Tarawih Berjama'ah, Kuy-lah Lurusin Shaf-nya !

"Pak, Bapaaak. Antos ilo nakal. Tempat tarawih kita diambil," teriak Laily kecil kepada Bapaknya yang menjabat sebagai imam sholat tarawih saban Sabtu-Minggu.
"Tos, ayo yang laki-laki pindah ke dalam," timpal Bapak seraya mengusir Antos, teman kecilku, dari markas para gadis kecil.
Dan yang terjadi berikutnya adalah saya, Mbak Fia, Winda, dan teman-teman cewek yang lain gerudukan menuju spot itu. Spot andalan. Spot yang disediakan oleh para pengurus mushola bagi kami, para gadis kecil yang hobi cekikikan saat sholat.

source : http://konsultasifiqih.com

Yass. Itu masa dimana saya masih hobi berisik, cekakak-cekikik saat sholat tarawih. Saat dimana tarawihnya bolong-bolong karena lelah. Shalat 4 rakaat, istirahat 2 rakaat, sholat lagi, istirahat lagi, dan begitu seterusnya. Cuma sholat witirnya yang gak pake istirahat (ya iya, Liiiil! Cuma 3 rakaat ini. hhe).

Di jaman itu sih gak ada namanya anak kecil diusir dari masjid atau mushola karena berisik. Yang ada sih diomelin ibu-ibu, dicubit, dipelototin, dan sejenisnya. Tapi kami tetap saja bandel. Besoknya tetap datang dengan riang dan mengulangi kesalahan yang sama : berisik. Wkwkwk. Mungkin sih, karena itu, para pengurus mushola memberi win-win solution. Yaitu memberi kami markas andalan. Letaknya di luar mushola, di pojok kanan, dilingkupi pagar sederhana yang terbuat dari bambu. Ih, jelek dong! Eihhh, sejuknya luar biasa meeen! Jadilah kami selalu berusaha menguasai tempat itu. Hhaha. Badung yaa?

Waktu berlalu, Laily kecil telah bertambah usianya. Mungkin ini terjadi saat saya duduk di kelas 3 SD, saya pulang tarawih dengan wajah murung,
"Paaak. Bu Parni lho nakalan. Masa' aku sudah taruh sajadah duluan di baris pertama, urutan pertama. Pas aku tinggal wudhu dipindah ke belakang. Kan aku dateng duluan," aku memburu Bapak yang pulang tadarus dengan omelan panjang.
"Ya besok Adik datang lebih awal."
"Lho, tadi aku udah datang paling awal kok."
"Ya wudhunya di rumah, biar ndak pake ninggal sajadah."
"Bilangin pokoknya Bu Parni. Nakalan ituuu. Aku duluan kok," tetep bersikukuh Bu Parni salah.
Bapak cuma mesem melihat gadis ciliknya manyun lima (5) sentimeter. Hha.

Ya, kala itu, saya sudah naik level. Sudah berhenti tinggal di markas. Sudah mulai sholat lengkap, 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Dan siapa bilang kalau persaingan tidak berat seperti perebutan markas? Lebih berat. lawannya ibu-ibu sepuh, ibu-ibu guru ngaji, dan ibu-ibu teman main saya. Hha. Mana mungkin saya teriak-teriak minta mereka pergi? Jadi ya begitu. Ngomel ke Bapak sepulang tarawih kalau terusir. Trus besoknya datang lebih awal dan gak pergi kemana-mana demi mengamankan tempat paling depan. Biar dapat pahala sebesar unta kata Pak Guru Ngaji.

Nah, entah mengapa 3.5 tahun merantau di kota ini, saya belum pernah melihat ibu-ibu berebutan untuk menempati shaf paling depan. Tak pernah sekalipun saya dapati shaf yang tertata rapi. Selalu bolong di sana sini. Bagian belakang malah yang terisi penuh duluan. Menyisakan lubang besar di shaf depan. Belum lagi jika rakaat ke delapan selesai. Geruduuuuk. Pada pulang duluan, menyisakan lubang besar dimana-mana. Dan ajaibnya tidak ada yang bergerak maju mengisi lubang-lubang kosong itu.

