Showing posts with label keluarga. Show all posts

Berlebaran dengan African Style di Baobab Safari Resort - Prigen

Lebaran sebentar lagi
Berpuasa sekeluarga
Sehari penuh yang sudah besar
Tengah hari yang masih kecil
Alangkah asyik pergi ke mesjid
Sholat tarawih bersama-sama


Barangkali, lagu legendaris karya Bimbo ini sudah mulai diperdengarkan di berbagai stasiun televisi. Berselang-seling dengan promo diskon besar-besaran mulai dari flash sale di berbagai pusat perbelanjaan daring seperti Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak. Ataupun ragam promo midnight sale di berbagai offline shopping mall. Ya. Persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri selalu tak kalah seru dengan menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Menyambut Hari Raya Idul Fitri seringkali dimaknai sebagai beli baju baru, sepatu baru, kerudung baru, peci baru, dan semua-semua baru. Hhi. Tak dipungkiri saya salah satu yang suka heboh beli baju baru jauh sebelum lebaran. Tapi kalau dipikir-pikir, inti dari lebaran itu sendiri bukan perkara barang baru. Tapi........kumpul dengan semua anggota keluarga. Mulai dari Mbah Kung, Mbah Uti, Budhe, Pak Dhe, Bulik, Pak Lik, Sepupu, Keponakan, Cucu, Cicit, dan berbagai sebutan lainnya. Semua tumplek blek jadi satu untuk saling maaf memaafkan, dilanjutkan dengan mengurai berbagai cerita yang terlewatkan karena jarak dan kesibukan memisahkan satu dan anggota keluarga lainnya.

Yapp. Lebaran adalah tentang berkumpul bersama di suatu tempat. Biasanya sih di rumah Mbah, atau di rumah saudara tertua. Tapi, apa jadinya kalau anggota keluarga sudah beranak pinak? Tak cukuplah rumah Mbah untuk memuat semua orang dalam waktu yang bersamaan. Tapi eh tapiii, kalau dipisah-pisah dalam jam-jam tertentu, gak bisa full team dong? Kalo kangennya sama semuanya gimana?

Kalau temen saya sih, biar bisa berhari-hari ketemunya, karena cerita dalam satu tahun takkan bisa dirangkum dalam waktu beberapa jam saja, maka beberapa keluarga kecil (misal Budhe A, Pak Dhe A, Sepupu A, dan Bulik B, Pak Lik B, Sepupu B1, Sepupu B2) akan memilih menginap di hotel untuk kemudian datang lagi keesokan harinya. Ini ide yang cukup cemerlang untuk mengatasi keterbatasan kamar yang ada. Tapiii, why we don't go outside together instead of being apart from some little family?

Ya. Keluar bareng. Menginap di tempat yang lebih besar bersama-sama. Lengkap dengan meng-arrange beberapa kegiatan outdoor maupun indoor yang bisa diikuti oleh seluruh keluarga. Salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk berlebaran bersama keluarga besar adalah Baobab Safari Resort Prigen. Tempat apa itu? Kok Safari? *Lu kate kita lebaran sama binatang apa? Hhi. 


Baobab Safari Resort Prigen ini terletak di kawasan Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Pasuruan - Jawa Timur. Tepatnya, resort ini sebelahan banget-banget sama Taman Safarinya. Terletak di kaki Gunung Arjuna menjadikan resort ini berhawa sejuk dengan udara yang bebas polusi. Untuk saya yang benci asap rokok dan asap kendaraan, udara di sekitar resort ini super menyenangkan.


Oh ya, resort ini dirancang dengan style African. Nuansa itu sudah langsung terasa ketika kita memasuki area lobi resort. Ada pohon Baobab buatan super gede yang diletakkan di tengah lobi. Jadi, kamu berasa berada di tengah rumah pohon. Dari lobi pula, kamu sudah langsung bisa melihat beberapa Jerapah, Zebra, Rusa, dan Burung Merak berjalan-jalan dengan tenang di depan resort. View-nya? Jika tidak berkabut, kamu akan dimajakan oleh jajaran pegunungan yang berbaris dengan cantiknya. So, still dodge that this resort is so african?

Hanya itu? Tentu tidak. Resort ini menyediakan berbagai aktivitas tambahan yang bisa diikuti oleh seluruh keluarga. Seperti :

Feeding The Animal
Tidak hanya di Taman Safari, di depan lobi hotel pun kamu bisa kasih makan Jerapah dan teman-temannya. Peraturannya hanya satu : menggunakan makanan yang disediakan oleh pihak hotel. Yapp, para perawat satwa sudah menyediakan sayuran khusus untuk para pengunjung yang ingin menyuapi Jerapah. Hal ini untuk memastikan sayuran yang dimakan oleh para satwa dalam kondisi baik. Kegiatan ini dapat dilakukan pada jam - jam berikut : 08.00, 11.00, dan 16.00 WIB. Pengunjung yang ingin mengikuti kegiatan tersebut, cukup berbaris rapi, mengantri di sekitar area Feeding The Animal. Saat memberi makan, kamu bebas kok berselfie, wefie, foto narsis, foto resmi, dan sebagainya. Bahkan para perawat hewan ini dengan senang hati membantu lohh.


Night Walk
Night Walk alias Jurit Malam. Tenang, yang ini tidak menyeramkan seperti saat ikut pramuka. Night Walk ini adalah kegiatan menjelajahi area hotel untuk menemukan satwa-satwa jenis  nokturnal, atau satwa yang berkegiatan saat malam hari. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 19.00 WIB. Tepat jam 19.00 WIB, semua pengunjung yang ingin mengikuti kegiatan tersebut sudah wajib, kudu, bin harus berkumpul di depan lobi untuk mendengarkan arahan dari para perawat satwa. Jika kamu ingin mengikuti acara ini, sangat disarankan untuk menggunakan sepatu anti-slip, jaket, baju dan celana panjang, serta membawa senter. Ini dikarenakan medan yang kamu lalui adalah medan berumput, kadang becek (dan gak ada ojek), kadang berlubang, gelap, dan dipenuhi ranting di kanan-kiri jalur penjelajahan. So, daripada kaki luka, terpeleset, tangan baret, dan lain-lain, mending prepare dengan baik kan yaa..

Sebelum memulai kegiatan, pengunjung akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 15 - 20 orang. Dan masing-masing kelompok akan dipandu oleh satu orang perawat satwa. Night Walk ini berjalan sekitar 30 hingga 60 menit. Jika sedang beruntung, kamu akan menemukan ular, burung hantu, landak, dan berbagai serangga.  Selama perjalanan, perawat satwa akan menjelaskan ini dan itu sembari mencari-cari satwa di sekitar jalur penjelajahan. Bagi saya, ini seru. Berasa menjelajah hutan seperti para peneliti hewan. Hhi. Ya meski kurang lama dan kurang banyak satwa yang ditemui, tapi okelah.

Story Telling
Khusus saat weekend, pihak hotel mengadakan story telling untuk anak-anak. Katanya sih, pendongengnya menggunakan topi hewan dan bercerita secara interaktif dengan anak-anak. Karena saya tidak mengikuti acara ini, jadi harap maklum jika saya tak tau banyak yaa..

Fun Games
Nah, pihak hotel juga menyediakan fasilitas fun games berikut dengan pemandu acara-nya. Fun Games ini dilakukan di sebelah depan-kanan hotel. Di rerumputan gitu. Waktu itu sih saya ke sana mengikuti acara family gathering kantor Mas Suami. Jadilah lengkap dengan paket fun games. Saya yang notabene asing dengan teman-teman Mas Suami, lumayan bisa akrab dan ketawa-ketiwi loh. It's means acaranya memang seru dan bikin makin akrab. Jadi, tidak ada salahnya memasukkan acara ini ke dalam rundown acara lebaran kamu.



Oh ya, mereka juga mengadakan lomba mewarna untuk anak-anak, jadi mereka tetap duduk anteng saat Bapak - Ibunya mengikuti fun games.

Barbeque
Pihak hotel juga menyediakan mini barbeque di dekat hotel loh. Saya gak tau apa aja yang saya makan, taunya semua enak aja. Hha. Bahkan Mas Suami (lagi-lagi) mengalah karena melihat istrinya makan dengan lahap

Gala Dinner
Seperti hotel-hotel yang lain, hotel juga dilengkapi dengan ballroom untuk pertemuan resmi maupun jamuan makan malam. Saat jamuan makan malam ini, bisa banget digunakan untuk mengenalkan anggota keluarga baru ataupun menonton video-video maupun foto-foto kenangan yang dijamin bakal bikin suasana renyah.


Fasilitas lain adalah kolam renang yang berada di depan lobi, jadi bisa renang sambil lihat Jerapah lewat, Free Wi-fi, Spa, Souvenir Shop, Restaurant, Jogging Track, dan Shuttle Bus untuk pergi ke Taman Safari. Cukup lengkap bukaaan?

Bagaimana dengan kamarnya ?
Hotel ini menyediakan 148 kamar yang terbagi atas 6 tipe kamar, yaitu Deluxe Hills, Premium Hills, Junior Suites Hills, ini adalah kamar yang pemandanganya ke fasad depan bangunan. Sedangkan Deluxe Savanna, Premium Savanna, dan Junior Suites Savanna, view-nya adalah bangunan dan langsung ke Savanna dimana para hewan-hewan ini tinggal. Dengan jumlah kamar sebegitu banyaknya, seluruh anggota keluarga pasti cukup kok. Sedangkan harga untuk kamar dimulai dari 800.000 – 1.800.000 untuk satu malam, tergantung jenis kamar yang dipilih. Daaan, perlu diingat bahwa hotel atau resort ini termasuk favoritos, jadi siap-siap gigit jari kalau bookingnya kelamaan yaa..



Buat saya sih, resort ini cocok banget untuk dijadikan tempat berlebaran. Para anggota keluarga dewasa bisa be-refreshing dengan udara yang sejuk, view bagus, berenang, fun games, dan makan-makanan enak. Sedangkan para anggota keluarga kecil bisa mendengarkan dongeng, mengenal satwa lebih dekat, dan lain-lain. So, tunggu apalagi? Yuk arrange lebaranmu di hotel ini. ^.^

Kelas Berbagi Cerita Rangkul : Hubungan Reflektif - Manajemen Emosi Diri

Kelas parenting ini menjadi menarik buat saya karena 2 hal. Pertama, kelas ini diadakan oleh komunitas yang didirikan oleh Ibu Najeela Shihab. Dan kedua, materi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan saya, yaitu pengelolaan emosi. Jika di antara para pembaca artikel ini masih ada yang mengernyitkan dahi karena tidak paham kenapa saya yang masih berstatus calon ibu sudah ikut kelas parenting, apa motivasi saya ikut, atau bahkan bingung apa itu Kelas Berbagi Cerita Rangkul, silahkan jump to my previous article, klik di sini. Saya menceritakan jawaban dari keheranan-keheranan itu di situ yaa..
source : www.keluargakita.com
Apa yang mempengaruhi hubungan dalam keluarga ?

Pada dasarnya, kita semua menginginkan hubungan keluarga yang baik, harmonis, menyenangkan, saling mendukung, dan penuh dengan kebahagiaan. Tapi, sadarkah kita bahwa terdapat hal-hal yang secara tidak sengaja atau tidak terkontrol dapat mempengaruhi hubungan dalam keluarga? Ya, bagaimana kita bersikap dan membentuk hubungan dengan anggota keluarga yang lain, entah dengan suami, istri, anak, kakak, adik, sepupu, nenek, kakek, tante, paman, bibi, atau anggota keluarga yang lain pada dasarnya dipengaruhi oleh 4 hal utama. Yaitu :

Pola Pengasuhan di Masa Lalu

Pola pengasuhan yang kita terima di masa lalu, memiliki tempat tersendiri di dalam otak kita. Pengalaman ini tidak dapat dihindari dan diubah. Secara tidak sadar, apa yang kita alami dalam pengasuhan di masa lalu menjadi standar untuk melakukan pengasuhan di masa kini. Contoh kecil dan sederhana adalah ketika suami saya menyuruh adik bungsunya untuk membersihkan rumah. Saya yang sedari kecil diberikan waktu penuh untuk bermain dan belajar tanpa kewajiban untuk membersihkan rumah, sontak menolak perintah itu. "Biarin dong, kan dia baru juga nonton TV."

Ekspresi yang saya keluarkan adalah wujud dari pola pengasuhan yang saya alami. Itu tidak terkontrol, respon otomatis ketika menghadapi suatu kondisi yang juga pernah saya alami. Namun, pola pengasuhan tidak selamanya benar dan dapat diterapkan. Misal, seorang ibu biasa menyuruh anaknya belajar dengan cara dibentak dan dicubit bila membangkang. Hal itu tidak dapat dibenarkan.

Maka tugas kita adalah mengontrol pengalaman masa lalu yang kita alami. Ambil pola pengasuhan yang baik, dan buang apa yang buruk. Kuncinya adalah dengan saling menghargai dan mengingatkan antara satu anggota keluarga dengan yang lain. Membentuk hubungan keluarga yang harmonis bukan hanya tugas satu orang bukan?

Keunikan Temperamen

Setiap anggota keluarga dilahirkan dengan temperamen yang berbeda. Misal saya dilahirkan menjadi pribadi yang melankolis dan sensitif, sedangkan kakak saya dilahirkan menjadi pribadi yang easy going dan memandang banyak hal dengan lebih sederhana. Ini sama seperti halnya saya dilahirkan memiliki hidung mungil, sedangkan kakak saya dilahirkan dengan hidung seperti jambu air bangkok, gede. Padahal kita dilahirkan dari rahim yang sama toh?

Temperamen ini dapat mempengaruhi bagaimana seseorang bersikap dan bereaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Sudah sepatutnya kita menghargai perbedaan ini. Karena poinnya untuk membangun hubungan keluarga yang baik adalah bagaimana kita bisa bereaksi atau berperilaku sesuai dengan yang lawan kita butuhkan.

Jadi, meskipun salah satu anggota keluarga memiliki temperamen yang cenderung negatif, cobalah untuk melihat hal tersebut dari sisi positif. Misal saya mudah menangis, kakak saya bisa saja mencap saya sebagai seseorang yang cengeng, cemen, dan lebay. Tapi ia bisa membaca temperamen itu menjadi temperamen positif, misal saya seorang yang terlalu peka. Dengan temperamen mudah menangis ini, kakak saya bisa mengatur bagaimana harus berinteraksi dengan saya, misal tidak menggunakan kata-kata kasar (meski bercanda), tidak menggunakan nada tinggi, dan lain-lain.

Hubungan Sosial atau Pergaulan dan Dunia Luar

Kita tidak dapat mengontrol pola asuh yang diterapkan di keluarga teman-teman kita. Pun kita juga tidak dapat mengontrol perkembangan teknologi yang ada. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, hubungan sosial dan dunia luar ini berpengaruh di dalam hubungan antara anggota keluarga.

Contohnya, di era modern ini, siapa sih yang tidak menggunakan handphone? semua orang bahkan anak sekolah dasarpun sudah familiar dengan benda tersebut. Saat kita menetapkan waktu quality time di rumah, misal setelah maghrib ditetapkan untuk waktu bercengkrama bersama keluarga, sedangkan di keluarga teman kita tidak demikian. Bukan hal yang aneh jika teman kita itu menghubungi kita melalui telpon atau whatsapp, telegram, dan sejenisnya. Bisa jadi ritme pengasuhan yang sudah disepakati ini akan berubah jika kita membiarkan ritme keluarga yang lain masuk tanpa permisi.
source : www.keluargakita.com
Hal-hal semacam ini tidak dapat dibendung dan diblock permanen, kitalah yang harus mengupayakan untuk konsisten dengan pola pengasuhan yang telah disepakati bersama. Apa yang didapat dari luar, dapat menjadi pelajaran. Namun, tidak harus diterapkan di keluarga kita. Sama dengan pola pengasuhan di masa lalu, ambil yang baik, dan buang apa yang buruk.

