Doodling for Healing, Belajar dari Akun Instagram

20:15:00 It's Leblung 0 Comments

Sepanjang hari ini, saya berkutat dengan kain. Mengcopy pola, menggunting, menjahit, dan mewarna. Saya selalu suka bermain-main dengan kain. Membuat beraneka macam boneka baik dari kain katun maupun kain flanel, atau sekedar membuat pouch dengan ornamen berupa lukisan dari cat acrylic. Ah ya. Selain bermain dengan kain, saya juga suka menggambar. Atau mungkin lebih layak disebut corat-coret? Doodling?

Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah suka mencorat-coret di waktu senggang. Bahkan selalu membawa satu buku khusus untuk doodling di sekolah. Gambar yang saya bikin pun tergolong sederhana, para putri raja dengan gaun mewah bertabur bunga. Yahh meski tak bisa dikatakan bagus, tapi saya tetap semangat membuatnya. Hahaha..

Saat memasuki tingkat 7 (kelas 1 SMP), saya beruntung. Dua orang teman yang duduk tepat di belakang saya adalah komikus handal. Dari mereka saya belajar bagaimana menggambar tokoh yang lebih ekspresif. Saya ingat sekali pelajaran pertama dari mereka : menggambar ulang tokoh komik WITCH. Ada yang tau komik itu? Ini nih :

source : www.teleman.pl
Pelajaran menggambar dari mereka berdua menjadi lebih penting dari mata pelajaran lainnya kala itu. Sampai-sampai saya ditegur oleh guru Bahasa Arab karena asyik menggambar saat beliau serius mengajar (Hhi. Maaf ya Pak Atoq). 

Nah, kegemaran ini terus berlanjut hingga sekarang. Lebih tepatnya menjadi kebiasaan buat saya. Jika sedang terlalu bahagia, terlalu sedih, atau bahkan terlalu datar, saya akan secara otomatis mencorat-coret kertas kosong di sekitar saya. Entah hanya menggambar kepala orang, atau gambar abstrak lainnya. 

Bagi saya, doodling menjadi sebuah kegiatan yang menyembuhkan, healing. Sama seperti menulis buku diary atau curhat cantik bagi sebagian orang. Meski lebih sering gambar itu tidak mewakili apa yang saya rasakan (ya, saya sangat amatir jadilah sulit menggambarkan perasaan ke dalam selembar kertas), tapi ada kepuasan atau kelegaan tersendiri. Seperti menyalurkan energi yang berlebih pada selembar kertas kosong tersebut. So i can say that I do doodling for healing. ^.^
Doodle By Leblung
Dan kecintaan pada doodling ini membuat saya menjadi candu untuk selalu memperhatikan karya dari artist-artist keren. Salah satunya adalah melalui Instagram. Ini beberapa akun yang saya follow dan rutin saya pelototi hampir setiap hari. Mungkin bisa pula kamu jadikan referensi untuk belajar atau sekedar memanjakan mata saat otak mulai penat akibat macet dan rutinitas harian yang tak kunjung selesai.

@byputy
Puty adalah seorang ibu muda, blogger, dan ilustrator. Tokoh yang dibuat oleh Puty seringkali adalah ibu muda chubby yang menggemaskan. Entah kenapa saat pertama menemukan karyanya saya langsung jatuh hati. Mungkin karena tokohnya terasa 'gue banget', ginuk-ginuk gitu. Hahaha. Ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Puty pun tidak jauh dari kehidupan yang dijalani oleh ibu-ibu muda atau calon ibu di usia 20 - 30-an. Seperti harapan ibu muda agar anak balita-nya tidak tumbuh terlalu cepat, ribetnya urutan penggunaan skincare Korea, atau ribetnya mamak-mamak yang pengen anaknya no gadget tapi ia sendiri heboh posting foto anak sepanjang hari, dan berbagai cerita lainnya. Pemilihan cerita dan tokoh yang imut ini bikin saya hobi nungguin postingan Puty saban hari. Hhi. Luv her drawing-lah pokoknya.


@majasbok
Majasbok adalah salah seorang ilustrator dari Stockholm, Swedia. Sama dengan Puty, ilustrasi karya Majasbok ini sederhana tapi imut. Kalau Puty mengambil ibu-ibu chubby sebagai tokoh andalan, Maja memilih hewan sebagai tokoh utamanya. Mm, hewan apa ya itu? Tupai? Entahlah, tapi hewannya chubby dan ginuk-ginuk juga. Jadi imut dilihat dan bikin gemas pengen peluk-peluk, *eh. Maja konsisten dengan ciri khas monokrom atau hitam putihnya. Ia juga sudah membuat beberapa buku ilustrasi yang melayani worldwide shipping. Jadi kalau kamu jatuh hati dengan karya Maja dan ingin mengoleksinya, silakan langsung saja mengunjungi website Maja di www.majasbokshop.com.


@naelaali
Berbeda dengan 2 ilustrator sebelumnya, karya Naela Ali lebih ke arah retro dan nyata. Ia mengambarkan manusia dengan utuh dan memiiki ekspresi yang kuat. Naela Ali lebih cenderung suka bermain-main dengan cat air. Sehingga gambarnya lebih berwarna meski pilihannya berkutat pada warna-warna pastel. Meski ia tak membubuhkan cerita-cerita lucu seperti Puty, Naela Ali cukup membuat mata adem dengan karyanya. Sama dengan Maja, ia juga telah menerbitkan beberapa buku seperti Stories for Rainy Days dan Things & Thoughts I Drew When I Was Bored.


@dita.ayu.indah
Nah, yang satu ini adalah ilustrator yang lebih fokus pada manga muslim. Saya tertarik pada karyanya yang sederhana namun bermakna. Jadilah belajar agama gak melulu lewat buku tebal tanpa ilustrasi yang kadang bikin bete. Untuk membuat karya-karya unik ini, Dita menggunakan aplikasi smartphone berjudul Medibang. Saya belom pernah cek sih. Tapi dengan aplikasi ini, si Dita bisa tuh tiba-tiba naruh tokoh gadis berjilbab andalannya di foto nyata. Semacam nemplokin ilustrasi kita di foto gitu. Imut dan gemas. Two thumbs up for Dita.


Nah, itu 4 ilustrator yang menginspirasi saya untuk terus belajar doodling dengan baik dan benar. Kata Naela Ali sih, ia butuh 6 tahun belajar menggambar dengan rutin. Ia bisa, saya pun (harusnya) bisa. ^.^

Kalau ilustrator favoritmu siapa?

You Might Also Like

0 komentar: