Showing posts with label wisata kuliner. Show all posts

Membabat Habis Nasi Babat di Surabaya

Sepiring nasi putih hangat, capcay, tempe goreng, dan sambal yang aduhai pedasnya menemani buka puasa kami di Senin sore yang meredup. Melengkapi itu, segelas air putih dingin bersama beberapa potong buah mentimun mas dihidangkan. Sungguh cukup membuat perut kami berkata kenyang. Ah, kakak sepupu ipar saya memang jago membuat perut bahagia.

Tapi sejurus kemudian,
“Masih muat ndak perutnya?”
“Masih dong,” kataku riang meski setengah ragu.
“Mau makan apalagi? Nanti sekalian pulang kita beli ya..” ujar Mas Suami.
“Mau tahu campuuur. Ya ya ya?” rajukku manja.
“Jauh kalo beli tahu campur. Mau coba nasi babat aja ndak?”
“Mau mauuu. Tapi nasinya boleh setengah aja kan ya? Udah cukup kenyang.”
“Boleh-lah.”

Ya, tinggal berjauh-jauhan (baca : LDR) membuat kami harus menunggu saat bertemu untuk sekedar mengajak satu sama lain ke tempat baru yang seru. Entah tempat makan, tempat nongkrong, atau sekadar tempat jalan-jalan santai. Dan tidak surprise jika ia mengajak saya pergi ke Warung Tenda Nasi Babat yang ia ceritakan beberapa waktu lalu. Tapi sekarang? Saya kenyang. Cukup kenyang. Tapi tak cukup tega mengikhlaskan kesempatan mencoba makanan baru. Bilang saya makannya banyak, tak apa. Hhi..

Menit dan detik berlalu. Kami akhirnya berpamitan pulang. Menerobos padatnya lalu lintas di area Sidoarjo, terus hingga ke daerah Jemursari. Lalu berhenti di mini market Sakinah yang berada di kiri jalan jika kita berjalan ke arah Rungkut. Kukira Mas Suami mengajakku belanja. Ternyata, di sudut kiri mini market syariah itulah Warung Tenda Nasi Babat berdiri. 


Warung Tenda Nasi Babat ini tidak cukup besar. Warung itu bisa dibilang hanya mampu memuat 12-15 orang saja dalam waktu bersamaan. Beruntung saat saya tiba, hanya ada sepasang suami istri yang tengah duduk khidmat sembari mengunyah Nasi Babat yang mereka pesan. Tapi soal kebersihan, jangan ditanya. Warna mejanya yang hijau terang membuat saya dengan mudah mengecek apakah sisa-sisa makanan dan minuman bertengger di atas meja. Kursi boleh kusam, tapi kebersihan meja tetap terjaga. Two thumbs up for this mini kedai.

Lalu kulirik daftar menu yang terpampang nyata di depan kami. ‘Nasi Babat Usus, 13.000. Nasi Babat Paru, 13.000. Nasi Usus Paru, 13.000. Murmer kaliii..’ batinku riang. Minuman yang terdiri dari Es Beras Kencur, Es Kunyit Asam, dan Es Jeruk pun hanya dibanderol 4.000 rupiah sedangan Es atau Teh Manis hangat dibanderol 3.000 rupiah saja. Murah kaaan.

“Mau makan apa?”
“Nasi Babat Usus aja. Nasi separuh. Sama Es Teh Manis. Hhe..”
“Nasi Babat Usus 1, Nasi Babat Paru 1, Es Teh 2 ya..” kata Mas Suami ke Ibu Nasi Babat.


Lima menit kemudian, makanan dan minuman pilihan kami dihidangkan. ‘Lha kok ukuran nasinya sama? Kan udah bilang separuh ya punyaku?’ batinku gusar. ‘Ah, yasudahlah. Mungkin rejeki mahluk lain nih*.’ Batinku kemudian. Hhe.. Di depanku, sepiring nasi jagung dengan potongan babat, usus, sepotong mentimun, segerombol daun kemangi, dan sejumput sambal korek mengerling manja. Baru kali ini saya makan nasi babat. Dan baru tau juga kalau makannya pakai nasi jagung. Baunya wangi menggoda.

Saya buru-buru mencicip. Enaaak. Babatnya lembut dan gurih. Ada bumbu-bumbu seperti kelapa parutnya gitu juga. Entah kelapa entah lengkuas parut. Tapi bikin gurih. Nasinya lembut, jagungnya juga tidak keras. It’s yummy. Sambalnya pedas untuk ukuran saya yang cupu ini. Tapi, makan nasinya kurang pas kalau tanpa sambal. Waaah.

Sesendok, dua sendok, tiga sendok. Saya kunyah dengan hati riang. Babat habis. Nasi? Tinggal 3 sendok aja. Hahaha. Tadi sok gusar bakal gak habis nasinya. Eeeeh, sisa dikit banget. Itupun karena babat dan ususnya sudah habis, kalau masih ada, mungkin nasinya habis juga. Hhi.

Jadi kalau kamu ke Surabaya, wajib bin kudu cobain Nasi Babat yaa. Murah meriah tapi enak kaliii. Cuma ya jangan tiap hari juga ke sini. Nanti main ke Surabaya seminggu, tiap hari beli Nasi Babat lagi. Wkwkwk. Bahaya. Kolesterol mengintai. 


Kata temen-temen sih di daerah Pegirian ada yang enak. Saya belom pernah coba. Tapi bagiku yang ini sudah enak. Pokoknya kalau kalian mau ke tempat ini, patokannya minimarket Sakinah di jalan Jemursari aja ya. Selamat mencobaaa.. 

*ilmunya Mas Suami, kalau makanan sisa tuh gak boleh bilang dibuang. Tapi bilang rejekinya mahluk lain. Jadi pas naruh di tempat sampah jangan diikat kuat-kuat. Biar para kucing dan mahluk lainnya bukanya gampang.

Ojju K-Food Tunjungan Plaza, Tempat Ngemil ala Korea

"Siska, mau makan apa kita?"
"Apa ya Mbak? Gatau.."
"Eh bentar, bentar.." lalu saya tunjukkan foto ini :
"Mau makan itu, Mbak."
"Hha. Gak ada di Surabaya ini. Baru ada di Jakarta."
"Yah, Mbak. Udah terlanjur kepengen," ujarnya kesal.

Hhi. Berbulan-bulan lalu, di tahun 2017, saya menemukan foto itu di Instagram. Ayam Madu Merah ala Korea a.k.a Korean Honey Chicken dibalut Keju Mozzarella meleleh super banyak. Ia sukses bikin saya jatuh hati pada pandangan pertama. Cailaaah. Seketika juga langsung mencatatnya di 'Must Try Food List' kepunyaan saya.

Waktu berselang, pada Oktober 2017 kabar bahwa si makanan menggiurkan itu sudah tersedia di Surabaya bikin saya girang. Tapi tak pernah sempat untuk mencicipinya. Dan akhirnya kesempatan datang pada hari Sabtu lalu. It comes when;
"Mau makan apa biar moodnya jadi baik lagi? Beli Gelato tah?" kata Mas Suami yang liat istrinya sedih pasca ditinggal Ibuk pulang balik ke Malang. Anaknya lemah. 
"Gak mau Gelato, kan tadinya mau ajak Ibuk makan Gelato. Nanti nangis lagi inget Ibuk. Trus Ibuk suka makan Shabu-Shabu, kalo makan Shabu-Shabu, nanti inget juga."
"Trus makan apa lho?"
"Mm, mau Ojju K-Food aja deh. Ada di Tunjungan Plaza 5 Level 5. Kan bisa sekalian beli keperluan Siska."
"Yaudah yuk siap-siap."

