Showing posts with label food. Show all posts

Karena Dunia Siomay Ternyata Selebar Daun Kelor

"Itu kan Mas Siomay."
--

Entah kenapa, beberapa malam terakhir saya kepengin berbuka dengan yang manis-manis, sambil ngaca misalnya (plis jangan tersedak). Nggak ding. Pengen berbuka dengan sayur berkuah segar. Keinginan ini muncul lantaran santan dan lemak-lemak genit sudah menemani saya hampir selama 20 hari berpuasa. So, I need something fresh.

Di kota yang tengah berkembang ini, Purwakarta, menemukan sayur kuah bening tanpa lemak bisa dibilang sangat sulit. Meskipun banyak rumah makan ataupun warung tenda yang menyajikan menu "Sop Iga Kuah Bening" dan "Sop Kambing Kuah Bening", tapi tetap saja kuah-kuah itu tidak cukup segar. Aura si lemak genit menyelimuti setiap mangkuk sop. Jadilah rasa segar yang saya butuhkan tidak bisa dipenuhi oleh sajian-sajian itu.

Sop Iga Kuah Bening (www.bukuresep.net)

Lalu, kuah segar macam apa yang saya butuhkan?
1. Sayur bayam ibu saya
2. Sayur sop ibu saya
3. Sayur asem ibu saya
4. Sayur-sayur segar lain yang dibikin ibu saya. Hhe

Perkenalkan Ibu Saya, Tjantik yahh 😢

Tapi apalah daya, waktu mudik masih 5 hari lagi. Berbekal informasi dari seorang teman yang katanya ada Cuanki enak di Purwakarta, saya memacu si merah dengan kecepatan sedang. Beberapa kali sempat mau bertabrakan karena mata saya tidak cukup kuat menahan silau dari lampu led berwarna putih milik kendaraan lain yang bersebrangan. "Pak Polisi, tolonglah itu dikaji ulang pemakaian lampu led putih."

Back to topic, jadi Cuanki ini sejenis bakso dengan kuah bening. Jadi berbeda dengan kebanyakan bakso yang dijual di daerah Jawa Barat yang cenderung berkuah (maaf) keruh, berlemak, dan rich of mecin (vetsin) taste serta hanya berisi bakso, mie, taoge, dan sawi. Cuanki lebih seperti saudara sepupu bakso di daerah Jawa Timur. Isinya beragam dan berkuah bening. Mungkin tentang per-cuanki-an bisa kamu baca detail di post saya sebelumnya, klik di sini ya.

Setelah sekitar 10 menit memacu si merah, saya berhenti di sebuah tempat makan sederhana yang memanjang. Mm, dari arahan 2 teman saya, harusnya saya tepat berada di Warung Cuanki yang mereka bilang. Tapi nyatanya saya celingak-celinguk dan hanya mendapati deretan gambar es, mulai dari es campur, es teler, hingga es durian. Lalu kemana perginya si Warung Cuanki? Tak menyerah, saya bertanya kepada dua remaja pria yang nampaknya berperan sebagai juru parkir dadakan.

Saya Berhenti di Kedai yang Panjang Itu
"Mas, katanya di deket sini ada warung cuanki ya?"
"Iya bener, Teh. Di sini."
"Mm, bener Mas? Ini bukan warung es ya? Kok gambarnya es semua?"
"Sama aja Teh. Itu cuanki, yg ini es. Tapi sama kok dua-duanya."
Mmmh. Makin pusing pala berbie. Tapi ketika menengok ke arah kiri, benar ada gerobak bakso yang mengepul. "Tapi kok kecil gitu tempatnya. Katanya rame, " batin saya.

Karena perut sudah kruyuk-kruyuk masuklah saya ke warung berlabel "Nyuankie" itu. Luasnya hanya sekitar 3,5 x 6 meter. Termasuk kecil untuk ukuran sebuah warung. Di dalamnya hanya ada 6 meja yang masing-masing dilengkapi 4 buah kursi plastik berwarna merah. Meja-meja itu bersih mengkilat. Tanpa ada bekas kecap atau sambal yang mengering karena terlambat dibersihkan.

