Tips Memilih Cat Tembok Interior untuk Lebaran

Pemilihan warna cat tembok untuk interior rumah bisa berpengaruh terhadap suasana hati, hingga kondisi kesehatan kita. Maka dari itu dalam memilih cat interior kita harus cermat agar mampu memberikan sentuhan warna yang tepat pada tembok rumah, bisa membuat kita merasa nyaman dalam beraktivitas maupun beristirahat bersama keluarga di rumah. Berikut ini tips sederhana dalam pemilihan cat tembok interior yang sehat dan tetap berkualitas, sehingga kebutuhan diatas bisa terpenuhi.

Designed by Freepik

Pilih Cat Tembok Interior yang Sehat

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam memilih produk cat tembok interior adalah adanya merkuri maupun zat timbal yang terkandung dalam komponen dasar pembuat cat. World Health Organization (WHO) atau badan kesehatan dunia menyebutkan bahwa kadar merkuri cat berkontribusi besar pada peningkatan penyakit gangguan pernapasan, kerusakan pembuluh darah, penurunan kecerdasan otak anak, kanker, alzheimer, gangguan saraf, hingga penyakit jantung.

Untuk mengetahui baik atau buruk kandungan kimia di dalam suatu produk cat bisa diketahui dengan mengukur kadar Volatile Organic Compound (VOC) atau kandungan senyawa organiknya. Senyawa ini berbentuk gas yang dipancarkan dari bahan cair maupun padat. Penggunaan VOC yang melebihi ambang batas akan mengubah cat tembok menjadi zat perusak kesehatan.

Tingginya kadar VOC dari sebuah produk cat bisa kita ketahui dari bau menyengat yang tercium saat tembok baru selesai dicat. Bau tersebut tidak mudah hilang meski lapisan catnya sendiri sudah mengering. Konsentrasi VOC di dalam ruangan bahkan bisa meningkat dua hingga lima kali lipat dibandingkan di luar ruangan. Maka dari itu sebaiknya hindari menggunakan produk cat yang mengandung merkuri.

Pilih Cat Tembok Interior yang Berkualitas

Saat ini hampir semua produk cat memiliki warna yang beragam, tetapi tidak semua produk cat mampu mempertahankan keindahan warnanya dalam jangka waktu lama. Artinya, hal ini tergantung pada kualitas dari masing-masing produk cat tembok interior tersebut.

Jika cat tembok yang kita pilih tidak gampang pudar warnanya, pasti membuat kita merasa lebih nyaman berada dalam rumah dan merasa lebih segar karena indah dipandang dengan cat yang warnanya tahan lama. Beberapa produk cat dengan kualitas rendah biasanya mudah mengelupas dan pudar. Ketika disapukan ke tembok, cat juga susah melekat dan menutupi lapisan warna sebelumnya. Akibatnya kita harus berulang kali melakukan pengecatan. Pada akhirnya kita juga yang rugi karena butuh lebih banyak cat untuk mendapatkan hasil sesuai harapan, artinya lebih banyak uang yang perlu kita keluarkan.

Tinggi atau rendahnya kualitas suatu produk cat interior ditentukan oleh bahan resin yang digunakan sebagai komponen dasar campuran pembuat produk cat tersebut. Produk cat dengan kualitas bahan resin terbaik menghasilkan daya sebar dan daya tutup bagus dan merata. Cat tembok dengan bahan resin yang baik mampu melekat dengan sempurna pada dinding sehingga bisa membuat warna selalu tampak baru, tidak mudah pudar dan mengelupas, serta tahan lama. Penggunaan bahan resin dengan kualitas terbaik juga bisa menjadikan cat sebagai pelindung terbaik untuk tembok rumah. Sehingga jamur dan lumut tak mudah tumbuh serta mengotori dinding rumah Anda.

Pahami Cara Pemakaian Cat

Membaca aturan pemakaian cat yang tercantum pada kaleng kemasan atau brosur produk cat seringkali dianggap sepele. Padahal, hal ini bisa membantu Anda mendapatkan hasil pengecatan yang sempurna. Dengan apa kita sebaiknya melakukan pengenceran cat, seberapa banyak diperlukan, berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengecetan di lapisan berikutnya, dan lain sebagainya.

Designed by Freepik

Setiap produk cat memiliki karakter dan cara pemakaian yang berbeda, untuk mendapatkan hasil yang maksimal ketika melakukan pengecetan tembok interior rumah, sangat disarankan untuk membaca buku petunjuk produk cat tersebut atau informasi yang tertera pada kaleng cat.

