Showing posts with label liburan. Show all posts

Staycation : Another Vacation Style

Wuhuuu. Weekend is almost here. Bagi para company slave (baca : karyawan perusahaan) macam saya, weekend adalah salah satu surga dunia. Kebahagiaan haqiqi karena bisa seharian mager di rumah sembari nonton drama korea, nonton youtube, atau sekedar baca novel di beranda rumah. Tapi, weekend kadang bikin sedih juga. Ini karena cuma di dua hari ini kita bisa travelling. Semacam sayang banget kalo pergi jauh cuma 2 hari kan? Tapi apalah daya, jatah cuti juga terbatas. Do you feel the same?


Bagi saya, travelling itu berarti pergi ke tempat jauh. Mencoba merasakan aura berbeda dari tempat yang jauh dari rumah. Merasakan budaya, bahasa, dan suasana yang berbeda dari yang kita rasakan sehari-hari. Travelling berarti pergi ke tempat jauh, minimal ke kota sebelah. Mencicipi makanan khasnya, merasakan terik mataharinya, dan mengamati bahasa tubuh para penduduk aslinya. Tapi ya itu, setelah tercatat sebagai karyawan, travelling menjadi dibatasi oleh waktu. Hhu.

Tapi, hei. Ada cara baru untuk berlibur lohh selain travelling. Staycation namanya. Unik ya? Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh seorang komedian Kanada pada tahun 2005. Istilah ini adalah gabungan dari kata Stay dan Vacation. Yap. Berlibur dengan tetap tinggal di rumah. Siapa sih yang bakal bilang rumah itu bukan tempat yang menyenangkan? Rumah adalah tempat pulang yang paling dirindukan (Ibuuuk, Kida kangen. *malah curhat). Makanya, berlibur dengan tetap berada di rumah itu bukan hal yang tidak menyenangkan kan?

 
Poin dari Staycation ini adalah bagaimana membuat seisi rumah bersama-sama melakukan hal yang menyenangkan. Yang tidak biasa kalian lakukan sehari-hari. Misal bikin barbeque party di kebun belakang rumah, nonton film bareng dengan proyektor jadi bak pergi ke bioskop sembari nyemil homemade popcorn bikinan ibu, berendam seru di kolam renang portable (kolam renang plastik) jumbo, atau main uno brick bareng Bapak-Ibu dan para saudara juga boleh.


Nah, tidak hanya berdiam di rumah, Staycation juga dapat diartikan dengan berlibur di dalam kota atau ke tempat yang mudah dijangkau. Parameternya adalah ke tempat dimana kita tidak harus menyewa penginapan untuk bermalam. Hhe. Beberapa alternatif yang bisa kamu pilih antara lain :
1. Pergi ke museum kota
2. Piknik ke taman kota
3. Pergi ke car free day festival
4. Pergi ke tempat wisata dalam kota

Nah, Staycation tipe kedua ini yang saya dan suami lakukan saat libur panjang akhir tahun kemarin. Kami Staycation ke Pacet Hill, Mojokerto. Untuk mencapai tempat wisata baru di daerah Claket, Mojokerto ini kami butuh waktu sekitar 30 menit saja. Ada apa sih di sana?

 

Target awal mengajak suami Staycation adalah menghirup udara pegunungan yang sejuk. Yapp. Daerah Pacet, Claket yang merupakan kaki gunung Penanggungan membuat area ini sejuk dan berangin kencang. Naik motor 60 km/jam udah berasa naik motor 120km/jam. Hhi. Gegara angin itu, saya bolak-balik menyusup di bahu Mas Suami untuk mengecek kecepatan, sampai akhirnya dia bilang, "Kayak kenceng banget ya motornya, padahal ini pelan loh."

Selain butuh udara sejuk, saya juga butuh bernarsis ria. Yapp. Tempat wisata yang pembangunannya belum 100% ini menawarkan banyak spot untuk berfoto. Yang paling terkenal sih akar cinta itu. Eh apasih namanya? Pokoknya spot yang terbuat dari akar-akar pohon dibentuk hati itu lohh. Ini beberapa foto yang berhasil kami ambil :





Nah, selain untuk berfoto, tempat ini juga menyewakan berbagai tempat glamping (glamour camping), bahkan ada juga rumah pohon yang disewakan. Seru kali ya bangun dengan pemandangan yahud macam di Pacet Hills. Tapi rada ngeri juga karena tempat ini masih sepi.