Bersih Mengkilaaat
Ketika mendongak, saya dapati dinding-dinding toko mungil itu dihiasi pigura-pigura dan wall sticker lucu. Padanan motif kotak-kotak berwarna merah semakin membuat warung mini ini terlihat hangat namun tetap ceria. Dari situ, saya langsung menebak bahwa pangsa pasar yang dibidik adalah kawula muda dan nampaknya ownernya juga muda, atau minimal berjiwa muda.

Dinding Sebelah Kanan



Dinding Sebelah Kiri
Tak lama setelah saya duduk, seorang waitress menyambut hangat. Saya pesan semangkuk cuanki dan es campur. Ketika asyik memperhatikan sekeliling, mata saya tertumpuk pada seorang laki-laki yang hilir mudik membersihkan meja, sesekali menjadi kasir, dan menginstruksikan beberapa hal kepada waitress yang lain. Saya teliti lebih lanjut wajahnya. Dan roll memori saya pun berputar.

Beberapa bulan lalu, saya tengah bersemangat mencoba berbagai resep masakan. Salah satunya adalah siomay. Berbekal resep sederhana yang saya dapat dari surfing di Instagram, saya mendapati resep yang sederhana. Setelah memperhitungkan budget, effort, dan peralatan yang dibutuhkan, saya berangkat ke sebuah pasar tradisional di Purwakarta untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Pasar Rebo namanya.

Ayam, Tepung Kanji, Telor, Daun Bawang, dan Merica sudah saya peroleh. Tinggal satu bahan yang esensial, Kulit Pangsit. Kalau di Malang, saya cukup datang ke toko bahan kue langganan dan meminta sebungkus Kulit Pangsit kualitas prima. Tapi di sini? Saya tak tahu mana toko yang menjual pangsit yang berkualitas baik. Dan lagi, saya tak bisa membedakan mana yang baik dan yang mudah pecah. Bagi saya semua terlihat sama. Hhe..

"Mang, kulit pangsit buat siomay yang bagus yang mana ya?"
"Yang ini Teh. Lebih mahal 3.000 sih dari yang situ."
"Hoo. gak pecah kan ya Mas?"
"Nggak. Bagus ini Teh."

Tapi kok yang murah keliatan lebih lentur ya? Saya diserang bimbang (lebay). Satu menit, dua menit, tiga menit, saya masih sibuk memilih kulit pangsit, yang murah atau yang mahal. Sedetik kemudian ada Mas-Mas membawa beberapa kantong bahan makanan. Tanpa ba-bi-bu ia menginstruksikan si Mamang Kulit Pangsit untuk membungkus beberapa pack kulit pangsit murah dan beberapa pack kulit pangsit mahal. Karena dasarnya tak tahu malu, saya asyik nyelonong,

"Mas, jualan ya? Ini kulit pangsit yang bagus yang mana ya?"
"Iya Teh jualan. Tetehnya mau bikin apa dulu?"
"Siomay, Mas."
"Ohh, kalo siomay yang ini aja Teh. Kan direbus, gak pecah kulitnya. Kalo digoreng lebih bagus yang ini."
Dia menyarankan membeli yang murah. Setengah sebel karena mamang kulit pangsit ngaco jawabnya, tapi sebagian hati yang lain girang karena tidak jadi terjerumus. Hhi. Jadilah saya mengingat mas itu sebagai Mas Siomay.


Dan. Malam ini saya melihat lagi Mas Siomay itu. Ah, dunia siomay ternyata hanya selebar daun kelor yaa..

Mari kembali ke urusan cuanki. Setelah menunggu sekitar 5 menit, semangkuk cuanki dan es campur terhidang di depan mata. Saya memilih menyeruput kuah si cuanki terlebih dahulu. Mm. Segar. Gurihnya pas. Hanya saja kurang sedikit panas. Semangkuk cuanki ini berisi 3 buah bakso daging, 1 buah bakso ikan, 1 buah siomay, 1 buah pangsit goreng, beberapa potong tahu kopong (tahu gembos), dan segerombol kerupuk ikan tenggiri. 

