Mau Magang di Google? Yuk Belajar Dari Rakina Zata Amni

15:09:00 Rendra Kurniawan 0 Comments

Siapa sih Rakina Zata Amni? Kenapa harus belajar dari dia?
Aku yakin pertanyaan dasar yang muncul pertama kali di pikiranmu paling tidak intinya mengenai pertanyaan diatas tersebut. Rakina Zata Amni adalah salah satu mahasiswa di Universitas Indonesia yang saat ini sedang menjalani program Internship di Google - Mountain View, California, Amerika Serikat.

Rakina Zata Amni
Semakin melengkapi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang membuktikan pada dunia bahwa kita juga bisa. Rakina Zata Amni juga sama dengan kita, pribadi yang baik dan aktif, namun dengan mimpi dan tekat yang luar biasa untuk meraih mimpi-mimpinya.

Sebelum membaca pengalaman dan tips-tips dari dia hingga mampu meraih program Internship di Google, barangkali ingin kenalan dulu / pingin tahu profilnya seperti apa bisa kalian lihat CV-nya lewat akun LinkedIn miliknya dan salah satu blog-nya.

Pada tahun 2016 ini akhirnya Rakina berhasil meraih salah satu mimpinya dengan mendapat kesempatan magang (mengikuti Program Internship) di Departemen Riset dan Machine Intelligence di markas Google yang ada di Mountain View, California, Amerika Serikat.

"Saya tidak bisa berbicara banyak tentang apa yang saya lakukan di sini," ungkap Rakina pada Tim TechInAsia. Para pegawai magang di Google menandatangani sebuah perjanjian untuk menjaga kerahasiaan perusahaan. "Tim saya sedang mengerjakan sesuatu yang penting untuk Pemrosesan Bahasa Alami (PBA atau NLP) milik Google."

Walaupun kuliahnya di UI (Universitas Indonesia) belum selesai, Internship di Google kali ini adalah kali kedua Rakina magang di perusahaan yang bermarkas di Silicon Valley. Tahun sebelumnya (2015), Rakina mengikuti program magang selama tiga bulan di Square. Ia bertugas mengerjakan sebuah mesin rekomendasi untuk startup pesan antar makanan yang diakuisisi oleh perusahaan pembayaran tersebut.

Merasakan banyak hal keren di Silicon Valley – beragam pilihan makanan sehat, tamasya kantor dengan perahu, beragam permainan seru – hanyalah segelintir dari banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari program magang ini. Yang lebih penting, kata Rakina, adalah tugas-tugas yang ia kerjakan di sana membuatnya sadar bahwa ada bakat terpendamnya dalam bidang kecerdasan buatan, khususnya pembelajaran mesin.


Ia berharap suatu saat nanti bisa bekerja secara penuh waktu di AS. Namun saat ini ia harus merampungkan kuliahnya terlebih dahulu di Universitas Indonesia. Rakina mencari peluang untuk bekerja dengan startup lokal agar menjaganya tetap produktif di tahun akhir perkuliahannya.

Dengan pencapaian dan rencananya tersebut, Rakina tampak sangat fokus. Tapi ia mengaku bahwa sama seperti mahasiswa lain, dulu ia mulai dengan “tidak tahu apa-apa.”

Meski begitu, kebulatan tekad dan perencanaan yang pintar lah yang membawanya maju. Dan berikut adalah kiat-kiat yang ia lakukan untuk bisa bermagang di perusahaan Silicon Valley.

Jatuh, Bangkit Lagi!

Rakina tahu ia ingin bekerja di perusahaan yang bermarkas di Silicon Valley sejak ia masih di SMA. Tapi, berbeda dengan remaja lain yang hanya menyimpan mimpi mereka sebatas angan-angan, Rakina mencari cara untuk menjalankan idenya.

"Ketika memulai tahun pertama kuliah di universitas, saya (mengambil) beberapa langkah untuk mewujudkan mimpi tersebut", kenangnya.

Ia mengikuti kompetisi coding, membangun situs website, dan memutuskan untuk terjun langsung. "Saya mendaftar di situs karier beberapa perusahaan besar dan tidak mendapat balasan dari mereka." Kesulitan ini mungkin menyebabkan banyak orang menyerah, tapi tidak bagi Rakina. Ia memikirkan bagaimana cara agar perusahaan mau meliriknya.