Oh iya, selain berfoto, kamu juga bisa menjelajahi air terjun yang berjarak sekitar 2 km dari spot foto utama. Kami awalnya semangat '45 menjelajahi jalan setapak menuju ke tempat air terjun yang masih berada dalam kawasan Pacet Hills. Tapi makin dalam kami berjalan, suasana makin ngeri. Tak ada satu orang pun yang kami jumpai, even pengelola tempat wisata tersebut. Eng ing eng. Makin horor, dan kami memutuskan balik kucing. Hahaha. Secara, saat kami sampai di sana pukul 15.00 WIB, hanya ada kami berdua dan 3 orang pengunjung yang lain. Sesepi itu guys. Enak buat foto karena tanpa perlu antri, tapi horor buat explore ke air terjunnya.

Biaya untuk masuk ke wisata ini lebih kurang 100 ribu rupiah untuk 2 orang dan 1 motor, termasuk bayar parkir ya. Menjadi mahal karena kita harus bayar 2 kali. Di pos pertama sebelum masuk area pemandian air panas, dan di pos kedua yang berada di pintu masuk Pacet Hills. Cukup murah untuk view yang cantik banaaa.

Nah, itu tuh salah satu keunggulan Staycation : hemat. Hemat waktu, karena kita gak perlu menghabiskan berjam-jam di perjalanan. Hemat biaya, karena kita tak perlu mengeluarkan biaya penginapan dan biaya transportasi yang mahal. Mungkin ini juga yang bikin Staycation menjadi trend di Amerika Serikat saat krisis melanda Paman Sam di tahun 2007 - 2010 lalu. Sedangkan di Inggris sendiri, Staycation baru populer di tahun 2009 saat nilai tukar poundsterling menurun dan menjadikan biaya berlibur ke luar negeri menjadi mahal.

So, do you wanna try Staycation?


photo source :
self documentation

Travelling Now, Penniless Then

source : www.happytrips.com
 T-R-A-V-E-L-L-I-N-G

Kombinasi huruf itu akhir-akhir ini menjadi topik yang seru untuk diperbincangkan. Dan tidak sedikit yang mengusahakan kombinasi huruf itu menjadi nyata dan dilaksanakan alias pergi travelling. Apalagi di jaman ini, sharing berbagai informasi mudah dilakukan dengan banyaknya aplikasi-aplikasi bikinan para developer handal. So, travelling ke daerah terpencil pun bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Tapi, bagaimana sih agar travelling tetap menyenangkan sebelum, saat, dan setelah travelling?

Travelling yang berakar dari rasa keingin tahuan yang tinggi akan daerah, adat, atau lingkungan yang baru ini bisa jadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit kan? Nah, gimana caranya agar kita tidak megap-megap alias kesusahan saat menyiapkan biaya untuk travelling, tidak khawatir saat melakukan travelling karena uang di kantong pas-pasan, dan tidak menjadi mendadak miskin setelah pulang travelling. Hhi..
source : www.memesuper.com
Pasti nggak lucu banget kalo demi travelling kamu rela tiap hari (sebelum dan sesudah travelling) makannya cuma nasi dan kerupuk yaa.. Trus gimana dong caranya?
Ada 3 cara tepat yang bisa kamu lakukan :

1. Membuat Kas Bersama

Kas Bersama? Kayak anak SD dongs? Yap. Kas bersama macam kas kelas yang kita punya saat duduk di bangku SD, SMP, atau bahkan mungkin SMA?

Metode ini cocok digunakan untuk kamu yang suka khilaf mengambil tabungan sendiri kalau tiada ada yang mengontrol. Kas bersama ini bisa dibangun dengan beberapa teman dekat atau bahkan bersama saudara. Pilih salah satu anggota kas yang memiliki keakuratan dan ketelitian tinggi dalam membuat laporan keuangan untuk menjadi bendahara. Selain itu, kriteria yang harus dipenuhi adalah orang yang cerewet dan tega menagih saat ada anggota yang telat bayar. Hahaha. Kriteria terakhir cukup penting loh. Karena jika sang bendahara kas tidak tegas dalam menagih, bisa-bisa perhitungan kas menjadi acak adul. Ketua dan sekretaris? Gak perlu, kita kan gak berniat bikin koperasi simpan pinjam. hhi.

