi porsi makan malam dan menggantinya dengan buah. Dalam waktu 4 bulan, saya berhasil mencapai target itu. Hhi.

3. Karena tulisan tersebut akan menjadi filter saat ada kesempatan atau mimpi lain yang tiba-tiba muncul
Nah. Satu ini juga termasuk alasan yang penting. Saya, memiliki mimpi awal untuk mebuat produk dengan bahan dasar kain kanvas dan cat akrilik sebagai hiasannya. Karena tidak menuliskan mimpi itu, saya selalu terbawa arus tiap kali melihat postingan rekan-rekan crafter tentang hiasan kain kanvas menggunakan sulam pita, menggunakan renda, menggunakan sulam benang, menggunakan teknik decoupage, dan lain-lain. Jadilah waktu say terbuang untuk riset teknik-teknik baru dan mimpi saya malah terbengkalai. Tak terwujud satupun karena berganti-ganti.

Itulah kenapa menuliskan mimpi sangat penting. Hal ini untuk memfilter tiap kali ada kesempatan untuk belajar hal baru, "Apakah sesuai dengan mimpi yang kamu tuliskan?"

4. Karena tulisan tersebut akan menjadi tameng saat hambatan datang

ya. Setiap hal baik akan menemui ujian dan hambatan. Saat-saat seperti itu kamu perlu memotivasi diri agar tak menyerah. Inilah fungsi tulisan itu. Mengingatkan kembali bahwa ada mimpi yang harus dicapai. Dan kita harus kuat menghadapi hambatan yang menghadang. Boleh lho kamu tuliskan ini di bawah mimpimu, "Ada 1001 jalan menuju Roma." ^.^

5. Karena tulisan tersebut membuatmu dapat melihat dan merayakan progres pencapaian mimpimu

Ketika kamu menuliskannya, mimpi tidak lagi hanya ada di angan-angan. Tiap progres yang sudah kamu lakukan bisa kamu catat di sebelahnya. Jadi kamu bisa tau saat ada perkembangan pencapaian mimpi itu dan kamu bisa berbahagia karenanya. Dengan merayakan progres tersebut, dijamin kamu akan makin giat melakukan langkah demi langkah yang harus ditempuh agar mimpimu segera terealisasi.

Ini juga terjadi pada saya, saat awal-awal memiliki blog, tiap beberapa jam sekali saya cek viewernya. Postingan pertama jumlah viewer sedikit sekali, tapi pada posting-posting berikutnya, jumlahnya meningkat dengan cukup signifikan. Saya pun super bahagia dan heboh tiap kali grafiknya naik. "Lihat-lihat, viewerku udah balap viewermu loh," Teriak saya via WhatsApp kepada sang suami, berulang kali dalam sehari. Hha.

Tips Kedua : Berkumpul dengan Orang yang Memiliki Tujuan Sama
 
Ini seperti wejangan agar menjadi orang yang sholeh, "Berkumpullah dengan orang-orang sholeh." Ya. Berteman dengan orang yang memiliki tujuan sama akan membantu kita untuk mengingat bahwa mimpi harus diraih. Selain itu, dengan berteman kita akan mudah belajar banyak hal termasuk tips and trick menghadapi hambatan untuk meraih mimpi kita.

Seperti para pejuang beasiswa luar negeri, akan lebih baik jika mengikuti forum-forum pencari beasiswa. Biasanya di forum-forum tersebut akan dibahas hambatan-hambatan yang mungkin ditemui dalam pencarian beasiswa dan sharing dari para pendahulu yang telah sukses mendapatkan beasiswa mengenai bagaimana cara mengatasinya.

Jikalau kamu susah juga mendapatkan teman atau forum yang cocok, cukup punyalah reminder hidup yang selalu mengingatkan bahwa mimpi harus diwujudkan. Sama seperti saya, mengikuti beberapa forum namun yang paling ampuh menghajar berbagai kata "Lha" alias kemalasan adalah si reminder hidup. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah si teman, sahabat, musuh, pacar, dan suami saya. Hahaha. Kadang dibilangi secara halus, kadang alasan saya dibantah dengan mudah, kadang saya diskak-mat dengan satu kalimat, kadang dihayo-hayo seperti saat bapak membangunkan saya dan abang saya sholat subuh dulu, kadang dipuji-puji. Hhe. Sabar bener dah reminder saya. Love you, RenKun (*ups. Maaf, harusnya bagian ini disensor yaa.. Hhi).

