Showing posts with label mengelola keuangan. Show all posts

TIPS - Hal Penting Dalam Membeli Rumah Secara Tunai, CASH Tanpa KPR

Disini saya ingin berbagi pengalaman dan harapannya supaya Anda lebih siap kalau ingin membeli rumah bekas atau rumah baru secara tunai (tanpa KPR). Semoga tips-tips dan catatan ini bisa bermanfaat bagi kalian khususnya yang sedang berniat membeli atau mencari rumah impian, perlu diketahui bahwa semua yang tertera disini adalah murni dari pengalaman saya pribadi ketika membeli rumah di Surabaya.

SABAR & USAHAKAN TETAP TENANG

Harga rumah saat ini makin lama makin naik, bahkan di Surabaya dan sekitarnya boleh dibilang "tidak masuk akal". Bahkan ada seorang kawan saya (domisili daerah Jakarta) yang pernah bilang kurang lebih seperti ini, "dengan harga segini di Jakarta bisa dapat yang lebih bagus, dengan pertimbangan lokasi yang hampir sama".

Menemukan rumah yang cocok atau yang menurut kita "pas", susahnya minta ampun (saya pribadi butuh waktu kurang lebih 3 bulan, saya punya kawan bahkan hampir sampai 1 tahun). Ketemu rumah bagus, lokasi kurang cocok, ingin lokasi dekat tempat kerja tapi harga rumah di lokasi tersebut sudah tidak terjangkau (bahasan kali ini khusus untuk beli rumah tanpa KPR), atau ketemu rumah yang cocok dan lokasi cocok tapi lingkungannya yang tidak nyaman, dan masih banyak lagi kemungkinan lain yang menyebabkan kita belum juga dapat rumah sesuai harapan.

Rasa ingin segera dapat dan punya rumah impian yang begitu besar, kadang membuat kita tidak berpikir dua kali dalam mengambil keputusan, bahkan bisa sampai tanpa berpikir jernih. Ditambah lagi rasa capek dan mungkin menyerah karena susah menemukan yang cocok.

Kita ingat bahwa bukan hanya kita yang sedang mencari-cari rumah, baik itu untuk tempat tinggal langsung atau hanya sekedar investasi jangka panjang dan mungkin kebutuhan lainnya.

Dari beberapa faktor tersebut pastinya membuat gelisah, susah tidur dan susah makan karena nafsu makan yang rusak karena pikiran-pikiran liar yang lalu lalang. Jika kalian sedikit banyak mengalami itu, usahakan untuk TETAPLAH TENANG, BERDOA dan BERPIKIR POSITIF. Saya paham kondisi yang Anda alami, tapi percayalah bahwa Anda harus berusaha dengan sangat maksimal untuk sabar, tetap tenang dan berpikir positif.

PASTIKAN DOKUMEN LEGAL LENGKAP + BERSIH

Setelah Anda berhasil menemukan yang paling cocok dan ingin membelinya, poin penting selanjutnya adalah Anda HARUS benar-benar melakukan cek ricek terhadap dokumen legal yang ada, diantaranya adalah :

  1. SHM (Sertifikat Hak Milik) Asli.
  2. IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) Asli.
  3. SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang) Asli.
Kalian harus pastikan bahwa semua dokumen diatas ada, dan penjual rumah mampu atau bersedia menunjukkan dokumen yang asli, bukan sekedar foto-copy. Jika penjual belum bisa menunjukan berkas yang asli, coba diskusikan lebih lanjut upayakan sebisa mungkin kalian benar-benar melihat dokumen yang asli.

Jika posisi rumah tersebut masih KPR, usahakan datang ke Bank yang dipakai KPR bersama dengan penjual untuk cek langsung berkas-berkasnya yang ada di Bank, apakah benar SHM asli dan IMB asli ada di Bank. Jangan langsung percaya jika penjual berkata, "Tidak perlu khawatir mas/mbak, ini posisi sudah KPR pastinya aman karena pihak Bank tidak mungkin bersedia KPR jika dokumen yang saya serahkan tidak asli".