Akhirnya pergilah kami ke Tunjungan Plaza. Rame. Secara itu malem minggu ya. Banyak muda-mudi dan sepaket keluarga yang menjejali tenant-tenant Tunjungan Plaza. Mm, mungkin juga karena mendekati Ramadhan sih. Beberapa keluarga memilih melengkapi keperluan Ramadhan dan keperluan Lebaran jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah mengunjungi beberapa tenant untuk membeli keperluan si adik, akhirnya kami menuju Tunjungan Plaza Level 5, tempat dimana si makanan menggiurkan bercokol.

Tiktuk. Tiktuk. Mm, kok gak ketemu-ketemu yaa.. Hhe. sekitar 5 menit muter-muter barulah tulisan Ojju nampak. Tepat di sebelah Fish & Co. Mm, mungkin karena tempat makan lain lebih besar ya, jadi Ojju K-Food ini sedikit susah ditemukan. But it's okay-lah.. 


Begitu masuk, suasana ala-ala tempat makan di Korea langsung terasa. Furniture dari kayu-kayu berwarna coklat muda. Ornamen-ornamen khas Korea. Lukisan dinding yang artistik. Serta mbak-mbak dan mas-mas yang mengucap, "Annyeong haseo" atau "Kamsahamnida" dengan logat Surabaya a.k.a medok seperti saya. It's cute and warm at the same time.

"Untuk berapa orang?"
"Tiga orang, Mbak."
Ia pun mengantar kami ke tempat duduk di tengah-tengah resto. Menyerahkan buku menu, tersenyum ramah, dan meninggalkan kami yang sedetik kemudian sudah khidmat membaca menu makanan. ^.^
Karena dari awal pengen yang ber-mozzarella itu, jadilah kami memilih Rolling Cheese - Beef Ribs level mild. Both of them love spicy food, but i'm not. Jadi milih yang mild ajah. Trus, kok bukan ayam yang dipilih? Biar pernah aja. Kalo ayam, nanti berasa makan ayam Recheese. Dan di buku menu ditulis Plenty for 2, Enough for 3. Jadilah pesen 1 ajah buat bertiga. Oh ya, paket itu sudah termasuk Banchan. Banchan itu sepaket Cream Corn, Kimchi, Macaroni Salad, dan Oi Muchim. Untuk minum, kami memilih 1 Pitcher Corn Tea. 1 buat ramean biar rasa solidaritas tumbuh subur di hati kami bertiga. *apasih lil. hhi..

Tak lama, minuman datang, disusul dengan sepaket Banchan. First impression, "Mini ya Banchannya." Hhe. It's look like tester gitu. Kek gini :


Mm, sorry to say, tapi ini Cream Corn-nya minim Corn. Atau emang gitu ya? Tapi di buku menu kek banyak gitu jagungnya. Kimchinya cuma 3 potong sawi putih. Mm, kek udah ditakdirkan 1 orang makan 1 potong aja ini mah. Macaroni Salad dan Oi Munchim-nya lumayan-lah. Kami foto-foto doang lalu disisihkan. sekitar 5 menit kemudian, main menu dihidangkan. Waaah. Potongan mozzarela-nya menggoda. Dan, ada tambahan potongan Potato Wedges di sekitar Beef Ribsnya.

Setelah bersepakat dengan Mas-Mas Waitress untuk eksekusi Rolling Cheese - Beef Ribs-nya saat itu juga. Api mulai dinyalakan. Mas Suami memilih mengambil seluruh Potato Wedges agar tak bercampur mozzarela. Lalu dengan lihai, Mas Waitress mengaduk-aduk si keju. memastikan leleh sempurna dan bebas dari gosong. Setelah meleleh sempurna, Beef Ribs berjumlah 5 rusuk itu dipotong-potong. Selanjutnya ia menggulung Beef Ribs dengan lelehan mozzarella. Waaah. It's the best part sih menurutku. Bikin air ludah diproduksi banyak alias nge-ces. Hhe. Setelah itu, potongan Beef Ribs diletakkan satu per satu di tiap piring makan. Api dimatikan. It's time to taste it. Yuhuuu.

Untuk memakan Rolling Cheese, disediakan sarung tangan plastik sehingga kita tak perlu takut tangan kotor atau tangan terasa panas akibat memegang makanan pedas. Gigitan pertama, mozzarella yang kenyal, asin khas keju memenuhi mulut saya. Disusul dengan rasa manis, sedikit pedas, dan rasa rempah khas Korea. Buat saya, ini enak. Hampir seperti Recheese sih rasanya. Cuma kalo Recheese rasanya lebih kaya karena baluran tepung pada kulit ayamnya. Bagaimana dengan dagingnya? Empuknya pas. Tidak terlalu sulit digigit tapi juga tidak hancur. ^.^

Karena Ribs-nya hanya 5, Mas Suami memilih memakan satu saja. Hhe. Ngalah demi adik dan istrinya yang tampak lahap. Makan 2 potong Beef Ribs dan beberapa Potato Wedges, perut saya belum penuh juga. Saatnya mengincip si Banchan. Cream Corn, manis susu plus jagung. Sudah. Jadilah ini seperti meminum susu rasa vanilla yang diberi topping potongan jagung rebus. Emang gini ya Cream Corn ? I never taste Cream Corn before, so i can't give a rate.

Banchan kedua : Kimchi. Mm, mirip asinan dengan bau Gochujang (Pasta Cabai Khas Korea). Karena memang basicnya gak suka Kimchi, jadi ya buat saya biasa aja sih. Lalu Oi Munchim, ini semacam asinan juga dengan potongan Timun Jepang kalo tidak salah. Yang ini lebih manis, jadi buat kami sih ini lebih menarik dari Kimchi. Berasa segar gitu pas dimakan. Dan terakhir, Macaroni Salad. Mm, bisa dibilang tidak terlalu spesial. Rasa Kejunya kurang kuat. Bisa jadi sih karena sisa rasa mozzarela masih bertengger di sela-sela gigi saya. Bagaimana dengan Corn Tea? Yang bikin menarik tempat minumnya yang berbahan logam. Jadi berasa kek minum Soju gitu. Tapi agak gede sih ini gelasnya. Rasanya? Pahit. Dan aroma jagungnya terasa. Saya sih kurang suka. Hhe. 

Semua makanan dan minuman sudah dicoba. Saya suka Rolling Cheese-nya, tapi tidak Banchan-nya. Tapi ya itu, paket ini untuk 3 orang bukan Enough. It's minus. Kami masih lapaaar. Bahkan untuk saya yang notabene makan dikit aja lapar, apalagi Mas Suami yak. Jadilah kami bilang ini camilan, bukan makanan utama. Hhe.

Bagaimana dengan harga? Untuk Rolling Cheese - Beef Ribs dibanderol harga 219 ribu rupiah. Sedangkan Corn Tea dihargai 22 ribu rupiah untuk pitcher dengan volume 1,2 liter. Untuk harga itu dan tingkat kekenyangan, saya kasih rate 3 dari 5 ya.. So, it's okay to try but not recommended when you are hungry.

La Divine - Artisan Gelato pada Hujan Bulan November

Sepagi ini Purwakarta sudah diguyur hujan. Hawa dingin menyelimuti tidur saya yang mulai tak lagi pulas. Pukul 02.00 WIB terbaca di layar ponsel. Tapi entah, ini sudah kesekian kali saat hujan mendera, saya ingin gelato. Beberapa dari kalian pasti mengernyitkan dahi sambil bergumam, "Kamu gapapa Lil? Sehat?" Rasanya selalu nampak aneh jika menginginkan es di waktu dingin. Tapi bukankah bapak-bapak dianggap lumrah meminta segelas kopi hitam panas di tengah terik matahari yang menyengat ya? Jadi anggaplah ini selumrah itu. ^^

source : www.notquitenigella.com
La Divine - Artisan Gelato & Coffee namanya. Gerai gelato ini terletak di Jl Dharmahusada No 148, Gubeng Surabaya. Tempatnya tidak terlalu besar, jadi tak cukup nampak dari kejauhan. Untuk menemukannya, cukup cari Gerai Surabaya Patata,  gerai gelato ini persis di seberang jalannya. Gerai ini didesain dengan interior yang sederhana, sesuai dengan tema-tema cafe gelato pada umumnya. Namun sang pemilik tetap menghadirkan ornamen-ornamen imut di beberapa bagian sehingga tetap kece untuk berfoto ria. Ada dua pilihan tempat yang bisa kamu pilih : di luar untuk yang ingin menikmati gelato sembari merokok atau merasakan hawa Surabaya atau di bagian dalam yang ber-AC. 