Karena Dunia Siomay Ternyata Selebar Daun Kelor

"Itu kan Mas Siomay."
--

Entah kenapa, beberapa malam terakhir saya kepengin berbuka dengan yang manis-manis, sambil ngaca misalnya (plis jangan tersedak). Nggak ding. Pengen berbuka dengan sayur berkuah segar. Keinginan ini muncul lantaran santan dan lemak-lemak genit sudah menemani saya hampir selama 20 hari berpuasa. So, I need something fresh.

Di kota yang tengah berkembang ini, Purwakarta, menemukan sayur kuah bening tanpa lemak bisa dibilang sangat sulit. Meskipun banyak rumah makan ataupun warung tenda yang menyajikan menu "Sop Iga Kuah Bening" dan "Sop Kambing Kuah Bening", tapi tetap saja kuah-kuah itu tidak cukup segar. Aura si lemak genit menyelimuti setiap mangkuk sop. Jadilah rasa segar yang saya butuhkan tidak bisa dipenuhi oleh sajian-sajian itu.

Sop Iga Kuah Bening (www.bukuresep.net)

Lalu, kuah segar macam apa yang saya butuhkan?
1. Sayur bayam ibu saya
2. Sayur sop ibu saya
3. Sayur asem ibu saya
4. Sayur-sayur segar lain yang dibikin ibu saya. Hhe

Perkenalkan Ibu Saya, Tjantik yahh 😢

Tapi apalah daya, waktu mudik masih 5 hari lagi. Berbekal informasi dari seorang teman yang katanya ada Cuanki enak di Purwakarta, saya memacu si merah dengan kecepatan sedang. Beberapa kali sempat mau bertabrakan karena mata saya tidak cukup kuat menahan silau dari lampu led berwarna putih milik kendaraan lain yang bersebrangan. "Pak Polisi, tolonglah itu dikaji ulang pemakaian lampu led putih."

Back to topic, jadi Cuanki ini sejenis bakso dengan kuah bening. Jadi berbeda dengan kebanyakan bakso yang dijual di daerah Jawa Barat yang cenderung berkuah (maaf) keruh, berlemak, dan rich of mecin (vetsin) taste serta hanya berisi bakso, mie, taoge, dan sawi. Cuanki lebih seperti saudara sepupu bakso di daerah Jawa Timur. Isinya beragam dan berkuah bening. Mungkin tentang per-cuanki-an bisa kamu baca detail di post saya sebelumnya, klik di sini ya.

Setelah sekitar 10 menit memacu si merah, saya berhenti di sebuah tempat makan sederhana yang memanjang. Mm, dari arahan 2 teman saya, harusnya saya tepat berada di Warung Cuanki yang mereka bilang. Tapi nyatanya saya celingak-celinguk dan hanya mendapati deretan gambar es, mulai dari es campur, es teler, hingga es durian. Lalu kemana perginya si Warung Cuanki? Tak menyerah, saya bertanya kepada dua remaja pria yang nampaknya berperan sebagai juru parkir dadakan.

Saya Berhenti di Kedai yang Panjang Itu
"Mas, katanya di deket sini ada warung cuanki ya?"
"Iya bener, Teh. Di sini."
"Mm, bener Mas? Ini bukan warung es ya? Kok gambarnya es semua?"
"Sama aja Teh. Itu cuanki, yg ini es. Tapi sama kok dua-duanya."
Mmmh. Makin pusing pala berbie. Tapi ketika menengok ke arah kiri, benar ada gerobak bakso yang mengepul. "Tapi kok kecil gitu tempatnya. Katanya rame, " batin saya.

Karena perut sudah kruyuk-kruyuk masuklah saya ke warung berlabel "Nyuankie" itu. Luasnya hanya sekitar 3,5 x 6 meter. Termasuk kecil untuk ukuran sebuah warung. Di dalamnya hanya ada 6 meja yang masing-masing dilengkapi 4 buah kursi plastik berwarna merah. Meja-meja itu bersih mengkilat. Tanpa ada bekas kecap atau sambal yang mengering karena terlambat dibersihkan.

Bersih Mengkilaaat
Ketika mendongak, saya dapati dinding-dinding toko mungil itu dihiasi pigura-pigura dan wall sticker lucu. Padanan motif kotak-kotak berwarna merah semakin membuat warung mini ini terlihat hangat namun tetap ceria. Dari situ, saya langsung menebak bahwa pangsa pasar yang dibidik adalah kawula muda dan nampaknya ownernya juga muda, atau minimal berjiwa muda.

