Membabat Habis Nasi Babat di Surabaya

Sepiring nasi putih hangat, capcay, tempe goreng, dan sambal yang aduhai pedasnya menemani buka puasa kami di Senin sore yang meredup. Melengkapi itu, segelas air putih dingin bersama beberapa potong buah mentimun mas dihidangkan. Sungguh cukup membuat perut kami berkata kenyang. Ah, kakak sepupu ipar saya memang jago membuat perut bahagia.

Tapi sejurus kemudian,
“Masih muat ndak perutnya?”
“Masih dong,” kataku riang meski setengah ragu.
“Mau makan apalagi? Nanti sekalian pulang kita beli ya..” ujar Mas Suami.
“Mau tahu campuuur. Ya ya ya?” rajukku manja.
“Jauh kalo beli tahu campur. Mau coba nasi babat aja ndak?”
“Mau mauuu. Tapi nasinya boleh setengah aja kan ya? Udah cukup kenyang.”
“Boleh-lah.”

Ya, tinggal berjauh-jauhan (baca : LDR) membuat kami harus menunggu saat bertemu untuk sekedar mengajak satu sama lain ke tempat baru yang seru. Entah tempat makan, tempat nongkrong, atau sekadar tempat jalan-jalan santai. Dan tidak surprise jika ia mengajak saya pergi ke Warung Tenda Nasi Babat yang ia ceritakan beberapa waktu lalu. Tapi sekarang? Saya kenyang. Cukup kenyang. Tapi tak cukup tega mengikhlaskan kesempatan mencoba makanan baru. Bilang saya makannya banyak, tak apa. Hhi..

Menit dan detik berlalu. Kami akhirnya berpamitan pulang. Menerobos padatnya lalu lintas di area Sidoarjo, terus hingga ke daerah Jemursari. Lalu berhenti di mini market Sakinah yang berada di kiri jalan jika kita berjalan ke arah Rungkut. Kukira Mas Suami mengajakku belanja. Ternyata, di sudut kiri mini market syariah itulah Warung Tenda Nasi Babat berdiri. 


Warung Tenda Nasi Babat ini tidak cukup besar. Warung itu bisa dibilang hanya mampu memuat 12-15 orang saja dalam waktu bersamaan. Beruntung saat saya tiba, hanya ada sepasang suami istri yang tengah duduk khidmat sembari mengunyah Nasi Babat yang mereka pesan. Tapi soal kebersihan, jangan ditanya. Warna mejanya yang hijau terang membuat saya dengan mudah mengecek apakah sisa-sisa makanan dan minuman bertengger di atas meja. Kursi boleh kusam, tapi kebersihan meja tetap terjaga. Two thumbs up for this mini kedai.

Lalu kulirik daftar menu yang terpampang nyata di depan kami. ‘Nasi Babat Usus, 13.000. Nasi Babat Paru, 13.000. Nasi Usus Paru, 13.000. Murmer kaliii..’ batinku riang. Minuman yang terdiri dari Es Beras Kencur, Es Kunyit Asam, dan Es Jeruk pun hanya dibanderol 4.000 rupiah sedangan Es atau Teh Manis hangat dibanderol 3.000 rupiah saja. Murah kaaan.

“Mau makan apa?”
“Nasi Babat Usus aja. Nasi separuh. Sama Es Teh Manis. Hhe..”
“Nasi Babat Usus 1, Nasi Babat Paru 1, Es Teh 2 ya..” kata Mas Suami ke Ibu Nasi Babat.


Lima menit kemudian, makanan dan minuman pilihan kami dihidangkan. ‘Lha kok ukuran nasinya sama? Kan udah bilang separuh ya punyaku?’ batinku gusar. ‘Ah, yasudahlah. Mungkin rejeki mahluk lain nih*.’ Batinku kemudian. Hhe.. Di depanku, sepiring nasi jagung dengan potongan babat, usus, sepotong mentimun, segerombol daun kemangi, dan sejumput sambal korek mengerling manja. Baru kali ini saya makan nasi babat. Dan baru tau juga kalau makannya pakai nasi jagung. Baunya wangi menggoda.

Saya buru-buru mencicip. Enaaak. Babatnya lembut dan gurih. Ada bumbu-bumbu seperti kelapa parutnya gitu juga. Entah kelapa entah lengkuas parut. Tapi bikin gurih. Nasinya lembut, jagungnya juga tidak keras. It’s yummy. Sambalnya pedas untuk ukuran saya yang cupu ini. Tapi, makan nasinya kurang pas kalau tanpa sambal. Waaah.