Suasana Gerai Indoor
Kaca besar yang bikin suasana makin nyaman dan kece untuk background foto
Merenungi apa sih, Siska? Hha..
source : www.diarysivika.com
Oh ya, awalnya saya tertarik dengan gelato ini karena menurut beberapa sumber dari internet disebutkan bahwa gerai ini dulunya hanya dibuka di Bali. Ini menarik buat saya karena mayoritas pengunjung Bali adalah turis internasional. Tentu rasa yang ditawarkan tak boleh main-main, harus sesuai standar lidah mereka agar tetap dapat bertahan. Jadilah hal pertama yang saya tanyakan saat ke sana beberapa bulan lalu adalah, "Ini bener Mas katanya pindahan dari Bali?" Masnya mantap mengiyakan sambil tersenyum. Katanya karena masa sewa tempat habis, maka pemiliknya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, Surabaya, dan membuka kembali usaha ini di depan rumahnya sendiri.

Lalu, apakah ekspektasi itu sesuai?

Gerai gelato ini menawarkan 15 rasa berbeda, antara lain : Gelato Salted Caramel Popcorn, Monster Cookie, Chocolate Brownies dan banyak lainnya. Jujur, saya dan Siska (adik saya) sempat galau dibuatnya. Untunglah mas-mas pramuniaganya sabar pisan. Menjelaskan ini dan itu, rasanya kalo ini begini, kalo yang itu begitu, kalo suka yang unik pilih ini, kalo mau aman pilih yang itu. Dan two thumbs up untuk penjelasan mana yang menggunakan rum dan mana yang tidak. Bagi orang yang menghindari rum seperti saya, ini sangat membantu.


Oh ya, di gerai ini kamu bisa cobain dulu sebelum fix memilih rasa apa yang akan kamu pesan. Mereka menyediakan sendok kecil untuk mencoba varian rasa gelatonya. Gak perlu sungkan, kamu bisa mencoba ke-15 rasa gelato tersebut. Cukup membantu bagi yang bingung seperti kami.

Setelah cukup lama berpikir, kami memilih All mine - 2 flavours seharga Rp 25.000. Gelato ini tidak hanya bisa dinikmati menggunakan cup, tapi juga bisa dengan waffle atau dengan cone es krim. Saya memilih cone es krim. Cukup tambah biaya Rp 5.000, gelato langsung disajikan dengan cone dan dibentuk cantik menyerupai bunga mawar yang tengah mekar sempurnya.


Sedangkan adik saya memilih memakan gelato dengan waffle. Untuk menikmati pilihannya, kami perlu menambah biaya sebesar Rp 23.000. Secara rasa, gelato ini enaaak. Saya tidak merekomendasikan rasa apa yang paling yahud karena ini berdasarkan selera, tapi yang pasti enak. Tidak terlalu creamy atau terlalu manis. Pas banget. Tekstur gelatonya juga bener-bener lembut di mulut.



Cone es krimnya enaaak. Renyah banget tapi gak gampang hancur. Cone milik Wa*ls lewat. Waffle yang dipilih adik juga enak, empuk nampun tetap kering di luar. Gimana ya? Macam tahu sumedanglah, krispy di luar empuk di dalam (maafkan analogi yang gak banget). Untuk gelato, cone, dan waffle, saya kasih nilai 4.5 dari skala 5.

Selain gelato, gerai ini juga menyediakan makanan berat, kami yang kelaparan langsung memutuskan untuk memesan makanan berat pula. Saya memilih Fish and Chips. Dari segi porsi, potongan ikannya cukup besar, sedangkan kentang gorengnya cukup banyak. Daging ikannya tidak berbau dan super lembut, baluran tepungnya crunchy, rasanya : ENAK. Pun begitu dengan kentang gorengnya, tidak terlalu kering, tidak pula lembek. Gak nolak kalau ada yang ngajakin makan Fish and Chips ini lagi. Untuk seporsi Fish and Chips dibanderol Rp 55.000,- cukup ramah di kantong untuk Fish and Chips segede ini.




Adik saya memilih Lasagna. Enak, tapi tidak bisa saya katakan istimewa. Teksturnya lembut dengan keju yang lumayan banyak. Untuk yang tidak suka makanan terlalu creamy, saya sarankan untuk menghindari lasagna di sini. Seporsi lasagna dibanderol Rp 62.000,-. 



Dengan rasa gelato yang enak, Fish and Chips yang super lezat, suasana yang nyaman, saya tidak ragu merekomendasikan tempat ini untuk kalian semua. Huwaaa, jadi pengen balik ke Surabaya.

Ah, memang gak ada yang salah kok dengan menikmati bercup-cup gelato pada hujan bulan November. ^^ 


Karena Dunia Siomay Ternyata Selebar Daun Kelor

"Itu kan Mas Siomay."
--

Entah kenapa, beberapa malam terakhir saya kepengin berbuka dengan yang manis-manis, sambil ngaca misalnya (plis jangan tersedak). Nggak ding. Pengen berbuka dengan sayur berkuah segar. Keinginan ini muncul lantaran santan dan lemak-lemak genit sudah menemani saya hampir selama 20 hari berpuasa. So, I need something fresh.

Di kota yang tengah berkembang ini, Purwakarta, menemukan sayur kuah bening tanpa lemak bisa dibilang sangat sulit. Meskipun banyak rumah makan ataupun warung tenda yang menyajikan menu "Sop Iga Kuah Bening" dan "Sop Kambing Kuah Bening", tapi tetap saja kuah-kuah itu tidak cukup segar. Aura si lemak genit menyelimuti setiap mangkuk sop. Jadilah rasa segar yang saya butuhkan tidak bisa dipenuhi oleh sajian-sajian itu.

Sop Iga Kuah Bening (www.bukuresep.net)

Lalu, kuah segar macam apa yang saya butuhkan?
1. Sayur bayam ibu saya
2. Sayur sop ibu saya
3. Sayur asem ibu saya
4. Sayur-sayur segar lain yang dibikin ibu saya. Hhe

Perkenalkan Ibu Saya, Tjantik yahh 😢

Tapi apalah daya, waktu mudik masih 5 hari lagi. Berbekal informasi dari seorang teman yang katanya ada Cuanki enak di Purwakarta, saya memacu si merah dengan kecepatan sedang. Beberapa kali sempat mau bertabrakan karena mata saya tidak cukup kuat menahan silau dari lampu led berwarna putih milik kendaraan lain yang bersebrangan. "Pak Polisi, tolonglah itu dikaji ulang pemakaian lampu led putih."

Back to topic, jadi Cuanki ini sejenis bakso dengan kuah bening. Jadi berbeda dengan kebanyakan bakso yang dijual di daerah Jawa Barat yang cenderung berkuah (maaf) keruh, berlemak, dan rich of mecin (vetsin) taste serta hanya berisi bakso, mie, taoge, dan sawi. Cuanki lebih seperti saudara sepupu bakso di daerah Jawa Timur. Isinya beragam dan berkuah bening. Mungkin tentang per-cuanki-an bisa kamu baca detail di post saya sebelumnya, klik di sini ya.

Setelah sekitar 10 menit memacu si merah, saya berhenti di sebuah tempat makan sederhana yang memanjang. Mm, dari arahan 2 teman saya, harusnya saya tepat berada di Warung Cuanki yang mereka bilang. Tapi nyatanya saya celingak-celinguk dan hanya mendapati deretan gambar es, mulai dari es campur, es teler, hingga es durian. Lalu kemana perginya si Warung Cuanki? Tak menyerah, saya bertanya kepada dua remaja pria yang nampaknya berperan sebagai juru parkir dadakan.

Saya Berhenti di Kedai yang Panjang Itu
"Mas, katanya di deket sini ada warung cuanki ya?"
"Iya bener, Teh. Di sini."
"Mm, bener Mas? Ini bukan warung es ya? Kok gambarnya es semua?"
"Sama aja Teh. Itu cuanki, yg ini es. Tapi sama kok dua-duanya."
Mmmh. Makin pusing pala berbie. Tapi ketika menengok ke arah kiri, benar ada gerobak bakso yang mengepul. "Tapi kok kecil gitu tempatnya. Katanya rame, " batin saya.

Karena perut sudah kruyuk-kruyuk masuklah saya ke warung berlabel "Nyuankie" itu. Luasnya hanya sekitar 3,5 x 6 meter. Termasuk kecil untuk ukuran sebuah warung. Di dalamnya hanya ada 6 meja yang masing-masing dilengkapi 4 buah kursi plastik berwarna merah. Meja-meja itu bersih mengkilat. Tanpa ada bekas kecap atau sambal yang mengering karena terlambat dibersihkan.

Bersih Mengkilaaat
Ketika mendongak, saya dapati dinding-dinding toko mungil itu dihiasi pigura-pigura dan wall sticker lucu. Padanan motif kotak-kotak berwarna merah semakin membuat warung mini ini terlihat hangat namun tetap ceria. Dari situ, saya langsung menebak bahwa pangsa pasar yang dibidik adalah kawula muda dan nampaknya ownernya juga muda, atau minimal berjiwa muda.

Dinding Sebelah Kanan



Dinding Sebelah Kiri
Tak lama setelah saya duduk, seorang waitress menyambut hangat. Saya pesan semangkuk cuanki dan es campur. Ketika asyik memperhatikan sekeliling, mata saya tertumpuk pada seorang laki-laki yang hilir mudik membersihkan meja, sesekali menjadi kasir, dan menginstruksikan beberapa hal kepada waitress yang lain. Saya teliti lebih lanjut wajahnya. Dan roll memori saya pun berputar.

Beberapa bulan lalu, saya tengah bersemangat mencoba berbagai resep masakan. Salah satunya adalah siomay. Berbekal resep sederhana yang saya dapat dari surfing di Instagram, saya mendapati resep yang sederhana. Setelah memperhitungkan budget, effort, dan peralatan yang dibutuhkan, saya berangkat ke sebuah pasar tradisional di Purwakarta untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Pasar Rebo namanya.

Ayam, Tepung Kanji, Telor, Daun Bawang, dan Merica sudah saya peroleh. Tinggal satu bahan yang esensial, Kulit Pangsit. Kalau di Malang, saya cukup datang ke toko bahan kue langganan dan meminta sebungkus Kulit Pangsit kualitas prima. Tapi di sini? Saya tak tahu mana toko yang menjual pangsit yang berkualitas baik. Dan lagi, saya tak bisa membedakan mana yang baik dan yang mudah pecah. Bagi saya semua terlihat sama. Hhe..

"Mang, kulit pangsit buat siomay yang bagus yang mana ya?"
"Yang ini Teh. Lebih mahal 3.000 sih dari yang situ."
"Hoo. gak pecah kan ya Mas?"
"Nggak. Bagus ini Teh."

Tapi kok yang murah keliatan lebih lentur ya? Saya diserang bimbang (lebay). Satu menit, dua menit, tiga menit, saya masih sibuk memilih kulit pangsit, yang murah atau yang mahal. Sedetik kemudian ada Mas-Mas membawa beberapa kantong bahan makanan. Tanpa ba-bi-bu ia menginstruksikan si Mamang Kulit Pangsit untuk membungkus beberapa pack kulit pangsit murah dan beberapa pack kulit pangsit mahal. Karena dasarnya tak tahu malu, saya asyik nyelonong,

"Mas, jualan ya? Ini kulit pangsit yang bagus yang mana ya?"
"Iya Teh jualan. Tetehnya mau bikin apa dulu?"
"Siomay, Mas."
"Ohh, kalo siomay yang ini aja Teh. Kan direbus, gak pecah kulitnya. Kalo digoreng lebih bagus yang ini."
Dia menyarankan membeli yang murah. Setengah sebel karena mamang kulit pangsit ngaco jawabnya, tapi sebagian hati yang lain girang karena tidak jadi terjerumus. Hhi. Jadilah saya mengingat mas itu sebagai Mas Siomay.


Dan. Malam ini saya melihat lagi Mas Siomay itu. Ah, dunia siomay ternyata hanya selebar daun kelor yaa..

Mari kembali ke urusan cuanki. Setelah menunggu sekitar 5 menit, semangkuk cuanki dan es campur terhidang di depan mata. Saya memilih menyeruput kuah si cuanki terlebih dahulu. Mm. Segar. Gurihnya pas. Hanya saja kurang sedikit panas. Semangkuk cuanki ini berisi 3 buah bakso daging, 1 buah bakso ikan, 1 buah siomay, 1 buah pangsit goreng, beberapa potong tahu kopong (tahu gembos), dan segerombol kerupuk ikan tenggiri. 

Semangkuk Bakso "Nyuankie"


Ukuran bakso daging dan bakso ikannya cukup mini, diameternya kira-kira satu ruas jari gadis imut seperti saya. Bakso dagingnya empuk, nampaknya daging ayam mengambil porsi lebih banyak pada adonan bakso dagingnya. Sedangkan bakso ikannya, ajib. Kenyal maksimal. Seenak tempura di Hanamasa. Kata Mas Siomay (Bayu nama sebenarnya), bakso ikan ini diproduksi oleh temannya yang berdomisili di Bandung dan yang digunakan adalah ikan tenggiri. Sedangkan bakso dagingnya, ia produksi sendiri dibantu oleh 5 orang karyawannya. Untuk siomay dan pangsit goreng, rasanya enak. Tapi tidak bisa dibilang istimewa karena rasanya hampir sama dengan siomay dan pangsit goreng enak di warung bakso atau warung cuanki yang lain. Begitu pula dengan tahu gembosnya. Yang paling saya suka adalah kerupuknya. Bertekstur hampir sama dengan kerupuk kulit sapi, kerupuk tenggiri yang digunakan memiliki lebar kecil, jadi cukup dalam satu suapan. Saya suka ketika kerupuknya tercelup air. Sensasinya lucu. Hhe.

Gerobak Untuk Meracik si Bakso "Nyuankie"
Bagaimana dengan Es Campurnya? Porsinya cukup besar untuk harga yang relatif murah, 10.000 rupiah. Isinya cukup beragam mulai mutiara, potongan nangka, kelapa muda, kacang hijau, dan bahkan tape singkong. Well, sudah sangat jarang es campur selengkap ini. Tapi isiannya cuma dikit. Hhu. Ya setara dengan harga yang dibayarkan sih. Sirup yang digunakan enak. Terasa kalau gula asli dan bukan gula buatan yang meninggalkan rasa pahit di ujung lidah. Tapi jika boleh saya memberi saran, ada baiknya jumlah susu ditambahkan sedikit.

Es Campur

So, overall Cuanki dan Es Campur ini akan bikin saya balik lagi.

Sebagai informasi, si Warung Cuanki berlabel "Nyuankie" ini buka pukul 13.00 WIB - stok habis. Di hari biasa sih, 250 - 300 porsi cuanki berharga 12.500 rupiah habis dalam waktu 4 jam saja, alias jam 17.00 WIB sudah tutup. So, buat kamu yang pengen cobain, gak pake beralasan nanti-nanti yaa. Langsung aja dateng ke Jalan Suradireja, Pasar Jumát (sebelum rel kereta api munjul). Keburu abis braaay!

Mas Siomay dan Teteh Es Campur (mereka kakak beradik), tunggu kedatangan saya yahh. Lain kali saya akan mengajak si Mas Pacar untuk makan cantik di situ. ^.^
  

All You Can Eat - But You Won't Eat It All - Restaurant

"I'm done. My stomach is too full."
I think about this article when i said that words to my friends. For your information, a few days ago, I and 9 friends of mine decide to having meal together in one of famous All-You-Can-Eat Restaurant in Bandung, West Java, Indonesia. Maybe, I'm one of a kind girl that late to try about this serving meal system. As we all know, that this serving meal system is already popular in Indonesia. So does it in another country. But I tried it a few days ago? Hhe. Do not pity on me. It's just about the time.



All-You-Can-Eat serving meal system which is also called buffet, comes from 16th century. Wikipedia.com said that it originates from Swedish brännvinsbord table which is serve liquor made from grain, potatoes, or wood cellulose. When it's applicated for meal at the first time, it was looked weird and unusual. Cause at the time, having meal is means sit on a big table and having a waitress who serve them.

So how come this system become internationally?

At 1939 on New York World's Fair exhibition, the Sweden have to serve a large number of people. So, they come with this idea. Self serving system. And the system had its prime during the early 18th century and was developed into the more modern buffet around the beginning of 19th century. In a buffet system, a lot of food from hot food, cold food, beverage, even dessert are placed on the table. So you can choose what  you want to eat and how much you want to eat it.
Time pass by, this idea is began to applied in some restaurant. One of a famous buffet in Indonesia is Japanese Restaurant. In the middle restaurant, you would see a big table full with meat, beef, chicken, shrimp, octopus, squid, fish, tempura, etc. Not only that, it also serve a lot of vegetable like cabbage, mushroom, fruit like watermelon, mango, pineapple, bengkoang, apple, water apple, etc. In another table, you would see various kind of beverage like Thai Tea, Cappucino, Green Tea, Orange Juice, Guava Juice, etc.

So, a minute after having a chat for a while, we spontaneusly scattered to pick up the food as much as we can. No command, our instinct as an omnivore ordered ourself to go faster to that big table. Hahha. I'll let you imagine how we become so excited to pick up the food.

"I wanna a lot of beef", "I wanna watermelon", "Oh I wanna that cute shrimp", "I wanna cabbage, i have to eat more fiber", "I wanna taste the Thai Tea, but Cappucino looks delicious too." That kind of word comes to my mind. And in the end, what i did is just walk around the served table with a sparkling eyes and the saliva that is almost dripping. Hahaha. So I decide to go back to our eating table with just fruits in small plate and a glass of cappucino.

Thankfully, my friends didn't do the same thing. They are clever than me. They can took a lot and various food. I saw a bunch of meat, a bunch of cabbage, a bunch of tempura, a various kind of sauces, a bunch of fruits, and many more. Hhi. So i came to eat what they picked up. Hahaha. Sorry, guys.

It was about 30 minutes passed. I felt so full. So damn full so i can eat anymore. My friend who have a dinosaurs stomach said to me, "Come on, we have to eat as much as we can. We have paid handsomely (expensively)." I shook my head. I've given up. But another one said, "Just take a rest for a while and have another round then." I shook my head again. I've given up.

So, what's the point?

Buffet restaurant will let you eat all the food they serve in the main table. But, i'm pretty sure that you won't make it come true. Even, i'm sure you won't eat more than twice of your daily meal portion. Why ?

1. It's not unusual or weird if we walk around and look around something new for us. So, do it in the buffet restaurant. Realize or not, it have 2 weakness : you lost the time to eat and you lost your hunger. When you're walk around, so many desires passing by your mind. "I want this, i want this too, i want that, i want these, i want those, and blablabla..". In the end you just confuse what you want to eat and back to the table with a little food. It happened because you can't control your mind. Hhe..
2. Many buffet restaurant, especially chinese and japanese restaurant, using chopstick instead of fork. Why? Using chopstick make you eat slower than using fork. Eat slower means full faster. Remember tips for diet? One of the famous tips is eat slowly cause it will make your stomach full faster. And it have been proved in some research.
3. The buffet restaurant serve drink in big glasses. As we already know that meat is cheap and water is cheap. So, they serve you big glass. And the next step is you will eat too much water so you can't eat a lot of food.


It's not a sins to go buffet restaurant. But, one thing that you have to think before go there. 
"Is the price worth to the food they serve?"

Tidak Hanya Kaya dengan Tempat Wisata, Berikut 6 Wisata Kuliner yang Wajib Kalian Cicipi di Bandung

Bandung memang terkenal sebagai kota alternatif lain untuk warga Jakarta berlibur, tidak heran kalau hotel di Bandung sudah fully booked ketika ada libur panjang ataupun libur hari kejepit. Tapi selain dipenuhi dengan tempat wisata yang beragam, Bandung juga terkenal dengan sajian kuliner yang bermacam-macam dan tentunya lezat. Nah, untuk kalian yang ingin berlibur ke Bandung dan ingin berwisata kuliner, berikut daftar kuliner yang harus dicicipi.

Photo credit : anekatempatwisata.com

PASKAL FOOD MARKET

Berada di area Pasir Kaliki dekat dengan stasiun Bandung, Paskal Food Market memiliki lebih dari 100 penjual makanan yang beragam, mulai dari makanan Khas Bandung hingga makanan internasional seperti Jepang dan Korea. Memiliki konsep pasar ruang terbuka, kalian akan dimanjakan dengan suasana udara yang sejuk serta hangatnya sajian makanan yang sudah dibeli. Tidak perlu menyiapkan uang yang banyak, cukup dengan uang Rp 10.000 punn kalian sudah bisa menikmati beberapa makanan yang lezat di Paskal Food Market. Pasar ini biasa menjadi tempat berkumpulnya anak muda menghabiskan malam sambil bercengkrama dengan sahabat atau kalian juga bisa menikmati suasana kolam keberuntungan lenkap dengan lampu dan obor sehingga membuat suasana jajan kalian terasa romantis.


CIE RASA LOOM, BUAH BATU

Berada tidak jauh dari hotel Marala, atau tepatnya di Jalan Terusan Buah Batu, rumah makan Cie Rasa Loom merupakan wisata kuliner dengan menu andalan Mie Aceh terfavorit di Bandung. Meskipun bukan makanan khas Bandung, restoran mie aceh ini menyajikan sajian mi sangat lezat dan buka selama 24 jam. Ketika kalian berkunjung ke resto ini, kalian akan melihat ruangan resto yang didominasi dengan warna merah dan juga memiliki 2 lantai dengan lampu-lampu kuning yang sedikit klasik. Dinamakan 'Cie Rasa Loom' bukanlah sekedar nama tanpa arti, melainkan memiliki arti "Coba Rasakan Lagi" dengan harapan para pelanggan yang sudah datang akan datang dan datang lagi.


ROEMAH NENEK RESTO CAFE

Roemah Nenek Resto Café merupakan salah satu tempat wisata kuliner Bandung yang cukup populer. Restoran ini menyajikan berbagai jenis masakan seperti chicken tarragon, nasi lidah jamur, pizza bakar, pasta, dan juga makanan khas Indonesia. Selain karena makanannya yang lezat, suasana resto ini pun sangat nyaman dengan nuansa rumah klasik dan juga udara yang sejuk khas Kota Parahyangan. Restoran ini berada di Jalan Taman Cibeunying Selatan nomor 47, Bandung.