Saya masih ingat ketika pertama kali tarawih di Masjid Agung, ketika pasukan delapan rakaat pulang, saya kebingungan. "Lho? kan belum witir, di sini delapan rakaat aja ya Bu?" tanya saya kepada ibu-ibu yang sedang melipat sajadahnya.
"23 kok Teh."
"Ohh.."
Mm. Kali itu, saya pulang seperti Laily kecil. Siap ngomel-ngomel. Tapi bukan ke Bapak. Ke Mas Pacar. Hha.
"Apa aku ngadep aja ke imam besarnya ya, RenKun? Gak bisa banget nih begini."
"Ya ndak papa dicoba aja.." jawabnya lempeng.
Tapi saya yang ciut sendiri. Ya kali. Anak rantau, baru beberapa bulan di kota orang, masih medok banget, tiba-tiba ngadep ke imam besar. Anaknya lemah. Hhu. Jadilah saya biarkan itu terjadi.

Padahal nih, kalo di musholla kami, imamnya, yang tidak lain tidak bukan adalah Bapak saya sendiri, kejemnya minta ampun. Suka marah-marah sebelum sholat tuh.
"Ayo dilurusin shafnya. Itu ibu-ibu gak usah ngikutin lebarnya sajadah. Dipepetin sama sebelahnya badannya. Mbak Mina, itu masih bisa nambah satu. Ayo maju yang di belakang."
Kadang saya rada malu kalo Bapak marahin ibu-ibu. Hha. Untung gak ditimpuk sama ibu-ibu kan yaa. Eh tapiii, setelah gede gini baru kerasa ya butuhnya. Baru tau juga kenapa kok perlu juga tuh imam bilangin makmumnya biar rapihin shaf sebelum shalat. Ada haditsnya ternyata :

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk tegaknya sholat.” (HR Bukhary)

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.” (HR Ibnu Majah)

So, Mbak, Teteh, Uni, Ibu, Budhe, Bulik, Mbah yang shalat tarawih berjamaah, yuk lurusin shaf-nya. Demi kebaikan bersama kok. ^.^

*saya sudah draft komik tentang ini tadi belom jadi. Nanti deh ditambahin ya..

Ojju K-Food Tunjungan Plaza, Tempat Ngemil ala Korea

"Siska, mau makan apa kita?"
"Apa ya Mbak? Gatau.."
"Eh bentar, bentar.." lalu saya tunjukkan foto ini :
"Mau makan itu, Mbak."
"Hha. Gak ada di Surabaya ini. Baru ada di Jakarta."
"Yah, Mbak. Udah terlanjur kepengen," ujarnya kesal.

Hhi. Berbulan-bulan lalu, di tahun 2017, saya menemukan foto itu di Instagram. Ayam Madu Merah ala Korea a.k.a Korean Honey Chicken dibalut Keju Mozzarella meleleh super banyak. Ia sukses bikin saya jatuh hati pada pandangan pertama. Cailaaah. Seketika juga langsung mencatatnya di 'Must Try Food List' kepunyaan saya.

Waktu berselang, pada Oktober 2017 kabar bahwa si makanan menggiurkan itu sudah tersedia di Surabaya bikin saya girang. Tapi tak pernah sempat untuk mencicipinya. Dan akhirnya kesempatan datang pada hari Sabtu lalu. It comes when;
"Mau makan apa biar moodnya jadi baik lagi? Beli Gelato tah?" kata Mas Suami yang liat istrinya sedih pasca ditinggal Ibuk pulang balik ke Malang. Anaknya lemah. 
"Gak mau Gelato, kan tadinya mau ajak Ibuk makan Gelato. Nanti nangis lagi inget Ibuk. Trus Ibuk suka makan Shabu-Shabu, kalo makan Shabu-Shabu, nanti inget juga."
"Trus makan apa lho?"
"Mm, mau Ojju K-Food aja deh. Ada di Tunjungan Plaza 5 Level 5. Kan bisa sekalian beli keperluan Siska."
"Yaudah yuk siap-siap."

Akhirnya pergilah kami ke Tunjungan Plaza. Rame. Secara itu malem minggu ya. Banyak muda-mudi dan sepaket keluarga yang menjejali tenant-tenant Tunjungan Plaza. Mm, mungkin juga karena mendekati Ramadhan sih. Beberapa keluarga memilih melengkapi keperluan Ramadhan dan keperluan Lebaran jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah mengunjungi beberapa tenant untuk membeli keperluan si adik, akhirnya kami menuju Tunjungan Plaza Level 5, tempat dimana si makanan menggiurkan bercokol.

Tiktuk. Tiktuk. Mm, kok gak ketemu-ketemu yaa.. Hhe. sekitar 5 menit muter-muter barulah tulisan Ojju nampak. Tepat di sebelah Fish & Co. Mm, mungkin karena tempat makan lain lebih besar ya, jadi Ojju K-Food ini sedikit susah ditemukan. But it's okay-lah.. 


Begitu masuk, suasana ala-ala tempat makan di Korea langsung terasa. Furniture dari kayu-kayu berwarna coklat muda. Ornamen-ornamen khas Korea. Lukisan dinding yang artistik. Serta mbak-mbak dan mas-mas yang mengucap, "Annyeong haseo" atau "Kamsahamnida" dengan logat Surabaya a.k.a medok seperti saya. It's cute and warm at the same time.

"Untuk berapa orang?"
"Tiga orang, Mbak."
Ia pun mengantar kami ke tempat duduk di tengah-tengah resto. Menyerahkan buku menu, tersenyum ramah, dan meninggalkan kami yang sedetik kemudian sudah khidmat membaca menu makanan. ^.^
Karena dari awal pengen yang ber-mozzarella itu, jadilah kami memilih Rolling Cheese - Beef Ribs level mild. Both of them love spicy food, but i'm not. Jadi milih yang mild ajah. Trus, kok bukan ayam yang dipilih? Biar pernah aja. Kalo ayam, nanti berasa makan ayam Recheese. Dan di buku menu ditulis Plenty for 2, Enough for 3. Jadilah pesen 1 ajah buat bertiga. Oh ya, paket itu sudah termasuk Banchan. Banchan itu sepaket Cream Corn, Kimchi, Macaroni Salad, dan Oi Muchim. Untuk minum, kami memilih 1 Pitcher Corn Tea. 1 buat ramean biar rasa solidaritas tumbuh subur di hati kami bertiga. *apasih lil. hhi..

Tak lama, minuman datang, disusul dengan sepaket Banchan. First impression, "Mini ya Banchannya." Hhe. It's look like tester gitu. Kek gini :


Mm, sorry to say, tapi ini Cream Corn-nya minim Corn. Atau emang gitu ya? Tapi di buku menu kek banyak gitu jagungnya. Kimchinya cuma 3 potong sawi putih. Mm, kek udah ditakdirkan 1 orang makan 1 potong aja ini mah. Macaroni Salad dan Oi Munchim-nya lumayan-lah. Kami foto-foto doang lalu disisihkan. sekitar 5 menit kemudian, main menu dihidangkan. Waaah. Potongan mozzarela-nya menggoda. Dan, ada tambahan potongan Potato Wedges di sekitar Beef Ribsnya.

Setelah bersepakat dengan Mas-Mas Waitress untuk eksekusi Rolling Cheese - Beef Ribs-nya saat itu juga. Api mulai dinyalakan. Mas Suami memilih mengambil seluruh Potato Wedges agar tak bercampur mozzarela. Lalu dengan lihai, Mas Waitress mengaduk-aduk si keju. memastikan leleh sempurna dan bebas dari gosong. Setelah meleleh sempurna, Beef Ribs berjumlah 5 rusuk itu dipotong-potong. Selanjutnya ia menggulung Beef Ribs dengan lelehan mozzarella. Waaah. It's the best part sih menurutku. Bikin air ludah diproduksi banyak alias nge-ces. Hhe. Setelah itu, potongan Beef Ribs diletakkan satu per satu di tiap piring makan. Api dimatikan. It's time to taste it. Yuhuuu.

Untuk memakan Rolling Cheese, disediakan sarung tangan plastik sehingga kita tak perlu takut tangan kotor atau tangan terasa panas akibat memegang makanan pedas. Gigitan pertama, mozzarella yang kenyal, asin khas keju memenuhi mulut saya. Disusul dengan rasa manis, sedikit pedas, dan rasa rempah khas Korea. Buat saya, ini enak. Hampir seperti Recheese sih rasanya. Cuma kalo Recheese rasanya lebih kaya karena baluran tepung pada kulit ayamnya. Bagaimana dengan dagingnya? Empuknya pas. Tidak terlalu sulit digigit tapi juga tidak hancur. ^.^

Karena Ribs-nya hanya 5, Mas Suami memilih memakan satu saja. Hhe. Ngalah demi adik dan istrinya yang tampak lahap. Makan 2 potong Beef Ribs dan beberapa Potato Wedges, perut saya belum penuh juga. Saatnya mengincip si Banchan. Cream Corn, manis susu plus jagung. Sudah. Jadilah ini seperti meminum susu rasa vanilla yang diberi topping potongan jagung rebus. Emang gini ya Cream Corn ? I never taste Cream Corn before, so i can't give a rate.