Dinding Sebelah Kanan



Dinding Sebelah Kiri
Tak lama setelah saya duduk, seorang waitress menyambut hangat. Saya pesan semangkuk cuanki dan es campur. Ketika asyik memperhatikan sekeliling, mata saya tertumpuk pada seorang laki-laki yang hilir mudik membersihkan meja, sesekali menjadi kasir, dan menginstruksikan beberapa hal kepada waitress yang lain. Saya teliti lebih lanjut wajahnya. Dan roll memori saya pun berputar.

Beberapa bulan lalu, saya tengah bersemangat mencoba berbagai resep masakan. Salah satunya adalah siomay. Berbekal resep sederhana yang saya dapat dari surfing di Instagram, saya mendapati resep yang sederhana. Setelah memperhitungkan budget, effort, dan peralatan yang dibutuhkan, saya berangkat ke sebuah pasar tradisional di Purwakarta untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Pasar Rebo namanya.

Ayam, Tepung Kanji, Telor, Daun Bawang, dan Merica sudah saya peroleh. Tinggal satu bahan yang esensial, Kulit Pangsit. Kalau di Malang, saya cukup datang ke toko bahan kue langganan dan meminta sebungkus Kulit Pangsit kualitas prima. Tapi di sini? Saya tak tahu mana toko yang menjual pangsit yang berkualitas baik. Dan lagi, saya tak bisa membedakan mana yang baik dan yang mudah pecah. Bagi saya semua terlihat sama. Hhe..

"Mang, kulit pangsit buat siomay yang bagus yang mana ya?"
"Yang ini Teh. Lebih mahal 3.000 sih dari yang situ."
"Hoo. gak pecah kan ya Mas?"
"Nggak. Bagus ini Teh."

Tapi kok yang murah keliatan lebih lentur ya? Saya diserang bimbang (lebay). Satu menit, dua menit, tiga menit, saya masih sibuk memilih kulit pangsit, yang murah atau yang mahal. Sedetik kemudian ada Mas-Mas membawa beberapa kantong bahan makanan. Tanpa ba-bi-bu ia menginstruksikan si Mamang Kulit Pangsit untuk membungkus beberapa pack kulit pangsit murah dan beberapa pack kulit pangsit mahal. Karena dasarnya tak tahu malu, saya asyik nyelonong,

"Mas, jualan ya? Ini kulit pangsit yang bagus yang mana ya?"
"Iya Teh jualan. Tetehnya mau bikin apa dulu?"
"Siomay, Mas."
"Ohh, kalo siomay yang ini aja Teh. Kan direbus, gak pecah kulitnya. Kalo digoreng lebih bagus yang ini."
Dia menyarankan membeli yang murah. Setengah sebel karena mamang kulit pangsit ngaco jawabnya, tapi sebagian hati yang lain girang karena tidak jadi terjerumus. Hhi. Jadilah saya mengingat mas itu sebagai Mas Siomay.


Dan. Malam ini saya melihat lagi Mas Siomay itu. Ah, dunia siomay ternyata hanya selebar daun kelor yaa..

Mari kembali ke urusan cuanki. Setelah menunggu sekitar 5 menit, semangkuk cuanki dan es campur terhidang di depan mata. Saya memilih menyeruput kuah si cuanki terlebih dahulu. Mm. Segar. Gurihnya pas. Hanya saja kurang sedikit panas. Semangkuk cuanki ini berisi 3 buah bakso daging, 1 buah bakso ikan, 1 buah siomay, 1 buah pangsit goreng, beberapa potong tahu kopong (tahu gembos), dan segerombol kerupuk ikan tenggiri. 