Reminder Hidup Saya Tercintah :*
So, mari bersemangat mewujudkan mimpi kita yaa.. Saya juga sedang tertatih kok. Masih terus belajar, tapi kalo gak memulai langkah pertama, bagaimana kita bisa mencapai langkah ke seratus ya?

Salam cinta dari sang pemimpi yang tengah berjuang menggapai mimpi. ^.^



(*) 1.130 cm3 adalah dimensi otak wanita
(**) globe adalah bola dunia

Merantaulah, Agar Kau Tegar Saat Dunia Tak Lagi Selembut Potongan Chiffon Cake

Hari ini, saya kedatangan tamu yang sudah cukup jarang berkunjung. Dismenorea namanya. Atau orang-orang lebih sering menyebutnya "Nyeri Haid". Siksanya sudah tak seperih dan selama dulu. Tapi ingatan tentang ibu langsung muncul tanpa bisa dibendung. Ya. Jaman SMP hingga awal kuliah, tamu ini rutin datang tiap bulan. Jika yang lain didatangi hanya dalam waktu 3 hingga 4 jam, maka ia setia menemani hingga dua hari penuh. Jika yang lain perlu surat dokter untuk mendapat izin tidak masuk karena sakit, maka saya hanya perlu mengirim sms kepada Ibu Wali Kelas dan jawabannya akan sama, "Iya Lel, cepet sembuh ya. Gak papa gak masuk asal gak ketinggalan pelajaran." Ia hafal di luar kepala jadwal saya didatangi tamu ini.

Jika Dismenorea bertamu, barang tentu ibulah yang paling sibuk menyiapkan segelas besar teh manis hangat. Mengganti air hangat di botol kaca setiap beberapa jam untuk mengompres perut. Membuatkan air rebusan temulawak. Menyuapi makan agar obat penghilang nyeri bisa kuminum tepat waktu (meski seringkali tak berefek, sakitnya tetap luar biasa. Tapi minimal saya bisa tidur pulas sejenak). Melumasi perut dan punggung saya dengan minyak kayu putih. Dan entah membuat ramuan apa saja yang kata orang bisa meredakan sakit saya.

Jika Dismenorea bertamu, Ibulah yang dengan sabar menanti di sebelah. Tanpa kata. Tanpa gerak-gerik serampangan, karena tempat tidur bergerak sedikit akan membuat saya merasakan nyeri luar biasa. Sakit saya tergolong abnormal. Hingga sang Bu Dokter menyarankan saya USG saat duduk di kelas I bangku SMA. Tak ada yang salah dengan anatomi rahim saya. Dan lagi-lagi, hanya obat penghilang nyeri yang kami bawa pulang.

Suatu waktu, di tengah kunjungan si Dismenorea, ibu berkata, "Sampean yak apa ya Nak kalo nanti kerja jauh dari Ibu? Gimana kalo sakit gini?" Saya hanya tersenyum. "Nanti cari ibu kos dan temen yang baik ya. Minta beliin bubur buat sarapan kalo pas sakit." Maka raut wajah dan kalimat itu selalu datang tiap kali si Dismenorea berkunjung. Dan pasti saya akan berakhir meringkuk di bawah selimut. Menahan sakit dan sedih di waktu yang bersamaan. Cemen ya?
source : aditpermana.wordpress.com
Itu salah satu tantangan berat yang belum saya tahlukkan hingga kini. Awal merantau, saya tak mau mendengar suara ibu. Saya melarangnya menelpon. Cukup sms saja. Kejam ya? Iya. Karena mendengar suara beliau pasti akan membuat saya menangis semalaman suntuk. Ya. Sekali menangis, akan susah bagi saya untuk berhenti. Meski dengan keputusan itu, saya harus menahan sedih tiap kali teman sekamar saya ditelpon ibunya (setiap hari). Mencoba ber-haha-hihi. Menjahili rekan kerja yang lain. Mencari-cari kegiatan agar bayangan ibu terlupakan.

Ahh. Merantau menyiksaku. Tapi benar adanya bahwa merantau adalah ajang menempa diri agar kita kuat saat masalah menghadang. Saat rasanya dunia tak lagi selembut potongan Chiffon Cake. Tapi merantau juga ada keuntungan dan hikmahnya loh. Apa aja sih keuntungan merantau?