Semangkuk Bakso "Nyuankie"


Ukuran bakso daging dan bakso ikannya cukup mini, diameternya kira-kira satu ruas jari gadis imut seperti saya. Bakso dagingnya empuk, nampaknya daging ayam mengambil porsi lebih banyak pada adonan bakso dagingnya. Sedangkan bakso ikannya, ajib. Kenyal maksimal. Seenak tempura di Hanamasa. Kata Mas Siomay (Bayu nama sebenarnya), bakso ikan ini diproduksi oleh temannya yang berdomisili di Bandung dan yang digunakan adalah ikan tenggiri. Sedangkan bakso dagingnya, ia produksi sendiri dibantu oleh 5 orang karyawannya. Untuk siomay dan pangsit goreng, rasanya enak. Tapi tidak bisa dibilang istimewa karena rasanya hampir sama dengan siomay dan pangsit goreng enak di warung bakso atau warung cuanki yang lain. Begitu pula dengan tahu gembosnya. Yang paling saya suka adalah kerupuknya. Bertekstur hampir sama dengan kerupuk kulit sapi, kerupuk tenggiri yang digunakan memiliki lebar kecil, jadi cukup dalam satu suapan. Saya suka ketika kerupuknya tercelup air. Sensasinya lucu. Hhe.

Gerobak Untuk Meracik si Bakso "Nyuankie"
Bagaimana dengan Es Campurnya? Porsinya cukup besar untuk harga yang relatif murah, 10.000 rupiah. Isinya cukup beragam mulai mutiara, potongan nangka, kelapa muda, kacang hijau, dan bahkan tape singkong. Well, sudah sangat jarang es campur selengkap ini. Tapi isiannya cuma dikit. Hhu. Ya setara dengan harga yang dibayarkan sih. Sirup yang digunakan enak. Terasa kalau gula asli dan bukan gula buatan yang meninggalkan rasa pahit di ujung lidah. Tapi jika boleh saya memberi saran, ada baiknya jumlah susu ditambahkan sedikit.

Es Campur

So, overall Cuanki dan Es Campur ini akan bikin saya balik lagi.

Sebagai informasi, si Warung Cuanki berlabel "Nyuankie" ini buka pukul 13.00 WIB - stok habis. Di hari biasa sih, 250 - 300 porsi cuanki berharga 12.500 rupiah habis dalam waktu 4 jam saja, alias jam 17.00 WIB sudah tutup. So, buat kamu yang pengen cobain, gak pake beralasan nanti-nanti yaa. Langsung aja dateng ke Jalan Suradireja, Pasar Jumát (sebelum rel kereta api munjul). Keburu abis braaay!

Mas Siomay dan Teteh Es Campur (mereka kakak beradik), tunggu kedatangan saya yahh. Lain kali saya akan mengajak si Mas Pacar untuk makan cantik di situ. ^.^
  

All You Can Eat - But You Won't Eat It All - Restaurant

"I'm done. My stomach is too full."
I think about this article when i said that words to my friends. For your information, a few days ago, I and 9 friends of mine decide to having meal together in one of famous All-You-Can-Eat Restaurant in Bandung, West Java, Indonesia. Maybe, I'm one of a kind girl that late to try about this serving meal system. As we all know, that this serving meal system is already popular in Indonesia. So does it in another country. But I tried it a few days ago? Hhe. Do not pity on me. It's just about the time.



All-You-Can-Eat serving meal system which is also called buffet, comes from 16th century. Wikipedia.com said that it originates from Swedish brännvinsbord table which is serve liquor made from grain, potatoes, or wood cellulose. When it's applicated for meal at the first time, it was looked weird and unusual. Cause at the time, having meal is means sit on a big table and having a waitress who serve them.

So how come this system become internationally?

At 1939 on New York World's Fair exhibition, the Sweden have to serve a large number of people. So, they come with this idea. Self serving system. And the system had its prime during the early 18th century and was developed into the more modern buffet around the beginning of 19th century. In a buffet system, a lot of food from hot food, cold food, beverage, even dessert are placed on the table. So you can choose what  you want to eat and how much you want to eat it.
Time pass by, this idea is began to applied in some restaurant. One of a famous buffet in Indonesia is Japanese Restaurant. In the middle restaurant, you would see a big table full with meat, beef, chicken, shrimp, octopus, squid, fish, tempura, etc. Not only that, it also serve a lot of vegetable like cabbage, mushroom, fruit like watermelon, mango, pineapple, bengkoang, apple, water apple, etc. In another table, you would see various kind of beverage like Thai Tea, Cappucino, Green Tea, Orange Juice, Guava Juice, etc.