Sesendok, dua sendok, tiga sendok. Saya kunyah dengan hati riang. Babat habis. Nasi? Tinggal 3 sendok aja. Hahaha. Tadi sok gusar bakal gak habis nasinya. Eeeeh, sisa dikit banget. Itupun karena babat dan ususnya sudah habis, kalau masih ada, mungkin nasinya habis juga. Hhi.

Jadi kalau kamu ke Surabaya, wajib bin kudu cobain Nasi Babat yaa. Murah meriah tapi enak kaliii. Cuma ya jangan tiap hari juga ke sini. Nanti main ke Surabaya seminggu, tiap hari beli Nasi Babat lagi. Wkwkwk. Bahaya. Kolesterol mengintai. 


Kata temen-temen sih di daerah Pegirian ada yang enak. Saya belom pernah coba. Tapi bagiku yang ini sudah enak. Pokoknya kalau kalian mau ke tempat ini, patokannya minimarket Sakinah di jalan Jemursari aja ya. Selamat mencobaaa.. 

*ilmunya Mas Suami, kalau makanan sisa tuh gak boleh bilang dibuang. Tapi bilang rejekinya mahluk lain. Jadi pas naruh di tempat sampah jangan diikat kuat-kuat. Biar para kucing dan mahluk lainnya bukanya gampang.

DIY Eco Green Angpao for Ied Fitr

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menceritakan panjang kali lebar mengenai tempat yang rekomen untuk berlebaran. Tempat itu tepat digunakan saat rumah Mbah tak lagi cukup untuk menampung seluruh anggota keluarga. Nah, selain tempat, ada hal lain yang perlu kamu persiapkan loh. Apa itu?


Angpao. Yass. Buat kamu yang sudah berpenghasilan sendiri seperti saya, menyediakan angpao bagi sanak keluarga yang masih duduk di bangku sekolah tidak dapat dipungkiri lagi. Bukan bersifat wajib sih, tapi melihat mata berbinar para kerabat cilik pasti bikin hati leleh juga. Tatapan mata mereka tuh kayak bilang, "Tante, mau beli es krim niiih. Bagi angpao-nya atuhlah." Jadi, siapin angpao tuh perlu ya. Even mereka nggak bilang dan nggak minta.

Nah, 2 tahun lalu, saya bikin bungkus angpao (aduh bahasanya) dari kertas. Bertema binatang gitu. Saya juga tulis kok step by step cara pembuatannya, di sini. Alhamdulillah sekali, angpau itu sukses bikin saya dikejar-kejar dua gadis kecil pasca sholat Ied. Jadi ceritanya, mereka sudah mengintip angpao itu di kamar saya saat malam takbiran. Hahaha. Dasar bocah kan ya, habis sholat Ied saya dikinthili kemana-mana. "Ayo, itu lho.." bilang gitu terus sampai saya ingat ada angpao yang belum dibagikan.

Tahun ini, saya tak lagi membuat angpao dengan konsep sekali pakai. Saya maunya bikin yang berkali-kali pakai. Yah biar ramah lingkungan gitu-lah. Setelah gugling berjenis-jenis angpao, mulai dari yang berbentuk astor, berbentuk buah, berbentuk manusia, berbentuk dompet mini, berbentuk karung santa, dan lainnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat versi sederhana : bentuk ice cream.

 
Pemilihan bentuk pun dilakukan dengan mempertimbangkan bahan dan alat yang saya miliki. Ya, sedikit berhemat gitu-lah ya maksudnya. Hhi. Bahan dan alat yang saya gunakan, antara lain :
1. Kain flanel atau felt beraneka warna
2. Benang jahit
3. Jarum
4. Gunting
5. Lem tembak (boleh diganti lem kain lainnya)
6. Kertas dan bolpoin untuk membuat pola


Cara bikinnya gampang banget kok. Pertama, buat pola badan ice cream, lelehan krim, dan stick ice cream. Saya membuat pola badan ice cream dengan ukuran 7 x 11 cm. Itu diukur dengan asumsi bahwa uang yang dimasukkan dilipat menjadi 4 bagian. Untuk lelehan krim, tak ada patokan resmi, it's up to you. Digambar aja sesuai imajinasi kalo coklat di ice cream leleh tuh kek mana. Hhe. Untuk stick ice cream, yang lupa saya foto, saya menggunakan ukuran 1,1 x 3 cm.