1. Belajar Mengatur Keuangan

Merantau berarti siap untuk mandiri. Termasuk untuk masalah finansial. Maksudnya? Jikalau kamu tinggal serumah, semua kebutuhan terpenuhi, kalaupun ada kebutuhan di luar kebiasaan, kamu tanpa segan akan meminta dana tambahan kepada orang tua. Tapi saat merantau, rasa malu untuk meminta uang lebih akan muncul tanpa disadari. Saya tak tahu pasti alasannya. Namun itu terjadi pada saya dan rekan-rekan saya yang lain.

source : www.dvmannion.ie
Dengan begitu, kita akan menuntut diri kita untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Beberapa mungkin sudah matang mengatur keuangan sejak kecil, tapi tidak sedikit bukan yang termasuk golongan saya? Alias menabung untuk kemudian dihabiskan lagi. Hhi. Dengan merantau, saya sedikit demi sedikit belajar menata keuangan saya. Berapa yang digunakan untuk makan, bayar kos, biaya jalan-jalan, ditabung, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

2. Belajar Menjalin Hubungan dengan Orang Baru

Saya tergolong orang yang susah untuk dekat dengan orang baru dan lebih suka menikmati dunia saya sendiri. Saya bisa nge-mall seorang diri berteman imajinasi saya. Kebutuhan bersosialisasi sudah dipenuhi saat bercengkrama dengan Ibu, Bapak, Kakak, dan teman-teman dekat. Kalaupun ada apa-apa, mereka sudah barang tentu ada dan siap sedia membantu tanpa dikomando.

source : www.dgreetings.com
Tapi di dunia yang baru, hal tersebut tidak berlaku. Maka hal yang mutlak bagi saya untuk belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mulai dari rekan kerja, Bapak - Ibu Kos, Bapak Tukang Sate, Ibu Sayur depan kos, Mas-Mas Tukang Ojek, hingga satpam komplek. Ini tidak lain dan tidak bukan selain karena suatu saat saya pasti butuh mereka, saya harus mengisi ruang kosong di hati saya yang bernama "kehangatan keluarga". ^.^

3. Belajar Menghargai Waktu Bersama Orang Tersayang

Merantau itu juga berarti tak lagi memiliki banyak waktu untuk bertemu dan bercengkrama dengan orang tersayang. Ini menjadikan kita menghargai tiap waktu yang dimiliki saat bersama orang terkasih. Saat berada di rumah, usahakan semaksimal mungkin menjauh dari dunia maya. 
source : www.serenataflowers.com
Sebagian besar dari kita sudah sadar dengan pernyataan ini, "Teknologi itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat." Dengan merantau, kita akan berusaha membunuh pernyataan kedua (menjauhkan yang dekat) karena saat-saat bersama mereka adalh hal yang kita rindukan. Maka secara pasti kita tidak akan melewatkan waktu-waktu berharga itu demi media sosial, youtube, dan lain-lainnya.

4. Bisa Explore Lebih Banyak Hal

Awalnya mungkin mengunjungi tempat baru, mencoba kegiatan baru, dan membuat kesibukan baru adalah hal yang dilakukan untuk membunuh rindu akan kampung halaman. Tapi justru hal tersebutlah yang membuka mata kita akan hal-hal baru yang belum kita ketahui sebelumnya. Yang barang tentu di dalamnya banyak pelajaran dan pengetahuan-pengetahuan baru yang bermanfaat bagi kita.
source : www.youtube.com

5. Belajar Berani dalam Segala Hal

Jika berada di rumah, menghadapi sesuatu yang sedikit sulit, kita akan dengan mudah meminta kakak atau orang tua untuk mendampingi. Tapi di perantauan, kita tak mungkin bisa mengandalkan hal tersebut. Kita dituntut untuk bisa berani dalam segala hal. Kan ada teman? Iya, tapi bukan berarti mereka juga tidak mungkin suatu saat akan ada kesibukan saat kita membutuhkan pendampingan mereka toh? Maka Bonek (Bondo Nekat = Modal Nekat) adalah hal yang pasti kita tempuh.

Hal ini lama-kelamaan akan menempa kita menjadi seorang yang berani, mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Meski merantau menyiksa, ternyata ada untungnya juga yaa. Semangat merantaaau! 