Photo credit : klikhotel.com


RAJA RASA

Berkunjung ke Bandung rasanya tidak lengkap jika tidak menyicipi masakan sajian khas Bandung ataupun Sunda, ya? Nah, untuk itulah kalian bisa mengunjungi restoran Raja Rasa. Resto yang dekat dengan V Hotel & Residence atau berada di Jalan Setra Ria, Bandung yang merupakan sebuah restoran dengan menu andalan seafood dan juga masakan Sunda. Restoran yang memiliki suasana tenang dan asri ini buka setiap harinya pada pukul 10 pagi hingga 10 malam. Raja Rasa juga memiliki menu andalan seperti kangkung hotplate, udang saos keraton, cumi goreng, krapu saus kecap, sup kepiting, kerang hijau pedas, sop iga, dan masih banyak lagi.


PINO PIZZA

Masih satu lokasi dengan restoran Cie Rasa Loom, Pino Pizza merupakan tempat wisata kuliner Bandung yang juga tidak kalah populer dan wajib kalian kunjungi. Berlokasi di jalan Buah Batu, tempat ini menjual pizza, salad, dan pasa dengan harga yang bersaing dengan restoran pizza ternama. Pizza yang ditawarkan di sini pun tidak dijual terlalu mahal dengan kisaran harga mulai dari Rp45.000 saja. Tidak hanya sekedar pizza biasa, di Pino Piza ini kalian juga akan menemukan kreasi pizza unik yakni Pizza manis yang ber-topping buah-buahan dan beragam topping lainnya.


YOGHURT CISANGKUY

Khusus untuk menu makanan penutup atau makan cantik, kalian bisa mengunjungi Yoghurt Cisangkuy. Tempat ini sangatlah nyaman dan cocok sekali untuk kalian yang ingin nongkrong bersama teman-teman. Yoghurt yang dijual di sini merupakan yoghurt asli buatan sendiri dan tanpa adanya bahan pengawet, sehingga kalian bisa kumpul bersama teman sambil menyantap menu yang sehat-sehat. Harga yang dijual pun terjangkau yakni mulai dari Rp9.500 saja.

Nah, demikianlah beberapa rekomendasi tempat kuliner Bandung yang bisa kalian cicipi ketika berlibur ke Kota Kembang tersebut. Masih merasa kurang? Cek sajian lezat lain di sini ya.

Agar kegiatan berlibur kalian terasa lebih menyenangkan dan tenang, kalian bisa memesan hotel di Bandung melalui aplikasi Traveloka dengan pelayanan customer service 24 jam setiap hari. Yuk berlibur!

Cari Uang Sambil Jalan Kaki, Si Cuanki Serayu yang Lezat

Saya tidak akan membahas profesi - profesi yang menggunakan metode jalan kaki untuk cari uang loh ya. Bukan pula membahas bagaimana design gerobak yang ergonomis untuk bapak-bapak yang berdagang dengan jalan kaki. Dan sangat bukan sekali membahas abang tukang jualan apa yang paling ganteng. Muahahaa. Lha terus bahas apa?

Alkisah, tempo hari saya makan Cuanki Serayu. Nah, pas sudah menghadap seporsi penuh Cuanki, saya tanya ke Mas-Mas Pramuniaga, "Mas, ini kan bakso ya, ini goreng, yang ini apa?" Saya menunjuk satu benda yang jelas terbuat dari campuran tepung terigu dan aci (tepung kanji, tepung tapioka atau tepung sagu). "Yang itu Siomay, Teh." Kata masnya sambil tersenyum manis. "Lha trus yang disebut Cuanki yang mana, Mas?" tanya saya bingung. "Ya sepaket ini yang dinamakan Cuanki, Teh." Saya melongo. Si Mas Pramuniaga gak tanggung jawab dengan ke-melongo-an saya, dia ngeloyor pergi gitu aja. Ish.

Capture by Leblung

Sesampai di rumah (baca : kamar kosan ukuran 4 x 4 m yang [enggak] rapinya luarbiasa. hhe), saya langsung mengerahkan keahlian saya. Yapp. Tidak lain dan tidak bukan adalah "Gugling". Hhe. Keyword yang digunakan kali ini adalah "Asal Usul Cuanki" dan "Sejarah Cuanki". Tidak ada yang menjelaskan detail darimana Cuanki berasal, siapa penemu Cuanki, dan informasi dasar lainnya. Yang saya temukan adalah :

CUANKI = Cari Uang sambil jalAN kaKI

Hhi. Beneran begitu. Jadi Cuanki adalah sebutan untuk kegiatan mencari segenggam berlian (uang) yang dilakukan dengan cara jalan kaki. Kalo gitu banyak dong varian produknya. Tukang Cangcimen (Kacang Kuaci Permen), Tukang Tahu Sumedang, Tukang Odading (Roti Goreng isi gula merah), Tukang Batagor, Tukang Siomay, Tukang Sate keliling, Tukang Bakpao keliling, dan banyak lagi. Ya kaaan? Tapi di daerah Bandung dan sekitarnya, yang disebut Cuanki itu ya Tukang Jualan Bakso yang gerobaknya dipikul dan jualannya sambil jalan kaki keliling kompleks gitu. Kalo di Malang, tepatnya di daerah saya, ini disebutnya Tukang Bakso Pikul. ^.^

The Real Cuanki, source : www.kulinernikmat.com
Yang khas dari Cuanki ini, kuahnya bening, gak berlemak kayak bakso-bakso yang dijual di warung atau gerobak yang menetap di tempat (ini sudah sedikit saya ulas di tulisan ini). Dan isiannya lebih bervariasi karena ada siomay dan gorengnya, kalo bakso Bandung atau bakso Purwakarta biasanya cuma ada bakso (pentol daging) dan mie kuning atau mie putih. 

Nah, ceritanya kemarin Sabtu saya mampir ke sebuah warung Cuanki di Jalan Serayu yang katanya paling hits se-Bandung Raya. "Cuanki Serayu". Ya meski yang punya melanggar prinsip nama Cuanki itu sendiri ya, tapi gapapa-lah. Berbekal rekomendasi seorang teman yang berlidah Jawa tapi lama tinggal di Bandung (Bumils Titik namanya, Titik loh ya. Bukan Koma), saya memberanikan diri untuk ke warung sederhana ini. Konon kata sang pramuniaga, warung Cuanki ini memiliki 2 cabang yaitu di Jalan Mangga dan Jalan Babakan Timur. Sedangkan yang saya datangi ini adalah warung asli yang sudah berdiri sejak tahun 1997. Lama ya..

Capture by Leblung
Sesampainya di warung Cuanki ini, antrian orang yang memesan sudah mengular. Ada 2 banjar antrian. Setelah celingak-celinguk karena ketidak tauan saya, akhirnya saya menemukan tulisan "Khusus Dibungkus", di gerobak yang berada di sebelah kanan. Yap. 2 antrian itu adalah antrian makan di tempat dan antrian dibungkus atau dibawa pulang. Karena saya mau makan di situ, beralihlah saya ke antrian sebelah kiri. Sekitar 5 atau 10 menit kemudian, barulah saya sampai di depan Mas-Mas yang bagian terima dan melayani order.
 
Capture by Leblung
Proses pemesanan bisa dibilang cepat karena ada 2 orang yang melayani, satu orang bertugas menerima order dan memberi kuah, satu orang yang lain bertugas meracik. Selain itu, saat satu orang yang lain masih menerima order, mas-mas satunya meracik porsi normal, jadi kalau tidak ada permintaan khusus, penerima order tinggal kasih kuah. Kayak saya kemarin tuh, "1 porsi, Mas." Tinggal menciduk kuah, guyurkan, kasih deh ke saya. Hhe.

