Showing posts with label diary. Show all posts

Stasiun Kopi, Tempat Nongkrong Asik yang Super Homey

"Laiii. Jadi nggak?"
Senja tengah menggantung manja saat pesan singkat seorang kawan muncul di layar ponselku. Sebuah tagihan janji untuk berkencan mesra. Menjadi mesra karena kita tak bertemu cukup lama, tak bertukar sapa sejak lama, karena sibuk dengan persiapan pernikahan masing-masing. Ya. Malisa namanya, kawan tidur saat sama-sama berstatus sebagai karyawan ojt di tempat kami kini bekerja. Pernikahan kami terpaut 1 bulan. Itu yang membuat kami seperti terlontar jauh ke dunia yang berbeda. ^.^ maka petang ini adalah waktu yang pas untuk bercengkrama, menceritakan keriweuhan persiapan pernikahan, kehebohan pengucapan janji pernikahan, dan berbagai adaptasi yang perlu dilakukan setelah menikah.

Hari ini, langit nampak bersahabat. Cerah, hangat, dan tenang (gak ada suara gluduk-gluduk dah). Maka tanpa babibu, saya membalas pesannya, "Okayy. Habis sholat maghrib ya.." sejurus kemudian saya mempersiapkan diri, mandi, sholat, dan kabur mengendarai si merah menuju kosnya.

Destinasi pertama kami adalah "Sop Kaki dan Babat Khas Jakarta". Makanan gurih dan berlemak favorit kami berdua (kamu bisa liat reviewnya di sini artikel sebelumnya). 

"Lai, ada yang mau kuceritain. Tapi di tempat berikutnya aja yaa.."
"Okay. Nongkrong di kafe apa ya? Kata si Asong (rekan kami yang lain), ada 2 kafe baru. Mau cobain?"
"Hayuk."

Kami yang tinggal di kota kecil ini memang rada kesulitan menemukan tempat nongkrong yang asik. Jadilah lebih sering nongkrong di kedai nasi kucing, kedai sop kaki kambing, atau memutuskan kabur ke kota sebelah (Bandung) saat weekend. Si merah kembali saya pacu untuk membelah jalanan. Kafe yang berdiri sejak awal tahun 2016 ini terletak sekitar 50 hingga 100 meter dari Stasiun Purwakarta. Mungkin karena itu pula dinamai "Stasiun Kopi." Jika kita berjalan ke arah Stasiun Purwakarta, kafe ini berada sebelum stasiun, terletak di sebelah kiri jalan, dan sekilas tak nampak seperti kafe. Bangunan utamanya seperti rumah gaya lama, vintage, pencahayaan sedikit redup dengan cahaya kuning dari lampu berbagai bentuk yang digantung mengikuti aturan tertentu. Homey dan langsung mengeluarkan aura nyaman saat pertama kali memasukinya.


Oh, perlu saya gambarkan dari depan ya. Di bagian depan hanya ada plang dengan dasar hitam sehingga jika tak jeli, kemungkinan besar kamu akan kebablas (kelewat). Halaman depan yang difungsikan juga sebagai parkir terbilang cukup luas. Di sudut kanan bangunan ini, kamu bisa langsung melihat sang barista dengan berbagai senjata andalannya. Di sisi samping kanan bangunan di sediakan beberapa table, background dedaunan yang cocok untuk narsis juga dipasang di sebelah kanan bangunan ini, nampaknya juga sebagai pemisah atau penutup kamar mandi yang terletak di sebelah kanan.

Penampakan Stasiun Kopi dari Depan. Halaman Luas dengan Bangunan Besar
Sudut Kanan adalah Markas Besar si Barista
Jika terus jalan ke belakang, akan ada 1 saung lesehan yang cozy, cocok untuk kamu para mahasiswa atau mahasiswi yang sedang berdiskusi seru membahas kenapa prof a harus merokok dulu sebelum mengajar gambar teknik (hhi, itu dosen saya sih. Dewa gambar kami menyebutnya), atau membahas rumus kalkulus yang njelimet (rumit) dan bikin galau semalaman kalau besoknya ujian. Hhi. Di sebelah lesehan yang "one and only" itu ada mushola kecil lengkap dengan beberapa mukena, sajadah, dan tempat wudhu yang bersih. Two thumbs up untuk penyediaan tempat ibadah ini.
 
Samping Kanan Bangunan dengan Ornamen-Ornamen Hijaunya. Cocok Tuh Buat Background Selfie. Hhi.
One and Only Lesehan, Cocok untuk Berkonsolidasi Mengerjakan Tugas atau Project-Project Seru

Tempat Sholat yang Bersih dan Nyaman, Jadi Tak Perlu Khawatir Buru-Buru Pulang Saat Adzan Berkumandang
 

Saya bergerak maju ke sisi kiri bangunan, masih di sediakan beberapa tempat duduk. Nuansa yang dihadirkan beda dengan sisi kanan bangunan yang cenderung mengusung tema "green is a must in everywhere". Tempat duduk di sisi ini terbuat dari bangku-bangku kayu, masih tetap dengan bunga dan rumput dimana-mana sih. Tapi beda tampilan dan aura. Di ujung depan juga masih ada tempat duduk dengan (lagi-lagi) nuansa yang berbeda. So, hanya dengan mengitari sisi luar bangunan, si pemilik kafe sudah menyuguhi pengunjungnya dengan 4 nuansa yang berbeda.



Beralih ke dalam bangunan, suasana yang lebih hangat dan homey terasa. Dari layout ruang satu dan yang lain, bangunan ini nampak seperti rumah yang disulap menjadi kafe. Di sudut ruang paling depan disediakan meja panjang yang menghadap tembok membentuk huruf L dengan berbagai ornamen yang dipajang di meja maupun dinding. Keberadaan 3 jendela di sekitar tempat duduk itu membuat ruangan nampak lebih luas dan lega.


Sedangkan ruangan-ruangan yang lain di isi dengan kursi rotan yang dilengkapi dengan bantal duduk. Pilihan warna sarung bantal jatuh pada warna-warna cerah seperti orange, hijau muda, dan merah. Menimbulkan efek ceria di tengah suasana rumah yang hangat. Dan satu lagi yang saya suka dari kafe yang dimotori oleh 3 orang ini, pengharum ruangan yang digunakan. Kenapa eh kenapa? Mereka memilih meletakkan biji kopi mentah di mangkok-mangkok kecil. Suka. Wangi kopi natural. Sedikit asam tapi wanginya tetap menggugah di hidung. Hemm.



Biji Kopi Mentah sebagai Pengharum Ruangan
Puas mengitari seisi bangunan, kami memilih segera memesan beberapa kudapan untuk teman hidup, eh teman ngobrol maksudnya. Menu didominasi oleh berbagai olahan minuman berbahan dasar kopi dan teh. Sedangkan untuk snack dan main course, kafe ini tak menyediakan banyak pilihan. Karena kami memang hobi makan, maka dengan semangat '45 kami memesan beberapa snack. French Fries (22K), Brownies with Ice Cream (39K), dan Fried Banana and Cheese (20K). Sebagai pelengkap saya memilh Affogato Coffee Jelly (22K), Ice Cream yang dicampur sari kopi murni, begitu keterangan yang saya baca di buku menu. Sedangkan icha memilih segelas Ice Lemon Tea (29K).


Tak lama kemudian satu persatu pesanan kami datang. Wiiiik. Snack yang kami pesan ternyata porsi gedaaaai. Kami yang terbilang sudah cukup kenyang pun menelan ludah, merasa perut kami mungkin tak akan muat. Hahaha. Oke. Let's try. Affogato Coffee Jelly yang saya pesan berpenampilan sederhana dengan daun mint di atasnya. Begitu dicicip, pahit kopi dan asamnya yang khas terasa. Tapi menjadi makin nikmat ketika diblend dengan ice cream vanilla lembut yang berada di atasnya. Okay, 8 dari 10 untuk Affogato Coffee Jelly ini.

Sendok saya beralih ke brownies dengan potongan giant pilihan Malisa. Entah kenapa si koki memilih meletakkan ice cream terpisah dari browniesnya. Pilihan ini cukup tak lazim karena kebanyakan koki memilih meletakkan ice cream langsung  di atas browniesnya. Sebagai garnish atau hiasan, ditambahkan lelehan coklat di bagian bawah brownies. Tekstur browniesnya 'cukup' lembut namun rasa coklatnya kurang nendang. Brownies yang harusnya lahir dengan rasa coklat yang pekat, padat, namun tetap lembut di lidah tidak berhasil disajikan dengan sempurna. Sehingga jika saya boleh bilang, ini terasa seperti bolu coklat biasa yang sedikit lebih padat. Jadilah saya memberi 6,5 dari 10 untuk Brownies with Ice Cream ini.

Bagaimana dengan French Fries-nya? Sukaaaaa. Potongan besar-besar. Lembek dong? NO. Potongan besar yang biasa dicap lembek dan tidak crunchy berhasil dipatahkan oleh French Fries kafe yang menyediakan 41 table ini. Ya. Potongan kentang gorengnya besar, crunchy di luar namun tetap lembut di dalam. Saya kasih 9 dari 10 untuk snack ini. A must try menu kalau kamu mampir ke kafe ini.

Fried Banana and Cheese juga dihadirkan dalam piring besar, 5 buah pisang ukuran sedang dijejer rapi dengan siraman coklat dan taburan keju. Saya suka pemilihan pisangnya, tidak lembek tapi manis. Cukup enak sih. Cuma lebih nikmat jika taburan keju di perbanyak. hhe.. Mm, 7,5 dari 10-lah. Tidak mengecewakan tapi juga tidak spesial. Yang jelas sih bisa bikin kamu kekenyangan.

Mengenai harga, untuk kafe di kota kecil macam purwakarta mungkin sekilas terlihat lumayan mahal. Tapi kalau dibandingkan porsi yang disajikan, harga itu bisa dibilang murah meriah. Browniesnya boleh dibilang 2,5 kali ukuran brownies normal. hhe..

So, untuk tempat senyaman ini, bersih, dan menyediakan tempat ibadah yang oke, dengan pelayanan super ramah, saya kasih Bintang 3. Mari merapat dan memanjakan lidah di sini. Buat kamu pecinta kopi, jangan pikir dua kali untuk mampir dah!

Nah. Itu si Malisa, Pengantin Baru yang Langsung Ditinggal Dinas Luar Kota sama si Abangnya.
Yuk Mampiiir!

Jamu Tradisional, Cara Ampuh Memaksimalkan Kecantikan dari Dalam


Haiii para gadis cantik mempesona! Sudah sampai manakah persiapan pernikahan yang kalian lakukan? Eits. Tulisan ini bukan cuma buat kamu yang sudah berstatus bride-to-be kok. Coretan sederhana ini juga bisa jadi tambahan referensi untuk kamu para gadis yang tengah ranum-ranumnya (baca : cantik-cantiknya)agar kecantikan tetap terpancar maksimal dari tubuhmu, girls. ^.^

Yapp. tulisan ini tidak lain dan tidak bukan adalah part kedua dari tulisan, http://www.leblung.com/2016/04/bride-to-be-diary-sebuah-persiapan-pra.html. Setelah melakukan serangkaian perawatan tubuh dari luar, alangkah baiknya jika kalian juga melakukan treatment dari dalam, girls. So, kali ini saya akan mengupas rahasia kecantikan dari dalam. Resep-resep ini diturunkan secara turun temurun oleh para nenek moyang agar kalian bisa tampil maksimal di hari bahagia yang sudah dinanti. Apa aja sih yang perlu dilakukan?

Kecantikan dari dalam dapat dimaksimalkan dengan cara meminum beberapa resep ramuan herbal. ini bukan sulap ataupun sihir kok. Minuman tradisional atau yang biasa disebut jamu ini hanya berfungsi untuk mengembalikan kesegaran atau performa tubuh sehingga terlihat lebih cantik dari hari biasanya. Misalnya nih, kamu yang biasa kerja kantoran, duduk berjam-jam di depan laptop demi laporan keuangan yang rapi, akurat, dan validitasnya tidak diragukan, tentu terlihat kuyu, atau minimal merasakan sedikit pegal-pegal di daerah punggung dan mata. Dengan meminum jamu beras kencur, badan akan kembali bugar sehingga kalian akan tampak lebih cerah dan bersemangat.

Ini dia daftar jamu tradisional yang bisa kamu konsumsi :

1. Beras Kencur
Jamu yang dibuat dari rimpang kencur, jahe, asem, dan beras yang ditumbuk ini memiliki khasiat untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah beraktivitas seharian. Selain itu, jamu beras kencur ini juga dipercaya berkhasiat mencegah jerawat dan menghilangkan pegal-pegal di tubuh. Jadi, buat kamu para gadis yang tengah lelah kesana kemari mengurus persiapan hari bahagia, jamu satu ini bisa jadi pilihan untuk tampil segar dan bersemangat kembali.

2. Kunci Suruh
Jamu ini adalah salah satu varian jamu yang familiar di telinga para ibu-ibu. Ya. Jamu yang hampir bisa dipastikan selalu ada di gendongan ibu-ibu bakul jamu (baca : penjual jamu) ini memang memiliki khasiat yang ciamik untuk kaum hawa. Jamu yang terbuat dari rimpang kunci, sirih, kunyit, jahe, kencur, dan berbagai bahan lain ini terbukti efektif untuk mengatasi keputihan dan bau badan tak sedap. 

3. Kunyit Asam

Jamu yang sudah banyak tersedia dalam bentuk serbuk instan maupun kemasan siap minum ini memiliki khasiat untuk menurunkan berat badan dan mengatasi masalah haid. Jadi, kamu tidak perlu melakukan diet ketat untuk berusaha agar terlihat langsing saat memakai kebaya atau gaun pengantin. Cukup secara teratur minum jamu kunyit asam ini. ^.^

4. Air Rendaman Bunga Kanthil dan Kenanga

Resep keempat ini adalah warisan langsung dari ibu saya. Sebelum hari bahagia, ibu merendamkan segenggam bunga kanthil putih, kanthil kuning, dan kenanga untuk diminum sebelum tidur. Katanya, biar bau badan menjadi harum dan keringat tidak berbau. Dan benar terjadi, meski keringat sebiji jagung, saya merasa wangi-wangi saja hingga acara berakhir di malam hari. Segenggam bunga itu direndam dalam segelas air matang berukuran 220 ml. Rendam mulai pagi hari yaa. Resep ini diminum minimal 3 hari sebelum hari h atau lebih afdhol jika diminum 7 hari berturut-turut sebelum akad dilangsungkan.

Yapp. Itu dia 4 resep jamu tradisional yang bisa kamu konsumsi untuk mengoptimalkan kecantikan kamu. Selamat mencoba dan merasakan khasiat ajaibnya yaa...!

Nyeri Haid dan Cara Ampuh Mengusirnya


sumber : www.amidiaelle.blogspot.com
Tamu bulanan datang membawa nyeri tak tertahankan. Auww.

Sebagian dari kamu mungkin pernah merasakan nyeri ini. Ya. Nyeri haid atau yang biasa disebut dismenorea dalam dunia kedokteran tersebut adalah nyeri yang rutin menyerang sebagian kaum hawa sesaat sebelum menstruasi atau di masa awal menstruasi. Saya katakan sebagian karena pola atau rasa sakit yang dirasakan oleh tiap-tiap kaum hawa berbeda satu dengan yang lainnya. Seorang teman pernah berkata bahwa ia tak pernah terserang dismenorea, teman yang lain berkata bahwa ia rutin merasakan nyeri di awal masa mentruasi meski hanya 3 atau 4 jam, sedangkan saya sendiri pernah harus rutin bedrest saat nyeri haid menyerang. Tiga contoh itu cukup untuk mengatakan bahwa nyeri ini didesain custom, bukan?

Bagi mereka yang tidak pernah terserang nyeri haid, aktivitas dapat dilakukan dengan lancar tanpa hambatan layaknya menyetir mobil di jalan tol Singapura (karena tol di Indonesia masih mengandung hambatan. Hhi), sedangkan kami yang terserang nyeri tak tertahankan seringkali harus lunglai tak berdaya sendirian di kamar kos menanti nyeri mereda (maaf sedikit lebay biar dramatis). Lalu sebenarnya ada berapa tipe sih nyeri haid itu dan apa penyebabnya?

Jenis-Jenis Nyeri Haid
 
Nyeri haid dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu Nyeri haid atau dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer ini adalah rasa sakit yang umumnya dirasakan oleh kaum hawa sebelum atau masa awal menstruasi. Dismenore primer ini bersifat wajar dan tidak perlu dirisaukan. Sedangkan Dismenore sekunder adalah nyeri haid yang timbul akibat adanya kelainan pada pelvis atau rahim seorang wanita. Dismenore ini biasanya terjadi lebih awal dan berlangsung lama.

Penyebab Nyeri Haid Primer

1. Kontraksi pada dinding rahim

Pada dasarnya, sepanjang waktu terjadi kontraksi pada dinding rahim. Kontraksi ini terjadi dengan halus atau ringan sehingga tidak terasa. Namun pada masa menstruasi, dinding otot berkontraksi lebih kuat sebagai bagian dari upaya peluruhan dinding rahim. Kontraksi tersebut mengakibatkan pembuluh darah yang mengelilingi rahim tertekan sehingga memutus suplai darah dan oksigen ke rahim. Kondisi rahim yang kekurangan oksigen ini memicu jaringan di sekitar rahim untuk melepaskan bahan kimia yang menimbulkan efek nyeri.

Nyeri haid yang dirasakan akan semakin bertambah buruk saat tubuh mulai memproduksi hormon prostaglandin. Hormon ini berfungsi untuk memicu otot-otot rahim agar berkontraksi lebih kuat. Selain itu, hormon ini juga memicu kondisi lain seperti mual, diare, lemas, dan sakit kepala yang seringkali menemani rasa nyeri pada rahim.

2. Faktor hormonal

Nyeri haid juga diduga terkait dengan produksi hormon progesteron yang meningkat. Hormon progesteron ini dihasilkan oleh jaringan ikat  kelenjar indung telur setelah melepaskan sel telur yang matang setiap bulannya. Hormon tersebut menyebabkan ketegangan di sekitar mulut rahim sehingga lubang mulut rahim menjadi sempit. Dan sebagai upaya untuk mengeluarkan darah haid, otot-otot rahim berkontraksi lebih kuat untuk mendorong darah haid keluar dari rahim melalui lubang mulut rahim yang menyempit. Kontraksi inilah yang mengakibatkan rasa nyeri.

Keluhan nyeri haid tipe ini dapat berkurang setelah seorang wanita hamil dan melahirkan. Mengapa? Saat hamil terjadi regangan yang besar pada rahim yang mengakibatkan rusaknya sebagian syaraf pada di rongga panggul dan di sekitar rahim sehingga sensor perasa berkurang. 

3. Faktor psikologis
Tidak ada penjelasan pasti mengapa kondisi psikologis seseorang dapat menyebabkan nyeri haid. Namun, pada beberapa sumber dikatakan bahwa kondisi psikologis seseorang yang cenderung stres mengakibatkan hormon dalam tubuh tidak stabil sehingga memicu kontraksi berlebihan pada dinding rahim. So, untuk para saudara laki-laki, pacar, atau suami, pastikan wanitamu berada dalam kondisi bahagia ya saat haid menyerang. ^.^

Penyebab Nyeri Haid Sekunder
 
Nyeri haid sekunder ini disebabkan oleh kondisi atau gangguan pada sistem reproduksi wanita. Antara lain:

1. Endometriosis
Endometriosis adalah kondisi dimana sel-sel yang menyelubungi rahim mulai tumbuh di luar rahim. Ketika sel-sel ini meluruh, rasa sakit yang ditimbulkan sangat parah.

2. Radang Panggul
Radang panggul adalah kondisi dimana terdapat infeksi yang mengakibatkan inflamasi atau pembengkakan pada rahim, ovarium, maupun tuba falopi.

3. Adenomiosis
Kondisi dimana jaringan lapisan paling dalam dinding otot rahim mulai tumbuh ke dalam dinding otot rahim sehingga menimbulkan nyeri saat haid.

4. Fibroid

Adalah kondisi timbulnya tumor tidak ganas (bukan kanker) pada rahim

5. Stenosis pada leher rahim
Kondisi dimana pembukaan leher rahim sangat kecil sehingga membatasi aliran darah yang keluar saat haid. Kondisi ini menimbulkan tekanan yang tinggi pada rahim sehingga menimbulkan nyeri haid.

6. Penggunaan IUD
Penggunaan salah satu alat kontrasepsi ini juga dapat menyebabkan nyeri haid. Terutama di waktu-waktu awal pemasangan.

Lalu, bagaimana cara mengatasi nyeri haid tersebut? Pengobatan nyeri haid sekunder dilakukan sesuai dengan penyebabnya. Namun untuk mengatasi nyeri haid primer, kamu dapat melakukan beberapa hal ini:
1. Tidur terlentang dan mengompres perut bagian bawah dengan air hangat yang diletakkan pada botol
sumber : www.wolipop.detik.com
2. Minum teh hangat. Hal ini dilakukan untuk merelaksasi tubuh dan pikiran sehingga sakit akibat stres dapat diminimalisir.
sumber : www.fokusriau.com
3. Olahraga dan latihan peregangan otot-otot ligamen di sekitar rongga panggul. hal ini dilakukan agar peredaran darah di sekitar rongga panggul menjadi lancar.

4. Penggunaan obat-obatan penghilang nyeri seperti asam mefenamat, feminax, kiranti, dan lain-lain. Penggunaan obat-obatan ini harus dilakukan sesuai dengan resep dokter.

Jadi, untuk kamu yang merasa nyeri haid berlebih, segera hubungi dokter yaa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejak dini penyebab nyeri haid kamu. Apalagi jika nyeri haid tersebut adalah nyeri haid sekunder (naudzubillah), sehingga dapat dilakukan tindakan medis segera sebelum terlambat.


Dua (2) Wajah Manusia

Sore itu, titik hujan masih turun dengan iramanya yang indah. Tempo adante (sedang) yang dipilih sang malaikat penurun hujan membentuk satu pertunjukan yang menyejukkan mata bagi kami yang tengah sibuk dengan imajinasi masing-masing.

Nampak dengan jelas, jendela kafe ini menjadi berembun karenanya. Beberapa pengunjung memilih menulis sesuatu di atasnya. Entah apa yang mereka tulis, mungkin nama orang terkasihnya, impiannya, gambar sticky man, atau mungkin hanya kata-kata tak bermakna. Minus 3,5 membuat saya kesulitan membaca torehan imaji mereka. Satu, dua, hingga lima belas menit berlalu tanpa ada kata yang meluncur dari bibir saya. Imajinasi masih menari-nari. Sesekali melompat atau berlari cepat.

Sungguh sore yang menentramkan jiwa. Hingga akhirnya, "Buleeeeel! Lama ya? Tadi mau berangkat Buk Sum minta angkatin jemuran dulu. Habis gitu masih marahin si bungsu karena kemaren ketauan bolos sekolah buat maen PS (PlayStation). Heran dah tuh bocah. Gue hukum dya pake hafalan surat yasin", suaranya menggelegar ke seluruh sudut kafe. Beberapa memandang sinis, beberapa yang lain hanya menampakkan wajah terkejut. Saya menariknya untuk duduk. Meredam semangat yang berkobar-kobar itu.

Dian Fitria Agus namanya. Laki-laki dengan tubuh tinggi besar, kadang dihiasi kumis dan jambang yang tumbuh tidak rapi (katanya biar macho, padahal big no-no), geraknya sedikit gemulai, tapi siapa sangka dya adalah karateka pemegang sabuk hitam, atlet karate tingkat nasional yang suka tiba-tiba jadi sholehah saat jadwal pertandingan mulai mendekat.

Dan sore dilanjutkan dengan perbincangan panjang mengenai es di kutub utara yang mulai mencair, gaya busana Ariana Grande vs Taylor Swift, keputusan KPI yang melarang banci tampil di tv, kasus Saipul Jamil alias abang SJ hingga curhat percintaan ala anak muda masa kini. Ya, bersamanya, pembicaraan tak pernah menemukan jeda. Selalu ada tawa, tangis, atau cercaan yang disalurkan.

Sekali-dua kali dya akan melawak dengan gaya khasnya, sindiran yang dibikin konyol, sesekali mencercaku (berkali-kali sih), menghina baju renda-renda warna merah hasil mencontoh model di salah satu majalah kenamaan (please forget about this thing! Berasa dosa seumur hidup dahh), di lain waktu ia akan memunculkan nasihat-nasihat bijak dan pemikiran supernya saat saya mulai hampir menangis memikirkan segala hal dari sudut seorang pesimistis, tapi di lain waktu, ada masa dimana saya ganti mencercanya, menceramahi dengan nada sok tau padahal ilmu pas-pasan. Ya. Itu kami. Persahabatan beruang grizzly dengan koala si tukang tidur.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا
طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Kita, adalah dua orang yang berharap menjadi penjual minyak wangi bagi satu dan lainnya. Memberi manfaat meski seringkali membicarakan hal-hal yang tidak berarti. ^.^ Maka kali ini saya mengenalkan sebuah rencana sederhana untuk menambah semangat menulis, mengasah otak yang mulai tumpul karena ribuan angka di sheet Ms. Excel, menyalurkan kecerewetan yang selama ini terhalang suara mesin penggiling tembakau.

Ya. Sore ini, 27 Maret 2016, kami menelurkan : “Dua (2) Wajah Manusia”

Bukan tentang menjadi munafik. Bukan tentang kemunafikan orang lain. Bukan pula membahas dalil-dalil agama tentang penolakan terhadap kemunafikan.

Ini tentang mencerca satu topik bersama. Dengan sudut pandangnya dan dengan sudut pandang saya.  Just wait and see ya.. plus cerca kami dengan pemikiranmu. Dunia ini perlu cercaan untuk menjadi baik bersama.

Mari menulis, berkarya, mencerca, dan menjadi penjual minyak wangi bagi orang lain! https://genthonkthink.wordpress.com vs http://www.leblung.com/

Aku, Kau, dan Sepasang Sepatu Usang


Pagi ini langit tak secerah hari-hari sebelumnya. Ada awan hitam yang menggelayut manja di ujung sana. Saya, yang hari itu juga tengah merasa pilu semakin gundah saja. Pergi ke toko buku bekas hampir pasti akan terkena hujan, namun tak pergipun saya akan terserang bosan yang tak kalah menjengkelkan. “Ahh. Bisakah Kau pindahkan toko bukunya ke seberang jalan saja, Tuhan?” Doa yang sama mustahilnya dengan meminta seribu candi dalam semalam. Hhe.

Berbekal sembilu karena malas bertemu hujan, saya nekat pergi. Sambil tak luput menggerutu sesekali.

Tik tok tik tok.

Tunggu, saya baru melihat sepasang sepatu tergeletak sendirian di pinggir jalan tak jauh dari tempat saya berhenti saat ini. Saya melangkah mundur bak Ariel Peterpan di Video Klip Menghapus Jejakmu yang sempat ngehits di tahun 2007. Satu langkah, dua langkah, kuhitung hingga 10 langkah ke belakang. Ya. Sepatu usang itu kini tepat di samping kaki kiriku. Sebuah sepatu sport sederhana, berwarna dasar putih dan dipadu dengan warna biru muda serta sedikit sentuhan pink di bagian mata kaki. Cantik. Tapi usang. Kuperhatikan dengan seksama. Tak ada bagian yang robek sedikitpun. Bentuknya pun masih terbilang sempurna. Oh tunggu. Bagian belakang sedikit penyok akibat injakan si pemilik sebelumnya. Tapi tetap nampak sempurna. Hanya usang. Sangat usang. Debu menebal hampir di seluruh bagian sepatu.

“Milik siapa ini? Sudah tak terpakai?” Saya mengamati daerah sekitar saya berdiri. Itu daerah pertokoan. Kompleks penjual buku bekas yang tak lain adalah tempat saya nongkrong saat yang lain memilih pergi ke bioskop. Tak mungkin ada seseorang yang meletakkan sepatu ini di sini tanpa sengaja. Tak mungkin pula ia membiarkan sepatu ini di sini agar debunya hilang. Tak mungkin dibiarkan di sini untuk di jemur, sebab tak ada tanda-tanda ia habis dicuci atau sekedar dibersihkan sekenanya. Sungguh. Debunya tebal sempurna di sana-sini. Maka kusimpulkan ia tak bertuan. Tak diinginkan dan butuh penyelamat. Meski sebenarnya saya yang memerlukannya karena sudah lama mendamba sepasang sepatu sport warna biru. 

“Ya Allah, ini hadiah darimu kan? Sebagai ganti karena Kau tak mengabulkan permintaanku sebelum berangkat tadi?” saya mengumam dalam hati sembari tersenyum simpul. Saya membuka tas jinjing saya, memasukkan sepatu bernomor 37 itu ke dalamnya. Saya tak peduli tas saya menjadi kotor. Sepatu ini terlalu cantik untuk dilewatkan. Saya membalikkan badan. Berjalan pulang. Mengurungkan niat untuk membeli novel karya Fahri Asiza, serial Syakila yang kusuka. Sepatu ini lebih menawan hati.

Hal pertama yang saya lalukan sesampainya di rumah adalah mencuci sepatuuuuu! Yeay. Kunamai ia Bluely. Biar, meski sedikit alay. Saya suka. Biru, cantik, dan terlihat menawan. Cocok untuk jogging maupun hangout. Saya mengambil sikat cuci dan detergen. Satu menit, dua menit, 20 menit berselang. Sepatu ini masih saja terlihat kotor. Saya menyerah. Tangan saya sudah keriput dan panas terkena detergen. Perjuangan hari ini sampai di sini. Saya yakin Bluely bisa kembali putih sempurna. Saya hanya perlu sedikit bekerja keras. 

Dua hari berselang. Bluely sudah kering dan siap untuk dimandikan lagi. Dengan semangat yang tak kalah besar, saya mengambil senjata. Sikat dan detergen bubuk dengan butiran biru yang katanya ajaib memghilangkan noda. Satu menit, dua menit, 20 menit terlewati. Saya berhenti. Tangan saya kali ini perih karena terluka saat menyikat dengan penuh semangat. Akan saya lanjutkan lagi 2 hari kemudian.

Dan begitu seterusnya. Tiap 2 hari sekali saya membersihkan sepatu cantik itu. Ada kalanya saya menemukan sedikit noda yang sulit dihilangkan di bagian depan, noda yang tak terlihat dulu karena debu tebal membalutnya, di lain waktu saya temukan huruf d mulai memudah warnanya, maka cat acrylic menjadi andalan saya, cukup goreskan sedikit, bubuhkan vernish khusus sepatu (maklum, saya pernah berjualan sepatu lukis makanya alat perang itu saya miliki), di hari yang lain, ujung tali ternyata sedikit mengelupas, kuperbaiki sebisa mungkin, dan beberapa hal-hal kecil masih saya temui hingga pencucian yang ke tujuh. Ya. Perlu tujuh kali membersihkannya. Layaknya terkena najis besar saja ya. Basuh tujuh kali menggunakan pasir. Hhe. Tak apalah. Semangat saya belum luntur.

Dua hari setelah pencucian ketujuh, saya dapati sepatu Bluely saya nampak menawan sempurna. Berbagai reparasi yang saya buat tak nampak sehingga seolah ia adalah sepatu baru yang sempurna. Kau tau apa yang kulakukan setelah mengambilnya dari tempat jemuran? Ya. You right, baby. Saya memfotonya lengkap dengan kaki saya yang berbalus kaus kaki imut dengan warna senada. Upload instagram adalah langkah berikutnya. Hhi. Saya suka. Saya jatuh hati pada Bluely sejak pertama kali bertemu, dan melihatnya kini, rasa cinta saya naik drastis hingga berkali lipat. Ahh. Macam cinta pada pacar saja saya ini. Maklum, jomblo 20 tahun. Hhi.

Dan setelahnya, Bluely menjadi teman paling setia. Menemani kemanapun melangkah. Tidak sedikit teman yang menyanjungnya. Cantik, cocok dengan warna kulitku, trendy, dan pujian lain yang menentramkan hati. Hari ini, setelah 3 bulan dari pencucian ketujuh, saya mengajaknya pergi ke sebuah toko buku kenamaan di kotaku. Saya perlu membeli beberapa buku untuk tugas kuliah saya.

“Hai, Vin.” Seseorang menepuk pelan pundakku.
“Faishaaa. Apa kabar kamu?” saya menyalaminya hangat. Seorang kawan SMP. Teman nongkrong di perpus sekolah.
“Alhamdulillah baik. Kenalin, temen kuliahku, Lestari.” Seorang gadis cantik, memakai kacamata, berhidung mancung, dan tinggi semampai. Lengkap dengan jilbab berwarna pastel.
Detik berikutnya kami berbincang hangat mengenai banyak hal, mulai dari kegiatan kuliah, novel, berita terkini, hingga sepatu. Hhe. Saya bangga menceritakan Bluely. Meski sedikit malu karena menemukannya di pinggir jalan. Dan pertemuan hari itu ditutup dengan setangkup roti bakar isi nutella.

2 hari kemudian, sebuah sms dengan nomor baru masuk ke hp saya, “Vivin, boleh ketemu nanti sore? Pakai Bluely yaa. *Lestari.” Pikiran bahagia saya muncul. Pasti dia tertarik dengan Bluely. Mau nanya tipe dan cari model yang sama di situs-situs jual beli online. Hhe..

Di sebuah kedai sederhana di ujung kompleks.
“Vin, boleh liat Bluely nggak?”
“Boleh dooong.” Saya menyodorkan sepatu saya. Ia memperhatikan bagian dalamnya sejenak.
“Mm. Saya bingung ngomongnya. Mm.”
“Kenapa? Pengen tau tipenya?”
“Mm. Saya pernah punya sepatu yang sama. Ibu beli 1 tahun yang lalu. Saya suka sepatu ini. Tapi gak pernah saya pake. Saya diamkan di rak hingga berdebu. Saya tau sepatu ini berharga mahal, cantik, dan limited edition. Dan saya pernah menandainya. Saya bikin jahitan kecil dengan lambang L di bagian dalam sepatu. Maaf Vin, tapi tanda itu ada di sepatu kamu.”
“Tapi kan saya nemuin ini di pinggir jalan di daerah Cempaka Sari. Kompleks buku bekas. Bukan di depan rumahmu, Tari. Kamu salah mungkin?”
“Iya. Ibu membuangnya karena menganggap saya tak menyukainya.”
“Tapi aku sudah bersusah payah membuat ia nampak cantik kembali.”
“Iya Vin. Mm. Ia terlihat berkali lipat lebih cantik saat kamu pakai. Boleh saya memintanya kembali?”
“Tapi saya suda mengecat, menjahit, menyikat susah payah agar ia cantik kembali.”
“Iya Vin, tapi boleh saya memintanya kembali?”
Saya tersenyum.  

------------------

Kata orang, kita baru akan merasa kehilangan saat apa yang kita miliki hilang. Ternyata ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kehilangan. Melihatnya nampak lebih cantik ketika digunakan oleh orang lain. 

Ini seperti rumput tetangga yang selalu nampak lebih hijau. Boleh jadi saat rumput itu kamu miliki, kamu hanya sekedar tau ia cantik. Tapi tak pernah berpikir lebih bahwa ia sangat cantik. Hingga akhirnya kau membiarkannya. Menjadikannya tak lagi cantik tapi nampak biasa dan bahkan kau mulai lupa keberadaannya di teras halamanmu. Hingga seorang tetangga menanam rumput sejenis, memupuknya, menyirami, dan merawatnya hingga tumbuh mempesona. Hijau sempurna. Dan kau baru sadar bahwa dirimu memiliki rumput yang sama persis. Tapi mungkin saat itu rumputmu sudah hampir atau bahkan sudah mati. Penyesalanmu kini berlipat ganda.

Yuk mencintai setiap hal yang kita punya. Rawat hingga menjadi cantik seperti semestinya. Jangan sampai menyesal ketika seseorang mengambil dan membuatnya nampak lebih indah. Padahal denganmu, ia juga bisa jadi sesuatu yang tak kalah indah. ^.^

Maaf untuk teman-teman yang saya comot namanya.
Dan terimakasih kuadrat untuk seorang kawan yang memberi pencerahan sekaligus omelan panjang tentang sepatu usang ini. Hhi.. Love you to the moon and the back, boii!


Memetakan Rindu saat LDR (Lelah Disiksa Rindu. *Ups)


Hampton dalam bukunya yang berjudul “The Effect of Communication on Satisfaction in Long-distance and Proximal Relationships of College Students” mendefinisikan LDR atau long distance relationship sebagai sebuah hubungan romantis yang eksklusif (tidak menjalin hubungan yang sama dengan orang lainnya), memiliki kedekatan secara emosional, dan memiliki komitmen pada satu tingkatan tertentu. Ia juga menyebutkan bahwa LDR adalah suatu hubungan dimana pasangan dipisahkan oleh jarak yang tidak memungkinkan adanya kedekatan fisik untuk periode waktu tertentu.

Bagi para pelakunya, frasa itu tak lagi perlu dijabarkan panjang lebar. Cukup artikan LDR sebagai Lelah Disiksa Rindu. Silahkan mengiyakan dalam hati bagi kamu yang merasa senasib dan sepenanggungan (tak perlu meneriakkan kata iya dengan volume 200 dB ya, bisa tiba-tiba tuli orang yang tengah duduk di sebelahmu). Bagaimana tidak, jarak yang membentang beratus bahkan beribu-ribu kilo memaksa kita untuk menahan rindu hanya dalam hati. Mungkin sesekali mengucapnya agar si dya juga tau bahwa kita tengah tersiksa. Tapi barang tentu itu tak akan mujarab mengikis rindu yang sudah terlanjur membanjiri hati dan otak kita, bukan?

Terkadang, efek teriakan hipotalamus yang meminta asupan oksitosin (hormon penyebab rindu, baca http://www.leblung.com/2016/01/gimana-sih-penyakit-malariandu-buanget.html) membuat rindu seringkali berubah menjadi pertengkaran serius dengan si dya. Alasan macam “Kamu sibuk banget akhir-akhir ini sampai kasih kabar aja lupa”, “Cuma aku ya yang kangen? Kok kamunya biasa aja kayaknya?”, atau mungkin memunculkan judgement yang lebih krusial, “Aku gak penting ya buatmu? Kamunya kayak gak ada waktu gitu.” Padahal mungkin jika kita mau menarik sedikit napas panjang dan merenung, mengingat bagaimana ia sebelum judgement-judgement itu muncul, barangkali yang kita temukan adalah perhatian yang sama intensnya dengan saat ini. Hanya saja, kini rindu tengah menggelora sehingga perlu perhatian lebih sedangkan si dya, di seberang sana, tengah menyibukkan diri untuk menyiapkan masa depan. Ahh. Rindu. Tanda cinta yang menyiksa dan menyulut keributan.

Lalu, jika sudah begitu, akankah kita berdiam membiarkan rindu menjadikan jarak semakin jauh?


Yuk bersepakat untuk mengatakan “Tidak”. Jangan biarkan jarak, kesibukan, atau rindu membuat kita kehilangan si dia yang pernah ada dalam doa panjang agar Tuhan memberikan rasa yang sama. Rasa sayang tak semudah itu dihapuskan hanya untuk perkara yang muncul akibat rindu yang menderu. Percayalah ada seribu satu cara meredam rindu, mengalihkan pilu, dan membuat kelabu menjadi biru yang tak lagi beku.

Mari memetakan rindu! 

Yuhuuu. Ini adalah salah satu cara ampuh untuk mengalihkan rindu ketika si dia tak bisa diganggu, ketika skype, whatsapp, dan line tak lagi ampuh, ketika kamu hampir-hampir mengalihkan rindu menjadi amarah yang menggebu. Yapp. Siapkan alat perangmu. Bukan palu gada, tombak, granat, AK 47, M16, atau rudal. Cukup spidol dengan berbagai warna (minimal 2 warna dan boleh diganti pensil warna atau yang lainnya), selembar kertas putih serta memori bersamanya.

Peta rindu yang akan kita buat ini bukan sebuah gambar yang menunjukkan klasifikasi rindu berdasarkan jenis, pelaku, waktu, atau alasan terjadinya rindu. Bukan. Bukan. Peta ini pada dasarnya dibuat untuk mengambarkan hubunganmu dengan sang pujaan hati. Metode pemetaan yang akan kita gunakan kali ini adalah metode mind mapping.

Mind mapping merupakan suatu metode untuk mengorganisir berbagai informasi atau ide-ide yang ada menjadi suatu bentuk yang menarik karena dipenuhi dengan gambar, simbol, dan warna sehingga mudah dimengerti dan diingat. Metode ini pertama kali dikenalkan oleh seorang konsultan pendidikan, penulis buku, dan bintang televisi bernama Tony Buzan pada tahun 1970-an. Buzan mengatakan bahwa metode ini terinspirasi oleh cara kerja otak manusia yang terdiri dari 1 triliun sel otak. Dimana ia memiliki inti sel atau nukleus yang kemudian memiliki banyak cabang-cabang untuk menyimpan berbagai informasi. Jadilah bentuk mind mapping ini macam otak yang bercabang-cabang seperti ini :



Lalu, bagaimana cara membuat mind map? Berikut 6 langkah mudah membuatnya :
  1. Mulai dari tengah sebuah lembar kertas kosong. Di tengah bagian ini, tuliskan topik yang akan kamu bahas lebih lanjut.  Mengapa? Karena memulai dari tengah memudahkan si otak untuk mengembangkan cabang ke berbagai arah. Dan topik peta rindu kita barang tentu adalah “Kita”, kamu dan pasanganmu. Atau boleh juga qm tulis dengan sebutan sayang yang biasa kalian gunakan agar terasa lebih personal, “Beruing dan Kukang”? “Ndutty dan Mbem?”, “Mama dan Papa”? atau panggilan sayang lainnya.
  2. Gunakan gambar, ilustrasi atau foto pada topik yang telah ditentukan. Kenapa? Sebuah gambar dapat mengartikan sesuatu jauh melebihi sekedar kata-kata. Gambar ini juga bisa membuat mind map yang kamu buat menjadi terlihat lebih menarik dan membuatmu tetap fokus pada topik utama. Kamu bisa tempel foto berdua yang paling hits di dekat topik utama peta rindu loh. Biar ayem liatnya. Eitss. Tapi jangan malah mantengin foto doang yaa. Lanjutin ke step-step berikutnya.
  3. Buat beberapa cabang utama yang berkaitan dengan topik utama. Cabang utama ini juga memiliki sub cabang yang memiliki korelasi atau infomasi mengenai cabang utama. Pada peta rindu, kamu bisa mulai membuat cabang utama dengan menjawab pertanyaan “Who”, siapa sih kamu? Dan siapa sih dya? Pada sub-cabang, kamu bisa menuliskan tanggal lahir kalian, makanan kesukaan, warna kesukaan, hobi, hal-hal yang tidak disukai, sifat, dan lain-lain. Cabang utama lainnya bisa kamu isi dengan jawaban pertanyaan “When”. Kapan sih pertama kenal? Kapan pertama suka? Kapan pertama jadian? Kapan menikah? Sub cabang bisa berisi siapa yang mengenalkan kalian, dimana, bagaimana proses jadian. Cabang lain yang perlu berdiri sendiri menjadi 2 cabang utama adalah kelebihan dan kekurangan hubungan yang kalian jalani. Pada cabang utama ini, bisa jadi muncul alasan rindu dan sebagainya.
  4. Hubungkan topik utama dengan cabang utama dan hubungkan cabang utama denga sub cabang. Mengapa? Hal ini dilakukan karena otak bekerja secara berkesinambungan. Sehingga menghubungkan satu cabang dengan beberapa sub cabang akan memudahkan otak untuk memahami permasalahan atau informasi yang dijabarkan.
  5. Gunakan berbagai macam warna. Warna bekerja seperti gambar, membuat mind map in akan lebih mudah untuk dicerna.
  6. Gunakan 1 kata tiap garis penghubung. Hal ini memudahkan otak membaca hubungan antara sub cabang dengan cabang utama.

Selesai. Mudah bukan? Poin penting pada peta rindu yang kita buat kali ini adalah memetakan atau memvisualisasikan bahwa si dya adalah mahluk penting untuk kita, memvisualisasikan hal-hal yang membuat kita memilihnya, hal-hal buruk yang sudah kita ketahui tentangnya. Masalah-masalah yang pernah muncul dengannya. Sehingga ketika rindu hampir membabat habis logika, kita bisa melihatnya sejenak, sehingga kita bisa melihat dengan lebih objektif bagaimana seharusnya menghadapi hal tersebut. Biar sadar, kita tidak mungkin mau melepas si dya yang tertulis istimewa di peta rindu yang sudah kita bikin.

Mari memetakan rindu, biar ia tak berlalu karena rasa yang sebenarnya tengah menggebu!

Mari Berkicau dan Mari Mendengar!

Siang ini, seorang kawan lama yang telah hilang dari peredaran tiba-tiba menghubungi saya via WhatsApp. Tak ada angin tak ada hujan, tak ada undangan apalagi pemberitahuan di papan pengumuman, ia hadir. Menyapa. Sekilas berbasa-basi tentang kabarku dan kabarnya. Sehat? Sekarang sibuk apa? Berdomisili dimana? Dan beberapa pertanyaan standar lainnya. Tak ada yang janggal dengan percakapan itu, hingga sejurus kemudian ia menceritakan panjang lebar tentang kehidupannya. Tentang hal-hal yang ia jumpai beberapa tahun belakangan. Tentang masalah-masalah yang membuatnya gundah. Tentang kebahagiaan dan prestasi yang ia dapatkan. Dan saya tergugu.

Dejavu menyerang saya. Ini seolah pernah terjadi. Dan bukan sekali dua kali. Ohh God. Ini bukan Dejavu. Ini benar pernah terjadi. Di kereta ekonomi yang mengantarkan saya dari Malang ke Surabaya. Di angkot warna kuning yang mengantarkan saya dari Surabaya ke Sidoarjo. Di bus ekonomi yang mengantarkan saya dari Kampung Rambutan ke Purwakarta. Di ruang tamu sebuah kos di Purwakarta. Di warung dekat rumah. Di toko kelontong dekat kos. Dan entah dimana lagi. Saya tak menghitung dan mengingatnya dengan benar. Ya. Di tempat-tempat itu. Seseorang bercerita dengan sinar mata yang berbeda.

Sekali waktu, seorang bapak paruh baya menceritakan kisah hidupnya dari awal merantau hingga sukses menjadi pengusaha pagar besi dan 3 jam penuh si bapak bercerita tanpa jeda. Membuat saya yang terkantuk-kantuk menjadi batal tidur dengan terpaksa. Di waktu yang lain, seorang ibu paruh baya menceritakan kisahnya membangun usaha baju di Pasar Blitar, mulai dari jadwal berdagang, dimana ia kulakan (belanja) hingga keberhasilannya menyekolahkan si anak dari hasil berjualan itu. Si ibu bercerita selama 2 jam dengan semangat membara. Ibu yang lain menceritakan pekerjaan suaminya lengkap dengan sejarah berdirinya perusahaan tersebut. Di setting waktu dan tempat yang lain, seorang nenek menceritakan hidupnya yang memilukan, anak-anak yang bersikukuh dengan pendiriannya, letih karena masih harus bekerja hingga setua itu, dan usaha yang kadang timbul tenggelam. Serta cerita-cerita lain yang tak jarang memakan waktu lama. Membuat saya kehilangan rasa kantuk atau seringkali harus menahan kelopak mata agar tak menutup.

Mereka, seringkali memainkan monolog ketika bertemu saya. Bercerita dengan semangat ’45. Membara. Tapi ada juga yang bercerita dengan sinar haru, terenyuh dengan kisah hidupnya sendiri. Atau kadang menahan tangis. Matanya redup, ia jujur dengan kesedihannya. Saya yang bahkan tak mengenal mereka sebelumnya, hanya bisa mengangguk. Menjawab ‘Oh’, ‘Wah, begitu ya Bu?’, ‘Kok bisa’, atau mentok dengan gumaman ‘Mm’. Saya bukan pendengar yang baik untuk mereka. Bahkan seringkali saya terpaksa memasang wajah datar agar cerita segera menemukan titik akhir. Tapi sesering itu pula cara itu tak efektif. Mereka tetap melanjutkan ceritanya.
source : @curhatdong
Dan, di antara kisah menjadi pendengar yang tidak baik itu, saya menemukan sebuah kesimpulan bahwa banyak di antara kita, orang-orang yang butuh didengarkan. Bahkan mungkin bagi mereka, tak perlu respon yang baik, cukup didengarkan. Diberi waktu untuk bicara agar tak hanya memendamnya dalam hati. Itu terbukti dengan wajah datar dan respon super flat yang tidak berhasil membuat mereka kehilangan semangat bercerita. Lalu sebuah tanya muncul. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menjadi pendengar yang baik bagi yang lain? Atau tak jauh beda dengan saya?

Semenjak sebuah tulisan mengenai hasil penelitian bahwa wanita memiliki kebutuhan untuk berkicau 20.000 kata per hari, sedangkan pria hanya memerlukan 7.000 kata per hari, berkicau seolah menjadi kebutuhan primer. Termasuk saya yang tempo hari ikut-ikutan menuntut untuk didengarkan. Tapi saya lupa bahwa saya selama ini juga bukan pendengar yang baik untuk orang-orang di sekitar saya. Untuk ibu saya yang hobi menceritakan hal sama hingga 2-3 kali. Untuk ayah saya yang suka membagi tips kepemimpinan dan dalil-dalil agamanya. Untuk kakak saya mengenai liburan dan perantauannya. Untuk sahabat-sahabat saya yang gundah karena kekasihnya, karena pekerjaannya, dan mungkin pula karena keluarganya. Untuk musuh bebuyutan yang galau dipindah ke kota lain. Ahh. Saya lupa bahwa mereka juga perlu berkicau, sama seperti saya.

Lalu, bagaimana cara mendengar yang baik? Cukup bilang ‘iya’ dan membiarkan si tokoh utama bermonolog? Bukan-bukan begitu. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Pramudianto, I am Coach, dijelaskan bahwa kegiatan ‘mendengar’ yang dalam bahasa mandarin disebut ting, terdiri atas 5 elemen, yaitu :
1. Er Tuo atau telinga
Pada dasarnya kita memerlukan telinga untuk mendengarkan. Mendengarkan diartikan sebagai mendengar apa yang orang lain bicarakan kepada kita.
2. Wang atau raja
Mendengarkan dengan baik berarti menjadikan si pembicara sebagai raja. Maka kita perlu sungguh-sungguh mendengarkan agar maksud si pembicara dapat ditangkap dengan benar tanpa ada distorsi dari keinginan atau pemikiran kita sendiri.
3. Yen cin atau mata
Mendengarkan juga memerlukan mata. Hal ini untuk membuktikan bahwa kita mendengarkan dengan baik dan sungguh-sungguh. Lakukan kontak mata dengan pembicara. Karen seringkali seseorang yang tidak bersungguh-sungguh mendengarkan akan mengalihkan kontak mata pada hal lainnya misal layar handphone, jam tangan, atau titik fokus yang lain.
4.Yi  atau fokus/satu
Pendengar yang baik memfokuskan dan memusatkan perhatiannya pada pembicara dan apa yang dibicarakannya. Tidak memotong di tengah penjelasannya sehingga dapat menghindari timbulnya pertengkaran ataupun mengganggu konsen pembicara sehingga lupa pada inti yang akan diceritakan.
5. Xin atau hati
Mendengar yang baik berarti menggunakan hati. Maksudnya adalah memerhatikan arah komunikasi dan informasi yang disampaikan baik secara verbal maupun non verbal. Seringkali kita hanya menangkap komunikasi verbal dan melalaikan komunikasi non verbal seperti dahi yang berkerut, tangan yang berkeringat, bunyi kertak jari karena gemas, dan bahasa tubuh lainnya.
source : www.keluhcinta.com
Maka menjadi pendengar yang baik berarti mendengarkan dengan telinga hingga si pembicara merampungkan kalimatnya, menatap matanya dan mengamati bahasa non verbalnya pula, serta fokus pada pembicara dan apa yang dibicarakan olehnya. Anda boleh menyanggah, memberi saran, atau sekedar mengiyakan setelah si pembicara utama menyelesaikan kalimatnya. Hindari memotong di tengah agar fokus pembicara tidak terpecah dan mengakibatkan penyampaian yang kurang atau salah. ^.^

Ini hanya sebuah refleksi diri tentang menjadi pendengar yang baik, agar tak banyak orang yang bermonolog lagi. Cukup di panggug teater saja sang seniman bermonolog. Tidak di dunia nyata. ^.^

Tunaikan hakmu tapi jangan lupa hak orang lain ya.
Mari Berkicau dan Mari Mendengarkan!

Mencari Suaka Dari Bencana Kelaparan Part II

Malam itu, lidah saya masih meracau. Berkicau meminta rasa yang lebih bersahabat. Maka pencarian Suaka Dari Bencana Kelaparan Part II pun dimulai. Seorang kawan yang aseli, lahir dan menua di kota kecil ini, Purwakarta, merekomendasikan sebuah Warung Tenda Kaki Lima dimana spanduk di bagian depan tertulis "Sop Kaki Sapi & Babat KHAS Jakarta".

"Kok yang Pedagang Kaki Lima sih? Enak gitu? Daaan, tempatnya bersih, nggak?" Pasti 3 pertanyaan dasar itu langsung muncul di benak kamu. Sama kok. Saya juga bertanya-tanya dalam hati. Tapi si Asong (perekomen), mantap dengan jawabannya, “Beneran Blung. Itu lebih enak dari tempat-tempat yang lain.” Baiklah. Berbekal percaya, saya dan partner makan alias temen kos, langsung memacu motor ke Jalan Taman Pahlawan, lokasinya sekitar 4,5 km dari Pintu Tol Sadang. Tempatnya cukup mudah dijangkau kok, dari arah Tol Sadang lurus aja, sampe ada pertigaan Giant (terlihat patung laki-laki bermain egrang), belok kanan ke arah Giant. Warung tersebut berada sekitar kurang lebih 50 meter setelah Giant, letaknya sebelah kiri jalan (selatan jalan) setelah Laboratorium Prodia.

Ini nih penampakan depan si Warung Tenda Kaki Lima ini.

Begitu masuk, kami sudah mencium wangi kuah sop yang menggelitik syaraf penciuman, bukan si Veromosonal Organ lho yaa (apa itu?). Tengok kanan-kiri dulu liat meja makannya. Bersiiih, gaes, Bapak dan Mas penjualnya juga terhitung rapi. Tanpa babibu-baba, kami memesan dua porsi Sop Campur lengkap dengan Es Jeruk untuk menetralisir lemak.

Dari kejauhan, kami mengamati cara si Bapak menyiapkan hidangan untuk kami berdua, setelah iris sana sini, si daging dan teman-temannya di siram kuah, tapi terus kuahnya dibalikin lagi ke dalam panci. Begitu beberapa kali. Nah lhooo Pak? Usut punya usut, ternyata itu metode untuk menghangatkan si daging dan teman-temannya, jadi lebih enak saat di makan. ^.^

Pesanan dataaang!!! Semangkok Sop Campur ditemani sepiring nasi dengan taburan bawang goreng di atasnya. Sop Campur ini berisi  Daging, Kikil, Iga, Daging Ayam (opsional, sesuai selera pengunjung. Saya sih no), Babat, Usus, Kentang, Tomat, Emping Blinjo, dan dilengkapi potongan daun bawang. Bisa dibilang isinya meluber-lah, jadi bukan dominasi kuah ya.

Sluruuup. Mm, kurang manis, tambahkan kecaaap. Sekalian deh heboh dengan pelengkap. Tambahin sambel dikit, jeruk limau, dan acar timun – wortel. Mari kita lanjutkan makannya. Nomnom. Nomnom. Enaaak. Kuah santannya kental gurih, irisan tomat bikin makanan ini ada seger-segernya di tengah badai daging dan teman-temannya. Dan saya bisa bilang ini adalah “Sop Ala Kaki Lima Rasa Juara.”

Itu cerita pertama kali ke sana, sekarang, kala perut melilit, kala badmood, kala butuh kehangatan, kami akan dengan semangat 45 menyambangi warung tenda yang berdiri sejak tahun 2011 ini. Oh ya, selain sop campur, si Bapak yang asli Bandung menyediakan beberapa sajian.

Makanan :
  1. Sop Daging
  2. Sop Ayam
  3. Sop Buntut / Sop Iga (khusus sajian ini, kuahnya bening tanpa santan)
  4. Sop Campur

Minuman :
  1. Es / Jeruk hangat
  2. Es / Teh manis hangat
Untuk harga, range antara 16.000 hingga 22.000 semangkoknya. ^.^
So, tunggu apalagi gaes? You dare to try this delicious soup!

Air Mancur (Situ Buleud) Pelangi di Purwakarta

Untuk pertama kalinya Taman Air Mancur Sri Baduga (Situ Buleud) Purwakarta, dibuka untuk umum setelah peresmian tahap dua awal bulan Januari 2016 lalu. Tiap malam minggu tempat ini dipadati oleh penduduk setempat bahkan wisatawan atau perantau dan kawan-kawannya.
Di pertunjukan ini disajikan atraksi air mancur yang 'menari' selaras alunan musik yang diputar, dan yang membuatnya semakin memukau penonton adalah warna-warni yang terbias indah oleh cipratan dan semburan air mancur tersebut.

Maka dari itu jika kalian berkunjung ke Purwakarta, jangan lupa untuk mencoba melihat pertunjukan ini, berikut ulasan serta dokumentasi (foto + video) saya mengenai pertunjukan air mancur tersebut yang pasti bisa membantu kalian untuk mempersiapkan segala hal sebelum menyesal (LOL).

JADWAL PERTUNJUKAN AIR MANCUR SITU BULEUD
Perlu kalian ketahui bahwa pertunjukan ini tidak setiap malam ada dan hanya ketika musim hujan, hanya diadakan pada :
Hari  :  Sabtu (Malam Minggu)
Pukul  :  19.00 WIB hingga selesai
Lokasi  :  Situ Buleud Purwakarta

SPOT TERBAIK
Susah payah, antri dan kehujanan demi melihat pertunjukan yang istimewa ini, tentunya kalian ingin mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan bukan?
Maka dapatkan area atau spot terbaik untuk melihat pertunjukan ini. Dari pengalaman kemarin setelah melihat pertunjukan ini, spot atau tempat menonton pertunjukan terbaik adalah dari sisi barat Situ Buleud. Dimana itu sisi barat? Gampangnya, temukan titik dimana kalian bisa saling berhadapan dengan patung yang ada di tengah Situ Buleud.

Spot ini pastinya sangat susah didapatkan, karena banyak orang yang ingin mengakuisisi spot tersebut, maka dari itu kalian harus berangkat lebih awal kalo bisa dari sore udah nongkrong disana (LOL).

PERSIAPAN
Purwakarta (Kota) merupakan salah satu daerah yang pasokan airnya lebih sedikit dibandingkan daerah lain ketika musim kemarau, karena itu pertunjukan ini diadakan biasanya ketika musim hujan. Nah, karena itu juga ada beberapa hal penting yang perlu kalian siapkan jika ingin menonton pertunjukan ini :
  1. Bawa temanmu atau orang lain yang bisa menemanimu lihat pertunjukan ini, karena sendirian nggak asik.
  2. Bawa payung atau jaket kain parasut.
  3. Tongsis, alat satu ini bisa membantu kalian jika ingin mengabadikan momen ini tanpa susah-susah pegang HP sedangkan kalian juga ingin menonton pertunjukan ini secara langsung dengan mata kalian sendiri bukan?
  4. Pastikan sebelum masuk area Situ Buleud untuk menonton pertunjukan ini, perut sudah dalam keadaan tidak lapar.
  5. Charge HP atau senjata yang akan kalian gunakan untuk mengabadikan momen ini sampai penuh.

DOKUMENTASI
Berikut ini beberapa foto yang saya ambil ketika pertunjukan air mancur di Situ Buleud Purwakarta berlangsung.
Ai Mancur Purwakarta
Tampak Depan (SPOT TERBAIK) - Pertunjukan Air Mancur (Situ Buleud) Purwakarta

Air Mancur Situ Buleud

Air Mancur Purwakarta
Tampak Samping - Pertunjukan Air Mancur (Situ Buleud) Purwakarta


Air Mancur Purwakarta
Antrian Pintu Keluar - Pertunjukan Air Mancur (Situ Buleud) Purwakarta

Kurang puas karena cuma liat dari foto aja? Tenang, video-nya juga ada kok, mau lihat videonya? Tetap setia kunjungi leblung.com, nanti ada update nya :D

Gimana Sih Penyakit ‘Malaria(ndu) Buanget’ Menyerang Kita?

Hai.Haiii! Leblung is coming back to share anything with you. But first of all, bisa tolong singkirkan muka serius itu dulu? Nah. Sekarang, bisa tolong bibirnya ditarik ke kanan dan ke kiri? Yak. Terus, dikit lagi. Naaah. Gitu dong. Senyum dulu biar kamu yang cewek makin cantik dan yang cowok jadi makin ganteng. 
 
Yuhuhuuu. Kali ini kita akan bahas penyakit Malaria, gaes. “Malaria akibat gigitan nyamuk Anopheles? Anopheles species yang mana, Blung? Anopheles sundaicus? Anopheles maculatus? Atau Anopheles balabacencis?” BUKAAAN. Bukan Malaria jenis itu. Yang ini bukan karena nyamuk. Tapi penyakit ini seringkali menjangkiti kita tanpa kenal waktu dan kesibukan. 

Nama penyakitnya : Malaria(ndu) Buanget.

Penyakit yang mengakibatkan kamu menjadi gelisah dan gundah gulana. Penyakit yang bikin kamu pingin segera bertemu, pingin tau kabarnya, pingin denger suaranya, pingin peluk dia, dan pingin-pingin yang lain. Pasti pernah dong terjangkit? Entah Malaria(ndu) atau kangen orang tua karena kamu merantau dan gak bisa sering pulang (ini menjangkitiku saat ini. Hhiks. Emak, Bapak, anakmu kangeeen), kangen saudara karena si dia juga merantau jauh (ini menjangkitiku juga. I miss yuuu, brader!), kangen sahabat atau temen lama, kangen mas atau mbak pacar (cieee, yang lagi kangen bacanya sambil malu-malu), atau kangen pihak-pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu (udah macam kata pengantar skripsi aja bahasaku ya?). Pasti pernah dong? Ya kan? Ya dong?

Pernah kepikir nggak gimana proses penyakit itu bisa menyerang? Gimana tuh penyakit menimbulkan rasa semriwing di hati kita? Dan bahkan seringkali penyakit itu bikin konsentrasi kita buyar padahal lagi dikejar deadline dari atasan. Ternyata ada proses ilmiahnya lho, gaes. Jadi bukan sekedar ilmu batin, penerawangan, apalagi ilmu absurdologi (fyi, ini cabang ilmu ke-abstrak-an/ke-absurd-an yang ditemukan oleh Leblung). Fenomena Malaria(ndu) ini bisa dijelaskan dengan ilmu kimia karena ternyata terjadi reaksi kimiawi di tubuh saat kita terserang. Gimana sih cara Malaria(ndu) Buanget menyerang?

Malaria(ndu) Buanget, rindu, atau kangen dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu atau memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu. Nah. Rasa rindu ini tentu kita tujukan kepada seseorang yang membuat kita nyaman dan tertarik bukan? Dari tertarik itulah proses rindu bermula.

Proses Timbulnya Ketertarikan
Rasa tertarik ini muncul karena disebabkan oleh senyawa Feromon (Pheromone). Yaitu suatu senyawa yang dihasilkan oleh kelenjar Endokrin yang berada di ketiak, wajah, kulit, serta kemaluan dan berfungsi untuk mengenali mahluk sesama jenis, lawan jenis, maupun mahluk yang lain. Senyawa ini kasat mata, mudah menguap, dan tidak dapat dirasakan oleh panca indera. Feromon inilah yang menimbulkan ketertarikan terhadap individu lain, baik kepada sesama jenis (misal anak perempuan dan ibunya) maupun terhadap lawan jenis. 

Untuk mencium keberadaan Feromon, Tuhan telah melengkapi tubuh kita dengan suatu organ yang super sensitif yaitu Vomerosonal Organ (VMO). Dalam beberapa artikel disebutkan bahwa organ inilah yang digunakan oleh bayi untuk mengenali si ibu saat panca inderanya belum sempurna. Lalu, saat VMO (yang berada di lubang hidung dan terhubung dengan jaringan otak) mencium Feromon, ia akan mengirimkan sinyal ke Hipotalamus. Selanjutnya Hipotalamus bertugas untuk membentuk respon balik.

Respon Balik Hipotalamus

Hipotalamus memberikan respon balik berupa rangsangan untuk membentuk senyawa atau hormon yang lain, yaitu Phenyletilamine (PEA), Dopamin, Neropinephrine, Endorfin, dan Oksitosin. PEA, Dopamin dan Neropinephrine memberikan respon bahagia dan tersipu malu saat melakukan kontak mata dengan orang yang disayangi. Hormon Endorfin menimbulkan rasa aman, damai, dan tentram. Sedangkan hormon Oksitosin menimbulkan adanya rasa keterikatan antara kedua mahluk yang saling menyayangi, menjadikan rasa ketertarikan semakin dalam dan hanya akan terpenuhi apabila bertemu dengan si dia. Hormon ini sering juga disebut dengan hormon Ce-I-eN-Te-A, alias hormon cinta.

Candu dan Malaria(ndu) Buanget
Nah. Setelah Hipotalamus berhasil merangsang tubuh untuk melepaskan hormon-hormon di atas, selanjutnya hormon tersebut akan bereaksi dengan Feromon. Hasil reaksi inilah yang membuatmu terserang Malaria(ndu) Buanget. Ya. Efek hasil reaksi antara Feromon dan hormon-hormon cinta adalah rasa kecanduan yang tinggi. Bahkan dikatakan bahwa efek yang dihasilkan hampir sama dengan efek yang ditimbulkan oleh Amfetamin, jadi kalo kamu lagi dimabuk cinta, itu sama aja kayak orang yang lagi kecanduan narkoba. Hhe.

Kecanduan inilah yang membuatmu ingin terus bertemu, ingin berinteraksi dengan si ‘kesayangan’. Karena setelah kamu memproduksi Oksitosin dalam jumlah banyak ketika bertemu si dia, syaraf di otak akan mengalami kecanduan atau kekurangan hormon Oksitosin bila tidak dirangsang. Proses inilah yang membuat kamu gundah gulana dan gelisah memikirkan si dia. Karena otak perlu asupan Oksitosin.

So, sekarang sudah tau dong gimana Malaria(ndu) Buanget menyerang? Lalu bagaimana mengatasi rindu yang menyerang ini? Stay tune yaak. Leblung bakal share tips and trick mengatasi gejolak kecanduan Oksitosin ini. Hhi..

See yaa, gaes.. *wink-wink

Mencari Suaka dari Bencana Kelaparan Part 1

Sejak bulan Maret 2015 yang lalu, saya resmi terdampar di sebuah kota kecil bernama Purwakarta. Salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang kini tengah sibuk bersolek untuk mewujudkan mimpi sebagai kota seribu patung.

Bicara urusan perut dan lidah, saya sendiri yang berlidah Jawa Timur ini tentu terkena gegar lidah (gegar budaya : terkejut akibat perubahan budaya yang diterima, gegar lidah adalah istilah ketika terkejut akibat barang-barang yang masuk di lidah terasa jauh berbeda). Di kampung halaman saya di Jawa Timur sana, saya biasa dijejali dengan masakan dengan bumbu rempah yang melimpah. Tidak sekuat rasa rempah masakan orang Sumatra memang, tapi cukup untuk membuat si pemilik lidah merasakan citarasa yang pas. Paduan antara manis, asin, pedas, gurih, segar, dan asam di waktu yang bersamaan.

Sedangkan di Jawa Barat, Purwakarta khususnya (tempat tinggal saya sekarang), masakan disini cenderung mengutamakan citarasa asin dan pedas. Tak luput saya yang pecinta manis dan rada sulit menerima pedas sedikit kesulitan menemukan tempat makan yahud di sini (maklum anak kos, nyarinya yang siap makan aja, biar praktis). Kalo kamu berkesempatan untuk mampir ke kota ini (Purwakarta), kamu akan menemukan jajaran penjual Nasi Goreng, Kupat Tahu, Bakso, dan Bubur Ayam di sepanjang jalan kenangan, eh, sepanjang jalan utama maksudnya. Nah kalo saya kos di sini untuk waktu yang lama, masa iya saya cuma makan 4 jenis masakan itu? Atau paling nggak pindah ke Warteg, yang lagi-lagi tetap mengutamakan citarasa asin dan pedas. Wait, tak perlu bimbang kawan. Saya sudah menemukan suaka baru untuk mengatasi kegalauan lidah saya (lidah orang Jawa Timur) serta menyelamatkan perut dari bencana kelaparan. Tempat makan itu bernama “Pondok Hijau”.

PONDOK HIJAU
Jangan mengira yang dijual adalah sayur-sayur mentah apalagi rumput ya, "loe kira gue kambing apa?". Nama tempat ini mewakili semua perabotannya yang berwarna hijau, gaes. Mulai dari piring, gelas, hingga cat tembok dan spanduknya. Ini nih penampakan Pondok Hijau (tampak depan) :
Rumah makan ini berada di Jalan Veteran Nomor 222, Purwakarta. Kalo kamu dari arah Pintu Masuk Tol Sadang, rumah makan ini berjarak 1,5 km ke arah pusat kota. Tepat di samping kiri Bengkel Auto 2000.

Rumah makan yang berdiri sejak tahun 2000 ini terdiri atas 2 pilihan tempat makan, yaitu di bagian dalam dan bagian luar rumah makan. Kali ini saya hanya akan mengulas bagian luar. Karena saya memang pelanggan setia bagian luar dan belum pernah sekalipun tertarik makan di bagian dalam. Konon kata si Aa’ waitress, bagian dalam menyajikan aneka makanan khas Sunda dan terdapat pilihan nasi putih biasa. Sedangkan bagian luar berfokus pada nasi uduk.

MENU di PONDOK HIJAU
Apa aja sih menunya? Niih.





Makanan :
  1. Nasi uduk yang dibungkus rapi dengan daun pisang.
  2. Opor ayam dengan kuah santan yang kental.
  3. Ayam goreng kampung. Ini menu andalah rumah makan ini. Digoreng kering dengan  bumbu gurih yang meresap hingga ke dalam.
  4. Rempela ati dan kepala ayam goreng.
  5. Gulai rendang yang empuk dan gurih.
  6. Sayur tahu dengan kuah manis pedas yang menggoda.
  7. Semur jengkol. No comment. Saya belum pernah makan jengkol dan belum ingin mencoba.
  8. Telur balado. Dari penampakannya sih, pedas manis begitu.
  9. Perkedel kentang yang dibentuk bulat pipih macam irisan jengkol.
  10. Risoles atau samosa isi kentang yang crunchy.
  11. Dadar jagung manis.

Minuman :
  1. Es / Jeruk hangat
  2. Es / Teh Manis hangat

Dan tidak ketinggalan, 2 jenis sambal khas yang menggoda, sambal tomat dan sambal buthek. Itu penamaan saya sendiri ya. Sambal tomat ini memang disajikan dengan irisan tomat yang masih utuh. Tidak terlalu pedas dan cenderung manis. Sehingga ketika di mulut rasanya akan segar menggoda. Aiiih.

Sedangkan sambal buthek adalah sambal pedasnya, kuah sambal ini buthek (keruh) dengan banyak ulekan cabai dan tomat di bagian dasar wadahnya. Kedua sambal tersebut gratis kok, seperti halnya teh tawar hangat dan air putih, jadi kamu bisa ambil sepuasnya (asal gak malu aja sama si Aa’-nya kalo ambil banyak-banyak. Wkwkwk).

MENU FAVORIT
Lalu, lauk apa yang menjadi favorit saya? Masa iya makannya nasi sama sambal doang?
Nah. Itu menu favorit saya, 2 bungkus nasi uduk hangat yang beraroma wangi karena dibungkus daun pisang segar, ditemani dadar jagung manis yang kering di luar namun manis dan sedap di lidah, serta opor ayam berkuah santan kental yang gurih. Jangan lupa tambahkan sambal tomat (lihat irisan tomat di samping dadar jagung) dan sambal buthek (lihat di sebelah sambal tomat). Bagi saya, perpaduan ini pas. Asin, gurih, manis, dan segar jadi berkumpul jadi satu. Dan untuk menutup makan nikmat di sore hari itu, saya memilih untuk meneguk Es Jeruk.

HARGA
Bagaimana dengan harga? Makanan di bagian luar ini berkisar antara 1.000 hingga 13.000 rupiah. 1.000 untuk gorengan (dadar jagung, risoles, dan perkedel), 13.000 untuk ayam goreng. Lhoh? Bukannya gulai rendang lebih mahal ya? Tidak kawan. Gulai rendang hanya dibanderol 10.000 rupiah. Dan karena menu andalannya adalah ayam kampung goreng, jadilah ia menjadi komoditas paling mahal di tempat makan ini.

Oh ya, bagian luar rumah makan ini buka di sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB hingga masakan habis. Jadi, menunggu apalagi untuk mencobanya?