Percayalah, karena saya pribadi sudah tertipu dengan omongan seperti itu. Secara teori memang pihak Bank tidak akan memproses KPR jika dokumen asli tidak ada. TAPI, Anda harus ingat bahwa kita hidup di Indonesia dimana banyak hal yang seharusnya tidak mungkin menjadi mungkin karena SUAP, Nepotisme atau sejenisnya.

Jika posisi rumah yang akan Anda beli tadi tidak dalam proses pelunasan KPR, dengan kata lain memang semua dokumen asli sudah dipegang langsung oleh pihak penjual. Pastikan bahwa semua dokumen tadi adalah atas nama pihak penjual itu sendiri. Karena jika masih atas nama orang lain, mungkin saudara dekat atau lainnya pasti Anda akan sangat kerepotan dan bisa jadi rumah tersebut statusnya SENGKETA. Entah sengketa karena itu adalah rumah warisan, yang mana harus dapat persetujuan banyaj pihak, atau sengketa lainnya.

Kemudian, mengenai SPPT atau pajak rumah tersebut sudah pecah (jika rumah tersebut awalnya dari 1 kavling). Jika masih belum pecah, upayakan agar penjual bersedia memecah dahulu atau mungkin Anda yang melakukan pemecahan SPPT tapi dengan syarat dan ketentuan yang disepakati bersama.


TANYA TETANGGA SEKITAR

Langkah selanjutnya, Anda wajib menggali informasi lebih lanjut terkait rumah dan juga penjual rumah tersebut dari tetangga sekitar. Misalkan bisa tanyakan beberapa hal berikut :

  1. Status rumah tersebut bagaimana?
  2. Keseharian penjual rumah tersebut bagaimana?
  3. Bagaimana hubungan penjual dengan warga sekitar?
  4. Dan lain-lain.
Intinya adalah usahakan kenali pihak penjual sendiri dengan hati-hati, jangan sampai Anda menemui penjual dengan karakter sama seperti sales yang tidak bertanggungjawab setelah berhasil menjual barang. Sebaik-baiknya (mungkin terlihat sabar, terlihat tekun alim dan sholat tepat waktu atau lainnya) sikap penjual di awal kenalan dengan Anda, TIDAK AKAN menjamin sikap tersebut akan awet sampai proses balik nama sertifikat atas nama Anda selesai. 

Saya bukan meminta Anda untuk berprasangka buruk, tapi waspadalah daripada bernasib seperti saya (di awal baik banget, setelah pelunasan susahnya minta ampun untuk dihubungi / diajak ketemu bahkan untuk tanda tangan Akta Jual Beli di depan Notaris).

HATI-HATI DENGAN TAWARAN PENJUAL

"Kalau mas/mbak sibuk, saya bantu untuk uruskan ke Notaris saja sekalian supaya cepat."
"Supaya cepat, saya bantu untuk bayarkan pajak-pajaknya saja mas/mbak."
"Supaya cepat dan tidak merepotkan mas/mbak, percayakan saja sama saya."
"Pakai notaris saya saja mas, enak cepat dan bisa diatur."
Dan masih banyak lagi bujuk rayu penjual yang keluar untuk meyakinkan pembeli rumah dengan dalih supaya proses pengurusan balik nama selesai dengan cepat.

Pertama, yang harus Anda tahu bahwa proses balik nama atau proses jual beli itu semuanya hampir samam tidak ada yang bisa membuat proses tersebut lebih cepat. Yang ada malah membuat proses tersebut makin lambat.

Kedua, serumit atau serepot apapun proses yang ada saya sarankan untuk mengurusnya sendiri. Supaya Anda juga tahu proses sebenarnya seperti apa, sekaligus menambah pengalaman dan pengetahuan untuk Anda. Dan bisa jadi lebih hemat juga dari segi biaya yang Anda keluarkan.

Ketiga, saya sarankan agar Anda mencari atau memilih Notaris pilihan Anda sendiri, lebih baik hindari Notaris yang ditawarkan oleh pihak penjual. Hal ini menghindari adanya kerjasama atau komunikasi yang berjalan paralel sehingga bisa menimbulkan fitnah atau bahkan pertengkaran.

HATI-HATI DALAM TRANSAKSI

Hal yang paling penting adalah ketika mulai melakukan transaksi, baik itu serah terima tanda jadi atau lainnya. Upayakan semaksimal mungkin ketika Anda melakukan transaksi dengan penjual untuk melakukan pembelian atau pelunasan terhadap rumah yang Anda incar, lakukanlah di hadapan Notaris, supaya jauh lebih aman.

Namun jika dengan sangat terpaksa tidak bisa dilakukan di hadapan Notaris, minimal lakukan transaksi dengan metode transfer lalu minta bukti semacam kwitansi lengkap dengan materai. Dan tidak lupa, rekamlah proses transaksi tersebut.

Tidak hanya ketika proses transaksi, sebaiknya Anda punya rekaman terkait semua komunikasi / diskusi / kesepatakan yang Anda lakukan dengan pihak penjual.


KESIMPULAN

Mungkin itu yang bisa saya bagikan, semoga urusan Anda lancar hingga selesai, tidak ada hambatan atau halangan yang bisa memberatkan. Intinya hal penting dan wajib yang harus Anda perhatikan dalam membeli rumah secara tunai / cash / tanpa KPR adalah :

  1. Pastikan dokumen legal yang asli ada dan lengkap, seperti SHM, IMB dan SPPT.
  2. Pastikan status rumah tidak dalam sengketa.
  3. Lihat kondisi fisik rumah.
  4. Kenali penjual dan lingkungan sekitar.
  5. Tanyakan apa saja fasilitas yang akan Anda terima.
  6. NEGO harga.
  7. Jangan tergiur tawaran dari pihak penjual.
  8. Lakukan transaksi di hadapan Notaris.
  9. Minta foto-copy KTP, NPWP, KK, Buku Nikah (jika sudah menikah) kepada penjual.
  10. Usahakan untuk sabar dan selalu tenang.

Travelling Now, Penniless Then

source : www.happytrips.com
 T-R-A-V-E-L-L-I-N-G

Kombinasi huruf itu akhir-akhir ini menjadi topik yang seru untuk diperbincangkan. Dan tidak sedikit yang mengusahakan kombinasi huruf itu menjadi nyata dan dilaksanakan alias pergi travelling. Apalagi di jaman ini, sharing berbagai informasi mudah dilakukan dengan banyaknya aplikasi-aplikasi bikinan para developer handal. So, travelling ke daerah terpencil pun bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Tapi, bagaimana sih agar travelling tetap menyenangkan sebelum, saat, dan setelah travelling?

Travelling yang berakar dari rasa keingin tahuan yang tinggi akan daerah, adat, atau lingkungan yang baru ini bisa jadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit kan? Nah, gimana caranya agar kita tidak megap-megap alias kesusahan saat menyiapkan biaya untuk travelling, tidak khawatir saat melakukan travelling karena uang di kantong pas-pasan, dan tidak menjadi mendadak miskin setelah pulang travelling. Hhi..
source : www.memesuper.com
Pasti nggak lucu banget kalo demi travelling kamu rela tiap hari (sebelum dan sesudah travelling) makannya cuma nasi dan kerupuk yaa.. Trus gimana dong caranya?
Ada 3 cara tepat yang bisa kamu lakukan :

1. Membuat Kas Bersama

Kas Bersama? Kayak anak SD dongs? Yap. Kas bersama macam kas kelas yang kita punya saat duduk di bangku SD, SMP, atau bahkan mungkin SMA?

Metode ini cocok digunakan untuk kamu yang suka khilaf mengambil tabungan sendiri kalau tiada ada yang mengontrol. Kas bersama ini bisa dibangun dengan beberapa teman dekat atau bahkan bersama saudara. Pilih salah satu anggota kas yang memiliki keakuratan dan ketelitian tinggi dalam membuat laporan keuangan untuk menjadi bendahara. Selain itu, kriteria yang harus dipenuhi adalah orang yang cerewet dan tega menagih saat ada anggota yang telat bayar. Hahaha. Kriteria terakhir cukup penting loh. Karena jika sang bendahara kas tidak tegas dalam menagih, bisa-bisa perhitungan kas menjadi acak adul. Ketua dan sekretaris? Gak perlu, kita kan gak berniat bikin koperasi simpan pinjam. hhi.

Langkah selanjutnya adalah memilih frekuensi pembayaran, misal 200 ribu tiap bulan dan dibayarkan antara tanggal 25 hingga tanggal 30 di tiap bulannya. Habis gajian bray. Atau untuk kamu yang masih kuliah atau duduk di bangku sekolah, bisa juga tiap minggu dengan nominal lebih kecil. Pemilihan ini suka-suka kita. Sesuaikan dengan kemampuan dan kemudahan para anggota untuk memenuhi kewajiban bayarnya ya..

Kas bersama ini bisa kamu gunakan untuk bepergian bersama dengan para anggota. Seperti yang kita tau, bepergian bersama selalu lebih murah karena beban ditanggung oleh banyak pihak. Contohnya nih sewa mobil, 10 jam 750 ribu. Kalau cuma berdua, masing-masing orang dibebani 375rb. Kalau segenk yang ikut, full team 6 orang, bayar cuma 125 ribu per orang. Menguntungkan tohh?

Tapi gak menutup kemungkinan kas bersama juga boleh digunakan hanya oleh sebagian atau sendiri kok. Jadi misal 3 dari 6 orang anggota ingin pergi ke Dieng, tapi 3 orang yang lainnya tidak berminat, kas bisa digunakan. Asalkan bendahara melakukan pembukuan dengan baik dan transparan kepada seluruh anggota, it won't be a big problem.

Yakin cara ini bisa bikin travelling nyaman tanpa bokek setelahnya?

Saya dan teman-teman genk kantor (sejumlah 8 orang) sudah menerapkan kas bersama ini selama 2 tahun terakhir. Ketika suntuk melanda dan salah satu merasa kurang piknik, kami tinggal mencari waktu untuk bepergian bersama. Masalah uang? Bendahara sudah siap sedia di depan membawa kartu debit, kartu kredit, dan segepok money cash di dompetnya. hhi. Jadilah hati senang tanpa harus mengalami bokek setelahnya. Mm, bisa dibilang berasa liburan gratis sihh.

Ini nih travelling kami yang terakhir, visiting Lombok Island.
Lupa ini bukit apa, maapkeun
Mengunjungi Desa Adat Sade, Lombok Tengah
2. Menggunakan Fitur Autodebet di Bank

Cara lain yang nggak kalah ampuh menangkal pepatah "Travelling Now, Penniless Then" adalah dengan memanfaatkan fitur autodebet yang disediakan oleh berbagai bank. Apa sih autodebet itu? dikutip dari www.kamusbisnis.com, autodebet (direct debit) berarti pembayaran elektronik yang dibuat langsung dari rekening bank, biasanya pada tanggal yang telah ditentukan. Jadi misal kamu punya rekening di bank BRI atau Bank BNI, atau bank-bank yang lain, kamu mengaktifkan fitur ini, maka di tiap tanggal yang telah disetujui, dana akan otomatis ditransfer ke rekening yang lain. Ibarat kata kamu punya juru tagih elektronik.

Autodebet ini bisa digunakan untuk transfer terjadwal ke rekening tertentu. Jadi kamu harus memiliki 2 akun atau nomor rekening, satu rekening kamu gunakan untuk operasional sehari-hari, sedangkan rekening bank yang lain digunakan hanya untuk menyimpan tabungan untuk travelling. Fitur ini bisa kamu gunakan jika kamu ingin mengatur keuangan travellingmu sendiri tanpa harus melibatkan orang lain sebagai bendahara.

Keuntungan dari autodebet ini, selain menghindari lupa untuk menabung, tabungan juga cukup fleksibel untuk diambil sewaktu-waktu jika keinginan untuk travelling muncul tiba-tiba. Tapi hati-hati ya, nanti salah-salah cuma pindah rekening, duit tetap terpakai untuk kegiatan operasional harian macam makan dan hangout cantik bersama teman-teman. Cause it's happened to me (tutup muka, malu). Makanya saya lebih memilih option pertama.

3. Membuka Tabungan Berjangka

Apalagi ini? Sebenarnya ini hampir mirip dengan fitur autodebet. Jikalau menggunakan fitur autodebet, dana disimpan di rekening kamu yang lain, tidak dengan Tabungan Berjangka. Bank berfungsi sebagai wasit atas tabunganmu. Jadi dana disimpan oleh bank dan hanya boleh diambil pada jangka waktu tertentu. Hampir sama dengan deposito. Hanya saja jikalau deposito adalah penyetoran sekali saja di awal periode yang diinginkan, kalau ini dana akan ditarik tiap bulan dari rekening bank kamu secara otomatis, dan hanya bisa dicairkan saat jangka waktu yang sudah kamu pilih di awal berakhir.

Misal saya mengambil tabungan berjangka selama 1 tahun dengan potongan 250 ribu pada tanggal 26 di tiap bulannya, dimulai dari bulan Januari. Maka dana di rekening saya akan ditarik sebesar 250 ribu setiap tanggal 26 hingga mencapai bulan Desember pada tahun yang sama. Barulah pada bulan Januari dana bisa saya cairkan. Dan digunakan untuk traveling.

Tabungan berjangka ini aman banget untuk kamu yang gak mau berurusan uang dengan orang lain, tapi ingin konsisten menabung untuk travelling, dan takut uangnya kepake. Salah satu teman nongkrong di Bakso Mbahe Solo (bakso di Singosari, Malang) yang tidak lain dan tidak bukan saya temukan saat menjadi Maba di Teknik Industri Universitas Brawijaya 9 tahun yang lalu, menggunakan fitur ini untuk mencapai mimpinya travelling keliling Indonesia bahkan keliling dunia akhirat (*ups. hhi).

Berdasarkan wawancara yang saya lakukan via salah satu aplikasi messager, sebut saja WhatsApp (hha). Si karateka bersabuk hitam ini sudah menggunakan Tabungan Berjangka sejak tahun 2014. Dan dengan tabungannya itu, ia sudah melanglang buana ke Jogja, Bali, Lombok, dan akhir tahun 2017 akan segera menjelajah tanah Toraja, Makassar. It's pretty amazing yaa.. 
Menjelajah Borobudur dan Bertemu Sahabat Lama

Bali
Pulau Lombok
Ke-kepo-an saya berawal dari plan liburannya yang tidak putus-putus. Bahkan pada hari-hari biasa, dia suka tiba-tiba posting foto di kota mana, di pantai mana, di air terjun mana. Ya meski kebanyakan foto itu didominasi oleh wajahnya ya. Hhe. Heran binti bingung saya. Akhirnya menguliklah tips jitu mengelola dana travelling. Dengan menggunakan Tabungan Berjangka, kita akan terbiasa memanfaatkan dana yang tersisa di rekening. Jadilah hidup tetap nyaman aman dan bahagia, tapi mimpi untuk travelling tetap tercapai.

So, which tips that fit on you, guys?

Selamat mencoba yaaa. Let's say no to "Travelling Now, Penniless Then."