Semangkuk Bakso "Nyuankie"


Ukuran bakso daging dan bakso ikannya cukup mini, diameternya kira-kira satu ruas jari gadis imut seperti saya. Bakso dagingnya empuk, nampaknya daging ayam mengambil porsi lebih banyak pada adonan bakso dagingnya. Sedangkan bakso ikannya, ajib. Kenyal maksimal. Seenak tempura di Hanamasa. Kata Mas Siomay (Bayu nama sebenarnya), bakso ikan ini diproduksi oleh temannya yang berdomisili di Bandung dan yang digunakan adalah ikan tenggiri. Sedangkan bakso dagingnya, ia produksi sendiri dibantu oleh 5 orang karyawannya. Untuk siomay dan pangsit goreng, rasanya enak. Tapi tidak bisa dibilang istimewa karena rasanya hampir sama dengan siomay dan pangsit goreng enak di warung bakso atau warung cuanki yang lain. Begitu pula dengan tahu gembosnya. Yang paling saya suka adalah kerupuknya. Bertekstur hampir sama dengan kerupuk kulit sapi, kerupuk tenggiri yang digunakan memiliki lebar kecil, jadi cukup dalam satu suapan. Saya suka ketika kerupuknya tercelup air. Sensasinya lucu. Hhe.

Gerobak Untuk Meracik si Bakso "Nyuankie"
Bagaimana dengan Es Campurnya? Porsinya cukup besar untuk harga yang relatif murah, 10.000 rupiah. Isinya cukup beragam mulai mutiara, potongan nangka, kelapa muda, kacang hijau, dan bahkan tape singkong. Well, sudah sangat jarang es campur selengkap ini. Tapi isiannya cuma dikit. Hhu. Ya setara dengan harga yang dibayarkan sih. Sirup yang digunakan enak. Terasa kalau gula asli dan bukan gula buatan yang meninggalkan rasa pahit di ujung lidah. Tapi jika boleh saya memberi saran, ada baiknya jumlah susu ditambahkan sedikit.

Es Campur

So, overall Cuanki dan Es Campur ini akan bikin saya balik lagi.

Sebagai informasi, si Warung Cuanki berlabel "Nyuankie" ini buka pukul 13.00 WIB - stok habis. Di hari biasa sih, 250 - 300 porsi cuanki berharga 12.500 rupiah habis dalam waktu 4 jam saja, alias jam 17.00 WIB sudah tutup. So, buat kamu yang pengen cobain, gak pake beralasan nanti-nanti yaa. Langsung aja dateng ke Jalan Suradireja, Pasar Jumát (sebelum rel kereta api munjul). Keburu abis braaay!

Mas Siomay dan Teteh Es Campur (mereka kakak beradik), tunggu kedatangan saya yahh. Lain kali saya akan mengajak si Mas Pacar untuk makan cantik di situ. ^.^
  

Salah Satu Jalan Tol Terindah di Dunia ada di Indonesia

Jalan Tol Salatiga-Bawen akhir-akhir ini menjadi viral di Indonesia, disamping karena momen Lebaran 2017 yang mana Tol ini akan sangat membantu Pemudik tapi juga karena keindahan Jalan Tol ini.

Bahkan banyak yang membandingkan potret Jalan Tol Salatiga ini dengan Jalan Tol yang ada di Negara Swiss. Netizen mulai ramai ketika sebuah mahakarya dari Alvea Andika muncul di dunia maya, sebuah hasil foto yang mengagumkan ditambah latar belakang Gunung Merbabu, semakin menambah daya tarik.

Penasaran dengan salah satu Jalan Tol terindah di Dunia yang ada di Indonesia ini? Berikut potret keindahan Jalan Tol Salatiga-Bawen :







Menurut kalian bagaimana hasil potret dari Jalan Tol Salatiga-Bawen diatas? Menurut saya sih itu keren abis. Kalau mau tau foto lengkapnya langsung saja ke akun Media Sosial milik Alvea Andika.

All You Can Eat - But You Won't Eat It All - Restaurant

"I'm done. My stomach is too full."
I think about this article when i said that words to my friends. For your information, a few days ago, I and 9 friends of mine decide to having meal together in one of famous All-You-Can-Eat Restaurant in Bandung, West Java, Indonesia. Maybe, I'm one of a kind girl that late to try about this serving meal system. As we all know, that this serving meal system is already popular in Indonesia. So does it in another country. But I tried it a few days ago? Hhe. Do not pity on me. It's just about the time.



All-You-Can-Eat serving meal system which is also called buffet, comes from 16th century. Wikipedia.com said that it originates from Swedish brännvinsbord table which is serve liquor made from grain, potatoes, or wood cellulose. When it's applicated for meal at the first time, it was looked weird and unusual. Cause at the time, having meal is means sit on a big table and having a waitress who serve them.

So how come this system become internationally?

At 1939 on New York World's Fair exhibition, the Sweden have to serve a large number of people. So, they come with this idea. Self serving system. And the system had its prime during the early 18th century and was developed into the more modern buffet around the beginning of 19th century. In a buffet system, a lot of food from hot food, cold food, beverage, even dessert are placed on the table. So you can choose what  you want to eat and how much you want to eat it.
Time pass by, this idea is began to applied in some restaurant. One of a famous buffet in Indonesia is Japanese Restaurant. In the middle restaurant, you would see a big table full with meat, beef, chicken, shrimp, octopus, squid, fish, tempura, etc. Not only that, it also serve a lot of vegetable like cabbage, mushroom, fruit like watermelon, mango, pineapple, bengkoang, apple, water apple, etc. In another table, you would see various kind of beverage like Thai Tea, Cappucino, Green Tea, Orange Juice, Guava Juice, etc.

So, a minute after having a chat for a while, we spontaneusly scattered to pick up the food as much as we can. No command, our instinct as an omnivore ordered ourself to go faster to that big table. Hahha. I'll let you imagine how we become so excited to pick up the food.

"I wanna a lot of beef", "I wanna watermelon", "Oh I wanna that cute shrimp", "I wanna cabbage, i have to eat more fiber", "I wanna taste the Thai Tea, but Cappucino looks delicious too." That kind of word comes to my mind. And in the end, what i did is just walk around the served table with a sparkling eyes and the saliva that is almost dripping. Hahaha. So I decide to go back to our eating table with just fruits in small plate and a glass of cappucino.

Thankfully, my friends didn't do the same thing. They are clever than me. They can took a lot and various food. I saw a bunch of meat, a bunch of cabbage, a bunch of tempura, a various kind of sauces, a bunch of fruits, and many more. Hhi. So i came to eat what they picked up. Hahaha. Sorry, guys.

It was about 30 minutes passed. I felt so full. So damn full so i can eat anymore. My friend who have a dinosaurs stomach said to me, "Come on, we have to eat as much as we can. We have paid handsomely (expensively)." I shook my head. I've given up. But another one said, "Just take a rest for a while and have another round then." I shook my head again. I've given up.

So, what's the point?

Buffet restaurant will let you eat all the food they serve in the main table. But, i'm pretty sure that you won't make it come true. Even, i'm sure you won't eat more than twice of your daily meal portion. Why ?

1. It's not unusual or weird if we walk around and look around something new for us. So, do it in the buffet restaurant. Realize or not, it have 2 weakness : you lost the time to eat and you lost your hunger. When you're walk around, so many desires passing by your mind. "I want this, i want this too, i want that, i want these, i want those, and blablabla..". In the end you just confuse what you want to eat and back to the table with a little food. It happened because you can't control your mind. Hhe..
2. Many buffet restaurant, especially chinese and japanese restaurant, using chopstick instead of fork. Why? Using chopstick make you eat slower than using fork. Eat slower means full faster. Remember tips for diet? One of the famous tips is eat slowly cause it will make your stomach full faster. And it have been proved in some research.
3. The buffet restaurant serve drink in big glasses. As we already know that meat is cheap and water is cheap. So, they serve you big glass. And the next step is you will eat too much water so you can't eat a lot of food.


It's not a sins to go buffet restaurant. But, one thing that you have to think before go there. 
"Is the price worth to the food they serve?"

Tidak Hanya Kaya dengan Tempat Wisata, Berikut 6 Wisata Kuliner yang Wajib Kalian Cicipi di Bandung

Bandung memang terkenal sebagai kota alternatif lain untuk warga Jakarta berlibur, tidak heran kalau hotel di Bandung sudah fully booked ketika ada libur panjang ataupun libur hari kejepit. Tapi selain dipenuhi dengan tempat wisata yang beragam, Bandung juga terkenal dengan sajian kuliner yang bermacam-macam dan tentunya lezat. Nah, untuk kalian yang ingin berlibur ke Bandung dan ingin berwisata kuliner, berikut daftar kuliner yang harus dicicipi.

Photo credit : anekatempatwisata.com

PASKAL FOOD MARKET

Berada di area Pasir Kaliki dekat dengan stasiun Bandung, Paskal Food Market memiliki lebih dari 100 penjual makanan yang beragam, mulai dari makanan Khas Bandung hingga makanan internasional seperti Jepang dan Korea. Memiliki konsep pasar ruang terbuka, kalian akan dimanjakan dengan suasana udara yang sejuk serta hangatnya sajian makanan yang sudah dibeli. Tidak perlu menyiapkan uang yang banyak, cukup dengan uang Rp 10.000 punn kalian sudah bisa menikmati beberapa makanan yang lezat di Paskal Food Market. Pasar ini biasa menjadi tempat berkumpulnya anak muda menghabiskan malam sambil bercengkrama dengan sahabat atau kalian juga bisa menikmati suasana kolam keberuntungan lenkap dengan lampu dan obor sehingga membuat suasana jajan kalian terasa romantis.


CIE RASA LOOM, BUAH BATU

Berada tidak jauh dari hotel Marala, atau tepatnya di Jalan Terusan Buah Batu, rumah makan Cie Rasa Loom merupakan wisata kuliner dengan menu andalan Mie Aceh terfavorit di Bandung. Meskipun bukan makanan khas Bandung, restoran mie aceh ini menyajikan sajian mi sangat lezat dan buka selama 24 jam. Ketika kalian berkunjung ke resto ini, kalian akan melihat ruangan resto yang didominasi dengan warna merah dan juga memiliki 2 lantai dengan lampu-lampu kuning yang sedikit klasik. Dinamakan 'Cie Rasa Loom' bukanlah sekedar nama tanpa arti, melainkan memiliki arti "Coba Rasakan Lagi" dengan harapan para pelanggan yang sudah datang akan datang dan datang lagi.


ROEMAH NENEK RESTO CAFE

Roemah Nenek Resto Café merupakan salah satu tempat wisata kuliner Bandung yang cukup populer. Restoran ini menyajikan berbagai jenis masakan seperti chicken tarragon, nasi lidah jamur, pizza bakar, pasta, dan juga makanan khas Indonesia. Selain karena makanannya yang lezat, suasana resto ini pun sangat nyaman dengan nuansa rumah klasik dan juga udara yang sejuk khas Kota Parahyangan. Restoran ini berada di Jalan Taman Cibeunying Selatan nomor 47, Bandung.

Photo credit : klikhotel.com


RAJA RASA

Berkunjung ke Bandung rasanya tidak lengkap jika tidak menyicipi masakan sajian khas Bandung ataupun Sunda, ya? Nah, untuk itulah kalian bisa mengunjungi restoran Raja Rasa. Resto yang dekat dengan V Hotel & Residence atau berada di Jalan Setra Ria, Bandung yang merupakan sebuah restoran dengan menu andalan seafood dan juga masakan Sunda. Restoran yang memiliki suasana tenang dan asri ini buka setiap harinya pada pukul 10 pagi hingga 10 malam. Raja Rasa juga memiliki menu andalan seperti kangkung hotplate, udang saos keraton, cumi goreng, krapu saus kecap, sup kepiting, kerang hijau pedas, sop iga, dan masih banyak lagi.


PINO PIZZA

Masih satu lokasi dengan restoran Cie Rasa Loom, Pino Pizza merupakan tempat wisata kuliner Bandung yang juga tidak kalah populer dan wajib kalian kunjungi. Berlokasi di jalan Buah Batu, tempat ini menjual pizza, salad, dan pasa dengan harga yang bersaing dengan restoran pizza ternama. Pizza yang ditawarkan di sini pun tidak dijual terlalu mahal dengan kisaran harga mulai dari Rp45.000 saja. Tidak hanya sekedar pizza biasa, di Pino Piza ini kalian juga akan menemukan kreasi pizza unik yakni Pizza manis yang ber-topping buah-buahan dan beragam topping lainnya.


YOGHURT CISANGKUY

Khusus untuk menu makanan penutup atau makan cantik, kalian bisa mengunjungi Yoghurt Cisangkuy. Tempat ini sangatlah nyaman dan cocok sekali untuk kalian yang ingin nongkrong bersama teman-teman. Yoghurt yang dijual di sini merupakan yoghurt asli buatan sendiri dan tanpa adanya bahan pengawet, sehingga kalian bisa kumpul bersama teman sambil menyantap menu yang sehat-sehat. Harga yang dijual pun terjangkau yakni mulai dari Rp9.500 saja.

Nah, demikianlah beberapa rekomendasi tempat kuliner Bandung yang bisa kalian cicipi ketika berlibur ke Kota Kembang tersebut. Masih merasa kurang? Cek sajian lezat lain di sini ya.

Agar kegiatan berlibur kalian terasa lebih menyenangkan dan tenang, kalian bisa memesan hotel di Bandung melalui aplikasi Traveloka dengan pelayanan customer service 24 jam setiap hari. Yuk berlibur!