Pokémon Vector [JPG / PNG / SVG]

Hey! Leblung - Saya rasa histeria akan game fenomenal Pokémon GO masih belum surut, walaupun sudah sedikit menurun grafiknya dibandingkan dengan statistik pada beberapa hari pertama game ini dirilis.

Di kesempatan ini Hey! Leblung ingin berbagi wallpaper / gambar / vektor / icon bertemakan Pokémon untuk kalian semua baik penggemar dan juga penikmat game Pokémon GO di seluruh jagat raya ini. Coba lihat salah satu contoh wallpaper atau vektor Pokémon Charmander dibawah ini, pastinya lucu dan cocok sekali untuk dipakai sebagai wallpaper di Smartphone ataupun device kalian yang lainnya.

Pokemon Vector Download
Gambar diatas itu sudah diedit, jadi agak acak-acakan. Mau versi yang asli? Download aja langsung dari sumbernya disini.


Credit :
Tony Thomas
Tony creates pixel-perfect UI kits & icons. His pug, Wednesday, is Medialoot's beloved mascot.

License :
FREE License
Download gratis tanpa khawatir melanggar hak cipta dari kreatornya, silahkan jika ingin digunakan untuk kebutuhan komersil maupun pribadi.

Tips Penting Berbelanja Ria via Online Shop!

“Aku mau kabur dari kenyataan* nih, Mas. Aku ke tempatmu yaa. Mau menyusuri Sungai Kapuas. Sama makan kepiting yang kayak kamu waktu ituuu.” Si adik manja lagi mem-propose kakak satu-satunya yang dimiliki.
“Ökee. Mau kesini kapan? Nanti makan Chai Kwe. Sama Roti Srikaya juga.”
“Wokayyy. Minggu depan gimana?”
“Minggu depan aku rapat, para bos lagi berkunjung ke sini. Depannya lagi aja?”
“Siaaaap. Eh. Di sana kan panas yaa. Aku perlu bawa topi pantai nggak? Bawa kacamata hitam juga nggak?”
“Kagaaaak! Lebay ini.” Si abang mulai sewot karena adiknya riweuh kalo bepergian. Hahaha..
“Baiklah. Okay then. I’ll buy airline ticket. Dadaah.”

Tanpa ba-bi-bu-ba-ba, saya memesan tiket ke Kota Khatulistiwa. 2 minggu lagi berangkat, jadi lebih baik segera pesan tiket agar harga tak melonjak dan bikin kantong saya makin tipis. Okay. Tiket sudah di tangan. Mm, nanti bawa baju warna itu, itu, sama itu. Mau foto yang banyak ahh. Secara it will be my first time to go Borneo Island. Harus diabadikan dengan baik dan benar. Lalu cerita seorang kawan terngiang..

“Iya tuh Mbak. Waktu di Bali kemarin, karena aku gak bawa kacamata item jadinya kalau diajak selfie aku merem-merem..”

Wah. Berarti aku harus bawa kacamata item. Sama topi pantai atau floppy hat biar makin kece ih! Maaf ya Mas Sian, kali ini saranmu untuk gak lebay kuabaikan. Hhi. Langsung dong ya gercep (gerak cepat) mencari jadwal yang pas untuk berbelanja. “Sabtu ini cuci-cuci segambreng sama bersih-bersih kamar. Minggunya udah janji mau nulis sama bersosialisasi dengan ibu kos. Minggu depannya udah berangkat ke Ponti. Yaaah. Kapan belinya? Mana harus ke Bandung dulu buat beli.” Saya pun galau. Pengen beli tapi waktu mepet. Tunggu, LET’S ONLINE SHOPPING!

source : www.forbes.com
Tanpa ba-bi-bu-ba-ba, saya mengutik akun instagram saya. Mencari Floppy Hat dan Kacamata Hitam yang kece lalalala. Hhe. Okay. Saya menemukan 3 online shop yang bisa mengakomodir keinginan saya. Sebutlah online shop A, B, dan C. Saya mau beli kacamata di A, floppy hat bisa saya beli di B dan C. Si A memiliki tampilan yang bagus, foto-foto produknya terlihat menarik karena menggunakan skill fotografi yang mumpuni. Namun ketika saya menghubungi si A melalui WhatsApp, ia lamaaa sekali balasnya. Saya mulai ragu. Tapi apalah daya, demi kacamata yang sesuai keinginan, saya mencoba bersabar dengan kelakuan si penjual. Akhirnya deal. Saya meminta pengiriman kilat. Dan seketika itu pula rupiah saya transfer setelah ia menuliskan total harga topi dan ongkos kirim. 

source : meagansmoda.com
1 hari berlalu, harusnya paket sudah saya terima dari si A. Tapi meminta resi-pun tak kunjung di balas. “Telpon aja. Jangan-jangan belum dikirim emang sama penjualnya.” Si Mas Pacar memberi saran setelah saya seharian heboh nungguin kedatangan si paket. Saya pun memutuskan untuk menelpon meski sembari sungkan-sungkan karena takut dianggap pembeli rempong dan gak sabaran (FYI, banyak tuh toko online yang akhir-akhir ini memasang keterangan “Pembeli gak sabar, silahkan ke toko sebelah!” Bujubuneng dah). Sekali dua kali tidak diangkat. Saya WhatsApp tidak dibalas.

Hari berlalu. Ia tak juga mengirimkan nomor resi saya. Huwaaaah. Meratap di pojokan kamar sambil cakar-cakar tembok. Hal ini berbeda 180 derajat dengan perlakuan online shop B dan C. Fotonya tidak sebagus milik toko A, tapi responnya sangat cepat. Bahkan mau menjelaskan detail ketika saya tanya bahan floppy hat yang saya inginkan. Setelah menimbang-nimbang, saya memilih beli floppy hat di online shop B. Sedikit gak enak sih dengan si C karena baik jugaaa. Tapi si Sista empunya online shop C dengan baik hati bilang, “Gapapa Mbak. Mungkin lain kali ada barang kita yang sesuai sama Mbak.” Makin gak enak hati dah. Dan 1 hari setelahnya barang si B datang sesuai perjanjian.

Mm, saya newbie sih di bidang perbelanjaan online ini. Bisa dihitung dengan jari berapa kali saya memilih belanja online. Nampaknya memang harus memperhatikan beberapa hal sebelum berbelanja online ya. Ini nih beberapa tips jitu berbelanja online yang saya dapatkan dari pengalaman pribadi, cerita beberapa teman, dan dari beberapa artikel :

1.    Lihat dengan Detail Foto Produk dan Deskripsi Produk

Saat berbelanja, tidak dipungkiri bahwa gambar produk adalah hal pertama dan terbesar yang mempengaruhi insting kita untuk membeli sebuah produk. Foto produk yang bagus menunjukkan bahwa si pemilik toko online memang serius dalam menjalankan bisnis ini karena ia memiliki skill dan usaha untuk menampilkan dagangannya dengan baik.

Namun, dewasa ini banyak sistem reseller dan dropshipper, dimana proses produksi hingga pemotretan dilakukan oleh produsen atau agen utama, sedangkan reseller dan dropshipper hanya bertugas melakukan pemasaran sehingga tinggal mencopot foto dari agen utama. Untuk mengantisipasi hal ini, langkah kedua yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan mengamati foto produk adalah mengamati deskripsi produk tersebut. Mengapa hal ini penting?


Deskripsi produk ini menjelaskan seberapa besar pengetahuan sang penjual terhadap barang yang ia miliki. Dan lebih-lebih, deskripsi produk akan memudahkan kita untuk membayangkan bagaimana bentuk asli produk yang akan kita beli. Misal beli baju, sudah seyogyanya dituliskan panjang baju, lebar dada, dan panjang lengan untuk masing-masing size (S, M, L, XL, dan lain-lain). Hal ini dikarenakan standar ukuran masing-masing perusahaan baju berbeda satu dengan yang lain. Begitu pula dengan bahan yang digunakan dan warna apa saja yang tersedia.

Jikalau si penjual hanya menuliskan minim sekali informasi, bisa jadi si penjual ini newbie atau bahkan ia tak tau sama sekali tentang produk yang ia jual. Gak mau dong kecewa saat menerima barang karena jauh dari foto yang kita lihat? So, perhatikan deskripsi yang ditulis ya. Bila kurang jelas, kamu bisa tanya-tanya dulu detail produk ke penjual lewat kontak yang disediakan. Itu diperbolehkan kok. Hak kamu sebagai pembeli untuk mengetahui pasti kondisi produk yang akan kamu beli. Mudahnya, jangan sampai beli Koala dalam karung deh! (Kok Koala? karena beli kucing sudah terlalu mainstream. Hhe).