Langkah selanjutnya adalah memilih frekuensi pembayaran, misal 200 ribu tiap bulan dan dibayarkan antara tanggal 25 hingga tanggal 30 di tiap bulannya. Habis gajian bray. Atau untuk kamu yang masih kuliah atau duduk di bangku sekolah, bisa juga tiap minggu dengan nominal lebih kecil. Pemilihan ini suka-suka kita. Sesuaikan dengan kemampuan dan kemudahan para anggota untuk memenuhi kewajiban bayarnya ya..

Kas bersama ini bisa kamu gunakan untuk bepergian bersama dengan para anggota. Seperti yang kita tau, bepergian bersama selalu lebih murah karena beban ditanggung oleh banyak pihak. Contohnya nih sewa mobil, 10 jam 750 ribu. Kalau cuma berdua, masing-masing orang dibebani 375rb. Kalau segenk yang ikut, full team 6 orang, bayar cuma 125 ribu per orang. Menguntungkan tohh?

Tapi gak menutup kemungkinan kas bersama juga boleh digunakan hanya oleh sebagian atau sendiri kok. Jadi misal 3 dari 6 orang anggota ingin pergi ke Dieng, tapi 3 orang yang lainnya tidak berminat, kas bisa digunakan. Asalkan bendahara melakukan pembukuan dengan baik dan transparan kepada seluruh anggota, it won't be a big problem.

Yakin cara ini bisa bikin travelling nyaman tanpa bokek setelahnya?

Saya dan teman-teman genk kantor (sejumlah 8 orang) sudah menerapkan kas bersama ini selama 2 tahun terakhir. Ketika suntuk melanda dan salah satu merasa kurang piknik, kami tinggal mencari waktu untuk bepergian bersama. Masalah uang? Bendahara sudah siap sedia di depan membawa kartu debit, kartu kredit, dan segepok money cash di dompetnya. hhi. Jadilah hati senang tanpa harus mengalami bokek setelahnya. Mm, bisa dibilang berasa liburan gratis sihh.

Ini nih travelling kami yang terakhir, visiting Lombok Island.
Lupa ini bukit apa, maapkeun
Mengunjungi Desa Adat Sade, Lombok Tengah
2. Menggunakan Fitur Autodebet di Bank

Cara lain yang nggak kalah ampuh menangkal pepatah "Travelling Now, Penniless Then" adalah dengan memanfaatkan fitur autodebet yang disediakan oleh berbagai bank. Apa sih autodebet itu? dikutip dari www.kamusbisnis.com, autodebet (direct debit) berarti pembayaran elektronik yang dibuat langsung dari rekening bank, biasanya pada tanggal yang telah ditentukan. Jadi misal kamu punya rekening di bank BRI atau Bank BNI, atau bank-bank yang lain, kamu mengaktifkan fitur ini, maka di tiap tanggal yang telah disetujui, dana akan otomatis ditransfer ke rekening yang lain. Ibarat kata kamu punya juru tagih elektronik.

Autodebet ini bisa digunakan untuk transfer terjadwal ke rekening tertentu. Jadi kamu harus memiliki 2 akun atau nomor rekening, satu rekening kamu gunakan untuk operasional sehari-hari, sedangkan rekening bank yang lain digunakan hanya untuk menyimpan tabungan untuk travelling. Fitur ini bisa kamu gunakan jika kamu ingin mengatur keuangan travellingmu sendiri tanpa harus melibatkan orang lain sebagai bendahara.

Keuntungan dari autodebet ini, selain menghindari lupa untuk menabung, tabungan juga cukup fleksibel untuk diambil sewaktu-waktu jika keinginan untuk travelling muncul tiba-tiba. Tapi hati-hati ya, nanti salah-salah cuma pindah rekening, duit tetap terpakai untuk kegiatan operasional harian macam makan dan hangout cantik bersama teman-teman. Cause it's happened to me (tutup muka, malu). Makanya saya lebih memilih option pertama.

3. Membuka Tabungan Berjangka

Apalagi ini? Sebenarnya ini hampir mirip dengan fitur autodebet. Jikalau menggunakan fitur autodebet, dana disimpan di rekening kamu yang lain, tidak dengan Tabungan Berjangka. Bank berfungsi sebagai wasit atas tabunganmu. Jadi dana disimpan oleh bank dan hanya boleh diambil pada jangka waktu tertentu. Hampir sama dengan deposito. Hanya saja jikalau deposito adalah penyetoran sekali saja di awal periode yang diinginkan, kalau ini dana akan ditarik tiap bulan dari rekening bank kamu secara otomatis, dan hanya bisa dicairkan saat jangka waktu yang sudah kamu pilih di awal berakhir.

Misal saya mengambil tabungan berjangka selama 1 tahun dengan potongan 250 ribu pada tanggal 26 di tiap bulannya, dimulai dari bulan Januari. Maka dana di rekening saya akan ditarik sebesar 250 ribu setiap tanggal 26 hingga mencapai bulan Desember pada tahun yang sama. Barulah pada bulan Januari dana bisa saya cairkan. Dan digunakan untuk traveling.

Tabungan berjangka ini aman banget untuk kamu yang gak mau berurusan uang dengan orang lain, tapi ingin konsisten menabung untuk travelling, dan takut uangnya kepake. Salah satu teman nongkrong di Bakso Mbahe Solo (bakso di Singosari, Malang) yang tidak lain dan tidak bukan saya temukan saat menjadi Maba di Teknik Industri Universitas Brawijaya 9 tahun yang lalu, menggunakan fitur ini untuk mencapai mimpinya travelling keliling Indonesia bahkan keliling dunia akhirat (*ups. hhi).

Berdasarkan wawancara yang saya lakukan via salah satu aplikasi messager, sebut saja WhatsApp (hha). Si karateka bersabuk hitam ini sudah menggunakan Tabungan Berjangka sejak tahun 2014. Dan dengan tabungannya itu, ia sudah melanglang buana ke Jogja, Bali, Lombok, dan akhir tahun 2017 akan segera menjelajah tanah Toraja, Makassar. It's pretty amazing yaa.. 
Menjelajah Borobudur dan Bertemu Sahabat Lama

Bali
Pulau Lombok
Ke-kepo-an saya berawal dari plan liburannya yang tidak putus-putus. Bahkan pada hari-hari biasa, dia suka tiba-tiba posting foto di kota mana, di pantai mana, di air terjun mana. Ya meski kebanyakan foto itu didominasi oleh wajahnya ya. Hhe. Heran binti bingung saya. Akhirnya menguliklah tips jitu mengelola dana travelling. Dengan menggunakan Tabungan Berjangka, kita akan terbiasa memanfaatkan dana yang tersisa di rekening. Jadilah hidup tetap nyaman aman dan bahagia, tapi mimpi untuk travelling tetap tercapai.

So, which tips that fit on you, guys?

Selamat mencoba yaaa. Let's say no to "Travelling Now, Penniless Then."

Mengintip Surga dari Bukit Merese, Indonesia

April yang tak bersahabat. Berhari-hari kota Bandung diguyur hujan lebat diikuti angin kencang yang menakutkan. Kabar mengerikan akibat cuaca yang tak menentu mengisi kolom-kolom media massa dengan serakah. Dan di jendela kantor, ia menemuiku resah. Ya. Gundah gulana. Bukan karena takut rumah ibu kos kebanjiran. Bukan karena takut tebing di dekat kantor akan longsor. Dan bukan pula karena kantong yang hampir jebol. Gelisah ini karena di layar komputer yang kubelakangi, tertera tiket pesawat pulang-pergi untuk 8 orang di bulan April. Kami hendak berlibur ke pulau seberang.

"Lil, hujan makin gak jelas. Sudah punya plan B kalau di sana hujan terus?" Asong angkat bicara.
"Belum. Kita bisa cuma diem di kamar kalau hujan. Semua destinasi outdoor. Haish," jawabku resah.
"Aku sama Yo batal ikut ya kalau hujannya tetep deres mulu." Malisa menimpali.

Saya makin resah. Tidak hanya tiket pesawat yang terancam rugi 25%, tapi tiket hotel 4 kamar beserta satu villa besar akan terbuang percuma. Tanpa refund sepeserpun. Kepala saya mulai pening. Rasa-rasanya saya bukan planner liburan yang baik. Dan di waktu genting itu, sebuah pesan masuk ke ponsel mungil saya :

Gak usah panik. Coba hubungi persewaan mobil. Tanya cuaca di sana beberapa hari terakhir.

Pesan singkat dari sang pencuri hati (baca : pacar a.k.a suami). Rasanya ada ribuan kunang-kunang bersinar terang pantatnya. *ups. Secepat kilat saya menghubungi persewaan mobil. Dan secara kebetulan, timeline Instagram menunjukkan seorang teman lama tengah ber-honeymoon ria di pulau seberang.

"Selamat siang, Mbak. Di sana hujan nggak sih beberapa hari ini? Di sini banjir-banjir euy," seruku cerewet.
"Sudah seminggu di sini nggak hujan Mbak," customer service persewaan mobil menjawab ramah.

Saya tersenyum lega. Sejurus kemudian mengirim pesan kepada kawan lama saya, Hanugrah Rahadityo Prasetyo, si cungkring pemilik Travel Agent bernama One Tour Trip yang tengah berlibur ke pulau seberang.

Lily       : Ciyeee yang lagi honeymoon. Hujan gak Bro di sana?                     
Nungki : Aku udah di sini tiga hari dan belum nemu ujan. Umak (kamu) kapan kesini? Mau honeymoon ?    
Lily      : Kagak. Mau bawa pasukan buat liburan ke sono euy. Takut hujan.                
Nungki : Aman kok.          
                                                                                                                     
Ada kembang api yang meletup-letup di dada. Liburan istimewa tak jadi luput dari genggaman. Alhamdulillah.

----

Pagi itu, matahari terlalu bersemangat. Teriknya yang membakar kulit membuat kami sibuk memegangi topi sambil berlari-lari kecil menuju mobil yang sudah di-booking 2 minggu sebelumnya. Ya. Lombok tengah panas sekali hari itu, atau kami saja yang terbiasa dengan hawa di Lombok? Entahlah, yang penting liburaaan. Hhi.

Tanpa ba-bi-bu, bapak driver separuh baya yang sudah ahli di bidangnya itu melajukan Elf Pregio yang penuh sesak. Oleh tubuh kami ber-8 yang tidak ada kurus-kurusnya (kecuali duo programmer, suami saya dan seorang kawan berjurus "Tau Diri") dan tas ransel yang berjejal kesana kemari. Sepanjang perjalanan, sang bapak 2 orang anak ini menceritakan berbagai kisah dan kasih (loh?). Tentang batang padi yang tidak ada hijau-hijaunya, ya Padi Gogo namanya. Padi yang ditanam pada sawah tadah hujan, berbulir besar, dan tinggi-tinggi layaknya rumput gajah. Siapa yang menyangka ia adalah sumber pangan utama bagi penduduk lokal. Kami yang awalnya mengira bahwa kanan kiri jalan hanyalah segerombol rumput kering hanya menjawab dengan ber-ooh-ria. Sambil sesekali mencomot camilan hasil menjelajah modern market (in**mar**). 

Setelah mata dipenuhi oleh Padi Gogo, daerah selanjutnya mulai membuat mata terbelalak, barisan pantai biru beserta pasirnya yang bersih memanjakan mata kami. Belum puas kami merasa takjub, si kotak besi beroda empat dipacu melewati deretan kapur. Jalanan mulai meliuk-liuk manja bak tubuh Mbak Syahrini yang cetar membahana. Mabuk?