Setelah itu, potong flanel sesuai dengan pola yang sudah dibuat. Jumlah potongan itu adalah : 2 badan ice cream, 1 lelehan krim, 1 stick ice cream, dan sepaket topping sesuka hati. Yaps. Toppingnya sesuka hati banget mau bentuknya kek gimana dan jumlahnya berapa.


Next step is hand sewing. Yippy. Masukkan stick ice cream di antara badan ice cream terlebih dahulu. Ini dilakukan agar kamu tidak lupa menjahit stick ice cream-nya. Setelah itu, jahit keliling badan ice cream dengan teknik tusuk feston. Jangan lupa untuk menyisakan sedikit lubang di bagian atas untuk tempat memasukkan uang ya..

Oh ya, step ketiga bisa diganti dengan merekatkan menggunakan lem (menge-lem) jika kamu tak punya cukup waktu atau cukup kesabaran untuk menjahit. Hhe. It's okay kok. I did it too for some angpao.

Daaan, sampailah pada step terakhir : put the topping on. Yuhu. Silakan merekatkan topping ice cream di atas badan ice cream. And it's done. Ini hasil bebikinan saya, versi sabar jahit dan versi gak sabar jahit. Which one do you like?



It's so easy to make yaaa.. So, tunggu apalagi? Yuk bebikinan. Angpao ini bisa digunakan berkali-kali oleh pemiliknya nanti. Lucu dan ramah lingkungan.

Note : kamu bisa tambahkan velcro (kretekan) kalo mau di bagian bukaan angpao. Biar si duit gak jatuh. Karena saya gak punya velcro, jadi ya begitu aja. Hhe..

Dan itu, saya gagal paham kenapa fotonya jadi jungkir balik pas diupload. Maapkan..


Berlebaran dengan African Style di Baobab Safari Resort - Prigen

Lebaran sebentar lagi
Berpuasa sekeluarga
Sehari penuh yang sudah besar
Tengah hari yang masih kecil
Alangkah asyik pergi ke mesjid
Sholat tarawih bersama-sama


Barangkali, lagu legendaris karya Bimbo ini sudah mulai diperdengarkan di berbagai stasiun televisi. Berselang-seling dengan promo diskon besar-besaran mulai dari flash sale di berbagai pusat perbelanjaan daring seperti Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak. Ataupun ragam promo midnight sale di berbagai offline shopping mall. Ya. Persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri selalu tak kalah seru dengan menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Menyambut Hari Raya Idul Fitri seringkali dimaknai sebagai beli baju baru, sepatu baru, kerudung baru, peci baru, dan semua-semua baru. Hhi. Tak dipungkiri saya salah satu yang suka heboh beli baju baru jauh sebelum lebaran. Tapi kalau dipikir-pikir, inti dari lebaran itu sendiri bukan perkara barang baru. Tapi........kumpul dengan semua anggota keluarga. Mulai dari Mbah Kung, Mbah Uti, Budhe, Pak Dhe, Bulik, Pak Lik, Sepupu, Keponakan, Cucu, Cicit, dan berbagai sebutan lainnya. Semua tumplek blek jadi satu untuk saling maaf memaafkan, dilanjutkan dengan mengurai berbagai cerita yang terlewatkan karena jarak dan kesibukan memisahkan satu dan anggota keluarga lainnya.

Yapp. Lebaran adalah tentang berkumpul bersama di suatu tempat. Biasanya sih di rumah Mbah, atau di rumah saudara tertua. Tapi, apa jadinya kalau anggota keluarga sudah beranak pinak? Tak cukuplah rumah Mbah untuk memuat semua orang dalam waktu yang bersamaan. Tapi eh tapiii, kalau dipisah-pisah dalam jam-jam tertentu, gak bisa full team dong? Kalo kangennya sama semuanya gimana?

Kalau temen saya sih, biar bisa berhari-hari ketemunya, karena cerita dalam satu tahun takkan bisa dirangkum dalam waktu beberapa jam saja, maka beberapa keluarga kecil (misal Budhe A, Pak Dhe A, Sepupu A, dan Bulik B, Pak Lik B, Sepupu B1, Sepupu B2) akan memilih menginap di hotel untuk kemudian datang lagi keesokan harinya. Ini ide yang cukup cemerlang untuk mengatasi keterbatasan kamar yang ada. Tapiii, why we don't go outside together instead of being apart from some little family?

Ya. Keluar bareng. Menginap di tempat yang lebih besar bersama-sama. Lengkap dengan meng-arrange beberapa kegiatan outdoor maupun indoor yang bisa diikuti oleh seluruh keluarga. Salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk berlebaran bersama keluarga besar adalah Baobab Safari Resort Prigen. Tempat apa itu? Kok Safari? *Lu kate kita lebaran sama binatang apa? Hhi. 