2.    Update Produk
Partner kerja saya, Bumils kecil (begitu saya menyebutnya) sekali waktu pernah ngomel-ngomel karena ia sudah gigih mencari boots bayi sebagai kado, begitu nemu, dihubungi, ehh sold out. Ia menanyakan produk lain ke online shop yang sama, sold out juga. Hhi. Makanya saya jadikan salah satu parameter.

Sama halnya dengan perusahaan besar yang concern terhadap persediaan bahan bakunya, para pemilik online shop juga sudah sewajarnya memerdulikan stock mereka. Hal ini menunjukkan seberapa baik manajemen mereka terhadap produk yang dimiliki. Beberapa online shop menggunakan sistem “Sold, Gambar Dihapus”, ini lebih mudah dan tidak PHP bagi kami para pembeli sih. 

source : www.camilyo.com
So, kalau kamu mau tau manajemen si penjual, perhatikan apakah catalog mereka selalu diupdate atau dibiarkan begitu saja setelah diupload. ^.^

3.    Respon Penjual Saat Dihubungi
Hal ini penting dilakukan. Seperti pengalaman yang sudah saya jalani, respon penjual menceritakan secara jelas apakah si penjual memang memberikan pelayanan prima kepada para pembelinya atau ogah-ogahan jualnya. Bahkan bisa jadi ia cuma penipu yang mengambil kesempatan dan kesempitan untuk mengelabuhi orang-orang lugu, rendah hati, dan penyabar seperti saya (Pliss jangan muntah apalagi block situs ini yah. Hahaha).

source : www.christiankonline.com
Respon yang kita harapkan memang yang cepat. Namun yang lebih penting adalah keramahan yang ia tawarkan dan mau menjelaskan dengan detail setiap pertanyaan yang kita ajukan. Bahkan online shop B mau minta maaf untuk respon yang melambat karena ia harus cek pengiriman produk loh. Salut euy.

4.    Perhatikan Testimoni Pembeli
Kebanyakan penjual akan mengupload screenshot testimoni pembelinya. Dan bukan hal yang aneh kok kalo kalian berpikir begini, “Yang diupload ya pasti yang baik-baik ajalah.” Saya juga berpikir demikian kok. Gak mungkin dong kalo saya punya online shop, testimoni orang marah-marah saya screenshot trus upload. Hhe. Biasanya, online shop yang concern dengan pelanggannya menyediakan tempat sendiri untuk testimoni para pelanggannya kok. Dan rutin mengupdate testimoni pembelinya.

source : www.heavencase.com
5.    Lakukan Sedikit Survei di Google
Langkah ke -5 ini sebenarnya menunjang langkah ke-4 sih. Kalo testimoni saja belum cukup untuk menumbuhkan rasa percaya kita ke si penjual. Coba aja langsung gugling nama tokonya. Perhatikan : seberapa mudah nemuin toko tersebut, seberapa banyak orang yang review toko tersebut, dan seberapa baik reputasinya di mata para reviewer. ^.^

Langkah sederhana tapi dijamin very useful. Dicoba yah!

6.    Mintalah Nomor Resi Pengiriman Barang
Nah. Begitu kamu sudah melakukan pembayaran, segera minta resi pengirman. Penjual yang baik tidak akan menghindar dan memberi banyak alasan ketika ditanya nomor resi. Kenapa? Karena dengan memiliki nomor resi, si pembeli bisa dengan mandiri mencari tau keberadaan paket produknya tanpa harus ribet bertanya ke si penjual. So, ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Si pembeli bisa monitor keberadaan paketnya, sedangkan si penjual bebas dari berbagai pertanyaan, “Paket saya sampai mana ya Sist?” Kan iya kalo yang nanya 1, kalo 100? Habis dah waktu buat bales pertanyaan begitu.

7.    Simpan Bukti Pembayaran
Nah, yang satu ini tidak kalah penting. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, missal penjual mengira kamu belum bayar, kamu masih punya bukti untuk memperkuat penjelasanmu. ^.^

Itu tadi 7 Tips Berbelanja Online ala Leblung. Semoga bermanfaat dan selamat berbelanja riaaa!






*Kabur dari kenyataan = berlibur