So, a minute after having a chat for a while, we spontaneusly scattered to pick up the food as much as we can. No command, our instinct as an omnivore ordered ourself to go faster to that big table. Hahha. I'll let you imagine how we become so excited to pick up the food.

"I wanna a lot of beef", "I wanna watermelon", "Oh I wanna that cute shrimp", "I wanna cabbage, i have to eat more fiber", "I wanna taste the Thai Tea, but Cappucino looks delicious too." That kind of word comes to my mind. And in the end, what i did is just walk around the served table with a sparkling eyes and the saliva that is almost dripping. Hahaha. So I decide to go back to our eating table with just fruits in small plate and a glass of cappucino.

Thankfully, my friends didn't do the same thing. They are clever than me. They can took a lot and various food. I saw a bunch of meat, a bunch of cabbage, a bunch of tempura, a various kind of sauces, a bunch of fruits, and many more. Hhi. So i came to eat what they picked up. Hahaha. Sorry, guys.

It was about 30 minutes passed. I felt so full. So damn full so i can eat anymore. My friend who have a dinosaurs stomach said to me, "Come on, we have to eat as much as we can. We have paid handsomely (expensively)." I shook my head. I've given up. But another one said, "Just take a rest for a while and have another round then." I shook my head again. I've given up.

So, what's the point?

Buffet restaurant will let you eat all the food they serve in the main table. But, i'm pretty sure that you won't make it come true. Even, i'm sure you won't eat more than twice of your daily meal portion. Why ?

1. It's not unusual or weird if we walk around and look around something new for us. So, do it in the buffet restaurant. Realize or not, it have 2 weakness : you lost the time to eat and you lost your hunger. When you're walk around, so many desires passing by your mind. "I want this, i want this too, i want that, i want these, i want those, and blablabla..". In the end you just confuse what you want to eat and back to the table with a little food. It happened because you can't control your mind. Hhe..
2. Many buffet restaurant, especially chinese and japanese restaurant, using chopstick instead of fork. Why? Using chopstick make you eat slower than using fork. Eat slower means full faster. Remember tips for diet? One of the famous tips is eat slowly cause it will make your stomach full faster. And it have been proved in some research.
3. The buffet restaurant serve drink in big glasses. As we already know that meat is cheap and water is cheap. So, they serve you big glass. And the next step is you will eat too much water so you can't eat a lot of food.


It's not a sins to go buffet restaurant. But, one thing that you have to think before go there. 
"Is the price worth to the food they serve?"

Cari Uang Sambil Jalan Kaki, Si Cuanki Serayu yang Lezat

Saya tidak akan membahas profesi - profesi yang menggunakan metode jalan kaki untuk cari uang loh ya. Bukan pula membahas bagaimana design gerobak yang ergonomis untuk bapak-bapak yang berdagang dengan jalan kaki. Dan sangat bukan sekali membahas abang tukang jualan apa yang paling ganteng. Muahahaa. Lha terus bahas apa?

Alkisah, tempo hari saya makan Cuanki Serayu. Nah, pas sudah menghadap seporsi penuh Cuanki, saya tanya ke Mas-Mas Pramuniaga, "Mas, ini kan bakso ya, ini goreng, yang ini apa?" Saya menunjuk satu benda yang jelas terbuat dari campuran tepung terigu dan aci (tepung kanji, tepung tapioka atau tepung sagu). "Yang itu Siomay, Teh." Kata masnya sambil tersenyum manis. "Lha trus yang disebut Cuanki yang mana, Mas?" tanya saya bingung. "Ya sepaket ini yang dinamakan Cuanki, Teh." Saya melongo. Si Mas Pramuniaga gak tanggung jawab dengan ke-melongo-an saya, dia ngeloyor pergi gitu aja. Ish.