Baobab Safari Resort Prigen ini terletak di kawasan Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan - Jawa Timur. Tepatnya, resort ini sebelahan banget-banget sama Taman Safarinya. Terletak di kaki Gunung Arjuna menjadikan resort ini berhawa sejuk dengan udara yang bebas polusi. Untuk saya yang benci asap rokok dan asap kendaraan, udara di sekitar resort ini super menyenangkan.


Oh ya, resort ini dirancang dengan style African. Nuansa itu sudah langsung terasa ketika kita memasuki area lobi resort. Ada pohon Baobab buatan super gede yang diletakkan di tengah lobi. Jadi, kamu berasa berada di tengah rumah pohon. Dari lobi pula, kamu sudah langsung bisa melihat beberapa Jerapah, Zebra, Rusa, dan Burung Merak berjalan-jalan dengan tenang di depan resort. View-nya? Jika tidak berkabut, kamu akan dimajakan oleh jajaran pegunungan yang berbaris dengan cantiknya. So, still dodge that this resort is so african?

Hanya itu? Tentu tidak. Resort ini menyediakan berbagai aktivitas tambahan yang bisa diikuti oleh seluruh keluarga. Seperti :

Feeding The Animal
Tidak hanya di Taman Safari, di depan lobi hotel pun kamu bisa kasih makan Jerapah dan teman-temannya. Peraturannya hanya satu : menggunakan makanan yang disediakan oleh pihak hotel. Yapp, para perawat satwa sudah menyediakan sayuran khusus untuk para pengunjung yang ingin menyuapi Jerapah. Hal ini untuk memastikan sayuran yang dimakan oleh para satwa dalam kondisi baik. Kegiatan ini dapat dilakukan pada jam - jam berikut : 08.00, 11.00, dan 16.00 WIB. Pengunjung yang ingin mengikuti kegiatan tersebut, cukup berbaris rapi, mengantri di sekitar area Feeding The Animal. Saat memberi makan, kamu bebas kok berselfie, wefie, foto narsis, foto resmi, dan sebagainya. Bahkan para perawat hewan ini dengan senang hati membantu lohh.


Night Walk
Night Walk alias Jurit Malam. Tenang, yang ini tidak menyeramkan seperti saat ikut pramuka. Night Walk ini adalah kegiatan menjelajahi area hotel untuk menemukan satwa-satwa jenis  nokturnal, atau satwa yang berkegiatan saat malam hari. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 19.00 WIB. Tepat jam 19.00 WIB, semua pengunjung yang ingin mengikuti kegiatan tersebut sudah wajib, kudu, bin harus berkumpul di depan lobi untuk mendengarkan arahan dari para perawat satwa. Jika kamu ingin mengikuti acara ini, sangat disarankan untuk menggunakan sepatu anti-slip, jaket, baju dan celana panjang, serta membawa senter. Ini dikarenakan medan yang kamu lalui adalah medan berumput, kadang becek (dan gak ada ojek), kadang berlubang, gelap, dan dipenuhi ranting di kanan-kiri jalur penjelajahan. So, daripada kaki luka, terpeleset, tangan baret, dan lain-lain, mending prepare dengan baik kan yaa..

Sebelum memulai kegiatan, pengunjung akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 15 - 20 orang. Dan masing-masing kelompok akan dipandu oleh satu orang perawat satwa. Night Walk ini berjalan sekitar 30 hingga 60 menit. Jika sedang beruntung, kamu akan menemukan ular, burung hantu, landak, dan berbagai serangga.  Selama perjalanan, perawat satwa akan menjelaskan ini dan itu sembari mencari-cari satwa di sekitar jalur penjelajahan. Bagi saya, ini seru. Berasa menjelajah hutan seperti para peneliti hewan. Hhi. Ya meski kurang lama dan kurang banyak satwa yang ditemui, tapi okelah.

Story Telling
Khusus saat weekend, pihak hotel mengadakan story telling untuk anak-anak. Katanya sih, pendongengnya menggunakan topi hewan dan bercerita secara interaktif dengan anak-anak. Karena saya tidak mengikuti acara ini, jadi harap maklum jika saya tak tau banyak yaa..