Perubahan Zaman

Setiap anggota keluarga wajib menerima perubahan zaman. Meskipun secara filosofi tetap sama, perubahan zaman menyebabkan tidak sedikit hal yang nyata berubah. Salah satu di antaranya adalah teknologi. Perkembangan teknologi memiliki berbagai sisi, selain memudahkan interaksi dalam hubungan, namun juga hadir dengan berbbagai resiko apabila kita tidak belajar mengendalikan dengan baik. Lihat video berikut ini



Dalam membangun hubungan keluarga yang baik, tentu dibutuhkan pengelolaan emosi. Namun, apa sih emosi itu?

Emosi adalah sebuah perasaan yang kita alami ketika menghadapi sesuatu. Dan ini adalah hal yang wajar, tidak terpisahkan dari diri kita, dan pengalaman di dalam keluarga. Dikatakan wajar adalah karena pada saat yang sama kita berlaku sebagai banyak peran. Misalkan saya, di waktu yang bersamaan, saya tidak hanya menjadi istri, namun juga menjadi anak, kakak, adik, menantu, karyawan, dan teman. Sehingga menjadi wajar apabila saya terkadang mencampur adukkan emosi yang saya rasakan.

Misalkan saya pulang ke rumah dengan perasaan jenuh karena pekerjaan yang menumpuk saat di kantor, ketika adik tidak sengaja menumpahkan parfum kesayangan saya, saya akan bereaksi dengan marah berlebihan. Padahal emosi saya seharusnya bukan karena parfum tumpah, namun karena pekerjaan yang menumpuk. Emosi semacam inilah yang perlu untuk dicermati agar tidak salah sasaran.
source : www.momlifetoday.com
Satu trik yang dibagikan oleh Teh Ari, relawan Rangkul, untuk menahan agar emosi negatif tidak tersalurkan dengan salah adalah menggunakan kata khusus. Kata khusus ini digunakan sebagai tanda agar anggota keluarga yang lain, anak-anak dan suaminya menghindar saat ia terserang emosi negatif dan bukan karena mereka. Kata khusus yang ia gunakan adalah Tibet.

Jadi misal Teh Ari sedang marah dengan kliennya dan saat itu tiba-tiba sang anak menghampiri, ia akan bilang "Tibet". Itu tandanya si anak harus pergi menghindar hingga sang ibu mereda emosinya dan siap untuk membantu sang anak. So, dengan itu anak terhindar dari amukan si ibu yang sebenarnya disebabkan oleh hal lain. Simple tapi efektif menurut saya. Bisalah saya tiru nanti. Hhe.

Tidak hanya itu, masalah yang seringkali muncul dalam pengelolaan emosi adalah pembacaan emosi yang salah. Sehingga seringkali kita salah dalam berekspresi. Contohnya, saat anak tidak sengaja menumpahkan saos ke kemeja putih milik teman ibunya, sang ibu yang panik akan bereaksi dengan marah, "Adik, gitu aja kok gak bisa sih? ini jadi kotor semua kan baju Tante Ivana." Ekspresi ini bisa jadi pengalaman yang salah bagi sang anak. Ia yang kematangan emosi dan pola berpikirnya belum sempurna akan beranggapan bahwa menumpahkan saus adalah salah dan berarti dimarahi. Padahal, sang ibulah yang salah berekspresi. Seharusnya, ia cukup meminta maaf kepada temannya atas ketidak sengajaan itu.

Pengekspresian emosi yang salah ini apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan lingkaran emosi negatif yang tidak baik untuk anak, keluarga, maupun diri sendiri. Dan, tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan berulang di kemudian hari. So, hal pertama yang menjadi PR kita semua adalah bagaimana membaca emosi kita sendiri agar ekspresi yang dimunculkan tepat sasaran.

Dalam kelas parenting ini, diperkenalkan 4 macam emosi yang hobi disalah artikan atau tertukar. Yaitu : marah, tidak enakan, merasa bersalah, dan ingin dipuji atau mendapat pengakuan.
source : www.keluargakita.com
Sebenernya banyak contoh dan sharing mengenai pengelolaan emosi ini, tapi saya rasa akan lebih afdhol jika ikut kelasnya secara langsung. Gak bakal rugi, yang ada malah nagih untuk ikutan kelas-kelas berikutnya. 

Yuk belajar mengasuh!