Jangan tanya. Kata mabuk hari itu menghilang dari kamus kami ber-8. Bukit-bukit di kanan kiri jalan menjulang sangat indah. Bagi saya, ini melampaui keindahan deretan pantai pada perjalanan sebelumnya. Pepohonan rimbun yang hijau dan sesekali diselingi kebun penduduk desa setempat itu entah mengapa lebih menentramkan. Sejuk, ayem, tentrem, indah bukan kepalang. Jikalaulah di mesin kotak itu hanya ada saya dan suami, pasti saya akan dengan hati riang menyanyikan lagu ini :

Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudera
Bersama teman bertualang


Bayangan ninja hatori yang melompat-lompat dari satu bukit ke bukit lainnya muncul sekejap, sebelum akhirnya teriakan si Asong membuyarkan lamunan ;

"Kita ke pantai atau kemana, Lil?"
"Ke Bukit Merese dulu ya Pak," Jawabku singkat
"Siap, Mbak," Bapak driver menyahut.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 45 menit dari Bandara Lombok Praya atau sekitar 26 km, kami tiba di destinasi utama hari itu. Bukit Merese. Deretan bukit yang berada di Lombok Tengah. Sesampainya di sana, saya sedikit kecewa. Dengan pemandangan luar biasa selama perjalanan, destinasinya begini? Mobil-mobil parkir sesuka hati di tanah lapang itu. Debu sesekali mengepul ke udara ketika ada kendaraan datang atau ketika ada anak-anak kecil berlarian menjajakan dagangannya. "Tapi yasudahlah, sudah sampai di sini. Kalaupun jelek, mungkin memang review di berbagai website dan akun media sosial saja yang kurang objektif," batin saya sedikit murung.

Pasang topi, pakai sendal, berangkat mendakiii. Menit-menit awal saya masih menemui area gersang. Semakin ke atas, mata mulai disambut hamparan rumput hijau yang berbukit-bukit. Bapak driver yang hari itu menjadikan dirinya sendiri sebagai guide, mengajak kami untuk terus naik. Sekitar 10 menit perjalanan, kami mencapai puncak salah satu bukit. Jadi, coba bayangkan kamu sedang berada di hamparan rumput yang berbukit-bukit. Tak terhitung jumlah lembah dan bukit di depanmu. Dan kini, kamu baru saja mencapai satu bukit yang berbatasan dengan laut.

source : thelangkah.com

Hijau, damai, dan hei! 

Itu laut. Itu laut. Bukan biru seperti laut pada umumnya. Bukan biru seperti laut yang menyambut di tengah perjalanan tadi. Ini biru tosca. Perpaduan antara biru dan hijau. Dengan deburan ombak yang sesekali saja nampak garang.

Itu laut. Itu laut. Yang selama ini kukira tak mungkin berwarna begitu. Yang kukira hanya hasil rekayasa kamera canggih dan para designer grafis. Itu laut. Warna biru tosca seperti warna yang kugemari baru-baru ini. Saya berlari kesana-sini. Jejingkrakan karena bahagia. Suami saya hanya tersenyum. Ada gadis kecil yang lama tak muncul dari dalam diri saya. Ia hadir. Karena laut warna biru tosca itu. Sungguh.

source : lombokgilis.com

"Mas Yud, are you happy ?" teriak saya kepada lelaki baik hati itu. Ia mengangguk semangat.

Bukit ini memang luar biasa cantiknya. Kemarilah. Tapi jangan lupa memeliharanya. Bukit ini tidak untuk dikotori. Jangan tinggalkan botol bekas air minummu. Jangan tinggalkan bungkus permenmu. Jangan pula tinggalkan pacarmu di sini (hhe..). Saya tak bisa bercerita banyak meski saya mengingat jelas pemandangan yang membuat mata saya berbinar-binar itu. Datanglah ke Bukit Merese, intiplah surga dari bukit ini.

Leblung and the genk

Jangan Ditiru! Hhe
Tempat Tepat Untuk Merenung
Boleh Kalau Sudah Halal yaa..

Oh ya, selain pemandangan itu, Bukit Merese juga spot yang bagus untuk menikmati matahari tenggelam. Lihat video di bawah ini :

https://www.instagram.com/p/BSU6mVAhVyp/?r=wa1

Suatu waktu nanti, saya ingin Ibu, Bapak, Mas, dan Siska ke sini. Surga dunia ini terlalu sayang hanya untuk saya kenang bersama suami.