Untuk minuman, bisa ambil berbagai minuman botol di lemari es yang tersedia, atau pesan aneka jus buah. Urusan bayar? Nanti aja setelah perut kenyang. ^.^ Nah, tempat duduk yang disediakan sederhana sekali. Mirip dengan tempat duduk di warung bakso pinggir jalan. Ada 4 area untuk menikmati Cuanki ini, di bagian dalam warung, di bagian teras depan warung, di teras samping warung, dan di pinggir jalan raya.

Bagian Dalam Warung
Teras Depan Warung
Teras Samping Warung
Pinggir Jalan
 Bagaimana rasanya?

Semangkuk Cuanki ini berisi 2 buah bakso ukuran sedang, 1 siomay, 1 tahu putih, dan  1 goreng yang dipotong-potong. Gorengnya terbilang unik. Kalo pada umumnya, goreng itu adalah kulit pangsit isi tepung campur wortel dan daging, dan dibentuk seperti bunga mekar. Yang ini dibiarkan segi empat begitu, dan diolesi isian, lalu digoreng. Saat akan disajikan barulah si goreng dipotong-potong.

Kuahnya bening, mirip bakso Malang. Dan enak. Takarannya pas. Gurih, seger, dan sedap. Saya termasuk orang yang jarang makan bakso dengan gaya putihan alias tanpa kecap, saos, dan sambal. Tapi entah kali ini, karena kuahnya putihan saja sudah sedap, jadilah saya memutuskan untuk makan ala putihan hingga setengah porsi habis terlahap. Setengah berikutnya baru saya tambahkan kecap, saos, dan sambal secukupnya.

Seporsi Cuanki diharga Rp 15.000. Cukup murah untuk makan di kawasan Bandung. Tapi porsi ini tidak cukup membuat saya kenyang. Jadi mungkin lain kali saya kan pesan 1,5 porsi atau mencomot sebagian jatah suami saya. Hhe. Di sini tidak hanya menyediakan Cuanki, tapi juga Batagor khas kota Bandung. Hanya saja kali itu melihat porsinya yang sepiring penuh, saya mengurungkan niat untuk memesan batagor. Takut tidak habis, mungkin lain kali saya akan mencobanya. 

Daftar menu dan harga Cuanki Serayu dapat dilihat di gambar berikut ini.


So, overall, saya setuju dengan kata orang kebanyakan, "Cuanki Serayu Enak!"
  

Manisan Mangga, Si Nano - Nano yang Asik di Lidah

Barangkali bisa dibilang hampir semua orang mengenal buah mangga. Buah yang hanya ada saat musim-musim tertentu ini diperkirakan berasal dari tanah India. Buah ini pertama kali ditemukan oleh Alexander Agung di Lembah Indus, India pada tahun ke-4 sebelum masehi. Nama mangga sendiri berasal dari bahasa Tamil, yaitu Mankay atau Man-Gas. 

Buah yang memiliki nama latin Mangifera indica L. ini menyebar hingga ke Indonesia melalui para pedagang India yang berkelana hingga Semenanjung Malaysia. Pada tahun 1665, mangga pertama kali di tanam di kepulauan Maluku. Buah ini memiliki beraneka ragam jenis mulai dari mangga madu, mangga manalagi, mangga gadung, mangga cengkir, mangga arum manis, dan masih banyak lagi. 

Mangga biasa dikonsumsi langsung dengan cara dikupas terlebih dahulu atau dibelah dan diiris menyerupai sisir. Namun, adapula yang mengolahnya menjadi berbagai jenis makanan seperti asinan mangga, sambal mangga muda (sambal pencit), atau bahkan manisan mangga. Nah, beberapa hari ini entah kenapa kelenjar ludah saya langsung berproduksi saat melihat jajaran mangga muda di toko buah mini dekat kosan. Hhe.

Kuah manisan mangga bikinan ibu, langsung membayang dengan jelas. Kegiatan sepulang kantor waktu itu pun langsung berganti dengan pencarian manisan mangga. Banyak yang menawarkan manisan mangga muda dalam kemasan botol kaca. Range harga yang ditawarkan adalah Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per 200 gram. Cukup terjangkau di kantong. Tapi sayang seribu sayang, ongkir ke Purwakrta dari tempat penjual bisa mencapai Rp 13.000. Jadi total dengan harga manisan terendah saja Rp 28.000. Itu sudah dapet mangga 1,5 kg. Huwaaah.

Setelah menimbang, gugling, dan telpon ibu nanya resep, jadilah saya memutuskan untuk bikin sendiri si Nano-Nano ini. Bahan-bahan yang saya butuhkan antara lain :

Bahan :
- 1,5 kg mangga muda
- 8 biji cabai merah atau cabai keriting
- 3 biji cabai rawit (atau sesuai selera)
- 12 sendok makan gula pasir
- 0,5 sendok teh garam
- 750 ml air


Cara membuat :
- Kupas buah mangga muda
- Cuci bersih buah mangga, cabai merah atau cabai keriting, dan cabai rawit
- Potong buah mangga muda secara menyerong atau memanjang (sesuai selera) dengan tebal 3 - 5 mm.
- Potong tipis cabai merah atau cabai keriting dan cabai rawit

- Masak air hingga mendidih
- Masukkan cabai merah atau cabai keriting dan cabai rawit yang elah dipotong-potong
- Masukkan gula dan garam

 
- Tunggu hingga mendidih kembali
- Matikan, diamkan hingga air cabai menjadi dingin sempurna
- Masukkan potongan mangga muda


- Tunggu beberapa jam agar bumbu meresap
- Manisan mangga siap dimakaaan. Yeay!

Mudah bukan? ada beberap tips nih untuk membuat manisan mangga :
- Untuk menghasilkan manisan mangga yang renyah, setelah dipotong-potong, mangga direndam dalam air kapur selama sehari penuh. (Tips ini tidak saya lakukan karena air kapur tidak tersedia di kosan dan bingung belinya dimana. hhe) Setelah itu baru dicuci bersih dan lanjutkan langkah berikutnya.
- Untuk menghasilkan manisan mangga yang renyah, pilih mangga yang bener-bener muda, punya saya sudah di akhir masa mengkal, sudah mulai berwarna kuning. Masih renyah sih, tapi kurang maksimal renyahnya.
- Sebelum dihidangkan, masukkan ke dalam lemari es. Disajikan dingin akan terasa lebih nikmat.

Selamat mencobaaa!

Bakso Purwakarta yang Seenak Bakso Malang

Entah mengapa, sebagian besar dari kita ketika mendengar kata bakso langsung memunculkan standar bahwa bakso itu dari malang, bakso yang enak itu ya bakso malang. Saya sendiri sebagai kera ngalam (arek malang = anak malang), sedikit heran dengan standar itu. Tapi ya mesti memang harus saya akui bahwa bakso malang memamng memiliki rasa juara. Bakso malang identik dengan isian yang beragam, mulai dari bakso atau pentol, siomay rebus, siomay goreng, mie putih dan mie kuning yang digulung menjadi bulat, tahu putih, tahu goreng, lontong, hingga tambahan varian lain seperti daging paru, kikil, sumsum, dan lainnya. Jangan lupa tambahan daun bawang dan bawang gorengnya. Kuahnya cenderung bening, tapi sedap di lidah.
 
Nah, semenjak menginjakkan kaki di tanah pasundan ini, saya belum menemukan bakso dengan kriteria itu. minimal yang rasanya hampir mirip dengan bakso malang. Langkanya orang jual bakso di Purwakarta? No. Big no no, brother and sista. Di sini bejibun tukang baksonya. Bahkan hampir ada di tiap sudut kota. Tapi rasanya cenderung hanya gurih dengan kuah yang sangat berminyak. Lebih mirip bakso solo sih. Penyajiannya pun berbeda. Biasanya semangkuk bakso akan terdiri dari bakso atau pentol, mie kuning dan mie putih yang menjuntai bebas (tidak digulung seperti bakso malang), taoge dan sayur sawi.
 
Dan lagi yang menjadi catatan untuk bakso purwakarta adalah sebagian besar pedagang akan menambahkan minimal seujung sendok teh vetsin di tiap mangkuk bakso. Ini benar-benar bikin mata saya membelalak. Bagaimana tidak, ukuran vetsin itu biasa digunakan untuk sepanci besar kuah sayur oleh ibu saya, yang berarti terdiri dari bermangkuk-mangkuk kuah, yah minimal 10 mangkuk-lah. Tapi ini ditambahkan di 1 mangkuk saya. Di awal, langsung panik gitu karena merasa terlalu banyak makan vetsin. Tapi lambat laun, mulai biasa dengan tata cara beli bakso di sini, yaitu : pertama adalah bilang berapa porsi yang kamu pesan, kedua adalah bilang tanpa tambahan vetsin. dan ketiga, mengawasi tangan si penjual, kali aja khilaf dan memasukkan vetsin ke mangkuk pesanan saya. Hhe.
 
Nah, jadilah lidah saya yang bakso malang banget, yang cinta banget sama kuah bening, segar, dan berlemak minim seringkali merasa galau jika sedang ngidam (baca : kepengen) bakso. Apalagi di musim hujan yang dingin begini. Santapan paling tepat adalah semangkuk bakso panas dan pedas plus secangkir teh hangat. Tapi gak adaaa bakso yang sesuai dengan lidah bakso malang saya. Kalaupun ada, itu karena si bakso ini lebih enak dari teman-temannya sesama bakso Purwakarta. hhe..
 
Namun, sore ini otak saya sedang jahil. Melihat anak ibu kos makan bakso, otak langsung mengirim sinyal kepengen ke lidah saya. Hmm. Bakso mana ya? Pengen yang mirip-mirip bakso malang euy. Setelah beberapa menit mengitari kota yang memang tidak terlalu besar ini, saya teringat salah satu warung bakso yang berada tepat di pertigaan jalan Ahmad Yani. sekitar 10 meter dari patung Ahmad Yani, diapit oleh gedung STIE Wikara dan Alfamart. Namanya Bakso "More Than Just a Taste". Nama yang sedikit lebih cenderung bisa dibilang sebagai motto yah? hhe.. Ini nih penampakan si warung bakso.

10 meter dari Patung Ahmad Yani
Diapit oleh Gedung STIE Wikara dan Alfamart
Ini pertama kalinya saya kesana. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena teman saya yang mulai lahir hingga menikah tinggal di Purwakarta tidak merekomendasikan warung bakso tersebut alias karena dia belum pernah coba dan jarang mendengar rekan-rekannya yang lain membicarakan bakso ini. Dengan berbekal nekat dan siap mental jika rasanya tak sesuai, saya melipir ke warung ini. Kesan pertama saya, "Bersiiiiih banget tempat ini." Untuk ukuran warung di pinggir jalan utama yang ramai seperti ini, warung ini kebersihannya juara. Saya duduk dan mencolek meja, bersih, tanpa debu. Saya melihat ke arah lantai, bersih meski hanya berlantaikan semen yang dihaluskan. Widih. Kesan pertama langsung bikin saya jatuh hati.



Meja Racik Bakso yang Bersih
Meja Racik Siomay yang Bersih
Pohon ini Membuat Rindang dan Tempat menjadi Sejuk
Bagian Teras Warung
Bagian Dalam Warung
1 menit, 2 menit, sang penjual tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Saya memilih untuk pergi ke ruang makan bagian dalam. Yap. Warung ini terdiri dari 2 pilihan tempat, di teras rumah yang rindang atau di dalam rumah. Benar saja, sang ibu sedang meracik minuman di dalam. TAnpa babibu, saya memesan 1 porsi bakso dan segelas es teh manis. Yang ini bakso iga nih. Belum pernah saya temui yang serupa di Purwakarta. Begini bentuk pesanan saya. 
 
Terdiri atas 3 bakso atau pentol, mie kuning lebar yang jarang digunakan untuk bakso, iga sapi, dan sejumput sayur sawi yang diiris kecil. Plus tambahan daun bawang dan bawang goreng ya. Di meja sudah disediakan bumbu pelengkap seperti saos, sambal, kecap, garam, dan cuka. Kuahnya bening, tanpa banyak lemak menggantung dimana-mana. Saya sudah bahagia melihatnya dan berharap banyak kali ini sesuai dengan lidah bakso malang saya. 
Mie Kuning Lebar
Si Iga Sapi
Suapan pertama saya coba tanpa menggunakan bumbu pelengkap. Hmm. Ya. Ini segar, tidak terlalu gurih, tapi sedap di lidah. Cocok dengan lidah saya. Hampir seenak bakso malang. Ini recommended! Saya tersenyum bahagia. Tapi karena saya yang pecinta manis dan sedikit pedas, saya memutuskan untuk menambahakan kecap dan sambal. Yumm-yummm. Nikmat. Baksonya bertekstur lembut. Tapi sayang terlampau sedikit. Daging iganya empuk sehingga tak perlu perjuangan keras untuk mengunyah dan memotongnya.
 
Hingga suapan terakhir, saya belum ingin berhenti, tapi apalah daya hanya tersisa kuah dan potongan batang sayur sawi yang sengaja tidak saya makan. Saya melirik ke rombong hijau tempat Bu Sumarni meracik bakso. di sebelah kiri adalah siomay Bandung. Yap, menu utama dari warung ini adalah bakso iga dan siomay bandung. Akhirnya tanpa malu saya mendekati sang penjual yang tidak lain dan tidak bukan adalah tangan kanan sang pemilik kedai yang berdomisili di Bandung. Saya meminta satu tambahan siomay di mangkuk saya. Hhe.
Siomay Tambahan. Hhe
Siomaynya wangi, lembut, tidak begitu kenyal tapi aroma ikannya sangat terasa saat dikunyah. Wow. Enak. Sejurus kemudian datang mojang Purwakarta, karena dia sendirian dan saya sendirian, dia memilih mohon ijin untuk duduk di meja saya. Dan ternyata dia pecinta siomay. Tepat sekali. Saat ditanya pendapatnya, "Ini tidak terlalu spesial sih. Tapi wangi ikannya kerasa banget. Dan padahal saya gak suka lho sama aroma ikan. Tapi yang ini enak." Hhe..
1 Porsi Siomay
Kata Bu Sumarni, semua bahan baku untuk bakso dan siomay plus yoghurt diambil dari Bandung. Si Ibu pemilik warung berdomisili di Bandung dan memiliki 2 warung siomay di Bandung. Katanya sih warung yang di Bandung itu sudah puluhan tahun berdiri. Dan karena melihat pangsa pasar yang bagus, si ibu pemilik warung siomay, memutuskan untuk membuka satu warung lagi di Purwakarta pada tahun 2013 dan mempercayakan pengelolaannya pada Bu Sumarni dan suami. ^.^
 
Oh ya, untuk urusan harga memang bisa dibilang lumayan mahal. di warung bakso yang lain, satu mangkok dibanderol 10.000 - 13.000. Yang ini 17.000 per porsi. Mungkin karena ada iganya yahh. Tapi untuk rasa dan tempat yang bersih plus cozy macam ini, harga itu setimpal-lah.
 
So, kalau kamu mau bakso purwakarta yang mendekati standar bakso malang, langsung aja melipir ke pertigaan jalan Ahmad Yani ya! Taste it and you'll fall in love with it!