Fun Games
Nah, pihak hotel juga menyediakan fasilitas fun games berikut dengan pemandu acara-nya. Fun Games ini dilakukan di sebelah depan-kanan hotel. Di rerumputan gitu. Waktu itu sih saya ke sana mengikuti acara family gathering kantor Mas Suami. Jadilah lengkap dengan paket fun games. Saya yang notabene asing dengan teman-teman Mas Suami, lumayan bisa akrab dan ketawa-ketiwi loh. It's means acaranya memang seru dan bikin makin akrab. Jadi, tidak ada salahnya memasukkan acara ini ke dalam rundown acara lebaran kamu.



Oh ya, mereka juga mengadakan lomba mewarna untuk anak-anak, jadi mereka tetap duduk anteng saat Bapak - Ibunya mengikuti fun games.

Barbeque
Pihak hotel juga menyediakan mini barbeque di dekat hotel loh. Saya gak tau apa aja yang saya makan, taunya semua enak aja. Hha. Bahkan Mas Suami (lagi-lagi) mengalah karena melihat istrinya makan dengan lahap

Gala Dinner
Seperti hotel-hotel yang lain, hotel juga dilengkapi dengan ballroom untuk pertemuan resmi maupun jamuan makan malam. Saat jamuan makan malam ini, bisa banget digunakan untuk mengenalkan anggota keluarga baru ataupun menonton video-video maupun foto-foto kenangan yang dijamin bakal bikin suasana renyah.


Fasilitas lain adalah kolam renang yang berada di depan lobi, jadi bisa renang sambil lihat Jerapah lewat, Free Wi-fi, Spa, Souvenir Shop, Restaurant, Jogging Track, dan Shuttle Bus untuk pergi ke Taman Safari. Cukup lengkap bukaaan?

Bagaimana dengan kamarnya ?
Hotel ini menyediakan 148 kamar yang terbagi atas 6 tipe kamar, yaitu Deluxe Hills, Premium Hills, Junior Suites Hills, ini adalah kamar yang pemandanganya ke fasad depan bangunan. Sedangkan Deluxe Savanna, Premium Savanna, dan Junior Suites Savanna, view-nya adalah bangunan dan langsung ke Savanna dimana para hewan-hewan ini tinggal. Dengan jumlah kamar sebegitu banyaknya, seluruh anggota keluarga pasti cukup kok. Sedangkan harga untuk kamar dimulai dari 800.000 – 1.800.000 untuk satu malam, tergantung jenis kamar yang dipilih. Daaan, perlu diingat bahwa hotel atau resort ini termasuk favoritos, jadi siap-siap gigit jari kalau bookingnya kelamaan yaa..



Buat saya sih, resort ini cocok banget untuk dijadikan tempat berlebaran. Para anggota keluarga dewasa bisa be-refreshing dengan udara yang sejuk, view bagus, berenang, fun games, dan makan-makanan enak. Sedangkan para anggota keluarga kecil bisa mendengarkan dongeng, mengenal satwa lebih dekat, dan lain-lain. So, tunggu apalagi? Yuk arrange lebaranmu di hotel ini. ^.^

Tarawih Berjama'ah, Kuy-lah Lurusin Shaf-nya !

"Pak, Bapaaak. Antos ilo nakal. Tempat tarawih kita diambil," teriak Laily kecil kepada Bapaknya yang menjabat sebagai imam sholat tarawih saban Sabtu-Minggu.
"Tos, ayo yang laki-laki pindah ke dalam," timpal Bapak seraya mengusir Antos, teman kecilku, dari markas para gadis kecil.
Dan yang terjadi berikutnya adalah saya, Mbak Fia, Winda, dan teman-teman cewek yang lain gerudukan menuju spot itu. Spot andalan. Spot yang disediakan oleh para pengurus mushola bagi kami, para gadis kecil yang hobi cekikikan saat sholat.

source : http://konsultasifiqih.com

Yass. Itu masa dimana saya masih hobi berisik, cekakak-cekikik saat sholat tarawih. Saat dimana tarawihnya bolong-bolong karena lelah. Shalat 4 rakaat, istirahat 2 rakaat, sholat lagi, istirahat lagi, dan begitu seterusnya. Cuma sholat witirnya yang gak pake istirahat (ya iya, Liiiil! Cuma 3 rakaat ini. hhe).

Di jaman itu sih gak ada namanya anak kecil diusir dari masjid atau mushola karena berisik. Yang ada sih diomelin ibu-ibu, dicubit, dipelototin, dan sejenisnya. Tapi kami tetap saja bandel. Besoknya tetap datang dengan riang dan mengulangi kesalahan yang sama : berisik. Wkwkwk. Mungkin sih, karena itu, para pengurus mushola memberi win-win solution. Yaitu memberi kami markas andalan. Letaknya di luar mushola, di pojok kanan, dilingkupi pagar sederhana yang terbuat dari bambu. Ih, jelek dong! Eihhh, sejuknya luar biasa meeen! Jadilah kami selalu berusaha menguasai tempat itu. Hhaha. Badung yaa?

Waktu berlalu, Laily kecil telah bertambah usianya. Mungkin ini terjadi saat saya duduk di kelas 3 SD, saya pulang tarawih dengan wajah murung,
"Paaak. Bu Parni lho nakalan. Masa' aku sudah taruh sajadah duluan di baris pertama, urutan pertama. Pas aku tinggal wudhu dipindah ke belakang. Kan aku dateng duluan," aku memburu Bapak yang pulang tadarus dengan omelan panjang.
"Ya besok Adik datang lebih awal."
"Lho, tadi aku udah datang paling awal kok."
"Ya wudhunya di rumah, biar ndak pake ninggal sajadah."
"Bilangin pokoknya Bu Parni. Nakalan ituuu. Aku duluan kok," tetep bersikukuh Bu Parni salah.
Bapak cuma mesem melihat gadis ciliknya manyun lima (5) sentimeter. Hha.

Ya, kala itu, saya sudah naik level. Sudah berhenti tinggal di markas. Sudah mulai sholat lengkap, 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Dan siapa bilang kalau persaingan tidak berat seperti perebutan markas? Lebih berat. lawannya ibu-ibu sepuh, ibu-ibu guru ngaji, dan ibu-ibu teman main saya. Hha. Mana mungkin saya teriak-teriak minta mereka pergi? Jadi ya begitu. Ngomel ke Bapak sepulang tarawih kalau terusir. Trus besoknya datang lebih awal dan gak pergi kemana-mana demi mengamankan tempat paling depan. Biar dapat pahala sebesar unta kata Pak Guru Ngaji.

Nah, entah mengapa 3.5 tahun merantau di kota ini, saya belum pernah melihat ibu-ibu berebutan untuk menempati shaf paling depan. Tak pernah sekalipun saya dapati shaf yang tertata rapi. Selalu bolong di sana sini. Bagian belakang malah yang terisi penuh duluan. Menyisakan lubang besar di shaf depan. Belum lagi jika rakaat ke delapan selesai. Geruduuuuk. Pada pulang duluan, menyisakan lubang besar dimana-mana. Dan ajaibnya tidak ada yang bergerak maju mengisi lubang-lubang kosong itu.

Saya masih ingat ketika pertama kali tarawih di Masjid Agung, ketika pasukan delapan rakaat pulang, saya kebingungan. "Lho? kan belum witir, di sini delapan rakaat aja ya Bu?" tanya saya kepada ibu-ibu yang sedang melipat sajadahnya.
"23 kok Teh."
"Ohh.."
Mm. Kali itu, saya pulang seperti Laily kecil. Siap ngomel-ngomel. Tapi bukan ke Bapak. Ke Mas Pacar. Hha.
"Apa aku ngadep aja ke imam besarnya ya, RenKun? Gak bisa banget nih begini."
"Ya ndak papa dicoba aja.." jawabnya lempeng.
Tapi saya yang ciut sendiri. Ya kali. Anak rantau, baru beberapa bulan di kota orang, masih medok banget, tiba-tiba ngadep ke imam besar. Anaknya lemah. Hhu. Jadilah saya biarkan itu terjadi.

Padahal nih, kalo di musholla kami, imamnya, yang tidak lain tidak bukan adalah Bapak saya sendiri, kejemnya minta ampun. Suka marah-marah sebelum sholat tuh.
"Ayo dilurusin shafnya. Itu ibu-ibu gak usah ngikutin lebarnya sajadah. Dipepetin sama sebelahnya badannya. Mbak Mina, itu masih bisa nambah satu. Ayo maju yang di belakang."
Kadang saya rada malu kalo Bapak marahin ibu-ibu. Hha. Untung gak ditimpuk sama ibu-ibu kan yaa. Eh tapiii, setelah gede gini baru kerasa ya butuhnya. Baru tau juga kenapa kok perlu juga tuh imam bilangin makmumnya biar rapihin shaf sebelum shalat. Ada haditsnya ternyata :

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk tegaknya sholat.” (HR Bukhary)

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.” (HR Ibnu Majah)

So, Mbak, Teteh, Uni, Ibu, Budhe, Bulik, Mbah yang shalat tarawih berjamaah, yuk lurusin shaf-nya. Demi kebaikan bersama kok. ^.^

*saya sudah draft komik tentang ini tadi belom jadi. Nanti deh ditambahin ya..

Ojju K-Food Tunjungan Plaza, Tempat Ngemil ala Korea

"Siska, mau makan apa kita?"
"Apa ya Mbak? Gatau.."
"Eh bentar, bentar.." lalu saya tunjukkan foto ini :
"Mau makan itu, Mbak."
"Hha. Gak ada di Surabaya ini. Baru ada di Jakarta."
"Yah, Mbak. Udah terlanjur kepengen," ujarnya kesal.

Hhi. Berbulan-bulan lalu, di tahun 2017, saya menemukan foto itu di Instagram. Ayam Madu Merah ala Korea a.k.a Korean Honey Chicken dibalut Keju Mozzarella meleleh super banyak. Ia sukses bikin saya jatuh hati pada pandangan pertama. Cailaaah. Seketika juga langsung mencatatnya di 'Must Try Food List' kepunyaan saya.

Waktu berselang, pada Oktober 2017 kabar bahwa si makanan menggiurkan itu sudah tersedia di Surabaya bikin saya girang. Tapi tak pernah sempat untuk mencicipinya. Dan akhirnya kesempatan datang pada hari Sabtu lalu. It comes when;
"Mau makan apa biar moodnya jadi baik lagi? Beli Gelato tah?" kata Mas Suami yang liat istrinya sedih pasca ditinggal Ibuk pulang balik ke Malang. Anaknya lemah. 
"Gak mau Gelato, kan tadinya mau ajak Ibuk makan Gelato. Nanti nangis lagi inget Ibuk. Trus Ibuk suka makan Shabu-Shabu, kalo makan Shabu-Shabu, nanti inget juga."
"Trus makan apa lho?"
"Mm, mau Ojju K-Food aja deh. Ada di Tunjungan Plaza 5 Level 5. Kan bisa sekalian beli keperluan Siska."
"Yaudah yuk siap-siap."

Akhirnya pergilah kami ke Tunjungan Plaza. Rame. Secara itu malem minggu ya. Banyak muda-mudi dan sepaket keluarga yang menjejali tenant-tenant Tunjungan Plaza. Mm, mungkin juga karena mendekati Ramadhan sih. Beberapa keluarga memilih melengkapi keperluan Ramadhan dan keperluan Lebaran jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah mengunjungi beberapa tenant untuk membeli keperluan si adik, akhirnya kami menuju Tunjungan Plaza Level 5, tempat dimana si makanan menggiurkan bercokol.

Tiktuk. Tiktuk. Mm, kok gak ketemu-ketemu yaa.. Hhe. sekitar 5 menit muter-muter barulah tulisan Ojju nampak. Tepat di sebelah Fish & Co. Mm, mungkin karena tempat makan lain lebih besar ya, jadi Ojju K-Food ini sedikit susah ditemukan. But it's okay-lah.. 


Begitu masuk, suasana ala-ala tempat makan di Korea langsung terasa. Furniture dari kayu-kayu berwarna coklat muda. Ornamen-ornamen khas Korea. Lukisan dinding yang artistik. Serta mbak-mbak dan mas-mas yang mengucap, "Annyeong haseo" atau "Kamsahamnida" dengan logat Surabaya a.k.a medok seperti saya. It's cute and warm at the same time.

"Untuk berapa orang?"
"Tiga orang, Mbak."
Ia pun mengantar kami ke tempat duduk di tengah-tengah resto. Menyerahkan buku menu, tersenyum ramah, dan meninggalkan kami yang sedetik kemudian sudah khidmat membaca menu makanan. ^.^
Karena dari awal pengen yang ber-mozzarella itu, jadilah kami memilih Rolling Cheese - Beef Ribs level mild. Both of them love spicy food, but i'm not. Jadi milih yang mild ajah. Trus, kok bukan ayam yang dipilih? Biar pernah aja. Kalo ayam, nanti berasa makan ayam Recheese. Dan di buku menu ditulis Plenty for 2, Enough for 3. Jadilah pesen 1 ajah buat bertiga. Oh ya, paket itu sudah termasuk Banchan. Banchan itu sepaket Cream Corn, Kimchi, Macaroni Salad, dan Oi Muchim. Untuk minum, kami memilih 1 Pitcher Corn Tea. 1 buat ramean biar rasa solidaritas tumbuh subur di hati kami bertiga. *apasih lil. hhi..