Capture by Leblung

Sesampai di rumah (baca : kamar kosan ukuran 4 x 4 m yang [enggak] rapinya luarbiasa. hhe), saya langsung mengerahkan keahlian saya. Yapp. Tidak lain dan tidak bukan adalah "Gugling". Hhe. Keyword yang digunakan kali ini adalah "Asal Usul Cuanki" dan "Sejarah Cuanki". Tidak ada yang menjelaskan detail darimana Cuanki berasal, siapa penemu Cuanki, dan informasi dasar lainnya. Yang saya temukan adalah :

CUANKI = Cari Uang sambil jalAN kaKI

Hhi. Beneran begitu. Jadi Cuanki adalah sebutan untuk kegiatan mencari segenggam berlian (uang) yang dilakukan dengan cara jalan kaki. Kalo gitu banyak dong varian produknya. Tukang Cangcimen (Kacang Kuaci Permen), Tukang Tahu Sumedang, Tukang Odading (Roti Goreng isi gula merah), Tukang Batagor, Tukang Siomay, Tukang Sate keliling, Tukang Bakpao keliling, dan banyak lagi. Ya kaaan? Tapi di daerah Bandung dan sekitarnya, yang disebut Cuanki itu ya Tukang Jualan Bakso yang gerobaknya dipikul dan jualannya sambil jalan kaki keliling kompleks gitu. Kalo di Malang, tepatnya di daerah saya, ini disebutnya Tukang Bakso Pikul. ^.^

The Real Cuanki, source : www.kulinernikmat.com
Yang khas dari Cuanki ini, kuahnya bening, gak berlemak kayak bakso-bakso yang dijual di warung atau gerobak yang menetap di tempat (ini sudah sedikit saya ulas di tulisan ini). Dan isiannya lebih bervariasi karena ada siomay dan gorengnya, kalo bakso Bandung atau bakso Purwakarta biasanya cuma ada bakso (pentol daging) dan mie kuning atau mie putih. 

Nah, ceritanya kemarin Sabtu saya mampir ke sebuah warung Cuanki di Jalan Serayu yang katanya paling hits se-Bandung Raya. "Cuanki Serayu". Ya meski yang punya melanggar prinsip nama Cuanki itu sendiri ya, tapi gapapa-lah. Berbekal rekomendasi seorang teman yang berlidah Jawa tapi lama tinggal di Bandung (Bumils Titik namanya, Titik loh ya. Bukan Koma), saya memberanikan diri untuk ke warung sederhana ini. Konon kata sang pramuniaga, warung Cuanki ini memiliki 2 cabang yaitu di Jalan Mangga dan Jalan Babakan Timur. Sedangkan yang saya datangi ini adalah warung asli yang sudah berdiri sejak tahun 1997. Lama ya..

Capture by Leblung
Sesampainya di warung Cuanki ini, antrian orang yang memesan sudah mengular. Ada 2 banjar antrian. Setelah celingak-celinguk karena ketidak tauan saya, akhirnya saya menemukan tulisan "Khusus Dibungkus", di gerobak yang berada di sebelah kanan. Yap. 2 antrian itu adalah antrian makan di tempat dan antrian dibungkus atau dibawa pulang. Karena saya mau makan di situ, beralihlah saya ke antrian sebelah kiri. Sekitar 5 atau 10 menit kemudian, barulah saya sampai di depan Mas-Mas yang bagian terima dan melayani order.
 
Capture by Leblung
Proses pemesanan bisa dibilang cepat karena ada 2 orang yang melayani, satu orang bertugas menerima order dan memberi kuah, satu orang yang lain bertugas meracik. Selain itu, saat satu orang yang lain masih menerima order, mas-mas satunya meracik porsi normal, jadi kalau tidak ada permintaan khusus, penerima order tinggal kasih kuah. Kayak saya kemarin tuh, "1 porsi, Mas." Tinggal menciduk kuah, guyurkan, kasih deh ke saya. Hhe.