Melengkapi CV & Pengalaman

"Saya akhirnya menghabiskan libur tahun pertama kuliah saya untuk berkontribusi pada proyek open source dan pembinaan tim Olimpiade Informatika Jakarta, sehingga saya punya pengalaman yang lebih baik untuk ditulis di CV", kenangnya.

Ia juga mencari banyak informasi dan akhirnya menemukan sebuah program mentoring bernama Indo2SV. Program ini merupakan buah karya para engineer perangkat lunak asal Indonesia yang berhasil sampai ke Silicon Valley. Mereka kini membantu pelajar Indonesia menemukan program magang Software Engineering di sana.

Minta Bantuan Pada Senior

"Ketika itu adalah tahun pertama dari program tersebut, dan bagi saya itu adalah jawaban dari mimpi saya", ujar Rakina.

Ia tidak malu untuk meminta bantuan pada orang yang lebih berpengalaman. "Saya langsung mendaftar dan untungnya diterima lalu dipasangkan dengan seorang mentor."

Practice Makes Perfect

Yang terjadi selanjutnya adalah serangkaian simulasi wawancara dan berjam-jam latihan. "Saya berlatih setiap minggu dan secara terus-menerus membaca cerita wawancara dan pertanyaan-pertanyaan", kata Rakina.

Ia juga harus mengalahkan sikap malunya. "Saya dulu bahkan tidak bisa secara lancar menghadapi wawancara melalui telepon atau video selama lebih dari 5 menit. Jadi, menghadapi wawancara selama 45 atau lebih tentunya adalah hal yang sangat menantang."

Tidak Terpaku Pada Perusahaan Tertentu

Rakina kemudian mendaftar di berbagai perusahaan, bukan hanya di perusahaan yang ia idam-idamnkan. Selain itu ia juga meminta arahan dari mentornya. "Tidak seperti tahun sebelumnya, saya kali ini justru mendaftar di perusahaan-perusahaan yang tak pernah terpikirkan oleh saya."



Akhirnya, Rakina mendapat tanggapan positif dari beberapa perusahaan. Ia kemudian memilih Square karena menilai program magang yang ditawarkan perusahaan ini paling sesuai dengannya. "Saya sangat terkesan dengan para pewawancara dari Square yang tampak benar-benar tertarik pada apa yang telah saya lakukan." Menurut Rakina, mereka juga memberi banyak tip berharga yang membuatnya yakin bahwa startup ini akan menjadi tempat belajar yang bagus untuknya.

Terus Tambah Pengalaman

Setelah bermagang di Square, Rakina bisa saja bangga karena mimpinya telah tercapai. Tapi ia bertekad untuk memanfaatkan masa kuliahnya semaksimal mungkin, sehingga ia memutuskan untuk kembali mendaftar program magang lain. Meski kali ini Rakina mendaftar tanpa bantuan dari mentor, ia mendapat balasan dari perusahaan besar seperti Uber, Dropbox, dan Google. Akhirnya ia memilih tawaran dari perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin tersebut.

"Saya kira sekarang lebih mudah karena sudah ada Square di CV saya, sehingga saya langsung mendapat balasan beberapa hari kemudian. Saya menghadiri dua wawancara melalui telepon dan berjalan dengan lancar."

Belajar Dari Kultur Di Luar Kantor

Ketika sampai di Google, Rakina sadar bahwa ia tidak hanya akan belajar coding, tapi juga membawa pulang berbagai pengalaman baru jika ia menceburkan diri dalam budaya di luar kantor.


"Ketika saya tidak mengerjakan coding, saya mengikuti beragam aktivitas yang disediakan Google untuk para magang dan karyawan tetapnya seperti olahraga, diskusi teknologi, kelas, dan bahkan pesta untuk karyawan", ujar Rakina. Ia berkemah di Yosemite bersama salah satu rekan kerja dan keluarganya.

"Apa yang membuat saya terkesan dengan Silicon Valley: Mereka hidup dan bernapas dengan teknologi! Budaya disini sangat progresif, menyenangkan, dan sehat. Semua orang berolahraga dan makan makanan sehat."

Sumber : Tech In Asia Indonesia

You Might Also Like

0 komentar: