Showing posts with label Homesick. Show all posts

TOOTW : Travelling Outfit Of The Weekend

It's about LDR fighters world. Xoxo.
source : www.troublemarriage.com
I've been through this status (as an LDR fighter) for almost 3 years. I'm not only have a long distance relationship with my husband, but also with my parents, and my only one brother. Sometimes it becomes difficult when homesickness began to emerge. It feels like so empty inside the heart, tired, and wanna jump to the bed all day long (we can remove any feeling by sleeping, right?).

But, Thanks God, i have to go home more often than before recently. Yuhuuu. Not only for my personal business but also for business trip. So, how do i reach my home? It's 706 km away (from Purwakarta, West Java to Surabaya, East Java). There are 4 (four) way to be home ;

1. Board The Plane in Soekarno - Hatta Airport, Tangerang - Banten

Board the plane is always be most comfortable public transportation. But it become the most expensive for me. Hha. It Cost Rp 450.000 - Rp 700.000  (34 USD - 53 USD). Pardon me for become too honest. And to reach Soekarno - Hatta Airport i have to take a bus (Damri - State Corporation Bus) from Purwakarta to Tangerang. It's not difficult to get this bus, it available every hour and i just need to walk about 100 m from my boarding house to take the bus. Bus ticket is about Rp 65.000 (4,92 USD). But, the weakness of this choice is because it takes at least 2.5 hours. And it could becoming so loooong journey if there is toll roads repair. How long? 5 to 7.5 hours. Just like a recent months.  After take that long journey, i can fly to Surabaya for 1.5 hour.

2. Board The Plane in  Husein Sastranegara Airport, Bandung - West Java

Just like the first choice, it would be a comfortable journey. But, flight ticket is more expensive than flight ticket from Soekarno - Hatta Airport. It cost Rp 540.000 - Rp 2.500.000 (40.9 USD - 189.4 USD). And the schedule is limited. How to get this airport? First, take a big car - public transportation, it cost Rp 30.000 (2.27 USD) and it takes 2 - 3 hours. Second, i need to take a smaller car (we called it angkot), it cost Rp 5.000 (0.38 USD) and it takes 20 minute.  And then i can fly to Surabaya for 1.5 hour.

3. Ride Bus From Cikopo - CIkampek

Another way to reach Surabaya is ride a public bus. I can't ride it from my boarding house. I have to ride public car (angkot) to Cikopo. It's about 30 - 60 minute and costs Rp 10.000 (0.76 USD). After that, i could ride the public bus, but i have to stay inside the bus for ± 15 hours. Such a long journey, right? And it could be more longer if there is accident, roads repair, etc. Yapp, i could be 24 hours inside the bus. Wooow. Bus ticket is Rp 280.000 - Rp 300.000 (21.1 USD - 22.7 USD). 

4. Take The Train in Purwakarta Station, Purwakarta - West Java

This is the choice that has the shortest way to get the main transportation. Take the train. I just need to ride public car (angkot) for 10 minute and cost only Rp 5.000 (0.38 USD). Then i can get the train which is cost Rp 150.000 - Rp 465.000 (11.4 USD - 35.2 USD). But, almost same with the bus, i have to made my self calm and enjoy sitting for 10.5 hours. It's only have one departure schedule, at 11 pm. It doesn't matter cause i'm off from work at 4 pm. And the strength of this choice against public bus is you can walk around the train if you are getting bored.

Look at this picture to make the comparison easier. ^.^

Travel Transport Comparison from Purwakarta to Surabaya

So, from that comparison, I choose the cheapest and easiest to get : Take The Train. Hhi.

But, I have a new problem. It's a big problem for me cause it could make me stay awake all night long in train. What's that? I can't endure the cold. The air conditioner (AC) is my only one enemy in train. Hhu. The cold feels like stab my bones constantly. 

Am i remain silent facing this problem? Of course not. I have my magical TOOTW (Travelling Outfit of The Weekend). Actually i can wear it whenever i want but i usually wear it on the weekend. I'm going home on the weekend. ^.^

First, don't laugh at me. Some friends already told me that i look like a girl who want to go north pole. I just try to be honest and kindly share my best travelling outfit ever. It's so damn comfortable to fight against train air conditioner. I can lay comfortably when the other is cold and start to panic. Xoxo.

What's clothes I wear ?
1. My Father's Oversized Jacket
I'm not kidding, it's his jacket. He bought it about 11 (eleven) years ago when he went to Hajj because there were winter in Saudi Arabia. This jacket is so thick, i don't what kind of fabric it's used but there is dacron inside this jacket.
But, the only one problem is the size. My father has a big fat body and belly. It's about 1.5 times the size of my jacket. If i have baby, she or he can hide inside the jacket with me. Hahaha. Because of this problem too, some people look at me with a laser eyes (scary eyes). Maybe I look weird (or it's weird?).
2. The Double of Sweatpants and Jeans
I don't just wear 1 (one) pant, but 2 (two) at the same time. I wear jeans pant inside and sweatpants outside. I must be fair on my feet too.
3. A Pair of Flat Shoes
I choose flat shoes so I can easily remove it when I want to lift my feet up on a chair.
4. A Pair of Thick Socks
5. An Easy to Wear Veil

Not only clothes, i always take some chocolate, candy, tea, mineral water, notebook and some pencil, handphone, charger, earphone, and of course tissue (i can't live without tissue).

So, that's my tips. Maybe can be useful for you. And as a bonus, i give you this quote.

This quote has no effect on me, maybe to you





Merantaulah, Agar Kau Tegar Saat Dunia Tak Lagi Selembut Potongan Chiffon Cake

Hari ini, saya kedatangan tamu yang sudah cukup jarang berkunjung. Dismenorea namanya. Atau orang-orang lebih sering menyebutnya "Nyeri Haid". Siksanya sudah tak seperih dan selama dulu. Tapi ingatan tentang ibu langsung muncul tanpa bisa dibendung. Ya. Jaman SMP hingga awal kuliah, tamu ini rutin datang tiap bulan. Jika yang lain didatangi hanya dalam waktu 3 hingga 4 jam, maka ia setia menemani hingga dua hari penuh. Jika yang lain perlu surat dokter untuk mendapat izin tidak masuk karena sakit, maka saya hanya perlu mengirim sms kepada Ibu Wali Kelas dan jawabannya akan sama, "Iya Lel, cepet sembuh ya. Gak papa gak masuk asal gak ketinggalan pelajaran." Ia hafal di luar kepala jadwal saya didatangi tamu ini.

Jika Dismenorea bertamu, barang tentu ibulah yang paling sibuk menyiapkan segelas besar teh manis hangat. Mengganti air hangat di botol kaca setiap beberapa jam untuk mengompres perut. Membuatkan air rebusan temulawak. Menyuapi makan agar obat penghilang nyeri bisa kuminum tepat waktu (meski seringkali tak berefek, sakitnya tetap luar biasa. Tapi minimal saya bisa tidur pulas sejenak). Melumasi perut dan punggung saya dengan minyak kayu putih. Dan entah membuat ramuan apa saja yang kata orang bisa meredakan sakit saya.

Jika Dismenorea bertamu, Ibulah yang dengan sabar menanti di sebelah. Tanpa kata. Tanpa gerak-gerik serampangan, karena tempat tidur bergerak sedikit akan membuat saya merasakan nyeri luar biasa. Sakit saya tergolong abnormal. Hingga sang Bu Dokter menyarankan saya USG saat duduk di kelas I bangku SMA. Tak ada yang salah dengan anatomi rahim saya. Dan lagi-lagi, hanya obat penghilang nyeri yang kami bawa pulang.

Suatu waktu, di tengah kunjungan si Dismenorea, ibu berkata, "Sampean yak apa ya Nak kalo nanti kerja jauh dari Ibu? Gimana kalo sakit gini?" Saya hanya tersenyum. "Nanti cari ibu kos dan temen yang baik ya. Minta beliin bubur buat sarapan kalo pas sakit." Maka raut wajah dan kalimat itu selalu datang tiap kali si Dismenorea berkunjung. Dan pasti saya akan berakhir meringkuk di bawah selimut. Menahan sakit dan sedih di waktu yang bersamaan. Cemen ya?
source : aditpermana.wordpress.com
Itu salah satu tantangan berat yang belum saya tahlukkan hingga kini. Awal merantau, saya tak mau mendengar suara ibu. Saya melarangnya menelpon. Cukup sms saja. Kejam ya? Iya. Karena mendengar suara beliau pasti akan membuat saya menangis semalaman suntuk. Ya. Sekali menangis, akan susah bagi saya untuk berhenti. Meski dengan keputusan itu, saya harus menahan sedih tiap kali teman sekamar saya ditelpon ibunya (setiap hari). Mencoba ber-haha-hihi. Menjahili rekan kerja yang lain. Mencari-cari kegiatan agar bayangan ibu terlupakan.

Ahh. Merantau menyiksaku. Tapi benar adanya bahwa merantau adalah ajang menempa diri agar kita kuat saat masalah menghadang. Saat rasanya dunia tak lagi selembut potongan Chiffon Cake. Tapi merantau juga ada keuntungan dan hikmahnya loh. Apa aja sih keuntungan merantau?

1. Belajar Mengatur Keuangan

Merantau berarti siap untuk mandiri. Termasuk untuk masalah finansial. Maksudnya? Jikalau kamu tinggal serumah, semua kebutuhan terpenuhi, kalaupun ada kebutuhan di luar kebiasaan, kamu tanpa segan akan meminta dana tambahan kepada orang tua. Tapi saat merantau, rasa malu untuk meminta uang lebih akan muncul tanpa disadari. Saya tak tahu pasti alasannya. Namun itu terjadi pada saya dan rekan-rekan saya yang lain.

source : www.dvmannion.ie
Dengan begitu, kita akan menuntut diri kita untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Beberapa mungkin sudah matang mengatur keuangan sejak kecil, tapi tidak sedikit bukan yang termasuk golongan saya? Alias menabung untuk kemudian dihabiskan lagi. Hhi. Dengan merantau, saya sedikit demi sedikit belajar menata keuangan saya. Berapa yang digunakan untuk makan, bayar kos, biaya jalan-jalan, ditabung, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

2. Belajar Menjalin Hubungan dengan Orang Baru

Saya tergolong orang yang susah untuk dekat dengan orang baru dan lebih suka menikmati dunia saya sendiri. Saya bisa nge-mall seorang diri berteman imajinasi saya. Kebutuhan bersosialisasi sudah dipenuhi saat bercengkrama dengan Ibu, Bapak, Kakak, dan teman-teman dekat. Kalaupun ada apa-apa, mereka sudah barang tentu ada dan siap sedia membantu tanpa dikomando.

source : www.dgreetings.com
Tapi di dunia yang baru, hal tersebut tidak berlaku. Maka hal yang mutlak bagi saya untuk belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mulai dari rekan kerja, Bapak - Ibu Kos, Bapak Tukang Sate, Ibu Sayur depan kos, Mas-Mas Tukang Ojek, hingga satpam komplek. Ini tidak lain dan tidak bukan selain karena suatu saat saya pasti butuh mereka, saya harus mengisi ruang kosong di hati saya yang bernama "kehangatan keluarga". ^.^

3. Belajar Menghargai Waktu Bersama Orang Tersayang

Merantau itu juga berarti tak lagi memiliki banyak waktu untuk bertemu dan bercengkrama dengan orang tersayang. Ini menjadikan kita menghargai tiap waktu yang dimiliki saat bersama orang terkasih. Saat berada di rumah, usahakan semaksimal mungkin menjauh dari dunia maya. 
source : www.serenataflowers.com
Sebagian besar dari kita sudah sadar dengan pernyataan ini, "Teknologi itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat." Dengan merantau, kita akan berusaha membunuh pernyataan kedua (menjauhkan yang dekat) karena saat-saat bersama mereka adalh hal yang kita rindukan. Maka secara pasti kita tidak akan melewatkan waktu-waktu berharga itu demi media sosial, youtube, dan lain-lainnya.

4. Bisa Explore Lebih Banyak Hal

Awalnya mungkin mengunjungi tempat baru, mencoba kegiatan baru, dan membuat kesibukan baru adalah hal yang dilakukan untuk membunuh rindu akan kampung halaman. Tapi justru hal tersebutlah yang membuka mata kita akan hal-hal baru yang belum kita ketahui sebelumnya. Yang barang tentu di dalamnya banyak pelajaran dan pengetahuan-pengetahuan baru yang bermanfaat bagi kita.
source : www.youtube.com

5. Belajar Berani dalam Segala Hal

Jika berada di rumah, menghadapi sesuatu yang sedikit sulit, kita akan dengan mudah meminta kakak atau orang tua untuk mendampingi. Tapi di perantauan, kita tak mungkin bisa mengandalkan hal tersebut. Kita dituntut untuk bisa berani dalam segala hal. Kan ada teman? Iya, tapi bukan berarti mereka juga tidak mungkin suatu saat akan ada kesibukan saat kita membutuhkan pendampingan mereka toh? Maka Bonek (Bondo Nekat = Modal Nekat) adalah hal yang pasti kita tempuh.

Hal ini lama-kelamaan akan menempa kita menjadi seorang yang berani, mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.

Meski merantau menyiksa, ternyata ada untungnya juga yaa. Semangat merantaaau!