Untuk minuman, bisa ambil berbagai minuman botol di lemari es yang tersedia, atau pesan aneka jus buah. Urusan bayar? Nanti aja setelah perut kenyang. ^.^ Nah, tempat duduk yang disediakan sederhana sekali. Mirip dengan tempat duduk di warung bakso pinggir jalan. Ada 4 area untuk menikmati Cuanki ini, di bagian dalam warung, di bagian teras depan warung, di teras samping warung, dan di pinggir jalan raya.

Bagian Dalam Warung
Teras Depan Warung
Teras Samping Warung
Pinggir Jalan
 Bagaimana rasanya?

Semangkuk Cuanki ini berisi 2 buah bakso ukuran sedang, 1 siomay, 1 tahu putih, dan  1 goreng yang dipotong-potong. Gorengnya terbilang unik. Kalo pada umumnya, goreng itu adalah kulit pangsit isi tepung campur wortel dan daging, dan dibentuk seperti bunga mekar. Yang ini dibiarkan segi empat begitu, dan diolesi isian, lalu digoreng. Saat akan disajikan barulah si goreng dipotong-potong.

Kuahnya bening, mirip bakso Malang. Dan enak. Takarannya pas. Gurih, seger, dan sedap. Saya termasuk orang yang jarang makan bakso dengan gaya putihan alias tanpa kecap, saos, dan sambal. Tapi entah kali ini, karena kuahnya putihan saja sudah sedap, jadilah saya memutuskan untuk makan ala putihan hingga setengah porsi habis terlahap. Setengah berikutnya baru saya tambahkan kecap, saos, dan sambal secukupnya.

Seporsi Cuanki diharga Rp 15.000. Cukup murah untuk makan di kawasan Bandung. Tapi porsi ini tidak cukup membuat saya kenyang. Jadi mungkin lain kali saya kan pesan 1,5 porsi atau mencomot sebagian jatah suami saya. Hhe. Di sini tidak hanya menyediakan Cuanki, tapi juga Batagor khas kota Bandung. Hanya saja kali itu melihat porsinya yang sepiring penuh, saya mengurungkan niat untuk memesan batagor. Takut tidak habis, mungkin lain kali saya akan mencobanya. 

Daftar menu dan harga Cuanki Serayu dapat dilihat di gambar berikut ini.


So, overall, saya setuju dengan kata orang kebanyakan, "Cuanki Serayu Enak!"
  

Yuk Bikin Camilan Cantik, Sehat, dan Mudah untuk Melengkapi Weekend yang Seru

Pagi ini, saya bangun dengan hati gembira. Bukan karena mimpi bertemu Mas Pacar yang merangkap Suami (meski itu juga pasti membahagiakan). Bukan mimpi berlibur ke Raja Ampat. Bukan pula mimpi berlibur ke Derawan apalagi ke Paris. Bukan mimpi menang lotre. Bukan pula pas bangun tiba-tiba Mas Suami ada di depan mata (yang ini harapan. Maklumlah ya pejuang Long Distance Marriage, curhat tipis-tipis. Hhe). Trus kenapa dong, Blung? 

Tidak lain dan tidak bukan karena sewaktu matiin alarm dan berniat tidur lagi, saya berhasil mengintip layar hape saya. Di situ tertulis "04.30" pada baris pertama, sedangkan pada baris kedua tertulis "Thursday, 11 August". It means, INI HARI KAMIS, guys! H-1 weekend. H-1 ketemu suami. H-1 pacaran. H-1 makan ada temennya. H-1 ada yang dongengin sebelum tidur. H-1 ada yang dijahilin. Aiiiih. Pokoknya mah H-1 hari yang membahagiakan. Hhi. 

Bukan apa-apa sih, kali ini waktu terasa berjalan cepat, mungkin semi berlari. Gimana enggak, rasanya baru kemarin saya murung di dalam kamar kosan. Sendiri di malam minggu yang sunyi, sepi, dan hampa (Padahal anak ibu kos rame di teras rumah dan Mas Pacar nungguin via wasap, biar berasa melas aja sih. Hhi). Dan berakhir menghabiskan waktu untuk menonton drama Korea (Ini nih list drama Korea yang saya rekomendasikan). Eh, tau-tau udah hari Kamis aja. Hari dimana tingkat kebahagiaan para *Corporate Slave (**Mas Yuddy, pinjam istilahnya yaa) meningkat tajam.