Banchan kedua : Kimchi. Mm, mirip asinan dengan bau Gochujang (Pasta Cabai Khas Korea). Karena memang basicnya gak suka Kimchi, jadi ya buat saya biasa aja sih. Lalu Oi Munchim, ini semacam asinan juga dengan potongan Timun Jepang kalo tidak salah. Yang ini lebih manis, jadi buat kami sih ini lebih menarik dari Kimchi. Berasa segar gitu pas dimakan. Dan terakhir, Macaroni Salad. Mm, bisa dibilang tidak terlalu spesial. Rasa Kejunya kurang kuat. Bisa jadi sih karena sisa rasa mozzarela masih bertengger di sela-sela gigi saya. Bagaimana dengan Corn Tea? Yang bikin menarik tempat minumnya yang berbahan logam. Jadi berasa kek minum Soju gitu. Tapi agak gede sih ini gelasnya. Rasanya? Pahit. Dan aroma jagungnya terasa. Saya sih kurang suka. Hhe. 

Semua makanan dan minuman sudah dicoba. Saya suka Rolling Cheese-nya, tapi tidak Banchan-nya. Tapi ya itu, paket ini untuk 3 orang bukan Enough. It's minus. Kami masih lapaaar. Bahkan untuk saya yang notabene makan dikit aja lapar, apalagi Mas Suami yak. Jadilah kami bilang ini camilan, bukan makanan utama. Hhe.

Bagaimana dengan harga? Untuk Rolling Cheese - Beef Ribs dibanderol harga 219 ribu rupiah. Sedangkan Corn Tea dihargai 22 ribu rupiah untuk pitcher dengan volume 1,2 liter. Untuk harga itu dan tingkat kekenyangan, saya kasih rate 3 dari 5 ya.. So, it's okay to try but not recommended when you are hungry.

Food Planning for Ramadhan

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba
Marhaban ya Ramadhan

"Yeaaay..! Finally we meet again, dude," saya rasanya akan teriak begitu kalo Ramadhan berwujud seperti mahluk. Bahagia. Kek alam semesta juga mendukung kedatangannya gitu. Purwakarta yang beberapa hari ini panas mendadak bercuaca ramah. That's amaze me.

Nah, kehebohan kala Ramadhan yang saya yakin ada di tiap rumah adalah persiapan buka puasa dan makan sahur. "Mau takjil apa yah? Kurma sih pasti. Sama es apa ya? Ih es kuwut bakal seger, atau es blewah aja? Es cincau bisa juga, es kacang merah dong. Es pisang hijau juga enak." Hhi. Itu baru bahas takjil yaa.. Belum menu sayur dan lauk untuk buka puasa dan sahur. Makin panjang deretan pilihan yang dijabarkan oleh masing-masing anggota keluarga.

So, bagi saya mencatat itu penting. Biar gak lupa. Biar perencanaannya tepat. Itu juga bisa banget diaplikasikan untuk merencanakan menu saat Ramadhan loh. Biar makin semangat merencanakan kudapan spesial untuk keluarga di rumah, kamu bisa pakai template ini :


Silakan didownload dan digunakan dengan hati riang. Boleh banget dishare ke teman-teman lainnya. 

Suami Gamers VS Istri Ngomelers

I do believe, di luar sana banyak yang bernasib sama dengan saya yang ditinggal suaminya main game. Duh, balada istri gamers begini yess. Apalagi kalo yang dimainin tuh game online, yang katanya seru dunia akhirat karena bisa ngobrol sama pemain lain yang entah ada di belahan dunia mana. Duh. Makin-makin deh khidmatnya. Suka tiba-tiba nyeletuk, "Kyaaa, akhirnya yang lain online juga," atau "Mana ini yang lain kok gak muncul bantuin lawan yang ini, berat banget lawan yang ini," dan kalimat-kalimat ajaib lainnya. Hemmh.

Nah, bukan cuma itu. Ada beberapa game yang tiap hari tuh ada semacam Daily Challenge gitu. Ada Daily Bonus juga gitu. Jadi ya mereka main tiap hari buat mengejar bonus itu. Hadeeeh. Udah macam makan aja tiap hari. 

Dya maen ini nih. Lineage. Tiap hari kudu main biar dapet semacem Daily Bonus. Rawr
Jadilah, daripada muka saya makin keriput tak berbentuk, saya buka laptop di belakangnya. Browsing-browsing buat cari teman senasib. Kali-kali ada yang bagi-bagi tips cara ampuh untuk menghadapi rentetan panjang "Balada Istri Gamers". Hha. Saya sedudul itu emang, semua-semua di-gugling. Daaan, gak nemuuu. Yang ada adalah tips-tips malaikat semacam : 

Mintalah Dya Ajarin Kamu Main Game, Kalo Sudah Jago Bisa Jadi Teman Battle

Duh. Yang ini bukan dya banget. Pernah tuh, kan di kantor ada Liga PES Ramadhan, jadi jam makan siang diganti tanding PES gitu. Kan rame yaa, aku bilang dong ke RenKun ;

"Nanti ajarin aku ya buat nge-PES."
"Lha kenapa kok tiba-tiba gitu?"
"Iya, mau ikut Liga PES Ramadhan nih. Kan keren gitu gak sih kalo aku jadi satu-satunya peserta cewek trus menang." Hha, bisa nendang aja udah bagus, ini langsung targetin buat menang.
"Aku lebih suka kamu belajar masak aja."

Daaaar. Langsung ngeloyor pergi sebelum tema belajar-belajar yang lain dikeluarkan. Hahaha..

Bersyukurlah Dya Mainin Game dan Bukan Mainin Cewek Lain 

What the **** is this tips ya? Aneh banget dah. Emang pilihan di dunia cuma 2 : main game atau main cewek? Setdah. *ibu-ibu makin emosi baca tips yang ini. Hahaha.

Temukan Passion Game Kamu

*nangis bacanya. Harus banget ya main game juga? Udah kayak hidup, nge-game aja nyari yang passion. Mending cari passion idup deh daripada ribet kudu cari passion game. Please.

Hhaha. Marah-marah banget ya sayaaa? Untung puasaan belom mulai kan. Jadi, karena tips-tipsnya alhamdulillah gak ada yang cocok, saya balik badan, eh balik ke aplikasi yang lain : Ms Word. Nulis ini dan alhamdulillah rada reda emosinya. Gegara bapak itu tiba-tiba tanya juga sih, "Kamu pengen apa?" Rasanya pengen jawab, "Pengen ke Switzerland, mau main salju." Tapi kan ya keknya malah dijitak ya. Jadi nulis aja curhat gak jelas ini. hhaha.


So, buat mamak-mamak atau mbak-mbak ngomelers macam saya, kalo lagi sebel banget. Mending nulis deh, curhat gitu, atau nyanyi-nyanyi kenceng di kamar mandi biar emosinya reda. Lebih bagus lagi sih diutarakan aja sama pasangan kalo sebaiknya game tuh diprioritaskan nomer ke sekian puluh. Toh kita tetep bisa idup bahagia kan meski nggak nge-game. Hahaha. Dan lagi, game tuh gak diajakin ngobrol juga gak keki, kalo istrimu gak diajakin ngobrol, bisa pecah tuh dua lusin piring di lemari.  Sudah segitu ajaaah.

Find a Great Iftar Through These SocMed Account


Dalam hitungan hari, kita umat muslim akan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Gegap gempita bahagia itu disampaikan lewat berbagai pertanda : tukang es kelapa muda dadakan yang mulai muncul di berbagai sudut kota, gantungan aneka petasan yang membuat anak-anak kecil merengek ke ibundanya, dan dibagikannya jadwal sholat di beberapa kantor maupun pertokoan secara gratis. Yaaa. Ramadhan sudah dinanti.

Nah, satu momen yang penting selain menjalankan ibadah puasa itu sendiri adalah saat berbuka atau iftar. Bukan karena terlalu bahagia puasa berakhir yaa, absolutely no. Tapi karena di momen ini semua anggota keluarga mengusahakan untuk pulang tepat waktu. Momen kebersamaan ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Dan makin bertambah lengkap dengan berbagai hidangan spesial.
Nah, untuk kamu yang bertugas menyiapkan hidangan spesial untuk berbuka puasa, bisa banget menengok beberapa akun media sosial ini untuk mencari resep dan inspirasi hidangan iftar :

Akun ini baru saya temukan beberapa minggu yang lalu. Berbekal keyword "Strawberry Latte", diperkenalkanlah saya dengan akun yang artistik ini. Pembuatnya berasal dari Korea Selatan, karena itu jugalah dari 167 video yang mereka buat, hampir semua mengenalkan makanan-makanan ala Korea. 

Tapi, beberapa video mengenai beverage atau minuman ala Wife's Cuisine membuat saya jatuh hati. Filming yang sederhana, mengandalkan suara-suara natural saat memasak seperti suara gemericik air saat mencuci bahan makanan, suara ketukan pisau saat bersentuhan dengan talenan, atau suara denting sendok menjadikan proses memasak nampak syahdu. Tidak hanya itu, bahan-bahan yang digunakan juga tercatat jelas di video maupun kotak deskripsi. Ini tentu sangat memudahkan. 

Resep-resep Wife's Cuisine yang masuk dalam list saya antara lain : Mango Shaved Ice, Melon Shaved Ice, Strawberry Syrup & Latte, serta Watermelon Ade. Bahannya mudah didapat, caranya mudah dipahami, dan tampilannya menggoda. Saya sudah sangat penasaran untuk membuatnya.


Siapa sih yang gak kenal Chef Yuda Bustara? Acara Urban Cook-nya di Kompas TV sukses membuat banyak orang jadi berpikir, "Eh, masak itu kece ya?" dan lalu yang gak biasa masak jadi tetiba pengen masak. I'm one of those girl kok. Hhi. Resep pertama yang saya coba adalah Chocolate Cake Cangkir, tahun 2013 yang lalu. Dan ajaibnya berhasil pada percobaan pertama, padahal caranya jauh dari how to make a cake ala ibu saya yang pembuat kue profesional. Keren nggak tuh?

Itu adalah satu dari sekian banyak alasan mengapa saya merekomendasikan akun Chef Yuda Bustara. Karena caranya mudah untuk seorang yang tidak pernah ke dapur sekalipun. Jadi, untuk kamu yang masih tahap belajar, akun ini bisa banget dijadikan panutan. Alasan lainnya adalah karena Chef Yuda selalu menjelaskan dengan detail mengapa menggunakan bahan ini, jika tidak ada, bahan apa yang bisa dijadikan pengganti, kenapa harus dibeginikan dan kenapa tidak boleh dibegitukan, dan hal-hal yang lain. Ini membuat pengetahuan tentang apa yang kita buat menjadi bertambah banyak dalam sekejap.

Selain itu, Chef Yuda dan timnya sangat friendly. Pertanyaan receh macam apa beda tepung tapioka dan tepung maizena pun mereka jawab. Dan itu yang bikin kami para followernya makin jatuh hati. They help us a lot. Bagaimana dengan pilihan resep ? Duh. Jangan ditanya. Mulai resep minuman, snack kekinian, makanan japanese, hingga resep makanan daerah ada semua. Kurang lengkap apa coba?

So, dengan kemudahan cara membuat, penjelasan detail, keramahan Chef, plus pilihan resep yang bejibun, tidak salah dong kalau akun Chef Yuda saya jadikan rekomendasi rujukan resep menu berbuka puasa?


Di tanah Sunda ini, saya baru tau kalau ada beberapa keluarga yang memiliki tradisi makan gorengan dulu saat berbuka puasa. Barulah menyantap hidangan utama. Nah, kalau kamu adalah salah satu dari mereka yang memiliki tradisi itu, bisa banget loh cari inspirasi dari akun Instagram @fridajoincoffee. Beragam jenis makanan ringan a.k.a kue ada di sana. Jadi tiap hari tidak melulu gorengan tempe atau bala-bala. 

Akun yang memiliki follower sebanyak 295 ribu dan telah menerbitkan buku baik versi printed maupun ebook ini dikenal baik di kalangan ibu-ibu muda. Resep yang dituliskan dengan detail menjadikan akun ini banyak disukai. Tidak hanya itu, Frida, sang pemilik akun, bersifat sama dengan Chef Yuda. Baik hati sekali mau menjawab pertanyaan-pertanyaan para followernya. Ini menjadikan akun ini tidak hanya bekerja satu arah, tapi dua arah. Ada komunikasi yang terjalin baik antara influencer dan followernya.

Saya sihh, sejak lama ingin membuat kue cucur dengan resep Frida. Semoga bisa kesampaian yaa..

Jadi, akun mana yang akan menginspirasimu?