Tak lama, minuman datang, disusul dengan sepaket Banchan. First impression, "Mini ya Banchannya." Hhe. It's look like tester gitu. Kek gini :


Mm, sorry to say, tapi ini Cream Corn-nya minim Corn. Atau emang gitu ya? Tapi di buku menu kek banyak gitu jagungnya. Kimchinya cuma 3 potong sawi putih. Mm, kek udah ditakdirkan 1 orang makan 1 potong aja ini mah. Macaroni Salad dan Oi Munchim-nya lumayan-lah. Kami foto-foto doang lalu disisihkan. sekitar 5 menit kemudian, main menu dihidangkan. Waaah. Potongan mozzarela-nya menggoda. Dan, ada tambahan potongan Potato Wedges di sekitar Beef Ribsnya.

Setelah bersepakat dengan Mas-Mas Waitress untuk eksekusi Rolling Cheese - Beef Ribs-nya saat itu juga. Api mulai dinyalakan. Mas Suami memilih mengambil seluruh Potato Wedges agar tak bercampur mozzarela. Lalu dengan lihai, Mas Waitress mengaduk-aduk si keju. memastikan leleh sempurna dan bebas dari gosong. Setelah meleleh sempurna, Beef Ribs berjumlah 5 rusuk itu dipotong-potong. Selanjutnya ia menggulung Beef Ribs dengan lelehan mozzarella. Waaah. It's the best part sih menurutku. Bikin air ludah diproduksi banyak alias nge-ces. Hhe. Setelah itu, potongan Beef Ribs diletakkan satu per satu di tiap piring makan. Api dimatikan. It's time to taste it. Yuhuuu.

Untuk memakan Rolling Cheese, disediakan sarung tangan plastik sehingga kita tak perlu takut tangan kotor atau tangan terasa panas akibat memegang makanan pedas. Gigitan pertama, mozzarella yang kenyal, asin khas keju memenuhi mulut saya. Disusul dengan rasa manis, sedikit pedas, dan rasa rempah khas Korea. Buat saya, ini enak. Hampir seperti Recheese sih rasanya. Cuma kalo Recheese rasanya lebih kaya karena baluran tepung pada kulit ayamnya. Bagaimana dengan dagingnya? Empuknya pas. Tidak terlalu sulit digigit tapi juga tidak hancur. ^.^

Karena Ribs-nya hanya 5, Mas Suami memilih memakan satu saja. Hhe. Ngalah demi adik dan istrinya yang tampak lahap. Makan 2 potong Beef Ribs dan beberapa Potato Wedges, perut saya belum penuh juga. Saatnya mengincip si Banchan. Cream Corn, manis susu plus jagung. Sudah. Jadilah ini seperti meminum susu rasa vanilla yang diberi topping potongan jagung rebus. Emang gini ya Cream Corn ? I never taste Cream Corn before, so i can't give a rate.

Banchan kedua : Kimchi. Mm, mirip asinan dengan bau Gochujang (Pasta Cabai Khas Korea). Karena memang basicnya gak suka Kimchi, jadi ya buat saya biasa aja sih. Lalu Oi Munchim, ini semacam asinan juga dengan potongan Timun Jepang kalo tidak salah. Yang ini lebih manis, jadi buat kami sih ini lebih menarik dari Kimchi. Berasa segar gitu pas dimakan. Dan terakhir, Macaroni Salad. Mm, bisa dibilang tidak terlalu spesial. Rasa Kejunya kurang kuat. Bisa jadi sih karena sisa rasa mozzarela masih bertengger di sela-sela gigi saya. Bagaimana dengan Corn Tea? Yang bikin menarik tempat minumnya yang berbahan logam. Jadi berasa kek minum Soju gitu. Tapi agak gede sih ini gelasnya. Rasanya? Pahit. Dan aroma jagungnya terasa. Saya sih kurang suka. Hhe. 

Semua makanan dan minuman sudah dicoba. Saya suka Rolling Cheese-nya, tapi tidak Banchan-nya. Tapi ya itu, paket ini untuk 3 orang bukan Enough. It's minus. Kami masih lapaaar. Bahkan untuk saya yang notabene makan dikit aja lapar, apalagi Mas Suami yak. Jadilah kami bilang ini camilan, bukan makanan utama. Hhe.

Bagaimana dengan harga? Untuk Rolling Cheese - Beef Ribs dibanderol harga 219 ribu rupiah. Sedangkan Corn Tea dihargai 22 ribu rupiah untuk pitcher dengan volume 1,2 liter. Untuk harga itu dan tingkat kekenyangan, saya kasih rate 3 dari 5 ya.. So, it's okay to try but not recommended when you are hungry.