Tahap kedua yang langsung dipikirkan adalah "Apa ya yang menemani Sabtu - Minggu nanti?" Beberapa ide seperti, Rujak Manis, Batagor Kuah, Cilok Khas Tasik, Tahu Bulat, Pempek Palembang, klepon Bu Sayur, dan bahkan Gorengan di Mamang deket jembatan penyebrangan langsung melintas di depan mata. Ya. Ntar gampanglah tinggal naik motor kurang dari lima menit udah dapet camilan. Tapi sejenak kemudian wajah Kakak Ipar saya tiba-tiba muncul, "Mbak Asih sempat kena kolesterol Dik. Kata dokter, kolesterol itu bukan karena pola makan sekarang. Tapi pola makan dulu-dulu pas Mbak Asih masih muda kayak sampean ini. Kan kos. Makan ya beli yang deket aja, nyemil-nyemil gorengan. Makanya dijaga ya maemnya." Jediaaaar. Bubar semua dah ide beli camilannya.

Trus gimana dong? Masa iya nyemil jeruk sama pisang doang? (Anggur merah dan kelengkeng masih mahal, euy!) Garing dong yaa..Radar Neptunus untuk cari variasi camilan di Mbah Google langsung bekerja. Keyword kali ini adalah "Camilan Sehat", "Healthy Snack", "Easy Snack to Make", "How to Cook Homemade Snack", "Camilan Buah", dan banyak keyword-keyword yang lain. Yang akhirnya mempertemukan saya dengan 3 camilan cantik, menarik, rupawan, dan menyehatkan ini. Apa aja sih?

1. Summer Fruit Springroll

Nah lho? Kan udah mulai musim hujan di Indonesia, Blung. Gak cocok dong. Ish. Ish. Lihat dulu nih tampilannya.
source : rawmanda.com
How? Saya sih langsung mupeng (Muka Pengen). Langsung tanpa babibu nyimpen resepnya. Yap.Yap. Camilan yang satu ini emang nampak cantik banget. Jadilah pasti nanti pas mau makan malah sayang untuk menggigitnya. Hhe. Summer Fruit Springroll ini sekilat nampak seperti dimsum dengan isian yang berbeda. Tidak salah kok anggapan itu. Karena bahan baku utama camilan ini memang Rice Paper Wrap atau kulit pangsit yang biasa digunakan untuk membuat dimsum.

Yang membedakan ini dengan dimsum adalah isiannya. Jika dimsum biasa diisi dengan aneka daging-dagingan, entah daging udang, daging kepiting, dagiang ayam, atau jamur. Maka Summer Fruit Springroll ini diutamakan atau disarankan untuk menggunakan buah sebagai isian. Tapi itu bukan hal yang mutlak kok. Beberapa vegetarian bahkan menggunakan nasi, sayur, dan beberapa jenis kacang-kacangan sebagai isian.
Selain itu, untuk membuat dimsum, kita harus mengukusnya terlebih dahulu sebelum makan. Sedangkan pada camilan ini hal tersebut tidak perlu dilakukan. Kali ini, saya akan menuliskan salah satu varian Summer Fruit Springroll yang dikenalkan oleh Gemma Stafford. 

source : http://www.biggerbolderbaking.com/fruit-spring-rolls/
Bahan yang dibutuhkan :
a. 8 buah Strawberry
b. 1/2 buah Melon yang berwarna oranye (Cantaloupe)
c. 1 buah Peach
d. 1 buah Mangga
e. 1 buah Apel
f. 1 buah lemon
g. Daun mint secukupnya
h. 8 lembar kulit pangsit

Untuk Saus :
a. 1/4 cup madu
b. Air perasan jeruk lemon
c. 3 sdm air
Cara membuatnya dapat dilihat pada video di bawah ini.


Sebagai catatan, isian dari Summer Fruit Springroll ini gak harus mirip njeduk sama resep di atas kok. Kamu bisa memvariasikan isinya sesuka hati. ^.^ Kan intinya cuma potong-potong, dan gulung dengan kulit pangsit, cocol sausnya, lalu habiskan hingga gigitan terakhir. 

source : http://www.biggerbolderbaking.com/fruit-spring-rolls/


2. Chocolate Cake in A Mug

Nah. Beberapa dari kamu pasti langsung ciut membaca kata "Cake" di nama camilan kedua ini. Hhe. Saya juga kok awalnya. Semacam udah hopeless aja. "Pasti riber pake mixer-mixer segala", "Aduh, bahannya pasti macem-macem ini," "Susah ahh. Bikin cake tuh rawan gagal. Kuenya kalo gak jadi terlalu keras ya terlalu lembek," dan seribu negative thinking lainnya. Ya kan?

source : www.telegraph.co.uk
Tenang. Simpan semua negative thinking itu. Kue yang satu ini mudah, tanpa mixer, dan bahannya gak belibet kok. Dan rasanya dijamin bikin nagih.

Bahan yang dibutuhkan :
a. 4 sdm Tepung Terigu
b. 2 sdm Gula
c. 2 sdm Coklat Bubuk
d. 1 butir Telur
e. 3 sdm Susu Bubuk
f. 3 sdm mentega yang telah dilelehkan atau bisa diganti dengan minyak goreng
g. 1/4 sdt ektrak vanilla
h. 1 sdm Chocochip

Cara membuatnya sesuai dengan diagram di bawah ini.
source : https://www.buzzfeed.com/emilycarlo/dessert-lovers-need-to-see-this?utm_term=.nwYBp1R2j#.crlxKM4ZN
Mudah dan anti-gagal bukan? Jika kamu anak kos macam saya, proses oven bisa diganti dengan dikukus kok. Dan gak usah khawatir kalo gak punya dandang atau rebusan. Cukup maksimalkan fungsi magic jar. Saya pernah mencoba dan berhasil. Selain itu, agar lebih nikmat, tambahkan 1 scoop es krim di atasnya. Yummy!

3. Ayam Pok-Pok Super Crunchy

Nah. Yang ini adalah favorit saya kalo ngemall. Ayam crispy dengan taburan bubuk cabi. Bikin sendiri yuk di rumah. Biar bisa dicemal-cemil sambil nonton tipi. Resep ayam ini saya temukan di blog tetangga.
source : http://pawonomah.blogspot.co.id/2015/02/xxl-crispy-chicken-ala-shihlin.html
Bahan yang dibutuhkan :
a. 1 buah dada ayam utuh, pisahkan tulang & dagingnya
b. Garam & lada secukupnya

Bahan Pelapis :
1) Pelapis A :
a. 2   butir  putih telur kocok lepas
b. Garam secukupnya

2) Pelapis B :
a. 150  grm  terigu serbaguna
b. 1/2   sdm  tepung sagu tani/tapioka
c. 1/4   sdt    garam
d. 1/2  sdt     kaldu ayam bubuk
e. 1/2   sdt    lada bubuk
f. 1/4   sdt    soda kue

3) Pelapis C :
a. 200  grm  tepung pangko/bread crumb
Cara membuat :
a. Iris tipis dan  melebar dada ayam.
b. Taburi garam & lada dikedua bagian fillet ayam tadi. Simpan dalam lemari es kurang lebih 15-25 menit
c. Siapkan wajan penggorengan, tuangkan minyak sedikit banyak agar semua bagian ayam dapat tercelup.
d. Campur bahan pelapis B jadi satu hingga rata. Ambil fillet ayam, masukkan dalam kocokan putih telur (pelapis A), gulingkan dalam campuran bahan kering (pelapis B). Lakukan 1x lagi. Terakhir masukkan dalam pelapis A & gulingkan dalam pelapis C (bread crumb).
e. Goreng dalam minyak panas dengan api sedang kecil hingga coklat keemasan.
f. Angkat,tiriskan
g. Sajikan dengan taburan cabai bubuk, seaweed bubuk atau saus Bbq.


Mudah kan bikin camilan sehat itu? Yuk mari kita coba weekend ini. ^.^

*Corporate Slave : Karyawan Perusahaan
** Mas Yuddy : Teman main, teman satu mess, si cerdas yang hobi ngomong tanpa pernah kehabisan bahan dan energi. Temukan pemikiran ciamiknya di sini